Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Tingkat Pengetahuan Penggunaan Parasetamol dalam Swamedikasi Demam Bambang Purwoko; Elita Nurul Khotimah
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 11 No 4 (2021): Supp Oktober 2021
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v11i4.1741

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan penggunaan parasetamol dalam swamedikasi demam. Tingkat pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar apakah penggunaan parasetamol dalam swamedikasi demam sudah baik dan benar atau sebaliknya sehingga penggunaan obat parasetamol yang rasional dapat terlaksana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan survei yang bersifat analitik dengan menggunakan metode cross sectional dengan menggunakan instrument kuisioner. Responden penelitian ini merupakan warga warga Desa Jeruklegi Wetan yang memenuhi syarat kriteria inklusi dan eksklusi sejumlah 70 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas masyarakat Desa Jeruklegi Wetan memiliki tingkat pengetahuan penggunaan parasetamol dalam swamedikasi demam dengan kategori baik sebanyak 7 responden (10%), kategori cukup 47 responden (67,1%) dan kategori kurang 16 responden (22,9%). Hasil uji Chi-Square menunjukan bahwa jenis kelamin (P 0,145 > 0,05), umur (P 0,944 > 0,05), pekerjaan (P 0,163 > 0,05), dan pendidikan (P 0,464 > 0,05) dari hasil tersebut menunjukan untuk jenis kelamin, umur, pekerjaan dan pendidikan tidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan tingkat pengetahuan penggunaan parasetamol dalam swamedikasi demam.
Common Sense-Self Regulatory Model pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di RSUD Abdul Azis Singkawang, RS Dok II Jayapura dan RSUD Meranti: Common Sense-Self Regulatory Model in Type 2 Diabetes Mellitus Patients at Abdul Azis Singkawang Hospital, Jayapura Doc II Hospital and Meranti Hospital Bambang Purwoko; Dyah Aryani Perwitasari; Imaniar Noor Faridah; Woro Supadmi; Ajeng Diantini
Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS) Vol. 5 No. 1 (2023): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v5i1.260

Abstract

T2DM sufferers during treatment will face stressors that will affect the outcome of therapy and psychological factors. The purpose of this study was to determine the relationship between perception and distress of T2DM patients on adherence, the relationship between adherence to therapy outcomes and quality of life. This study used an observational method with a cross-sectional approach, data was collected prospectively in T2DM patients in Abdul Azis Singkawang Hospital, Dok II Jayapura Hospital and Meranti Hospital. The questionnaires used in this research were the Diabetes Distress Scale (DDS) questionnaire, the Brief Perception Questionaire (B-IPQ), the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-4), and the European Quality of Life-5 Dimensions (EQ-5D). Data analysis using variance based SEM (Structural Equation Modeling), Partial Least Square (PLS) 3.0. The results of the study were 217 DMT2 patients who fulfilled the inclusion criteria dominated by female patients (59%) while men (41%). The index value of quality of life was 0.78±0.26 and visual analog scale was 71.46±14.45. The highest mean perception value was the treatment control domain (8.11±1.89). The mean value of compliance was 2.27±1.36. The results showed that perceptions and stress levels did not have a significant effect on adherence (p>0.05). Compliance did not have a significant effect on therapeutic outcome and quality of life (p>0.05). Stress levels and perceptions did not correlate with outcomes of therapy through adherence (p>0.05) and with quality of life through adherence (p>0.05). The highest mean score on DDS-17 is the therapeutic management domain (2.55±1.08). CSSRM concept conclusion in this study was that adherence did not have a significant effect on outcomes of therapy and quality of life. Perceptions and stress levels did not have a significant effect on compliance. ABSTRAK Penderita DMT2 selama dalam pengobatan akan menghadapi stressor yang akan berpengaruh terhadap luaran terapi dan faktor psikologis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara persepsi dan distress pasien DMT2 terhadap kepatuhan, hubungan kepatuhan terhadap luaran terapi dan kualitas hidup. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross-sectional, pengambilan data dilakukan secara prospektif pada pasien DMT2 di RSUD Abdul Azis Singkawang, RS Dok II Jayapura dan RSUD Meranti. Kuesioner yang digunakan adalah Diabetes Distress Scale (DDS), Brief-Illnes Perception Questionaire (B-IPQ), Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-4), dan European Quality of Life-5 Dimensions (EQ-5D). Analisis data menggunakan SEM (Structural Equation Modeling) yang berbasis varians yaitu Partial Least Square (PLS) 3.0. Hasil penelitian terdapat 217 pasien DMT2 yang memenuhi kriteria inklusi didominasi oleh pasien perempuan (59%) sedangkan laki-laki (41%). Nilai indek kualitas hidup adalah 0,78±0,26 dan visual analog scale 71,46±14,45. Rerata nilai tertinggi persepsi adalah domain kontrol pengobatan (8,11±1,89). Nilai rerata kepatuhan yaitu 2,27±1,36. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi dan tingkat stress tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan (p>0,05). Kepatuhan tidak berpengaruh signifikan terhadap luaran terapi dan kualitas hidup (p> 0,05). Tingkat stress dan persepsi tidak berkorelasi dengan  luaran terapi melalui kepatuhan (p>0,05) dan dengan kualitas hidup melalui kepatuhan (p>0,05). Nilai rerata tertinggi pada DDS-17 adalah domain manajemen terapi (2,55±1,08). Kesimpulan konsep CSSRM pada penelitian ini adalah kepatuhan tidak terbukti berpengaruh signifikan pada luaran terapi dan kualitas hidup, persepsi dan tingkat stress tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan.
KESESUAIAN PERESEPAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI KOMPLIKASI RAWAT JALAN DI RSUD CILACAP BERDASARKAN JJNC 7 Ismi Dafngiatul Ngulum; Bambang Purwoko; Triyo Nova
Serulingmas Health Journal Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Stikes Serulingmas Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.199 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi dan berkaitan dengan penurunan usia harapan manusia. Pravalensi hipertensi di Indonesia masih tinggi, maka dibutuhkan usaha untuk menekannya. Ketidaksesuaian pemilihan obat diidentifikasi apabila antihipertensi yang diberikan tidak sesuai dengan drugs of choice seperti yang dimaksud dalam JNC 7. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian peresepan obat antihipertensi komplikasi berdasarkan JNC7 dengan mengevaluasi tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat dan tepat dosis. Penelitian ini merupakan penelitian non ekperimental dengan analis deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada data rekam medik dari pasien hipertensi komplikasi di RSUD Cilacap tahun 2020-2022 secara retrospektif dan secara langsung atau cross sectional . Hasil penelitian menunjukan kesesuian peresepan obat antihipertensi tepat indikasi 74,1%, tepat obat 74,1% dan tepat dosis 81,5%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat beberapa pasien yang belum sesuai dengan ketepatan pasien, ketepatan indikasi dan ketepatan obat sehingga perlu pengawasan terhadap pemberian obat antihipertensi.
TINGKAT KEPATUHAN PASIEN PADA PENGOBATAN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS CILACAP UTARA I Rifky Andre Fio; Supriani Supriani; Bambang Purwoko
Serulingmas Health Journal Vol. 2 No. 1 (2022)
Publisher : Stikes Serulingmas Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.771 KB)

Abstract

Tingkat prevalensi penderita Diabetes Melitus terus meningkat setiap tahunnya. Cara untuk mencapai kadar gula darah normal adalah melalui kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Ketidakpatuhan pasien Diabetes Melitus dalam menjalani pengobatan dapat mengakibatkan kadar gula darah tinggi dan meningkatkan resiko komplikasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien Diabetes Melitus dalam menjalani pengobatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Puskesmas Cilacap Utara 1 dengan jumlah sampel sebesar 93 orang. Teknik pengambilan data dilakukan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 73 responden (78,5%) patuh dalam menjalani pengobatan diabetes melitus. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penyakit diabetes melitus lebih banyak diderita oleh perempuan sebanyak 61 pasien (65,6%), dan lansia akhir sebanyak 49 pasien (52,7%). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik pasien dengan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan diabetes melitus.
BIAYA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI TUNGGAL PADA PASIEN BPJS RAWAT JALAN DI RSUD CILACAP Priyo Agung Laksana; Bambang Purwoko; Triyo Nova
Serulingmas Health Journal Vol. 2 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Stikes Serulingmas Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.51 KB)

Abstract

Pembiayaan kesehatan di Indonesia semakin meningkat, maka diperlukan analisis efektivitas biaya. Analisis efektivitas biaya merupakan metode farmakoekonomi dalam pengambilan keputusan obat-obatan agar lebih efektif secara manfaat dan biaya. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui obat antihipertensi yang paling cost-effectiveness di RSUD Cilacap. Jenis penelitian deskriptif kualitatif dan penelitian dilakukan secara cross sectional dan retrospektif. Sampel yang digunakan adalah pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Cilacap sejumlah 92 pasien. Penelitian ini menggunakan metode farmakoekonomi analisis efektivitas biaya/CEA. Data yang diambil meliputi: data riwayat pasien hipertensi ,data obat antihipertensi dan data biaya terapi hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan effektivas terapi obat amlodipin 5mg 77,78%, amlodipin 10 mg 74,04%, valsartan 75%, bisoprolol 2,5 mg 66,67%, bisoprolol 10 mg 50%, candesartan 8 mg 61,54 %, candesartan 16 mg 40% , ramipril 10 mg 66,67%. Berdasarkan nilai ACER amlodipin 5 mg lebih cost-effective dengan nilai Rp. 955,66 dibandingkan dengan obat amlodipin 10 mg Rp. 1.000,26, valsartan Rp. 1.091,93, bisoprolol 2,5 mg Rp. 1.137,37, bisoprolol 5 mg Rp. 1.482,80, candesartan 8 mg Rp. 1.241,79, candesartan 16 mg Rp. 1.991,50 dan ramipril 10 mg Rp. 1.703,31. Sehingga obat amlodipin paling cost-effectiveness dibandingkan dengan obat antihipertensi lainnya.
Digitalisasi Pelayanan Farmasi: Dampaknya Terhadap Efisiensi Operasional Di Klinik Bina Husada 1 Rina Setyawati; Bambang Purwoko; Triyo Nova
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.303

Abstract

Digitalisasi merupakan proses pengubahan Inf.ormasi ke dalam format digital yang memanfaatkan Teknologi Inf.ormasi dan Komunikasi (TIK). Hal ini menjadikan pilihan yang strategis, selain itu juga tuntutan regulatif untuk peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh digitalisasi terhadap akurasi pemberian obat, mengukur efektivitas digitalisasi dalam mempercepat pelayanan resep, serta mengevaluasi peran digitalisasi dalam meningkatkan efisiensi stok obat di Klinik Bina Husada 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik untuk membandingkan indikator efisiensi operasional sebelum dan sesudah digitalisasi pada pelayanan farmasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh resep yang diterima instalasi farmasi dalam kurun waktu penelitian sebanyak 2540 resep dengan jumlah sampel 100 resep. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara stratified random sampling dengan membagi berdasarkan kategori populasi yaitu resep racikan dan non-racikan. Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel. Variabel independen adalah implementasi sistem digital, sedangkan variabel dependen adalah efisiensi operasional yang diukur melalui tiga indikator utama yaitu akurasi pemberian obat, waktu tunggu pelayanan resep dan manajemen stok obat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, digitalisasi pelayanan farmasi berkontribusi positif terhadap aspek akurasi dan manajemen stok obat tetapi belum optimal dalam waktu tunggu pelayanan resep, sehingga perlu adanya perbaikan sistem, pelatihan SDM dan integrasi alur kerja yang lebih menyeluruh.
A Study on the Anatomy and Antibacterial Activity of Boesenbergia rotunda Rhizomes Against Staphylococcus aureus Siti Mutripah; Lailatul Badriyah; Muhammad Haykal Putra; Nuradnin Hasan; Sarwoko Sarwoko; Bambang Purwoko
Jurnal Kesehatan, Rekam Medis dan Farmasi (JUK-Medifa) Vol. 4 No. 01 (2026): JUK-Medifa (Jurnal Kesehatan, Rekam Medis dan Farmasi), 2026
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Boesenbergia rotunda is a plant belonging to the Zingiberaceae family. This plant is known to contain various bioactive compounds with potential as natural antibacterial agents. This study aims to determine the microscopic anatomical characteristics, secondary metabolite content, and antibacterial activity of Boesenbergia rotunda rhizome extract against Staphylococcus aureus. The research methods used included microscopic observation, phytochemical screening, and antibacterial activity testing using the disk diffusion method. Anatomical observations revealed that the Boesenbergia rotunda rhizome consists of parenchyma tissue with starch granules scattered throughout the ground tissue. Phytochemical screening results indicated the presence of flavonoids, alkaloids, terpenoids, saponins, and tannins. Antibacterial activity testing showed that the Boesenbergia rotunda rhizome extract was able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus, producing an inhibition zone with a diameter of ±17 mm. This inhibition zone diameter falls into the category of strong inhibition. This strong antibacterial activity is believed to result from the synergistic action of secondary metabolites that work through mechanisms of cell membrane damage, disruption of membrane permeability, and inhibition of bacterial cell wall synthesis. Based on the research results, the rhizome of Boesenbergia rotunda has the potential to be developed as a natural antibacterial source derived from herbal materials.
STANDARDIZATION OF SIMPLICIA AND LIME PEEL EXTRACT Wahyunita Yulia Sari; Muhammad Fauzi Ramadhan; Setyowati Eka Yuniar; Bambang Purwoko; Triyo Nova; Fa'iq Hanif Mubarok
Jurnal Jamu Kusuma Vol. 5 No. 2 (2025): JURNAL JAMU KUSUMA
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/jurnaljamukusuma.v5i2.141

Abstract

Lime (Citrus aurantifolia Swingle) is one of the plants that can be used as traditional medicine. Parts of the lime plant that can be used as traditional medicine include the fruit, leaves, and peel. Lime peel waste is known to contain chemical compounds and as a raw material for medicine, standardization is needed to ensure its quality. The 70% ethanol extract of lime peel was made using the maceration extraction method. This study aimed to standardize both simplicia and 70% ethanol extract of lime (Citrus aurantifolia Swingle) peel according to the Indonesian Herbal Pharmacopoeia (2017) guidelines to ensure quality for pharmaceutical raw material applications.Lime peel was processed into simplicia and extracted using maceration with 70% ethanol. Standardization was performed on both simplicia and extract based on specific (organoleptic, phytochemical screening) and non-specific parameters (drying loss, water content, total ash, acid-insoluble ash, ethanol-soluble extract, water-soluble extract, and specific gravity). All analyses were performed in triplicate (n = 3) and statistical significance was tested using SPSS version 26 with a confidence level of 95% (p < 0.05).Both simplicia and extract met the pharmacopoeial requirements and can be recommended as standardized raw materials for herbal pharmaceutical formulations. These findings provide a reference for the quality control of herbal raw materials and promote sustainable utilization of lime peel waste.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK YANG BERBEDA PADA KULTUR SPIRULINA PLATENSIS DENGAN MEDIA AIR TAWAR SITI MUTRIPAH; LAILATUL BADRIYAH; SARWOKO SARWOKO; BAMBANG PURWOKO; NURADNIN HASAN
Ganec Swara Vol. 19 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Yayasan Al-Amin Qalbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59896/gara.v19i1.229

Abstract

Indonesia is a vast maritime country with abundant aquatic biodiversity. One of the aquatic organisms that has not been optimally utilized is Spirulina platensis. Challenges in cultivation and high costs are among the reasons why Spirulina platensis is still rarely cultivated and utilized. In this experiment, a cultivation technique for Spirulina platensis was carried out using freshwater media with different fertilization treatments. The results of the experiment concluded that Spirulina platensis can grow well in freshwater media with the addition of Walne fertilizer, AB Mix, and POC. Fertilization with AB Mix resulted in the highest cell density growth on the fifth day of treatment, reaching 92,900 units/mL with a biomass of 103 mg/L. These results were higher compared to Walne fertilizer, which achieved 56,680 units/mL with a biomass of 74 mg/L, and POC fertilizer, which reached 43,800 units/mL with a biomass of 57 mg/L