Widodo Aribowo
Program Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

THE FOOTSTEPS OF RESISTANCE IDEOLOGY IN MANGKUNEGARAN DANCE-STYLE Widodo Aribowo; Andrik Purwasito; Titis Srimuda Pitana
Proceeding IICACS No 2 (2017)
Publisher : Proceeding IICACS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.369 KB)

Abstract

This study aims to describe the ideology of resistance that grew and became the basis of the politics of cultural movement during the war to the establishment of Puro Mangkunagaran up to maintainaning the existence to the present. The study was descriptive analytic using 12 advanced-steps method of Spradley Ethnography, which was shortened into 4 research steps. Triangulation data research includes direct observation of Bedhaya Anglir Mendhung dance performance, dance manuscripts in Mangkunagaran, and interviews with two respondents. The findings of this study are: a) dance art in Puro Mangkunagaran are all themed with resistance except free-patterned dance like gambyong and golek; b) Bedhaya Anglirmendhung dance is the first Puro Mangkunegaran‘s Bedaya dance as well as an attribute of power in which ideologically articulates resistance;c) the ideology of resistance is also evident in the archetypal orstate logo artefacts, batik cloths, and the family of Mangkunagaran creeds.Keywords: ideology; representation; Mangkunagaran
WAYANG KAMPUNG SEBELAH, MEDIA SOSIAL, DAN MASYARAKAT YANG TERBELAH Widodo Aribowo; Andrik Purwasito; Titis Srimuda Pitana
Jantra. Vol 12 No 1 (2017): Peran Media Sosial dalam Pelestarian Budaya Daerah
Publisher : Balai Pelestarian Nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8495.528 KB)

Abstract

Perubahan sosial pada masyarakat Jawa telah mengubah wajah pertunjukan wayang kulit. Masyarakat tradisional pelan-pelan ikut berubah menuju masyarakat kapitalis, dan selera masyarakat ikut terbelah. Di satu pihak masyarakat lama masih mempertahankan selera tinggi karena wayang bagian dari laku spiritual. Di pihak lain generasi baru mengusung budaya pop. Degradasi seni tinggi menuju seni pop menggelisahkan kalangan seniman, hingga muncullah Wayang Kampung Sebelah sebagai counter culture yang memperkaya pertunjukan wayang itu sendiri. Metode etnografi diharapkan dapat menguraikan hal-hal epistemologis budaya pop sebagai peristiwa budaya berupa produksi makna dan apresiasinya oleh masyarakat menurut selera mereka sendiri. Temuan dalam penelitian: terjadi diskursus dan pemanfaatan media sosial dalam menyampaikan ideologi demokrasi berupa penolakan dikotomi budaya tinggi-rendah.
Metafora Konseptual dalam Praktik Musik Keroncong Vernakular Setiawan, Yulius Erie; Aribowo, Widodo; Mibtadin, Mibtadin; May, Adam
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i1.12479

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan (mengonseptualisasikan) praktik musik keroncong vernakular, yaitu sub-genre musik keroncong yang mengakomodasi keberagaman idiom musikal, syair, alat musik, teknik permainan, bentuk musik, dan ekspresi informal lainnya (kostum dan bahasa), yang berbeda dengan ekspresi keroncong asli (pakem). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang mengelaborasikan pendekatan musikologi, etnografi, dan kajian budaya. Analisis dilakukan dengan mengamati keberadaan sebuah kelompok musik asal Malang, yaitu Kos Atos dengan mengamati dua sample rekaman video musik lagu Kita Beda Berbahaya dan Kopi, didukung wawancara klarifikatif dari subjek. Ditemukan hasil: pertama, praktik musik keroncong vernakular yang diusung Kos Atos adalah bentuk artikulasi subjek (tindakan ekspresif dan praktik diskursif) yang bertujuan untuk menemukan segmentasi pendengar keroncong di luar keroncong asli dan mewacanakan nilai pengetahuan baru di bidang musik keroncong; kedua, terdapat beberapa elemen yang dapat dikonseptualisasikan dari praktik musik keroncong vernakular, yaitu ekspresi demotik (ekspresi kerakyatan), lagu yang tidak tersofistikasi (berselera umum), musical mood, dan politik-ekonomi; ketiga, praktik keroncong vernakular dapat dikatakan sebagai bentuk pelestarian keroncong dalam konsep yang lain. Melalui praktik keroncong vernakular, genre musik keroncong dapat dijamin kelestariannya karena dapat lebih mudah diterima masyarakat umum, aktual, serta dekat dengan praktik ekonomi yang menjamin kesejahteraan hidup seniman.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penerapan Teknologi Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Komunitas di Kabupaten Sukoharjo Handoko, Chanel Tri; Khoiriyah, Siti; Aribowo, Widodo; Pranoto; Mudyantini, Widya; Wahyono, Sri; Syahwan, Firman Laili; Jimmyanto, Hendrik; Adabi, Chesta Ricky; Aulia, Ahmad Asfar
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 9 No. 1
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v9i1.4916

Abstract

Pengelolaan sampah organik merupakan tantangan utama di Kabupaten Sukoharjo akibat tingginya volume sampah rumah tangga yang terus meningkat setiap tahun dan berkontribusi terhadap penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tanpa pengelolaan yang baik, sampah organik dapat menyebabkan berbagai permasalahan lingkungan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui penerapan teknologi pengelolaan sampah organik guna mengurangi beban lingkungan dan menciptakan nilai ekonomi. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi, pelatihan, serta implementasi teknologi seperti komposter aerobik, lubang resapan biopori, dan eco-enzyme. Pelatihan ini membekali mitra bank sampah dan masyarakat dengan keterampilan praktis dalam mengelola sampah organik menjadi produk yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Hasil program menunjukkan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah organik, dengan 90% peserta berhasil mengadopsi teknologi yang diajarkan. Kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman awal dan keterbatasan infrastruktur pendukung, namun faktor pendorong seperti kesadaran masyarakat yang tinggi serta dukungan pemerintah daerah berperan dalam keberhasilan program. Program ini tidak hanya mengurangi volume sampah organik secara signifikan, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan limbah. Selain itu, keberlanjutan program dapat diperkuat dengan kolaborasi antara komunitas, akademisi, dan pemerintah untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah. Keberhasilan model ini diharapkan dapat diterapkan di daerah lain yang menghadapi permasalahan serupa guna mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Fasad Timpanum Bangsal Tosan Mangkunegaran Menepis Spekulasi Apropriasi Religi Aribowo, Widodo
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 9, No 2 (2023): Jurnal SMaRT : Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18784/smart.v9i2.2038

Abstract

This research aims to answer a puzzle that has remained unanswered for decades due to the disconnection of oral stories about the facade structure of Bangsal Tosan at Pendopo Ageng Mangkunegaran Palace. This article aims to examine the appearance of the facade structure and the ornaments on it, in relation to the speculation of religious appropriation in the facade structure. The descriptive method within the constructivism paradigm is applied based on the findings of data deemed adequate for the formation of a clarificative narrative about the structure. It is called clarificative because it is an explanation of why there is a triangular structure (timpanum) and a Western-style relief on the facade, both of which are not commonly found in traditional Javanese buildings. This research produces a narrative explanation that the timpanum facade and Western-style reliefs on Pendopo Ageng of Mangkunegaran Palace were made during the time of K.G.P.A.A. Mangkunagara IV and named Bangsal Tosan. Although Western in style, the facade and ornaments are symbols of Javanese culture such as panembarama (greeting), acknowledgement of supernatural powers, and hopes for prosperity. The spectacular palace art structure is interpreted as the emergence of secular high fashion, a statement of the Mangkunegaran Palace's identity as the palace of an important person (pangeran) but not a king. This finding has the potential to change or otherwise enrich theories about the sacredness of palace buildings. Instead of practising strict and obedient social religious practices, Mangkunagara IV innovated the Tosan Ward in the Mangkunegaran Palace.