Articles
Apeksifikasi pada gigi insisivus sentralis rahang atas dengan diskolorisasi menggunakan mineral trioxide aggregate
Meilina Goenawan;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (220.36 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v2i2.118
Trauma pada gigi permanen muda dapat menyebabkan gigi non vital bila tidak dilakukan perawatan pada tahap awal. Perawatan gigi permanen immatur non vital merupakan tantangan bagi klinisi disebabkan formasi akar yang belum lengkap sehingga daerah apeks terbuka. Apeksifikasi adalah perawatan yang dilakukan untuk menginduksi barrier kalsifik dengan cara menempatkan bahan apeksifikasi pada daerah apeks yang terbuka. Mineral trioxide aggregate (MTA) merupakan bahan apeksifikasi yang memiliki biokompatibilitas yang baik, kemampuan untuk menutup daerah apeks dan pH yang tinggi. Laporan kasus ini menampilkan perawatan gigi permanen non vital dengan daerah apeks yang terbuka disertai diskolorisasi. Seorang wanita berumur 16 tahun datang ke RSGM Universitas Hasanuddin dengan keluhan adanya perubahan warna pada gigi insisivus sentralis kiri rahang atas. Gigi tersebut memiliki riwayat trauma dan pada gambaran radiografi tampak dinding saluran akar yang divergen dengan ujung apeks yang terbuka lebar. Perawatan yang dilakukan adalah apeksifikasi dengan menggunakan MTA di sepanjang saluran akar. Apeksifikasi dengan menggunakan MTA memberikan hasil yang memuaskan dan waktu perawatan yang lebih singkat.
Perawatan bleaching internal pada incisivus lateral kiri rahang atas
Nadia Suryanti Wongsari;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (291.015 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v2i3.129
Diskolorasi pada gigi anterior merupakan masalah estetik. Diskolorasi dapat disebabkan oleh faktor intrinsik, ekstrinsik, maupun kombinasi kedua faktor. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan teknik bleaching Hidrogen peroksida 35% merupakan bahan pilihan yang digunakan untuk memutihkan gigi karena merupakan agen oksidasi yang dapat mengeluarkan radikal bebas untuk memecah ikatan ganda chromophore yang menyebabkan diskolorasi. Pasien pria usia 23 tahun datang dengan keluhan perubahan warna pada gigi insisivus lateral kiri rahang atas. Pemeriksaan klinis menunjukkan diskolorasi pada mahkota dan tes vitalitas negatif. Dilakukan perawatan saluran akar kemudian dilanjutan dengan internal bleaching. Disimpulkan bahwa diskolorasi intrinsik yang disebabkan oleh nekrosis pulpa dapat dirawat secara walking bleach menggunakan hidrogen peroksida 35%.
Resin komposit silorane sebagai bahan tumpatan gigi posterior
Nurul Wadudah;
Juni Jekti Nugroho;
Andi Sumidarti
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (257.828 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v2i5.145
Komposit sebagai bahan restorasi mengalami perkembangan yang signifikan dengan kemajuan teknologi, khususnya sebagai bahan tumpatan gigi posterior. Silorane dikembangkan untuk mengatasi polimerisasi komposit yang kurang sempurna. Tulisan ini akan menjelaskan kelebihan silorane dibandingkan komposit terdahulu berbahan metakrilat. Silorane merupakan matriks resin komposit baru sebagai pengganti resin komposit bermatriks metakrilat. Bahan ini memiliki kontraksi pasca polimerisasi kurang dari 1% dan polymerization stress yang rendah karena memiliki sistem monomer cationic ring opening. Beberapa penelitian menyebutkan silorane memiliki kebocoran mikro yang lebih sedikit dibandingkan resin komposit berbahan dasar metakrilat. Silorane bisa menjadi alternatif tumpatan gigi posterior yang efektif.
Keakuratan electronic apex locator untuk menentukan panjang kerja
Naomi Paramita T.;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (219.655 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i1.155
Menghilangkan seluruh jaringan pulpa, jaringan nekrosis, dan mikroorganisme di dalam saluran akar merupakan kunci keberhasilan perawatan saluran akar. Hal tersebut hanya dapat dicapai jika panjang gigi dan saluran akar ditentukan dengan akurat. Radiografi merupakan cara konvensional yang umum dipakai untuk menentukan panjang kerja. Dibandingkan dengan radiografi, menentukan panjang kerja dengan electronic apex locator akan lebih mudah, cepat, akurat dan tanpa adanya pemaparan radiasi. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui cara kerja dan teknik penggunaan electronic apex locator.
Pasak fiber reinforced komposit
Wahdaniah Masdy;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (337.364 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i1.158
Dibutuhkan waktu yang cukup lama bagi praktisi untuk memahami berbagai keunggulan pasak fiber reinforced composite. Pasak fiber reinforced composite selain mempunyai keuntungan estetik, juga memberikan keuntungan mekanik, fungsional serta klinik. Bahan ini juga mengatasi kelemahan pada pasak logam yakni teknik yang digunakan minimal invasif, lebih mudah diperbaiki, non-galvanik/non-korosif dan mampu mengurangi microleakage apabila disementasi dengan baik. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan bahan baru dan tehnik yang dianggap sebagai alternatif yang layak menjadi pengganti pasak logam.
In office bleaching pada kasus diskolorasi ekstrinsik
Wahyuniwati .;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (268.596 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i2.177
Keinginan untuk memiliki gigi putih dan senyum yang lebih menarik telah menjadi kebutuhan estetika yang penting bagi banyak pasien saat ini. Pemutihan gigi telah menjadi perawatan kosmetik yang populer di kalangan pasien yang ingin meningkatkan penampilan estetika mereka. Selain itu, penggunaan bahan pemutih gigi telah berkembang pesat di kalangan klinisi yang terutama disebabkan oleh minimnya waktu yang dibutuhkan dalam prosedur pemutihan gigi. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk menyajikan protokol in office bleaching. Makalah ini melaporkan seorang wanita usia 35 tahun, merasa tidak puas dengan warna geligi depannya dan menginginkan perawatan pemutihan gigi. Hidrogen peroksida gel 40% diaplikasikan pada geligi anterior atas dengan mengikuti petunjuk pabrik. Setelah prosedur pemutihan, hasil yang memuaskan dapat dicapai. Disimpulkan bahwa pemutihan gigi adalah perawatan non invasif yang dapat memberikan hasil estetika yang memuaskan.
Restorasi onlay porselen pada gigi molar pertama rahang atas pasca perawatan endodontik
Haslinda .;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (429.761 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i3.182
Restorasi pada gigi pasca perawatan endodontik sangat penting untuk keberhasilan perawatan. Penyebab utama kegagalan restorasi pasca perawatan endodontik adalah kebocoran restorasi. Rencana pemilihan restorasi harus dilakukan dengan beberapa pertimbangan diantaranya banyaknya jaringan gigi tersisa, fungsi gigi, posisi dan lokasi gigi. Faktor yang paling utama dalam menentukan restorasi gigi posterior adalah banyaknya jaringan gigi sehat yang tersisa, karena gigi posterior menerima beban kunyah lebih besar dibandingkan gigi anterior. Onlay merupakan restorasi indirek yang menutupi sebagian permukaan ekstra koronal gigi dan tetap mengikuti kontur gigi. Dilaporkan seorang pasien umur 25 tahun datang dengan diagnosis nekrosis pulpa pada gigi molar pertama rahang bawah. Untuknya dilakukan pada gigi 16 perawatan endodontik. Kondisi klinis mahkota gigi pasca perawatan kehilangan tonjol distopalatal, maka dipilih restorasi akhir berupa onlay porselen. Bahan porselen diindikasikan untuk kavitas gigi yang luas agar restorasi porselen memiliki ketebalan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah. Disimpulkan bahwa Onlay porselen dipilih sebagai restorasi pada gigi molar pertama rahang bawah dan menghasilkan retensi serta resistensi yang sangat baik.
In office bleaching pada kasus diskolorasi ekstrinsik
Wahyuniwati .;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (215.01 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i1.211
Keinginan untuk memiliki gigi putih dan senyum yang lebih menarik telah menjadi kebutuhan estetika yang penting bagi banyak orang saat ini.Pemutihan gigi telah menjadi perawatan kosmetik yang populer di kalangan pasien yang ingin meningkatkan penampilan estetika mereka. Selain itu, penggunaan bahan pemutih gigi telah berkembang pesat di kalangan klinisi, terutama disebabkan oleh minimnya waktu yang dibutuhkan dalam prosedur pemutihan gigi. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk menyajikan protokol in office bleaching. Dilaporkan seorang wanita usia 35 tahun, merasa tidak puas dengan warna geligi depannya dan menginginkan perawatan pemutihan gigi. Untuk menanganinya, hidrogen peroksida gel 40% diaplikasikan pada geligi anterior atas dengan mengikuti petunjuk pabrik. Setelah prosedur pemutihan, hasil yang memuaskan dapat dicapai. Disimpulkan bahwa pemutihan gigi adalah perawatan non-invasif yang dapat memberikan hasil estetika yang memuaskan.
Diagnosis dan perawatan saluran akar pada gigi yang mengalami obliterasi
Sahriah Usman;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (280.767 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v4i3.223
Kalsifikasi pada gigi merupakan tantangan dalam diagnosis dan perawatan saluran akar. Gigi yang telah mengalami trauma umumnya mengalami obliterasi pulpa. Obliterasi pulpa didefinisikan sebagai deposisi jaringan keras ke dalam ruang saluran akar. Pada pemeriksaan radiografi menghasilkan gambaran kalsifikasi ruang saluran akar sebagian atau seluruhnya. Secara klinis gigi biasanya mengalami diskolorisasi mahkota. Sekitar 7-27% gigi dengan obliterasi pulpa akan berkembang menjadi nekrosis pulpa. Sulit untuk menentukan apakah gigi tersebut perlu segera dirawat setelah dideteksi adanya obliterasi pulpa atau menunggu tanda dan gejala pulpa dan periodontitis apikal terjadi. Keberhasilan perawatan saluran akar tergantung pada debridemen yang baik, disinfeksi dan obturasi yang hermetis dari sistem saluran akar. Namun prosedur ini mungkin sulit dicapai karena ruang pulpa mengalami kalsifikasi. Kajian pustaka ini membahas etiologi, prevalensi, klasifikasi, patomekanisme, diagnosis dan pilihan perawatan pada gigi dengan obliterasi pulpa, dan beberapa pendekatan serta strategi perawatan untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut. Kata kunci: trauma gigi, diskolorisasi, obliterasi pulpa, perawatan saluran akar
Management of pulp stone in molar teeth: literature review: Penanganan pulp stone pada gigi molar: kajian pustaka
Juni Jekti Nugroho;
Sri Wahyuni
Makassar Dental Journal Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (430.061 KB)
Introduction:Pulp stone is a calcification found in the pulp chamber or root canal of a tooth.Causative factors of pulp stone formation are age, caries process, restoration, long-standing pulp irritation, interference of pulp circulation, tooth movement in orthodontic treatment, and trauma. Clinically the pulp stone is irregular, hard and looks like a crystal. On radiographic examination it appears radiopaque. The effective way to remove pulp stone is using ultrasonic devices. The presence of pulp stone in the pulp chamber or root canal can located close to orifice so that it becomes a challenge for operators in endodontic treatment. One factor in the success of endodontic treatment is hermetic obturation. But this procedure is difficult to achieve because the pulp chamber is calcified. Aim: To determine the etiology, prevalence, identify clinically and radiographically, and how to remove pulp stone. Conclusion: Pulp stone is more common in molar teeth. Removing pulp stone using ultrasonic is more effective than using bur.