Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

NEGOSIASI RUANG PUBLIK: MODERNISASI DAN PENGUATAN CIVIL SOCIETY MODEL PESANTREN Asrori, Saifudin
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v16i1.6459

Abstract

Negosiasi Ruang Publik; Modernisasi dan Penguatan Civil Society Model Pesantren. Meski kontribusi pesantren dalam pembangunan sosial ekonomi telah banyak diakui berbagai kalangan, lembaga pendidikan Islam ini seringkali diasosiasikan sebagai lembaga yang mempromosikan pendidikan yang intoleran dan militan yang kemudian menjadi akar gerakan radikal dan terorisme di Indonesia. Artikel ini mencoba menjawab kemampuan pesantren dalam mempersiapkan santrinya agar mampu berpartisipasi di era masyarakat modern dan mendukung penguatan masyarakat sipil. Peran pesantren di era modernisasi dievaluasi melalui program-program pendidikan yang berhubungan dengan pendidikan anti-kekerasan, toleransi antar keyakinan dan etnis, pluralisme, Hak Asasi Manusia (HAM), kesetaraan gender, demokrasi, serta keadilan politik dan sosial. Berdasarkan studi etnografi di Pondok Modern Gontor, artikel ini mengambarkan bahwa pesantren telah mengambil peran politik progresif dan berperan aktif dalam penguatan munculnya masyarakat sipil di Indonesia
Disengagement Dari Jebakan Terorisme; Analisis Proses Deradikalisasi Mantan Napi Teroris Asrori, Saifudin
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v18i2.11493

Abstract

Upaya Jihadis untuk memberdayakan mantan tahanan teroris sebagai fenomena yang menarik dan unik. Keterlibatan jihadis dalam reintegrasi Bekas Tahanan Teroris sebagai bantuan timbal balik bagi banyak ekstrimis Islam yang berjuang berjuang dengan transisi kembali ke masyarakat tanpa bantuan yang memadai. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi upaya para Jihadis pada pelepasan dan reintegrasi program-program inisiatif mantan ekstremis. Bagaimana mereka terlibat dalam pembatasan ideologi radikal melalui program pembangunan masyarakat dan ekonomi dan mengintegrasikan kembali ekstremis ke dalam masyarakat. Artikel ini menyimpulkan bahwa keterlibatan para pejihad dalam inisiatif pemberdayaan sebagai alternatif dari program deradikalisasi pemerintah dari mantan tahanan teroris. Kelompok ini menjadi ‘komunitas baru’ bagi mantan ekstremis untuk mengekspresikan berbagai pandangan dan kepercayaan tanpa penyembunyian. Kehadiran kelompok ini adalah aset potensial dalam mempromosikan narasi melawan radikalisme dan terorisme di Indonesia
PERFORMING PIETY IN THE DIGITAL AGE: HALAL CONSUMPTION AND MUSLIM IDENTITY Asrori, Saifudin; Ismail, Muhammad; Jamilah, Joharotul; Shabbir, Ahmad
Al-Qalam Vol. 31 No. 2 (2025): Jurnal Al Qalam
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v31i2.1659

Abstract

Halal consumption has emerged as a central mode of identity performance among Jakarta’s urban millennial Muslims, intertwining religious obligation with consumer culture. This study examines how young Muslims navigate their religious identity, ethical values, and digital presence through the everyday practices of halal consumption. Moving beyond theological and market-centered frameworks, the research employs a qualitative design combining semi-structured interviews and digital ethnography to examine how halal is performed, curated, and contested in daily life. The findings show that halal is not merely a set of dietary or consumer rules but a performative and relational identity articulated through four key dynamics: the curation of the “Halal Self” on social media; the deployment of halal as moral distinction and cultural resistance; the negotiation of structural constraints on religious agency; and the formation of a Digital Ummah as a space for soft advocacy and peer-based religious knowledge. The study argues that halal consumption represents a multifaceted ethical practice, embedded in the complex interpit’apakalay of affective, technological, and sociopolitical aspects of contemporary Muslim life.
The flexibility illusion: Algorithmic control and precarity in Indonesia’s gig economy Asrori, Saifudin; Isma’il, Muhammad; Gamalinda, Eve F.
SIMULACRA: JURNAL SOSIOLOGI Vol 8, No 2: 2025
Publisher : Center for Sociological Studies and Community Developmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/sml.v8i2.30214

Abstract

This study critically examines the lived experiences of gig workers in Indonesia to interrogate the gap between the platform economy’s promise of flexibility and the structural realities of precarity. In the Global South, where weak social protections and high levels of informal employment render workers especially vulnerable, digital platforms frame gig work as a pathway to autonomy and entrepreneurship. This study argues that flexibility often functions as a rhetorical device concealing intensified algorithmic control and economic insecurity. Drawing on a qualitative case study, data were collected through 20 semi-structured interviews and non-participant observations with workers employed by a multinational beverage delivery platform in Tangerang, Indonesia. The findings reveal that gig work is shaped by algorithmic management, unstable income, psychosocial strain, and limited institutional protections, with gendered and intersectional vulnerabilities further exacerbating precarity. Far from enabling autonomy, gig labor reproduces digital Taylorism by externalizing risks while minimizing employer responsibility. These insights underscore the urgency of regulatory reforms that recognize hybrid employment status, ensure portable benefits, and implement gender-responsive protections to safeguard equity and dignity in platform-mediated work.
CARING TOGETHER: GRASSROOTS CHILDCARE, URBAN INCLUSION, AND COLLECTIVE RESILIENCE Asrori, Saifudin; Ismai’il, Muhammad; Shabbir, Ahmad; Jamilah, Joharotul
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 21(1), 2025
Publisher : Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v21i1.48945

Abstract

Abstract. As urbanization accelerates in Indonesia, access to affordable, inclusive, and culturally relevant childcare remains a persistent challenge for urban families, particularly among working-class and marginalized communities. This study investigates Rumah Anak, a community-led childcare initiative in an urban neighborhood of Indonesia, to understand how grassroots caregiving models foster social cohesion, reciprocal care, and resilience amidst institutional fragmentation and resource scarcity. Using a qualitative case study approach that includes semi-structured interviews, participant observation, and document analysis, the research identifies three interrelated dynamics: trust-building and social bonding, reciprocal caregiving as a local ethic, and grassroots navigation of institutional ambiguity. The findings illustrate that Rumah Anak functions not merely as a substitute for formal daycare, but as a form of relational social infrastructure that strengthens community ties, supports maternal employment, and enhances child development. The study concludes that community-based childcare systems, when adequately supported, hold transformative potential for inclusive urban development and call for policy frameworks that center care as a shared civic responsibility.   Abstrak. Di tengah percepatan urbanisasi di Indonesia, akses terhadap layanan pengasuhan anak yang terjangkau, inklusif, dan sesuai dengan konteks budaya masih menjadi tantangan besar, terutama bagi keluarga kelas pekerja dan kelompok marjinal. Penelitian ini mengkaji Rumah Anak, sebuah inisiatif pengasuhan anak berbasis komunitas di kawasan urban Indonesia, untuk memahami bagaimana model pengasuhan akar rumput mampu membangun kohesi sosial, praktik perawatan timbal balik, dan ketahanan kolektif di tengah fragmentasi kelembagaan dan keterbatasan sumber daya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipan, dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi tiga dinamika utama: pembangunan kepercayaan dan ikatan sosial, etika lokal dalam perawatan timbal balik, serta adaptasi komunitas terhadap ambiguitas institusional. Temuan menunjukkan bahwa Rumah Anak bukan sekadar alternatif dari daycare formal, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur sosial relasional yang memperkuat jaringan komunitas, mendukung partisipasi kerja perempuan, dan meningkatkan perkembangan anak. Studi ini menyimpulkan bahwa sistem pengasuhan berbasis komunitas, jika didukung secara memadai, memiliki potensi transformatif dalam pembangunan kota yang inklusif dan menuntut kerangka kebijakan yang menempatkan perawatan sebagai tanggung jawab sipil bersama.
Navigating Bureaucratic Pressures and Preserving Islamic Pedagogy: Institutional Strategies of Mu’allimin Pesantren Saifudin Asrori; Muhammad Isma’il; Ahmad Shabbir
EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Vol. 23 No. 2 (2025): EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan
Publisher : Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32729/edukasi.v23i2.2294

Abstract

This article examines how cadre based Mu’allimin pesantren in Indonesia strategically navigate the tension between preserving Islamic identity and adapting to bureaucratic educational reforms. Drawing on neo-institutional theory and Bourdieu’s concept of habitus, it employs a qualitative multi-case approach to analyse how four pesantren enact institutional reproduction through curricular hybridization, cultural filtering, leadership hybridity, and market-responsive adaptation. The findings reveal how these institutions engage in institutional work—not as passive actors but as agents of negotiated change—balancing symbolic compliance with internal continuity. By conceptualizing resilience as embedded, adaptive, and symbolic labour, this study advances institutional theory by highlighting how religious organizations sustain legitimacy and distinctiveness amid state-driven standardization.