Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal KACA

Sekilas Membandingkan Sunan Abu Dawud dan Turmudzi Mohamad Anas
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 7 No. 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v7i1.307

Abstract

Pengumpulan hadith pada masa awal ini masih sangat sederhana dan terus berkembang hingga sampai pada masa para ulama hadith seperti Imam Malik, Ahmad ibn Hambal, al-Bukhari, Muslim dan lainnya. Ketika masa ini, pengumpulan dan penulisan hadith sudah tertata dan tersusun secara sistematis dan terorganisir secara baik. Setelah Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, kini giliran Imam Abu Dawud dan juga al Tirmidzi, yang juga merupakan ahli hadis dan penghimpun hadis yang terkenal dan masuk dalam kategori kutub al-sittah. Dikenal dalam masyarakat awam khusunya umat Islam dengan nama kitab sunan. Sebagai ringkasan informasi awal bahwa kitab sunan adalah kitab yang disusun berdasarkan bab-bab hukum seperti taharah, salat, zakat yang bersumber dari Nabi Muhammad saw, sedangkan pendapat para sahabat tidak disebutkan didalamnya. Maka dalam karya ini penulis akan memaparkan tentang Sunan Abu Daud dan Al-Turmudzi serta karya-karyanya, sistematika penulisan dan kandungan sunannya, penilaian dan komentar ulama dan pakar, serta kitab-kitab syarahnya. Agar dapat membanding dua nama sunan yang sama baik sisi kelebihan atau kekurangannya.
Walimah dalam Perspektif Hadis: Telaah Kritis Hadis Koleksi Abu Dawud Nomor Indeks: 3742 Anas, Mohamad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.416

Abstract

Bentuk syukur yang diekspresikan oleh manusia akan berbeda-beda dengan berbagai kenikmatan yang diperolehnya, ada yang hanya mengucapkan hamdalah, ada yang bereksperi dengan sujud syukur, ada juga berbentuk “syukuran” acara makan-makan. Ditemukan pada kalangan masyarakat sekitar mengadakan “syukuran” identik dengan jamuan makanan, acara makan-makan dalam rangka bersyukur ini dikenal dengan nama acara walimah, prakteknya terkadang menyelengaran dengan besar-besaran, menyelengaran dengan glamor bahkan mengundang dengan jumlah kuantitas di atas rata-rata. Kiranya dipandang perlu ketika praktik pada masyarakat ditinjau ulang dengan merujuk pada praktek keagamaan, praktek rasul dan sahabatnya dalam rangka acara walimah, oleh sebab itu telaah kritis akan hadis walimah dilakukan oleh peneliti agar dapat memahami secara update pada saat Rasul dan sahabatnya dengan masyarakat kekiniaan, menjawab permasalahan tersebut yang diteliti dalam penelitian ini adalah, 1) Bagaimana nilai hadis tentang makanan walimah dalam sunan Abu Dawud 2) Bagaimana sikap yang dianjurkan oleh Nabi dalam menyikapi undangan walimah. Penelitian ini berbasis data kepustakaan dengan meneliti kualitas data yang ada serta melakukan pendekatan historis untuk melihat variabel terkait yang mewarnai dan mempegaruhi pemaknaan hadis dengan mengkaitkan kontekstualitas masyarakat saat ini. Peneliti menemukan, 1) Hadis yang mula-mula berstatus mursal sahabi, menjadi marfu' dengan ditemukan mutabi' lain dari jalur Muslim sehingga dapat diberlakukan setara dengan hadis marfu' itu sendiri, sedangkan kualitas sanadnya berstatus sahih. Kandungan matan tidak ditemukan unsur shad dan 'illat, sehingga hadisnya tetap berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah. Kondisi sanad dan matan yang sahih menunjukkan keberadaan hadis ini maqbul sebagai hujjah dan ma'mulun bihi. 2) Ketika mengadakan acara walimah disesuaikan dengan kondisi penyelenggara walimah, sebagai penghapus sikap diskriminatif antar golongan berada dengan golongan tidak ada, ta'aruf (saling kenal) antar warga sehingga interaksi sosial semakin solid, mempererat tali silaturrahim atau kerukunan bertetangga yang akhirnya menunjukkan tumbuh berkembangnya kekuatan sosial islami dan stabilitas sosial antar keluarga, warga dan teman seprofesi tetap terjaga.