Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal KALAM

TELAAH METAFISIK UPACARA KASADA, MITOS DAN KEARIFAN HIDUP DALAM MASYARAKAT TENGGER Anas, Mohamad
KALAM Vol 7 No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v7i1.367

Abstract

Dalam upaya mencari dimensi yang paling hakiki, manusia tidak boleh hanya berkutat pada level empiris dan apriori semata. Manusia harus melakukan perenungan dengan melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat empiris dan apriori untuk menemukan prinsip utama. Tulisan ini menganalisis dimensi metafisik upacara kasada. Hasil kajian menunjukkan bahwa refleksi metafisik mampu ‘mengatasi’ realitas yang nampak, yang seakan-akan “sesungguhnya” namun pada kenyataanya ‘menipu’. Kepalsuan ini tanpa disadari masuk ke dalam ranah ideologis dan membuat manusia tak mampu keluar dari sakralisasi ruang, waktu dan tempat yang mewarnai ritual upacara Kasada. Bertitik tolak dari penemuan ini, pelacakan dimensi metafisik dilanjutkan untuk menemukan eksistensi dan makna dari sebuah simbol-simbol dan mitos. Pelacakan ini pada akhirnya memberi kesimpulan bahwa dimensi metafisik dalam upacara Kasada masyarakat Tengger pada hakekatnya adalah miniatur dari kehidupan semua.
MENYINGKAP TUHAN DALAM RUANG ‘LOCAL WISDOM’: Upaya Merumuskan Filsafat Ketuhanan Kontemporer Anas, Mohamad
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.412

Abstract

Diskursus tentang Tuhan semestinya harus dilihat dalam sejarah peradaban manusia secara utuh, tidak parsial dan sepotong-potong, dan tidak juga hanya dalam perspektif Barat atau Timur saja. Sebuah peradaban yang mempersempit ruang gerak penalaran yang bersifat instrumental akan menalar Tuhan dengan cara yang sama. Implikasinya, terjadi nihilisme, absurditas, dan bahkan ateisme atas keberadaan Tuhan. Artikel ini membahas tentang konsep ketuhanan dalam ruang lokal wisdom dengan pendekatan filosofis. Dalam pemahaman ‘local wisdom’, menalar Tuhan bukan hanya sekedar menalar an sich dengan membiarkan rasio berjalan sendirian. Ia harus dibarengi dengan potensi-potensi lain seperti rasa, zauq, emosi dan seterusnya, sehingga dalam proses penalarannya berjalan dengan seimbang. Hal ini sebagaimana yang nampak dalam ajaran ketuhanan masyarakat Jawa yang bisa dikategorikan sebagai monoteistik kultural. Penalaran terhadap Tuhan hanya mungkin dan bisa dilakukan jika dalam proses penalaran tersebut manusia melibatkan segala potensi, ruang rasio, ruang zauq, ruang emosi, secara berkelindan dan terkait, serta menyadari lokalitas dan historisitas keberadaan manusia itu sendiri.
Disruption and Incommensurability Among Thomas S. Kuhn’s Paradigms Anas, Mohamad
KALAM Vol 15 No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v15i1.7380

Abstract

This paper specifically looks at the implications of Thomas S. Kuhn's ideas regarding the distinction between context of justification and context of discovery in the emergence of science. Kuhn's thesis is that science is not only formed from the context of justification, but the context of discovery (history) must also be considered. The method of research is an in-depth interpretation towards the relevance text to the research and then the author applies analytical method to examine certain terms objectively. The author also applies historical method to see the historical aspects of a thought and finally applies the heuristic method to obtain the novelty of a work. The results of the study indicate that by considering the context of invention of science, Kuhn is in fact trapped in an epistemological relativism. Kuhn's main weakness is the absolute and extreme discontinuity among competing paradigms due to his main idea of the incommensurability paradigm, that is, it is impossible to compare one paradigm to another. In this short article the author mutually analyses Kuhn's ideas with critical method. Finally, the author notes that special nature of such paradigms socially and culturally does not create a relative gap necessarily. However, it should be a capital of conversation and dialogue across cultures and civilizations.