Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERENCANAAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI AREA PENGEMBANGAN URBAN FARMING DARI GERAKAN EKONOMI MANDIRI (GEMI 0418) CIMAHI Ekawati, June; Wijaya, Karto; Sofari, Herdi; Rahmat, Amat; Muchamad, Arief Nur; Suparyogi, Dudi
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 12 No 1 (2025): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v12i1.8786

Abstract

The development of urban farming on green open space land in the Cipageran Asri Housing neighborhood RT 04 RW 18 Cipageran Village, North Cimahi District, Cimahi City, West Java, is based on the problem of limited water supply, which causes green open space (RTH) to be neglected and dry up, as well as the need to support circular economic activities. The aim of community service activities in spatial planning from the PKM team is to plan green open spaces as an urban farming development area for the Independent Economic Movement (GEMI) 0418 Cimahi. The results obtained by the architectural team for the development of urban farming consisted of 3 zones, namely the open planting area zone in the south and terraces on the east edge, the greenhouse zone with verticulture in the middle, and the gazebo zone in the north part of the RTH. It is hoped that this green open space planning will attract more visits from people outside the region to learn about implementing a circular green economy and improve GEMI 0418 management and innovation performance.
Penerapan Fungsi pada Desain Ruang Terbuka Hijau untuk Kota Berkelanjutan Ekawati, June; Rubi Ari Musaddad; Putri Nur Ajizah; Syarif Fauzan; Imas Eliani; Tate Wijaya; Muhammad Zulfikar; Muhammad Wilman Fadlirrahman
Jurnal Permukiman Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2025.20.61-74

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas di perkotaan akan makin meningkatkan pula kebutuhan lahan ruang terbuka hijau yang berperan penting bagi kehidupan masyarakat di perkotaan karena keberadaannya akan mempengaruhi indeks keberlanjutan suatu kota. Upaya yang perlu terus dilakukan untuk mewujudkan Bandung sebagai kota berkelanjutan adalah dengan menambah RTH baru dan mengoptimalkan fungsi RTH pada taman-taman kota yang sudah ada. Penelitian yang berlokasi di Kota Bandung ini bertujuan mengeksplorasi penerapan fungsi RTH pada elemen desain Ruang Terbuka Hijau dan membuat evaluasi dan penilaian berdasarkan indikator fungsi RTH pada dua lokasi studi yaitu Kiara Artha Park dan Taman Lansia di Kota Bandung. Metode yang dipakai adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah bahwa penerapan fungsi RTH yaitu fungsi ekologi, sosial-budaya, ekonomi dan estetika telah diterapkan di kedua lokasi studi pada vegetasi, material tutupan lahan, area komersial, kolam, elemen desain lansekap pada site, fasilitas dan aktivitas masyarakat. Namun masih terdapat beberapa indikator fungsi yang penerapannya kurang optimal, yaitu fungsi ekologi dan ekonomi pada Kiara Arta Park yang masih kurang baik sehingga perlu ditingkatkan, serta fungsi sosial-budaya dan estetika yang belum baik pada Taman Lansia sehingga perlu elemen maupun fasilitas tambahan agar bisa berfungsi lebih baik.
Pengaruh Penerapan Konsep Sustainable Building Terhadap Pengalaman dan Persepsi Jamaah di Masjid Al-Irsyad Sekatia, Augi; Mariamah Nadiyani, Alifa; Gita Ghaliya, Andini; Ekawati, June
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 3 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i3.4117

Abstract

Kesadaran yang meningkat terhadap arsitektur hijau dan bangunan berkelanjutan telah mendorong penerapan prinsip tersebut pada fasilitas ibadah seperti masjid. Masjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan, Bandung, yang dirancang oleh arsitek Ridwan Kamil, merupakan contoh desain berkelanjutan melalui efisiensi energi, pencahayaan alami, dan ventilasi silang. Penelitian ini bertujuan menilai sejauh mana prinsip bangunan berkelanjutan diterapkan serta dampaknya terhadap pengalaman beribadah, dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kinerja lingkungan dan kenyamanan jamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan pengukuran empiris meliputi kenyamanan termal (suhu, kelembaban, kecepatan angin), pencahayaan (lux meter), dan kualitas akustik (sound level meter), serta survei persepsi pengguna melalui kuesioner kepada 52 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu siang hari di beberapa titik mencapai 29,6°C hingga 32°C yang melampaui ambang batas kenyamanan, namun 65,4% responden menyatakan merasa nyaman pada malam hari dan 50% menyatakan netral pada siang hari. Pencahayaan alami mencapai 328 lux di area mimbar, namun area saf belakang hanya 81 lux dan saf samping 32 lux sehingga masih terdapat ketimpangan distribusi cahaya. Kualitas akustik dinilai cukup namun masih memiliki tantangan berupa gema akibat material reflektif dan kebisingan dari luar. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa penerapan prinsip sustainable building di Masjid Al-Irsyad telah memberikan dampak positif terhadap pengalaman dan kenyamanan jamaah, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan seperti pengendalian suhu siang hari, perbaikan distribusi pencahayaan buatan, dan pengendalian kebisingan. Penambahan vegetasi dan penyempurnaan sistem ventilasi menjadi saran utama dari responden sejalan dengan prinsip arsitektur hijau yang menjadi landasan desain masjid ini
KAJIAN AWAL JEJAK PERADABAN DAN ARSITEKTUR MEGALITIK DI KAWASAN UMANG, DATARAN TINGGI GAYO, ACEH Elysa Wulandari; Chusni Anshori; Asep Yudi Permana; June Ekawati; Masdar Djamaluddin
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4793

Abstract

Abstract: The Umang area in the Gayo highlands, Aceh, is a cultural landscape that strongly indicates traces of prehistoric (megalithic) civilization of the Gayo people. This study aims to examine the relationship between geological conditions, landscape elements, and human intervention through the analysis of archaeological features and a landscape architecture approach. The research method was carried out through field observations of site locations, spatial orientation, and symbolic motifs found in the area. The results show a series of archaeological features with a linear structure from the valley to the highlands, consisting of split stone platforms in low elevation areas and slate along the path to the mountains. The slate motifs in the form of various circular patterns indicate symbolic and ritual functions in the area. The absence of traces of permanent habitation, along with the geological conditions of steep slopes and traces of large landslides on the northern side of the area, strengthens the hypothesis that Umang was a ritual site or pilgrimage route, not a residential area. The past community is thought to have been aware of the dangers of natural disasters and created patterns of adaptation to their settlement space. Cosmological understanding is evident in the slate path that climbs from East to West towards the sacred mountain. From a landscape architecture perspective, the lower courtyard functions as a communal space, while the slate path becomes a spiritual transitional space. Keywords: Gayo, Prehistory, landscape archaeology, cosmology, ritual sites. Abstrak: Kawasan Umang di dataran tinggi Gayo, Aceh, merupakan lanskap budaya yang menyimpan indikasi kuat memiliki jejak peradaban pra sejarah (megalitik) masyarakat Gayo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kondisi geologis, elemen lansekap, dan intervensi manusia melalui analisis fitur arkeologis serta pendekatan arsitektur lanskap. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan terhadap lokasi situs, orientasi ruang, dan motif simbolik yang ditemukan di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya rangkaian fitur arkeologi yang berstruktur pola linear dari lembah menuju dataran tinggi, terdiri atas pelataran batu belah di area elevasi rendah dan batu tulis di sepanjang jalur menuju pegunungan. Motif batu tulis berupa ragam pola melingkar mengindikasikan fungsi simbolik dan ritual pada kawasan tersebut. Tidak ditemukannya jejak hunian permanen, serta kondisi geologi berupa lereng curam dan jejak longsoran besar di sisi utara kawasan, memperkuat hipotesis bahwa Umang merupakan situs ritual atau jalur ziarah (pilgrimage), bukan kawasan permukiman. Masyarakat masa lalu diduga memiliki kesadaran tentang bahaya bencana alam dan mencipatakan pola adaptasi ruang bermukimnya. Tampak pemahaman Kosmologis pada Jalur batu tulis yang mendaki dari Timur ke Barat menuju gunung yang sacral. Dalam perspektif arsitektur lanskap, pelataran bawah berfungsi sebagai ruang komunal, sedangkan jalur batu tulis menjadi ruang transisi spiritual. Kata Kunci: Gayo, pra-sejarah, arkeologi lanskap, kosmologi, situs ritual