Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PENENTUAN SKALA PRIORITAS KINERJA FISIK JARINGAN IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI SEMEN KRINJO DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DAN METODE ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) Darwinto, Panji Satria; Sayekti, Rini Wahyu; Wahyuni, Sri
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Irigasi (DI) Semen Krinjo saat ini kondisinya banyak saluran yang rusak serta bangunan pelengkap yang tidak dalam kondisi baik, hal itu dikarenakan DI Semen Krinjo terakhir direhabilitasi pada tahun 2012. Pengelolaan aset irigasi meliputi inventarisasi aset irigasi, penilaian kinerja aset irigasi, hingga pelaksanaan operasi dan pemeliharaan harus dilakukan karena kondisi suatu jaringan irigasi mempengaruhi efektifitas dan efisiensi kinerja irigasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui urutan skala prioritas kinerja fisik irigasi berdasarkan inventarisasi dan penilaian kondisi sebagai acuan untuk dilaksanakan rehabilitasi. Penilaian kondisi fisik irigasi berdasarkan pedoman yang dikeluarkan Kementerian PUPR. Hasil dari penilaian tersebut dihitung dengan metode AHP dan metode ANP hingga didapatkan urutan skala prioritas berdasarkan alternatif dan kriteria. Berdasarkan hasil penelitian yaitu bangunan utama dalam kondisi baik (83.08%), saluran pembawa dalam kondisi sedang (75.79%), bangunan pelengkap dalam kondisi sedang (79.27%). Urutan skala prioritas berdasarkan alternatif yaitu urutan pertama DI Krinjo, selanjutnya DI Semen. Urutan skala prioritas berdasarkan kriteria yaitu urutan pertama Saluran Pembawa, selanjutnya Bangunan Pelengkap, dan Bangunan Utama. Semen Krinjo Irrigation Area (IA) is currently in a lot of damaged channels and complementary structures that are not in good condition; this is because Semen Krinjo IA was last rehabilitated in 2012. Management of irrigation assets includes an inventory of irrigation assets, assessment of irrigation asset performance until the implementation of operation and maintenance must be carried out because an irrigation networks’s condition affects the effectiveness and efficiency of irrigation performance. This study aimed to determine the order of priority scale for physical irrigation performance based on an inventory and assessment of conditions as a reference for implementing rehabilitation. Assessment of the physical condition of irrigation is based on guidelines issued by the Ministry of Public Works and Public Housing of the Republic of Indonesia. The assessment results are calculated using the AHP method and the ANP method to obtain a priority scale order based on alternatives and criteria. Based on the research results, the main structures is in good condition (83.08%), the off-taking channel is in moderate condition (75.79%), the complementary structures is in moderate condition (79.27%). The order of priority scale based on alternatives is the first order in Krinjo IA, then Semen IA. The priority scale order is based on criteria, namely the first order of Off-Taking Channels, then Complementary Structures, and Main Structures.
PENILAIAN TINGKAT KERENTANAN AIR TANAH TERHADAP PENCEMARAN MENGGUNAKAN METODE SINTACS DI KECAMATAN MEGALUH KABUPATEN JOMBANG Susrama, Fadlil Adya; Siswoyo, Hari; Sayekti, Rini Wahyu
EnviroScienteae Vol 20, No 4 (2024): ENVIROSCIENTEAE VOLUME 20 NOMOR 4, NOVEMBER 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/es.v20i4.20062

Abstract

An area of 1,853 ha (65.2%) of land in Megaluh District is used for rice fields. Pesticides and inorganic fertilizers are widely used as plant fertilizers in Megaluh District, where excessive use in rice fields can pollute the groundwater below. This research is aimed at identifying spatially the possibility of groundwater pollution using the hydrogeological approach of the SINTACS method. The SINTACS method has five scenarios that produce different weights for each parameter that can cause groundwater vulnerability. The data used in the SINTACS method are groundwater depth, infiltration rate, unsaturated zone, soil texture, aquifer media, hydraulic conductivity and topography. This research uses variations in the depth of the groundwater level to determine the trend in the level of groundwater vulnerability in Megaluh District during the rainy season and dry season with a severe impact scenario as an approach to environmental conditions in Megaluh District. The results of the analysis show that the level of groundwater vulnerability in Megaluh District is in the range of 143.6 (rather high) – 198 (high). The percentage of rice field area which reached 65.2% resulted in a rather high level of vulnerability of 42.35% and a high level of vulnerability of 57.65%.
Assessment of the Level of Groundwater Vulnerability to Pollution Using the DRASTIC Methodin Jogoroto District, Jombang Regency Alfaridzi, Em Rafif Sultan; Siswoyo, Hari; Sayekti, Rini Wahyu
Journal of Educational Engineering and Environment Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Educational Engineering and Environment
Publisher : Fakultas Teknik Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jeee.v3i2.4689

Abstract

There are more than 70 small tofu factories in the Jogoroto District, which generate a large amount of liquid waste from tofu processing that has not been treated optimally. This certainly creates a potential for the waste to contaminate groundwater in the Jogoroto District. The assessment of groundwater vulnerability to contamination can be conducted using the DRASTIC method, which involves 7 parameters.In this study, there are 24 dug well points spread across the entire Jogoroto District, which were monitored periodically over a 5-month period, from July 2023 to November 2023. Based on the resulting groundwater vulnerability distribution map, laboratory tests on groundwater quality were carried out, using parameters from the Minister of Health Regulation No. 2 of 2023 concerning clean water and the Minister of Environment Regulation No. 5 of 2014 on effluent quality standards.The study found that the DRASTIC index value during the research period ranged from 140 to 212, with three levels of vulnerability: moderate, high, and very high. The high vulnerability level dominated the study area. However, based on the validation results, it was found that the groundwater quality in the Jogoroto District, Jombang Regency, is not contaminated.
Studi Optimasi Alokasi Air di Daerah Irigasi Pirang Kabupaten Bojonegoro Menggunakan Program Dinamik Wahab, Wahyu Abdul; Sayekti, Rini Wahyu; Sri Wahyuni
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2025.005.01.016

Abstract

Pemakaian air irigasi di Daerah Irigasi Pirang dinilai masih belum efisien sebab sering terjadi kekurangan air pada musim kemarau terutama di daerah irigasi bagian hilir sehingga menyebabkan hasil pertanian yang kurang optimal. Tujuan penelitian ini yaitu mengalokasikan air menggunakan teknik optimasi deterministik dengan memaksimalkan keuntungan hasil pertanian dengan menguraikan permasalahan menjadi beberapa tahap sehingga didapat keuntungan dengan berdasar pemberian air setiap tahap. Dalam metode dinamik deterministik terdapat fungsi tujuan serta fungsi kendala. Fungsi tujuan yaitu keuntungan maksimum sedangkan fungsi kendala yaitu luas lahan serta ketersediaan air. Hasil optimasi yang didapatkan dengan dinamik deterministik terdapat peningkatan prosentase periode terpenuhinya kebutuhan air irigasi dalam satu tahun dari 36,1 % menjadi 44,4 %. Total keuntungan pemberian air untuk setiap tahap atau bangunan irigasi yaitu sebesar Rp. 29.555.187.181. Ini menunjukkan peningkatan sebesar 40,06 % dibandingkan dengan keuntungan sebelum optimasi yang sebesar Rp. 21.102.019.123.
Studi Optimasi Alokasi Air Irigasi pada Daerah Irigasi Cawak Kabupaten Bojonegoro Menggunakan Program Dinamik Affandi, Muhammad Rizqy Viddy; Wahyuni, Sri; Sayekti, Rini Wahyu
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2025.005.02.072

Abstract

Daerah Irigasi Cawak terdapat Bendung Cawak yang menjadi sumber air utama namun kapasitas tampungan Bendung Cawak yang relatif kecil. Sehingga ketika musim hujan masih banyak air yang terbuang dan ketika musim kemarau tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air yang ada di lahan. Dari kondisi tersebut diperlukan pengoptimalan alokasi air menggunakan optimasi prgram dinamik deterministik agar didapatkan keuntungan hasil tani yang maksimal. Program Dinamik dilakukan dengan cara menguraikan masalah menjadi beberapa tahap yang kemudian akan menghasilkan keuntungan dari masing – masing tahap berdasarkan alokasi air. Fungsi tujuan optimasi yaitu mencari keuntungan yang optimal didapatkan dari alokasi debit air yang dialirkan dengan fungsi kendala yaitu luas lahan dan ketersediaan debit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan metode ini, luas lahan yang terairi meningkat sebanyak 4% setelah optimasi, menghasilkan keuntungan maksimum total sebesar Rp 46,062,777,802 naik dari keuntungan sebelum optimasi yang hanya sebesar Rp 44,397,072,560.
Studi Penentuan Tingkat Pelayanan Irigasi Dengan Metode MASSCOTE Berdasarkan Rapid Appraisal Procedure (RAP) Sebagai Penunjang Keputusan Kinerja Irigasi Daerah Irigasi Makam Sukowono Kabupaten Jember Permatasari, Titania Intan; Sayekti, Rini Wahyu; Ismoyo, M. Janu
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.24

Abstract

Assesment Performance based on Permen PUPR No. 12/PRT/2015 is a indicator to description irrigation system management made to the 6 (six) parameters including; Physical Infrastructure, Plant Productivity, Supporting Facilities, Personnel Organization, Documentation and Water User Association (P3A), whereas the assessment is carried out by evaluation method of MASSCOTE with Rapid Appraisal Procedure (RAP) which is a set of systematic procedures to diagnose obstacles, performance and level services in the system irrigation to 4 (four) main indicators include; Service Indicator, P3A Indicator, Human Resource of Operator Indicator, and Channel Operations Modernization indicator, performance assessment are taken by surveyor of respondents Operator irrigation, and farmers P3A, Show performance index by Permen PUPR No. 12/PRT/2015 gave the value 64.22% which has Less Well Performance Operations and Maintenance of Makam Sukowono Irrigation, while the MASSCOTE methode show Performance 2,99 in level of Service which has Less Well Performance of Service and Operations Irrigation Channels. Based on the path analysis found significant influence with 4 (four) main indicator variables X1, X2, X3 and X4 to irrigation system performance variable (Y) of 0.750 or 75%.Penilaian kinerja berdasarkan Permen PUPR No. 12/PRT/2015 merupakan suatu indikasi dalam rangka menggambarkan suatu pengelolaan sistem irigasi, dilakukan terhadap 6 (enam) parameter yaitu; Prasarana Fisik, Produktivitas Tanam, Sarana Penunjang, Organisasi Personalia, Dokumentasi dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), sedangkan pendekatan Metode MASSCOTE dilakukan dengan evaluasi Rapid Appraisal Procedure (RAP) yang merupakan seperangkat prosedur sistematis untuk mendiagnosa hambatan, kinerja dan tingkat layanan dalam sistem irigasi terhadap 4 (empat) indikator utama yaitu; Indikator Pelayanan, Indikator P3A, Indikator SDM Operator, dan Indikator Modernisasi Operasi Saluran. Penilaian kinerja dilakukan melalui survei terhadap petugas OP irigasi dan petani P3A yang menunjukkan indeks kinerja sebesar 64,22% atau kategori Kurang Baik terhadap kinerja Operasi dan Pemeliharaan berdasarkan Permen PUPR No. 12/PRT/2015, sedangkan indeks kinerja sebesar 2,99 berdasarkan Metode MASSCOTE dengan evaluasi RAP menunjukkan Level of Service pada kategori Kurang Baik terhadap kinerja Operasi Saluran dan Pelayanan Irigasi. Berdasarkan analisis jalur didapatkan pengaruh signifikan secara bersama variabel indikator utama X1,X2,X3 dan X4 terhadap variabel kinerja sistem irigasi (Y) sebesar 0,750 atau 75%.
Studi Pemodelan Dengan Analisis Jalur (Path Analysis) Guna Penunjang Keputusan Indeks Kinerja Sistem Irigasi Daerah Irigasi Candi Kabupaten Jember Sahdini, Arfin Putri; Sayekti, Rini Wahyu; Prayogo, Tri Budi
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.25

Abstract

Irrigation performance is an indicator to description irrigation system management, Assesment Performance based on Permen PUPR 12/PRT/M/2015 made to the 6 parameters including: Physical Infrastructure, Plant Productivity, Supporting Facilities, Personnel Organization, Documentation and Water User Association (P3A), whereas the assesment is carried out by evaluation method of Masscote with Rapid Appraisal Procedure (RAP) which is a set of systematic procedures to diagnose obstacles, performance and level services in the system irrigation to 4 main indicators include; Service Indicator, P3A Indicator, Human Resource of Operator Indicator, and Channel Operations Modernization indicator, performance assessment are taken by surveyor of respondents Operator irrigation, and farmers P3A, Show performance index by Permen PUPR 12/PRT/M/2015 gave the value 63,16% which has Less and Need Attention Perfomance Operations and Maintenance of Candi Irrigation, while the Masscote methode show perfomance 3,04 in level of Service which has Well Performance of Service and Operation Irrigation Channels. Based on the path analysis found mathematical modeling with the equation Y = 0,420 X1 +0,427 X2 + 0,432 X3 – 0,446 X4, with R2 0,857 or 85,7%. Where the significant influence with 4 main indicator variables X1, X2, X3 and X4 to irrigation system performance variable (Y) of 0,857 or 85,7%. Kinerja irigasi menjadi suatu indikasi dalam rangka menggambarkan suatu pengelolaan sistem irigasi, Penilaian kinerja berdasaran Permen PUPR No. 12/PRT/M/2015 dilakukan 6 parameter yaitu; Prasarana Fisik, Produktivitas Tanam, Sarana Penunjang, Organisasi Personalia, Dokumentasi dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), sedangkan pendekatan metode Masscote dilakukan dengan evaluasi Rapid Appraisal Procedure (RAP) yang merupakan seperangkat prosedure sistematis untuk mendiagnosa hambatan, kinerja dan tingkat layanan dalam sistem irigasi terhdap 4 indikator utama yaitu: Indikator Pelayanan, Indikator P3A, Indikator SDM Operator, dan Indikator Modernisasi Operasi Saluran. Penilaian kinerja dilakukan melalui survei terhadap petugas OP irigasi dan petani P3A yang menunjukkan indeks kinerja sebesar 63,16% atau kategori Kurang dan Perlu Perhatian terhadap kinerja Operasi dan Pemeliharaan berdasarkan Permen PUPR No. 12/PRT/M/2015, sedangkan indeks kinerja sebesar 3,04 berdasarkan metode Masscote dengan evaluasi RAP menunjukkan Level of Service pada kategori Baik terhadap kinerja Operasi Saluran dan Pelayanan Irigasi. Berdasarkan analisis jalur (Path Analysis) didapatkan pemodelan matematika dengan persamaan Y = 0,420 X1 + 0,427 X2 + 0,432 X3 – 0,446 X4, dengan R2 0,857 atau 85,7%. Dimana pengaruh signifikan secara bersama veariabel indikator utama X1, X2, X3 dan X4 terhadap variabel kinerja sistem irigasi (Y) sebesar 0,857 atau 85,7%.
Studi Penentuan Sebaran Kualitas Air dengan Metode DOE-WQI, IP, Oregon-WQI, dan Prati Index di Waduk Sutami Rahayu, Gayatri Putri; Sayekti, Rini Wahyu; Sholichin, Moh.
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2021.001.02.37

Abstract

Sutami Reservoir is one of the multipurpose reservoirs used in the supply of water. The main problem that occurs is a decrease in water quality caused by sources of pollution from agricultural waste, domestic waste, and industrial waste from the upstream part of the reservoir. This study aims to determine water quality during dry season using DOE-WQI, Pollution Index, Oregon-WQI, and Prati Index with parameters based on BOD, COD, DO, NH3-N, TSS, pH, NO3, and PO4, as well as to calculate the load capacity of reservoir pollution. The results obtained of water quality status using the DOE-WQI, Pollution Index, and Prati Index method is lightly polluted. Using the Oregon-WQI method, showed different results, that is heavily polluted, it was caused by differences in the use of parameters. The trophic status in the dry season of 2016 is 60%-80% Eutrophic. Total-P levels in upstream, middle, and downstream sections were 89,20 mg/m3, 86,733 mg/m3, and 76,667 mg/m3. The pollution load capacity of Sutami Reservoir in the upstream, middle, and downstream sections, are 12,448 mg/m3, 15,291 mg/m3, and 26,894 mg/m3. By comparing the value of Total-P and the pollution load capacity, it shows that Total-P exceed the limit of reservoir's pollution load capacity. Waduk Sutami menjadi salah satu waduk serbaguna yang digunakan dalam penyediaan air baku. Permasalahan utama yang terjadiialah adanya penurunan kualitas air yang disebabkan oleh sumber pencemaran limbah pertanian, limbah domestik, dan limbah industri di bagian hulu waduk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas air pada musim kemarau dengan menggunakan metode DOE-WQI, Indeks Pencemaran,Oregon-WQI, dan Prati Index berdasarkan parameter BOD, COD, DO, NH3-N, TSS, pH, NO3, dan PO4, serta untuk menghitung daya tampung beban pencemaranwaduk. Hasil yang didapatkan dari analisis kualitas air dengan menggunakanmetode DOE-WQI,Indeks Pencemaran, danPrati Indexadalah tercemar ringan. Pada metode Oregon-WQI menampilkan hasil yang berbeda yaitu tercemar berat, hal itu disebabkan oleh adanya perbedaan penggunaan parameter. Status trofik di musim kering tahun 2016 mengalami eutrofikasi sebesar 60% - 80% Eutrof. Diketahui kadar Total-P untuk bagian hulu, tengah, dan hilir antara lain 89,20 mg/m3, 86,733 mg/m3, dan 76,667 mg/m3. Besarnya daya tampung beban pencemaran Waduk Sutami pada bagian hulu, tengah, dan hilir yaitu 12,448 mg/m3, 15,291 mg/m3, dan 26,894 mg/m3. Dengan perbandingan kadar Total-P dan nilai daya tampungnya, maka memperlihatkan bahwa kadar Total-P melampaui batas kapasitas tampungan beban pencemaran waduk
Studi Evaluasi Kebutuhan Air Irigasi dan Penyusunan Jadwal Pembagian Air pada Daerah Irigasi Nglirip Kabupaten Tuban Farid, Mochammad Nur Fahrudin; Sayekti, Rini Wahyu; Ismoyo, M. Janu
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2022.002.01.09

Abstract

Daerah Irigasi Nglirip memiliki luas baku sawah sebesar 1292 hektar. Permasalah yang terjadi pada Daerah irigasi Nglirip adalah kekurangan air pada musim kemarau dan debit sungai berlebih ketika musim penghujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebutuhan air irigasi menggunakan metode Water Balance, kemudian direncanakan pola tata tanam rencana untuk meningkatkan intensitas tanam ketika debit air berlebih dan merencanakan jadwal pembagian air rotasi menggunakan faktor K. Dari studi ini didapatkan besarnya debit andalan maksimum sebesar 2695,57 lt/dt dan minimum 485,64 lt/dt, Luas intensitas tanam eksisting sebesar 274,94% dan rencana 275%, dari neraca air eksisting terjadi defisit air sebanyak 19 kali dan surplus air 17 kali sedangkan dari neraca air rencana terjadi 19 kali defisit dan 17 kali surplus air dari 36 kali periode tanam, pembagian air rotasi dengan faktor K(0,25-0,5) sebanyak 9 kali, faktor K (0,5–0,75) 7 kali, dan Faktor K > 0,75 20 kali.
Studi Evaluasi Kebutuhan Air Irigasi dan Penyusunan Jadwal Pembagian Air pada Daerah Irigasi Kedungrejo Kabupaten Madiun Winanto, Bernardinus Yoga; Sayekti, Rini Wahyu; Ismoyo, M. Janu
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2022.002.01.02

Abstract

Daerah Irigasi (DI) Kedungrejo Kabupaten Madiun memiliki luas baku sawah 1.538 ha. Daerah Irigasi Kedungrejo memiliki beberapa problematika yaitu Rencana Tata Tanam Global (RTTG) yang dibuat oleh Dinas Pengairan tidak terlaksana dengan baik di lapangan,  debit sungai berlebih ketika musim hujan dan debit sungai minim ketika musim kemarau. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kebutuhan air eksisting menggunakan metode Water Balance kemudian merencanakan pola tata tanam rencana untuk meningkatkan intensitas tanam ketika debit berlebih dan merencanakan jadwal rotasi pembagian air dengan menggunakan faktor K. Dari studi ini didapat hasil perhitungan debit andalan 80% maksimum sebesar 4.533,50 lt/dt dan minimum sebesar 0,00 lt/dt, lalu hasil evaluasi kebutuhan air eksisting dengan kondisi surplus air sebanyak 18 kali (50%) dan defisit air sebanyak 18 kali (50%) di mana intensitas tanam kondisi eksisting tahun 2014-2019 mencapai 284,32%. Untuk kebutuhan air dengan pola tata tanam rencana kondisi surplus air sebanyak 32 kali (89%) dan defisit air sebanyak 4 kali (11%) di mana intensitas tanam rencana dibuat sebesar 155,27%. Lalu rotasi pembagian air dengan faktor K terjadi sebanyak 4 kali.