Journal Manager MACC
Unknown Affiliation

Published : 130 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Waktu Pulih Anestesia Spinal pada Brakhiterapi Intrakaviter: Perbandingan Levobupivakain 5 mg Hiperbarik + Fentanil 25 mcg dengan Bupivakain 5 mg Hiperbarik + Fentanil 25 mcg: Aida Rosita Tantri, Christopher Kapuangan, Fahmi Agnesha Edwin Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.615 KB)

Abstract

Brakhiterapi intrakaviter merupakan terapi keganasan pada stadium lanjut yang sering digunakan pada bidang ginekologi. Pasien brakhiterapi pada umumnya dilakukan dengan pelayanan rawat jalan sehingga anestesia yang menjadi pilihan selama ini adalah anestesia spinal. Pemilihan obat yang memiliki waktu pulih anestesia spinal yang lebih cepat membuat pasien dapat pulang kerumah lebih cepat. Penelitian ini menelitiwaktu pulih anestesia spinal levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg dibandingkan dengan bupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg pada brakhiterapi intrakaviter rawat jalan. Metode: Setelah mendapatkan izin dari Komite Etik penelitian FKUI RSUPN Ciptomangunkusumo dan persetujuan dari pasien, dilakukan uji klinik acak tersamar ganda di unitradioterapi RSCM. Sebanyak 60 subyek dibagi menjadi dua kelompok perlakuan yaitu levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg (LV) dan bupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg (BV) untuk menilai waktu pulih anestesia spinal. Hasil: Pengukuran waktu pulih dilakukan dengan menilai waktu kesiapan pulang pasien, waktu ambulasi dan waktu pasien dapat miksi spontan. Pada variabel waktu ambulasi, miksi spontan, dan waktu kesiapan pulang didapatkan hasil berbeda bermakna (p<0,05). Simpulan: Waktu pulih anestesia spinal, waktu ambulasi dan waktu miksi pada kelompok levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg lebih cepat dibandingkan dengan bupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg pada brakhiterapi intrakaviter rawat jalan.
Pengaruh Edukasi Pra-anestesia terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Dewasa yang Menjalani Operasi Jantung Terbuka: Arif HM. Marsaban, Jefferson Hidayat, Irmia Kusumadewi, Gina Adriana Nainggolan Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.291 KB)

Abstract

Kecemasan praoperasi mengaktifkan stres respon yang menyebabkan stimulasi sistem saraf simpatis (menstimulasi sistem kardiovaskular dengan meningkatkan jumlah katekolamin darah yang menyebabkan takikardi, hipertensi, iskemik dan infark miokardial). Respon tersebut merugikan sirkulasi koroner, menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Salah satu penanganannya adalah dengan pemberian informasi (edukasi), melalui komunikasi efektif, informatif dan empati, diharapkan terjadi penurunan tingkat kecemasan pasien sebelum menjalani pembiusan dan pembedahan. Penelitian ini menginvestigasi pengaruh edukasi pra-anestesia terhadap tingkat kecemasan pasien operasi jantung terbuka di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini menggunaka uji kuasi eksperimen pada pasien operasi jantung terbuka dewasa di Instalasi PJT RSUPN Cipto Mangunkusumo pada bulan Maret 2016. Setelah mendapatkan ijin komite medik dan informed consent, pada 36 subyek dilakukan penilaian tingkat kecemasan sebelum dan sesudah edukasi dengan menggunakan instrumen APAIS. Sebelum edukasi dilakukan pengukuran tanda vital, dilanjutkan dengan pemberian edukasi dan diskusi. Terdapat penurunan bermakna rerata tingkat kecemasan sebelum edukasi dibandingkan dengan sesudah edukasi (p<0,001). Edukasi pra-anestesia menurunkan tingkat kecemasan pasien dewasa yang akan menjalani operasi jantung terbuka di Instalasi PJT RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Pengaruh Anestesi Umum dibanding dengan Anestesi Spinal untuk Seksio Sesarea terhadap Suhu Rektum Bayi Baru Lahir: Rahmat, Erwin Pradian, Cindy Elfira Boom Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.577 KB)

Abstract

Teknik anestesi spinal dan anestesi umum keduanya mengganggu mekanisme termoregulasi. Masih kurang informasi tentang pengaruh teknik anestesi yang dipakai untuk seksio sesarea terhadap suhu tubuh bayi baru lahir. Tujuan penelitian ini untuk menentukan apakah ada perbedaan suhu rektum bayi baru lahir dengan seksio sesarea dihubungkan dengan teknik anestesi yang dipakai. Wanita hamil sebanyak 60 orang secara acak mendapat anestesi umum atau anestesi spinal. Suhu inti ibu diukur tiga kali dengan termometer membran timpani saat induksi, insisi uterus dan saat bayi lahir. Suhu rektum bayi diukur segera setelah lahir. Usia ibu, berat badan, tinggi badan, body mass index (BMI), suhu ibu sesaat sebelum induksi dan suhu ruangan tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok. Interval waktu mulai induksi anestesi sampai bayi lahir pada kelompok anestesi spinal ratarata 18,24 menit (SD=2,862) dan kelompok anestesi umum rata-rata 6,47 menit (SD=3,082).Volume cairan pada kelompok anestesi spinal rata-rata 946,6 mL (SD=225,57) dan pada kelompok anestesi umum rata-rata 715,0 mL (SD=133,36), nilai P<0,05. Suhu rektum bayi pada kelompok anestesi spinal rata-rata 37,19oC (SD=0,256) dan pada kelompok anestesi umum rata-rata 37,59oC (SD=0,2288), nilai P<0.05. Suhu rektum bayi lebih rendah pada kelompok anestesi spinal dibanding dengan kelompok anestesi umum, tetapi tidak mencapai batas hipotermi. Hal ini akibat pada anestesi spinal terjadi redistribusi panas dari inti ke perifer yang lebih besar, pada penelitian ini ditemukan pula pada anestesi spinal memerlukan lebih banyak cairan intravena dan Interval mulai anestesi sampai bayi lahir lebih panjang.
Ketepatan Modul Triase IGD RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam Memprediksi Angka Mortalitas: Andi Ade Wijaya, Riyadh Firdaus, Thomas Aquinas S. R. Tonda Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.716 KB)

Abstract

Kegagalan mengenali dengan risiko mortalitas tinggi pada pasien dapat menyebabkan luaran yang buruk. penilaian yang cepat dan tepat terhadap perubahan tanda vital sangat penting untuk menghindari keterlambatan penanganan. Beberapa modul triase telah dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan bagi perawat/ dokter triasePenelitian meneliti ketepatan modul triase IGD RSCM dalam memprediksi mortalitas untuk luaran 24 jam dan 7 hari. Dilakukan studi kohort retrospektif pada 529 s pasien triase di Instalasi Gawat Darurat RSCM. Luaran mortalitas pasien dibagi menjadi mortalitas 24 jam dan mortalitas 7 hari. Area under the curve modul triase untuk luaran 24 jam adalah 0,787 (IK 95%: 0,690–0,885), lebih besar daripada area under the curve modul triase untuk luaran 7 hari yaitu 0,662 (IK 95%: 0,597–0,726). Hal ini berarti modul triase IGD RSCM lebih akurat dalam memprediksi mortalitas 24 jam daripada mortalitas 7 hari. Rasio kemungkinan positif (PLR) yang terbesar ialah untuk kategori resusitasi, yaitu 11,36. Performa modul triase IGD RSCM lebih baik dalam memprediksi mortalitas 24 jam daripada untuk memprediksi mortalitas 7 hari.
Angka Kejadian dan Karakteristik Menggigil Pascaoperasi di Ruang Pemulihan COT RSHS Periode Bulan Agustus–Oktober 2015: Tamara Tantarto, Iwan Fuadi, Setiawan Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.382 KB)

Abstract

Menggigil pascaoperasi merupakan komplikasi dari efek anestesi yang cukup sering dijumpai. Menggigil ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan risiko yang tidak baik bagi pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui angka kejadian dan karakteristik pasien menggigil pascaoperasi. Studi deskriptif ini melibatkan seluruh pasien pascaoperasi di ruang pemulihan COT RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode bulan Agustus-Oktober 2015 yang memenuhi kriteria inklusi. Data penelitian ini adalah data sekunder dari rekam medis yang berupa data lengkap mengenai pasien pascaoperasi. Dari 639 pasien, angka kejadian menggigil adalah 169 kasus (26,45%). Menggigil pascaoperasi lebih banyak terjadi pada pria yaitu sebanyak 28,57% dan kategori usia lansia awal. Proporsi pasien menggigil yang diberikan teknis anestesi umum saat operasi hampir sama dibandingkan anestesi regional. Presentase paling tinggi 43,75% pada pasien yang menjalani operasi >2 jam dengan 44,69% diberikan cairan infus sebanyak ≥1500 mL. Menggigil pascaoperasi paling banyak terjadi pada pasien yang menjalani operasi bedah saraf dengan presentase 66,67%. Angka kejadian menggigil pascaoperasi cukup tinggi terutama pada pria, kategori usia lansia awal, operasi yang lama, pemberian cairan infus yang banyak, serta operasi bedah saraf.
Feokromositoma: Seri Kasus: Linda Rachmat, Anne Suwan Djaja, Aida Rosita Tantri Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1109.681 KB)

Abstract

Feokromositoma adalah tumor penghasil katekolamin yang berasal dari sistem simpatoadrenal. Feokromositoma dapat mengakibatkan hipertensi dan dapat berakibat fatal. Terapi definitif untuk feokromositoma adalah pembedahan. Anestesia dan tatalaksana perioperatif pada kasus feokromositoma membutuhkan pendekatan dan teknik khusus yang bertujuan untuk menghindari terjadinya krisis adrenergik selama induksi anestesia, laringoskopi, dan intraoperasi. Pada pembedahan pengangkatan tumor feokromositoma juga perlu diantisipasi perubahan hemodinamik yang terjadi saat manipulasi tumor. Seri kasus ini melaporkan tiga orang pasien feokromositoma semuanya memiliki riwayat hipertensi berat. Pada pasien pertama didapatkan peningkatan katekolamin yang signifikan dalam urin 24 jam dan variasi tekanan darah (antara 80–140/40–90 mmHg) dan laju nadi (80–100x/ menit) intraoperasi. Pasien kedua mengalami peningkatan tekanan darah hingga 200/100 mmHg saat induksi. Pasien ketiga mengalami peningkatan katekolamin urin 24 jam dan peningkatan tekanan darah (220/100 mmHg) saat induksi. Setelah operasi ketiganya diekstubasi dan dirawat di ICU sebelum dipulangkan. Feokromositoma adalah salah satu tumor yang berakibat fatal apabila tidak ditatalaksana dengan baik sebelum dilakukan pembedahan. Hal ini dipicu oleh rangsang simpatis yang menyebabkan pelepasan katekolamin berlebihan saat induksi anestesia, laringoskopi, dan manipulasi tumor akibat pembedahan. Tatalaksana farmakologi sebelum operasi, pengawasan ketat selama pembedahan, dan keseimbangan antara vasodilatasi dan vasokonstriksi selama pembedahan sangat penting dalam tatalaksana perioperatif feokromositoma.
Weil’s Disease dengan Perdarahan Pulmonal: Patra Rijalul Harly, Ruli Herman Sitanggang, Tinni T. Maskoen Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.216 KB)

Abstract

Leptospirosis adalah zoonosis akibat leptospira yang banyak ditemukan di daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi. Manifestasi klinis bervariasi mulai dari penyakit yang self-limited dengan tanda dan gejala yang tidak spesifik, meningitis aseptik benigna, Weil’s disease (ikterus, disfungsi renal, dan perdarahan), hingga perdarahan pulmonal yang memiliki mortalitas tinggi. Seorang laki – laki 18 tahun datang ke unit gawat darurat Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin pada bulan Juni 2016 dengan Weil’s disease yang disertai perdarahan pulmonal. Terjadi kegagalan fungsi organ multipel yang memberat, sehingga dikonsulkan ke ICU pada hari ke 2 perawatan di rumah sakit. Didapatkan APACHE II Score 17 dengan prediksi mortalitas 25% pada saat masuk ICU. Kegagalan fungsi organ yang didapatkan adalah respirasi (P/F Ratio 52,6), ginjal (Kreatinin 5,36mg/dL), dan hati (bilirubin total 26,26 mg/dL). Diagnosis leptospirosis ditegakkan dengan skor Modified Faine Criteria 31. Manajemen di ICU pada pasien ini dilakukan dengan ventilasi mekanis, hemodialisis, meropenem dan methylprednisolone. Kortikosteroid diberikan mengingat patofisiologi leptospirosis yang diperkirakan akibat reaksi autoimun. Terjadi perbaikan pada fungsi respirasi (P/F Ratio 445), ginjal (Kreatinin 0,52/dL), dan hati (bilirubin total 10,76 mg/dL). Pasien diekstubasi pada hari ke 7 perawatan di ICU dan pindah ke ruang perawatan pada hari ke 8 perawatan di ICU.
Terapi Inhalasi Pada Tatalaksana Hipertensi Pulmonal: Yudi Hadinata, I Made Adi Parmana Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.148 KB)

Abstract

Hipertensi pulmonal didefinisikan sebagai kelompok penyakit dengan karakteristik peningkatan resistensi pembuluh paru yang dapat menyebabkan gagal jantung kanan. Ketika kondisi tersebut tidak ditangani maka dapat menyebabkan perburukan kondisi hingga kematian. Kemajuan dalam pemahaman patofisiologi terkait dengan kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi praktisi untuk mengobati pasien hipertensi pulmonal, yang dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Vasodilator paru yang ideal untuk digunakan bersifat spesifik untuk sirkulasi paru, bebas dari efek samping, murah, dan nyaman untuk dilakukan. Pemberian vasodilator melalui inhalasi merupakan salah satu strategi yang efektif untuk mengurangi tekanan arteri pulmonal dan juga menghindari efek samping sistemik seperti hipotensi. Tinjauan pustaka ini akan mengulas tentang terapi perioperatif hipertensi pulmonal dengan menggunakan vasodilator inhalasi.
Perbandingan Keefektifan Gel Lidokain 2% dengan Spray Lidokain 10% untuk Mengurangi Dosis Propofol pada Pasien Endoskopi Saluran Cerna Atas: Aries Perdana, Christopher Kapuangan, Panji Adinugroho Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.818 KB)

Abstract

Kombinasi spray lidokain dan anestetika intravena menjadi utama pada prosedur endoskopi saluran cerna, namun spray lidokain menyebabkan iritasi lokal, mual, muntah, dan rasa pahit. Gel lidokain merupakan alternatif anestetik lokal dengan keuntungan mengurangi gesekan mukosa dengan endoskop saat insersi, serta pemberian lidokain yang tebal dan lengket menghasilkan anestesia lokal yang lebih baik pada rongga mulut dan orofaring. Penelitian ini membandingkan antara keefektifan gel lidokain dan spray lidokain dalam mengurangi penggunaan propofol. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap pasien endoskopi saluran cerna atas dengan sedasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan Juli–September 2015. Setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik FKUI-RSCM, 52 subjek dirandomisasi menjadi 2 kelompok (kelompok gel lidokain 2% dan spray lidokain 10%). Total dosis propofol, angka kejadian gag refeks, hipotensi, bradikardia, dan desaturasi dicatat pada masing-masing kelompok. Analisis data dilakukan dengan uji t-test tidak berpasangan. Rata-rata dosis propofol grup gel lidokain 2% (186,92±43,52 mg) berbeda secara bermakna dengan grup spray lidokain 10% (218,85±61,01 mg), p<0,05, IK 95%=31,92. Gel lidokain 2% lebih efektif dibanding dengan spray lidokain 10% dalam mengurangi dosis propofol pada pasien endoskopi saluran cerna atas.
Perbandingan Efektivitas Tablet Hisap Amylmetacresol-dibenal dengan Profilaksis Deksametason Intravena Sebelum Pemasangan Pipa Endotrakeal untuk Mengurangi Kekerapan Nyeri Tenggorok Pascaoperasi : Eddy Harijanto, Riyadh Firdaus, Dedy Kurnia Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.158 KB)

Abstract

Nyeri tenggorok pascaoperasi post-operative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul pada anestesia umum dengan teknik intubasi. Tujuan penelitian ini ialah untuk membandingkan antara efektivitas tablet hisap amylmetacresol-dibenal dengan profilaksis deksametason intravena sebelum pemasangan pipa endotrakeal untuk mengurangi kekerapan POST. Setelah mendapatkan izin dari Komite Etik penelitian FKUI RSUPN Ciptomangunkusumo dan persetujuan dari pasien, dilakukan uji klinis prospektif yang diacak dan tersamar ganda pada 121 pasien yang menjalani operasi dalam anestesia umum menggunakan pipa endotrakeal. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Grup A 61 orang dan grup B 60 orang. Sebelum induksi, pasien dalam grup A diberikan tablet hisap amylmetacresol-dibenal dan suntikan NaCl 0,9% 2 mL dan grup B diberikan Deksametason 10 mg intravena dan tablet hisap plasebo. Nyeri tenggorok pascaoperasi dievaluasi dengan numerical rating scale (NRS) sebanyak 3 kali, yaitu setelah operasi saat Alderette skor 10, 2 jam pascaoperasi dan 24 jam pascaoperasi. Kekerapan dan derajat nyeri tenggorok pascaoperasi dicatat dan dianalisis dengan uji chi-kuadrat. Tidak didapatkan perbedaan kekerapan nyeri tenggorok pascaoperasi bermakna pada kedua kelompok sesaat setelah operasi berakhir, jam ke-2 dan jam ke-24 pascaoperasi. Derajat nyeri tenggorok pascaoperasi tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok. Tablet hisap amylmetacresol-dibenal sebelum pemasangan pipa endotrakeal memiliki efektivitas yang sama dengan profilaksis deksametason intravena dalam mengurangi kekerapan nyeri tenggorok pascaoperasi.