Journal Manager MACC
Unknown Affiliation

Published : 130 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Trapezius Squeezing Test dan Jaw Thrust Sebagai Indikator Kedalaman Anestesia pada Pemasangan Sungkup Laring: Adhrie Sugiarto, Jefferson Hidayat, Anas Alatas, Masry Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.081 KB)

Abstract

Manajemen jalan nafas merupakan salah satu aspek penting dalam anestesiologi. Salah satu jenis alat bantu jalan nafas yang sering digunakan adalah Laringeal Mask Airway (LMA/sungkup laring). Pemasangan sungkup laring tanpa pelumpuh otot membutuhkan kedalaman anestesi yang cukup. Trapezius squeezing test dan jaw thrust adalah dua uji klinis sederhana yang digunakan untuk menguji kedalaman anestesia. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan trapezius squeezing test dan jaw thrust sebagai indikator klinis menilai kedalaman anestesi pada pemasangan sungkup laring dengan induksi anestesia menggunakan propofol. Sebanyak 128 pasien dirandomisasi menjadi dua kelompok yaitu kelompok 1 (kelompok jaw thrust) dan kelompok 2 (kelompok trapezius squeezing test). Setelah premedikasi dengan midazolam 0,05 mg/kgBB dan fentanil 1 μg/kgBB, untuk induksi anestesia diberikan propofol dosis titrasi. Manuver jaw thrust dan trapezius squeezing test dilakukan setiap 15 detik. Saat respon motorik dari manuver hilang dilakukan pemasangan sungkup laring. Keberhasilan pemasangan pada kelompok 1 dan 2 adalah 93.8% vs. 90.6% (p > 0.05). Rerata penggunaan propofol pada kelompok 1 sebesar 120,34 mg dan kelompok 2 sebesar 111,86 mg (p > 0.05). Pada kelompok 1 apnea dijumpai pada 10 pasien (15.6%) sedangkan pada kelompok 2 sebanyak 11 pasien (17.2%). Trapezius squeezing test sama baiknya dengan jaw thrust sebagai indikator klinis dalam menilai kedalaman anestesia pada insersi sungkup laring.
Perbandingan Kecepatan Penyuntikan Fentanil 5 Detik dan 20 Detik Terhadap Angka Kejadian Fentanyl-Induced Cough (FIC): Rudyanto Sedono, Eddy Harijanto, Safroni Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.227 KB)

Abstract

Fentanil merupakan analgetik opioid yang hampir selalu digunakan sebagai co-induksi di ruang operasi. Namun penggunaan fentanil intravena bisa menimbulkan batuk yang dikenal juga sebagai fentanyl-induced cough (FIC). Batuk merupakan hal yang tidak diinginkan saat induksi karena bisa menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, tekanan intraokular dan tekanan intraabdominal. Kejadian FIC salah satunya dihubungkan dengan kecepatan penyuntikan fentanil. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan antara kecepatan penyuntikan fentanil 5 detik dan 20 detik terhadap angka kejadian dan derajat FIC pada pasien ras Melayu yang menjalani anestesia umum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap 124 pasien ras Melayu yang menjalani operasi dengan anestesia umum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok kecepatan 5 detik dan kecepatan 20 detik). Pasien secara acak diberikan fentanil 2 mcg/kgBB sebagai co-induksi dengan kecepatan penyuntikan 5 detik atau 20 detik. Insiden dan derajat FIC dicatat pada masing-masing kelompok. Derajat FIC dibagi berdasarkan jumlah batuk yang terjadi, yaitu ringan (1–2 kali), sedang (3–5 kali) dan berat ( >5 kali). Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan uji Kolmogorov-Smirnov sebagai uji alternatif. Insiden FIC pada kelompok 20 detik lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok 5 detik, 8.07% vs 29.03% (p<0.05). Derajat FIC antara kedua kelompok secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0.05). Insiden dan derajat FIC lebih rendah pada kelompok 20 detik dibanding dengan kelompok 5 detik pada penggunaan fentanil 2 mcg/kgBB sebagai co-induksi.
Perbandingan Pemberian Kombinasi Haloperidol 0,5 mg dan Deksametason 5 mg dengan Ondansetron 4 mg terhadap Kejadian Mual Muntah Pascaoperasi Modified Radical Mastectomy dengan Anestesi Umum: Teuku Rahmadsyah, Iwan Fuadi, Tatang Bisri Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.934 KB)

Abstract

Mual muntah pascaoperasi dapat meningkatkan morbiditas dan memperpanjang masa rawat pascaoperasi. Haloperidol adalah obat tranquilizer major golongan dari butirofenon yang mempunyai efek reseptor D2 antagonis. Pada penelitian yang terakhir memperlihatkan secara efektif bahwa haloperidol dapat juga mencegah timbulnya mual muntah. Penggunaan kombinasi haloperidol dan deksametason sebagai antiemetik profilaksis dapat menguntungkan, oleh karena kedua obat tersebut tersedia dimana saja, harganya murah dan mempunyai durasi yang lebih panjang. Ondansetron merupakan obat standar yang diberikan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kombinasi haloperidol 0,5 mg dan deksametason 5 mg dengan ondansetron 4 mg terhadap kejadian mual muntah pascaoperasi pada operasi modified radical mastectomy. Penelitian dilakukan terhadap 42 wanita (kurang dari 50 tahun) status fisik ASA I-II yang menjalani operasi modifikasi mastektomi radikal secara uji acak terkontrol buta ganda dalam anestesi umum. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu 21 orang menerima haloperidol 0,5 mg ditambah deksametason 5 mg dan 21 orang menerima ondansetron 4 mg yang diberikan setelah intubasi dilakukan. Pasien diberikan analgetik ketorolak dan petidin intravena secara kontinyu pascaoperatif. Evaluasi yang dinilai adalah tekanan darah, laju nadi, dan saturasi oksigen. Hasil utama yang dilihat adalah kejadian mual dan muntah dilakukan selama 24 jam, pencatatan dilakukan pada jam ke-0 sampai jam ke-2 dan pada jam ke 24 dengan 4 skala mual muntah (0–3). Hasil dari penelitian menunjukan terdapat kecenderungan keluhan mual muntah pascaoperasi lebih banyak terjadi pada kelompok ondansetron 4 mg (38,1%) dibanding dengan kelompok kombinasi haloperidol 0,5 mg dan deksametason 5 mg (4,8%). Pada analisis statistik yang dilakukan dengan uji Chi-Square didapatkan hasil perbedaan yang bermakna (p kurang dari 0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian kombinasi haloperidol 0,5 mg dan deksametason 5 mg intravena lebih baik dibandingkan dengan ondansetron 4 mg intravena dalam menurunkan kejadian mual muntah pascaoperasi modified radical mastectomy.
Pola Kuman Terbanyak Sebagai Agen Penyebab Infeksi di Intensive Care Unit pada Beberapa Rumah Sakit di Indonesia: Emilzon Taslim, Tinni T. Maskoen Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.418 KB)

Abstract

Tingkat penggunaan antibiotik yang tinggi di ruang perawatan intensif atau intensive care unit (ICU) telah menyebabkan peningkatan kejadian resistensi antibiotik terhadap kuman. Penulisan tinjauan pustaka ini berdasarkan studi kepustakaan yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa kuman yang paling banyak terdapat di ICU adalah Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumonia. Selain itu, didapatkan pula peningkatan kejadian Methycillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) . Beberapa antibiotik tidak sensitif lagi terhadap kuman-kuman yang terdapat di ICU, antara lain ampicillin, cefotaxime, tetracycline, ceftazidime, chloramphenicol, dan ciprofloxacin. Disarankan agar dilakukan perputaran penggunaan antibiotik (antibiotic cycling) berdasarkan pola kepekaan bakteri dan pola sensitivitas antibiotik untuk mengurangi kejadian resistensi antibiotik.
Pengaruh Anestesi Umum dibanding dengan Anestesi Spinal untuk Seksio Sesarea terhadap Suhu Rektum Bayi Baru Lahir: Rahmat, Erwin Pradian, Cindy E. Boom Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.935 KB)

Abstract

Teknik anestesi spinal dan anestesi umum keduanya mengganggu mekanisme termoregulasi. Masih kurang informasi tentang pengaruh teknik anestesi yang dipakai untuk seksio sesarea terhadap suhu tubuh bayi baru lahir. Tujuan penelitian ini untuk menentukan apakah ada perbedaan suhu rektum bayi baru lahir dengan seksio sesarea dihubungkan dengan teknik anestesi yang dipakai. Wanita hamil sebanyak enam puluh orang secara acak mendapat anestesi umum atau anestesi spinal. Suhu inti ibu diukur tiga kali dengan termometer membran timpani saat induksi, insisi uterus dan saat bayi lahir. Suhu rektum bayi diukur segera setelah lahir. Usia ibu, berat badan, tinggi badan, Body Mass Index (BMI), suhu ibu sesaat sebelum induksi dan suhu ruangan tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok. Interval waktu mulai induksi anestesi sampai bayi lahir pada kelompok anestesi spinal rata-rata 18,24 menit (SD=2,862) dan kelompok anestesi umum rata-rata 6,47 menit (SD=3,082).Volume cairan pada kelompok anestesi spinal rata-rata 946,6 ml (SD=225,57) dan pada kelompok anestesi umum rata-rata 715,0 mL (SD=133,36), nilai P<0,05. Suhu rektum bayi pada kelompok anestesi spinal rata-rata 37,19oC (SD=0,256) dan pada kelompok anestesi umum rata-rata 37.59oC (SD= 0.2288), nilai P < 0.05. Suhu rektum bayi lebih rendah pada kelompok anestesi spinal disbanding dengan kelompok anestesi umum, tetapi tidak mencapai batas hipotermi. Hal ini akibat pada anestesi spinal terjadi redistribusi panas dari inti ke perifer yang lebih besar, pada penelitian ini ditemukan pula pada anestesi spinal memerlukan lebih banyak cairan intravena dan Interval mulai anestesi sampai bayi lahir lebih panjang.
Antibiotik Empirik di Intensive Care Unit (ICU): Ricky Aditya, Nurita Dian Kestriani, Tinni T. Maskoen Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.421 KB)

Abstract

Penemuan jenis antibiotik baru diimbangi dengan penemuan resistensi dari bakteri tersebut terhadap beberapa obat. Secara garis besar, antibiotik dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan cara kerja, spektrum, dan efek bakterisidal. Terapi antibiotik terhadap pasien kritis merupakan hal yang menjadi perhatian di dunia akibat tingginya mortalitas dan morbiditas. Aspek efektifitas terapi terus menjadi perhatian akibat peningkatan kebutuhan ruang Intensive Care Unit. Kontrol infeksi dan pemilihan antibiotik yang sesuai merupakan intervensi utama dan harus menjadi prioritas dalam manajemen pasien kritis. Pengetahuan mengenai farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik merupakan faktor yang esensial karena penentuan dosis antibiotik berkaitan dengan keluaran pasien kritis. Perubahan pada volume of distribution dan clearance antibiotik pada pasien kritis mungkin berefek pada target konsentrasi obat dalam serum. Hal ini menjadi bukti bahwa parameter pharmacokinetics (PK)/pharmacodynamics (PD) berperan terhadap efek obat yang terkait dengan keluaran pasien dan resistensi.
Kefektifan sedasi antara campuran ketamin propofol (ketofol), dan propofol fentanil pada prosedur Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP): Adhrie Sugiarto, Aries Perdana, Norman Rabker Jefrey Tuhulele Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.664 KB)

Abstract

Sedasi yang efektif selama prosedur ERCP dibutuhkan untuk menjaga kedalaman sedasi dan analgesia serta mengendalikan pergerakan pasien selama prosedur ERCP berlangsung. Propofol merupakan obat anestetik sedasi yang tidak memiliki efek analgesia dan memiliki efek depresi kardiovaskular dan respirasi yang tergantung dosis. Penambahan ketamin dosis kecil diharapkan dapat menurunkan kebutuhan dosis propofol dalam mempertahankan kedalaman sedasi dan analgesia serta memberikan kestabilan hemodinamik dan respirasi. Penelitian ini membandingkan keefektifan sedasi antara campuran ketamin-propofol (ketofol) konsentrasi 1:4, dan propofol-fentanil pada prosedur ERCP. Setelah mendapatkan izin dari Komite Etik penelitian FKUI RSUPN Ciptomangunkusumo dan persetujuan dari pasien, dilakukan penelitian uji klinis acak tersamar ganda pada 36 pasien dewasa yang menjalani prosedur ERCP, yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok KF (n=18) yang mendapatkan ketofol 1:4 dalam semprit 50mL, serta kelompok PF (n=18) yang mendapatkan fentanil 1 mcg/ kgbb dan propofol dalam semprit 50 mL. Kedalaman sedasi diukur dengan ramsay sedation scale (RSS). Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata konsumsi propofol permenit kelompok campuran ketamin propofol (ketofol) secara statistik lebih rendah bermakna dibandingkan kelompok propofol fentanil (p<0.05). Jumlah median kebutuhan fentanil pada kelompok ketofol lebih rendah bermakna dibanding dengan kelompok propofol fentanil (p<0.05). Mula kerja dan waktu pulih pada kelompok propofol fentanil) lebih cepat secara bermakna dibandingkan kelompok ketofol (p<0.05). Kejadian hipotensi pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0.05). Tidak didapatkan kejadian desaturasi dan mual/muntah pada kedua kelompok.Campuran ketamin propofol (ketofol) lebih efektif daripada campuran propofol-fentanil dalam menjaga kedalaman sedasi dan analgesia serta memiliki efek samping yang minimal.
Keefektifan Pencegahan Post Anesthesia Shivering (PAS) pada ras Melayu: Perbandingan Antara Pemberian Ondansetron 4 mg Intravena Dengan Meperidin 0.35 mg/kgBB Intravena: Alfan Mahdi Nugroho, Eddy Harijanto, Arnaz Fahdika Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 1 (2016): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.909 KB)

Abstract

Post Aneshesia Shivering (PAS) adalah gerakan involunter satu otot rangka atau lebih yang biasanya terjadi pada masa awal pemulihan pascaanestesia. PAS dapat menyebabkan hipoksia arterial, meningkatnya curah jantung, risiko terjadinya infark miokard, dan mengganggu interpretasi alat-alat pemantauan tanda vital. Ondansetron dan meperidin adalah dua obat yang sering digunakan untuk mencegah PAS. Terdapat perbedaan ambang rangsang menggigil antar ras. Penelitian ini bertujuan membandingkan keefektifan pencegahan PAS dengan pemberian ondansetron 4 mg dengan meperidin 0.35 mg/kgBB intravena pada ras Melayu di Indonesia. Setelah mendapatkan izin dari Komite Etik penelitian FKUI RSUPN Ciptomangunkusumo dan persetujuan dari pasien, dilakukan uji klinis, acak, tersamar ganda pada 92 pasien ras Melayu yang menjalani operasi elektif di RSCM Kirana. Pasien dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok ondansetron dan kelompok meperidin. Pasien mendapatkan ondansetron atau meperidin sesaat sebelum anestesia. Semua pasien kemudian mendapatkan anestesia umum yang sama. Pasca anestesia, kekerapan dan derajat menggigil dicatat tiap lima menit selama tiga puluh menit pertama. Tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik (p>0.05) dalam kekerapan PAS pada kedua kelompok. Kekerapan kelompok ondansetron sebesar 15.2%, sedangkan kekerapan kelompok meperidin sebesar 6.5%. Ondansetron 4 mg intravena sama efektifnya dengan meperidin 0.35 mg/kgBB dalam mencegah kejadian PAS pada ras Melayu di Indonesia.
Efek Perbedaan Volume Tidal Intraoperatif terhadap Rasio Pao2/Fio2 Pascaoperasi Abdominal Mayor: Dita Aditianingsih, Jefferson, Michael Mandagi Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 2 (2016): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.282 KB)

Abstract

Komplikasi paru pascaoperasi merupakan salah satu penyebab penting morbiditas dan mortalitas pascaoperasi yang berkaitan dengan anestesia dan pembedahan. Studi ini membandingkan volume tidal 6 mL/kgBB dan 10 mL/ kgBB dengan menggunakan PEEP dan pengaruhnya terhadap komplikasi paru. Setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan FKUI/RSCM, dilakukan uji klinis acak terhadap 52 pasien operasi abdominal mayor elektif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan November 2014–April 2015. Subjek diacak dalam 2 kelompok, yaitu kelompok dengan volume tidal 6 mL/kg dengan PEEP 6 cmH 2 O dan volume tidal 10 mL/kg dengan PEEP 6 cmH2O. Keluaran primer adalah pemeriksaan fungsi paru menggunakan rasio PaO2/FiO2. Keluaran sekunder adalah komplikasi paru (pneumonia, atelektasis, ARDS, gagal napas), komplikasi ekstraparu (SIRS, sepsis, sepsis berat), dan mortalitas dalam 28 hari pascaoperatif. Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna rasio PaO2/FiO2 antara kelompok VT-6 mL/kg dengan VT-10 mL/kg (p>0,05), baik pada awal operasi, akhir operasi, hari pertama pascaoperasi, dan hari kedua pascaoperasi. Tidak ada perbedaan bermakna pada semua keluaran sekunder diantara kedua kelompok. Simpulan, volume tidal 6 hingga 10 mL/kg dengan PEEP 6 cmH2O aman untuk dipakai pada pasien yang menjalani operasi abdominal mayor.
Ketepatan Rumus Peres dan Topografi Anatomi dalam Menentukan Prediksi Kedalaman CVC pada Pemasangan Subklavia Kanan: Aries Perdana, Pryambodho, Barry Immanuel Kambey Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 34 No 3 (2016): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.55 KB)

Abstract

Pemasangan kateter vena sentral (CVC) merupakan suatu tindakan yang cukup rutin dilakukan pada perawatan intensif maupun perioperatif. Diperlukan suatu metode atau rumus sederhana dan akurat untuk memperkirakan kedalaman kateter CVC yang tepat. Studi ini mengevaluasi posisi dan kedalaman kateter vena sentral dengan menggunakan rumus Peres ([tinggi badan/10]-2) dan pengukuran topografi anatomi, serta menilai insiden malposisi pada pemasangan CVC. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik. Lima puluh pasien yang menjalani pemasangan kateter vena sentral (CVC) dengan pendekatan vena subklavia kanan dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu kelompok Rumus Peres ([tinggi badan/10]-2) dan kelompok Pengukuran Topografi Anatomi. Hasil perhitungan prediksi dipakai untuk menentukan batas fiksasi kulit. Kedalaman CVC dievaluasi dengan mengukur jarak antara ujung distal kateter CVC dengan karina pada radiografi dada. Hasil pengukuran tersebut dianalisis dengan uji statistik Bland Altman. Pada kelompok Rumus Peres, rerata jarak antara karina dengan ujung distal kateter CVC adalah sebesar 1,5 cm dibawah karina (IC 95% 1,2 sampai 1,9 cm), limit agreement 0,0 sampai 3,0 cm. Rerata jarak pada kelompok pengukuran topografi anatomi sebesar 0,85 cm (IC 95% 0,5 sampai 1,1 cm) limit of agreement -0,5 sampai 2,2 cm. Pada penelitian ini insiden malposisi ditemukan sama pada kedua kelompok (masing-masing 3 insiden). Rumus Peres dan Pengukuran Topografi Anatomi tidak tepat dalam memprediksi kedalaman kateter CVC pada orang Indonesia.