Journal Manager MACC
Unknown Affiliation

Published : 130 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Efek Pemberian Lidokain 2% 1,5 mg/kgBB Intravena Sebelum Ekstubasi terhadap Kejadian Batuk dan Nyeri Tenggorok pada Pasien yang dilakukan Pembedahan dengan Anestesi Umum: Vicky Muhammad Ramdhani, Suwarman, Ike Sri Redjeki Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2044.531 KB)

Abstract

Masalah yang sering timbul pada tindakan anestesi umum adalah saat dilakukannya ekstubasi pipa endotrakeal. Tindakan ini dapat mengiritasi mukosa saluran napas yang menimbulkan respons seperti batuk dan nyeri tenggorok. Pemberian lidokain intravena merupakan salah satu cara untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efek pemberian lidokain 2% 1,5 mg/kgBB intravena sebelum ekstubasi untuk mengurangi terjadinya batuk dan nyeri tenggorok pada pasien yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum. Penelitian dilakukan dengan uji acak terkontrol buta ganda pada 72 pasien usia 18–60 tahun yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–Agustus 2013. Subjek dibagi dalam dua kelompok yakni kelompok yang diberikan lidokain 2% 1,5 mg/kgBB intravena dan kelompok kontrol yang diberikan NaCl 0,9% sebelum ekstubasi. Data hasil penelitian dianalisa menggunakan uji chi kuadrat dan Mann-Whitney. Dianggap bermakna apabila nilai p<0,05. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pemberian lidokain 2% 1,5 mg/kgBB memberikan dampak yang bermakna dalam menurunkan kejadian batuk dengan nilai p=0,034 dan nyeri tenggorok dengan nilai p=0,000 pada setiap waktu pengamatan. Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian lidokain 2% 1,5 mg/kgBB intravena sebelum ekstubasi mampu mengurangi terjadinya batuk dan nyeri tenggorok sebagai akibat tindakan ekstubasi pada pasien yang menjalani pembedahan dengan anestesi umum.
Hubungan antara Gambaran Endoskopi dengan Manifestasi Klinis Nyeri Perut Berulang dan Infeksi Helicobacter pylori: Yudith Setiati Ermaya, Dwi Prasetyo Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1992.665 KB)

Abstract

Nyeri perut berulang (NPB) adalah nyeri perut yang terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 3 bulan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pada anak. Prevalensi NPB 10%–30%, dengan penyebab fungsional atau organik. Penyebab organik diantaranya infeksi Helicobacter pylori (H. pylori). Secara global >50% populasi dunia terinfeksi H. pylori terutama di negara sedang berkembang, sebagai standar baku pemeriksaan histology menggunakan endoskopi dengan anestesi. Penelitian ini mencari hubungan antara gambaran endoskopi dengan manifestasi klinis NPB dan infeksi H. pylori. Studi potong lintang dilakukan terhadap 20 pasien anak dengan keluhan NPB yang datang ke Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, periode April–November 2015. Analisis menggunakan uji Pearson Chi-square, Spearman rho, Eksak Fisher dan Mann-Whitney. Subjek sebanyak 20 anak, terdiri atas 10 anak laki-laki dan 10 perempuan, usia median 12 tahun, manifestasi klinis terbanyak adalah NPB sebesar 60% dan gambaran endoskopi erosi 80%. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara gambaran endoskopi dengan manifestasi klinis, namun didapatkan kecenderungan gambaran endoskopi yang berat dengan manifestasi klinis berat. Didapatkan Infeksi H. pylori positif pada 90% subjek, dengan anak laki-laki 55%, tidak ada hubungan bermakna antara gambaran endoskopi dengan infeksi H. pylori (p=0,133). Simpulan tidak didapatkan hubungan bermakna antara gambaran endoskopi dengan manifestasi klinis dan infeksi H. pylori.
Perbandingan Estimated Blood Loss, Hematology Analyzer, dan Point-of-Care Testing dalam Keakuratan Pengukuran Hemoglobin Intraoperatif: Ratna Farida Soenarto, Alfan Mahdi Nugroho, Ahmad Faishal Fahmy Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2073.68 KB)

Abstract

Penghitungan Estimated Blood Loss (EBL) berdasarkan rumus Allowable Blood Loss (ABL) dengan target hemoglobin tertentu kerap dijadikan panduan dalam menentukan transfusi intraoperatif. Penggunaan Point of Care Testing (POCT) diciptakan untuk memudahkan dilakukannya pemeriksaan kadar hemoglobin. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi penghitungan hemoglobin intraoperatif antara EBL dan POCT, dibandingkan dengan Hematology Analyzer yang merupakan pengukuran baku di laboratorium. Penelitian ini menggunakan Uji Bland-Altman pada pengukuran hemoglobin intraoperatif terhadap 43 pasien yang menjalani operasi elektif dan diperkirakan mengalami banyak perdarahan di Instalasi Bedah Pusat RSUPN Cipto Mangunkusumo antara Desember 2014–Maret 2015. Saat penghitungan EBL mencapai ABL dengan target Hb 7 g/dL sebelum transfusi diberikan, sampel darah diambil untuk pengukuran hemoglobin dengan Sysmex XE-2100® sebagai Hematology Analyzer dan HemoCue® Hb 201+ sebagai POCT. Uji Bland-Altman Hb ABL (7 g/dL) terhadap Hb Sysmex dengan interval yang dianggap akurat terhadap kadar Hb 7 g/dL adalah -1 hingga 1, diperoleh limits of agreement besar yaitu -2,267 hingga 2,467. Uji Bland-Altman Hb HemoCue terhadap Hb Sysmex diperoleh limits of agreement kecil yaitu -0.418 hingga 0.372. Terdapat perbedaan bermakna dalam akurasi penghitungan hemoglobin intraoperatif antara EBL dengan Hematology Analyzer, sedangkan pengukuran dengan HemoCue® Hb 201+ sebagai perangkat POCT mempunyai keakuratan yang baik.
Efek Penambahan Magnesium Sulfat 80 mg pada Bupivakain 0,5% Hiperbarik terhadap Mula dan Lama Kerja Blokade Sensorik dan Motorik Anestesi Spinal pada Seksio Sesarea: Suwarman, Sriwahyuniati Purwaningsih, A. Muthalib Nawawi, Hendro Sudjono Yuwono Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1968.297 KB)

Abstract

Penambahan adjuvan pada bupivakain hiperbarik 0,5% dilakukan untuk mempercepat mula kerja blokade sensorik dan motorik, meminimalisir efek samping dan memperpanjang efek analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan magnesium sulfat 80 mg intratekal pada bupivakain 0,5% hiperbarik terhadap mula dan lama kerja blokade sensorik dan motorik anestesi spinal pada seksio sesarea. Penelitian ini dilakukan secara uji acak terkontrol buta ganda pada 40 pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II menjalani seksio sesarea di Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan April sampai Mei 2015. Penambahan magnesium sulfat 40% 80 mg pada bupivakain 0,5% hiperbarik intratekal menghasilkan mula kerja blokade sensorik dan motorik lebih cepat dibanding dengan kelompok NaCl 0,9% (p˂0,001). Lama kerja blokade sensorik dan motorik lebih lama pada kelompok magnesium dibanding dengan kelompok NaCl 0,9% (p˂0,001). Simpulan penelitian adalah anestesi spinal dengan menggunakan bupivakain 0,5% hiperbarik dengan magnesium sulfat 80 mg menghasilkan mula kerja blokade sensorik dan motorik lebih cepat dan lama kerja blokade sensorik dan motorik lebih lama dibanding dengan bupivakain 0,5% hiperbarik pada pasien yang menjalani seksio sesarea.
Waktu Inisiasi dan Pemenuhan Asupan Nutrisi Enteral pada Pasien yang Menggunakan Ventilasi Mekanik di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung: Dian Irawati, Suwarman, Ike Sri Redjeki Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2030.483 KB)

Abstract

Waktu inisiasi pemberian nutrisi enteral pada pasien sakit kritis adalah 24–48 jam pertama setelah pasien masuk ke Intensive Care Unit (ICU), sedangkan waktu pemenuhan kadar nutrisi ideal adalah 48–72 jam yang merupakan “window opportunity” dan berpengaruh terhadap morbiditas serta mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu inisiasi dan pemenuhan kebutuhan nutrisi enteral pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Penelitian prospektif, deskriptif, observasional ini dilakukan pada periode Juni ̶ September 2015 dan didapatkan 39 subjek penelitian. Waktu inisiasi pada 38 dari 39 subjek penelitian ini ≤24 jam. Pada 24 subjek penelitian, kebutuhan nutrisi ideal tercapai dalam waktu lebih dari 72 jam. Alasan tertundanya inisiasi karena resusitasi. Alasan tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi ideal dalam waktu ≤72 jam adalah prosedur pemberian bertahap, intoleransi, gangguan hemodinamik, tidak ada bising usus, dan gula darah tinggi. Simpulan penelitian ini adalah inisiasi pemberian nutrisi enteral pada hampir seluruh pasien yang menggunakan ventilasi mekanik yang dirawat di ICU RSHS Bandung selama periode Juni hingga September 2015 dilakukan pada waktu kurang atau sama dengan 24 jam. Setelah dilakukan pengamatan selama 72 jam, sebanyak 58,87% subjek penelitian tidak tercapai kebutuhan nutrisi idealnya.
Risk Ratio Kejadian Delirium pada Pasien dengan Faktor Risiko yang Dinilai dengan Confusion Assessment Method of Intensive Care Unit (CAM-ICU) di Perawatan Ruang Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Bulan Oktober–Desember 2015: Tubagus Yuli Rohmawanur, Indriasari, Ike Sri Redjeki Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2008.763 KB)

Abstract

Delirium merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, perhatian, kognitif dan persepsi bersifat akut dan fluktuatif (biasanya beberapa jam sampai hari). Insidensi delirium meningkat pada pasien kritis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Risk ratio (RR) kejadian delirium pada pasien dengan faktor risiko yang dinilai dengan Confusion Assessment method for the intensive Care Unit (CAM-ICU) selama perawatan di ruang General Intensive Care Unit (GICU) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) Bandung. Penelitian ini dilakukan secara observasional analitik dan kohort prospektif pada 91 pasien setelah perawatan 24 jam di GICU RSHS Bandung yang di lakukan pada periode bulan Oktober─Desember 2015 kemudian dilakukan analisis data untuk menilai RR, persentase dan uji chi square terhadap kejadian delirium. Hasil penelitian ini didapatkan kejadian delirium di ruang GICU RSHS Bandung sebesar 29,7%. Risk ratio yang bermakna dengan nilai RR >1 terdapat pada pasien dengan riwayat obat sedasi 3,16, pasien dengan bantuan mesin ventilator 2,37, ketidakseimbangan elektrolit 2,37, riwayat infeksi 2,13, komorbid 1,86, riwayat penyakit neurologi 1,622, dan dengan statistik chi square didapatkan adanya hubungan yang signifikan kejadian delirium berdasarkan riwayat obat sedasi, ketidakseimbangan elektrolit dan pasien dengan bantuan mesin ventilator dengan nilai p< 0,05. Simpulan penelitian ini kejadian delirium di ruang GICU RSHS Bandung meningkat pada pasien kritis dengan faktor risiko dan didapatkan RR tertinggi pada pasien dengan riwayat obat sedasi sebesar 3,16 kali lebih besar.
Blokade Stellate Ganglion dengan Panduan Ultrasonografi sebagai Manajemen Nyeri pada Pasien dengan Kanker Paru dan Complex Regional Pain Syndrome Tipe 1: M. Andy Prihartono, Dedi Fitri Yadi, Ike Sri Redjeki Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.979 KB)

Abstract

Kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak menimbulkan metastasis. Complex regional pain syndrome (CRPS) tipe 1 adalah suatu simptom berupa nyeri sangat hebat yang terjadi di tempat jaringan rusak yang bukan disebabkan oleh trauma dan tidak ada kerusakan saraf. Blokade stellate ganglion merupakan blokade pada ganglion saraf simpatis yang dilakukan pada leher sejajar dengan kartilago cricoid dan Chassaignac’s tubercle (C6). Mengetahui efektivitas stellate ganglion block pada kanker paru dan complex regional pain syndrome tipe 1.Laporan kasus; laki-laki 65 tahun dengan adenocarcinoma paru mengeluh nyeri hebat pada punggung belakang daerah atas skapula, bahu yang menjalar pada daerah lengan sampai jari-jari tangan kanan. Untuk nyerinya, diberikan hydromorphone 8mg (Jurnista® ) 1x sehari, parasetamol 4x 500mg, amitriptylin 1x10mg, dan pregabalin 2x 75mg. Karena nyeri semakin bertambah (VAS 9) dan terdapat peningkatan fungsi hati dan pemanjangan faktor koagulasi, maka dilakukan blokade stellate ganglion dengan panduan USG, nyeri berkurang menjadi VAS 4. Terapi nyeri pada kanker paru disertai dengan CRPS tipe 1 dapat ditangani dengan blokade stellate ganglion yang selain untuk terapi nyeri juga dapat mengurangi jumlah obat-obatan oral yang dikonsumsi.
Strategi Resusitasi pada Traumatik Syok Hemoragik: Mia Supandji, Dhany Budipratama, Erwin Pradian Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2386.597 KB)

Abstract

Trauma dan cedera kepala yang banyak terjadi pada pasien-pasien muda dengan angka kematian yang tinggi. Tritunggal penyebab kematian klasik dari suatu trauma meliputi hipotermia, asidosis dan gangguan koagulasi. Kelainan fisiologis ini sangat berperan dalam eksanguinasi dan kematian pada pasien dengan trauma, bila tidak segera diketahui dan diterapi dengan agresif. Namun strategi yang optimal masih terus diperdebatkan. Damage control resuscitation (DCR) bila digabungkan dengan damage control surgery terbukti memperbaiki survival pasien. DCR merupakan penatalaksanaan pasien trauma dengan luka berat yang dimulai dari ruang gawat darurat berlanjut ke kamar operasi dan ruang perawatan intensif. Lima tiang dari DCR adalah 1. Pemanasan tubuh, 2. Koreksi asidosis, 3. Permissive hypotension, 4. Pemberian cairan yang dibatasi dan 5. Resusitasi hemostatik.Transfusi darah dan produk darah yang dini dan agresif dengan perbandingan PRC: FFP: Thrombosit = 1:1:1, bila whole blood tidak tersedia dapat memperbaiki hasil akhir dan angka survival pasien.
Terapi Nutrisi pada Pasien di ICU: Nurita Dian Kestriani, Dhany Budipratama, Erwin Pradian Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 33 No 3 (2015): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2009.39 KB)

Abstract

Dalam keadaan normal, nutrisi bukanlah suatu bagian dari terapi medis. Nutrisi menjadi suatu terapi medis apabila diet yang normal tidak mencukupi kebutuhan nutrisi perhari atau apabila seseorang dikategorikan mengalami defisiensi nutrisi. Tujuan pemberian nutrisi pada pasien sakit berat adalah untuk mengurangi kehilangan depot nutrisi tubuh, mengurangi kehilangan jaringan akibat proses katabolisme dan memelihara serta memperbaiki fungsi organ (seperti ginjal, hepar, otot dan fungsi imunitas). Tujuan yang spesifik dari pemberian nutrisi ini adalah memperbaiki penyembuhan luka, mengurangi infeksi, mempertahankan barrier usus (mengurangi trans-lokasi bakteri) dan mengurangi morbiditas serta mortalitas. Semua ini berpengaruh dalam menurunkan lama perawatan di rumah sakit serta menurunkan biaya perawatan di rumah sakit.
Perbandingan Efek Analgesia Pascabedah dan Stabilitas Kadar Gula Darah antara Bupivakain 0,5% 7,5 mg + Klonidin 30 mg dengan Bupivakain 0,5% 7,5 mg + Fentanil 25 mg Intratekal Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea: Masrianil, Abdul Wahab, Syafruddin Gaus, Muhammad Ramli Ahmad, Arifin Seweng Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 32 No 1 (2014): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1394.62 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan membandingkan efek analgesia pascabedah dan stabilitas kadar gula darah antara bupivakain 0,5% 7,5 mg+klonidin 30 μg dengan bupivakain 0,5% 7,5 mg+fent anil 25 μg intratekal pada pasien yang menjalani seksio sesaria. Penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak tersamar tunggal dengan 50 sampel di Rumah Sakit Fatimah Makassar dan jejaringnya. Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan sebelum spinal, 10 menit setelah operasi dan 1 jam setelah operasi selesai. Data dianalisis dengan menggunakan sistem Statistical Package for the Social Scien Tu program (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi analgesia kelompok bupivakain klonidin (BK) (322,08±34,53) menit lebih lama dibandingkan kelompok bupivakain fentanil (186,72±16,45) menit, secara statistik dinyatakan bermakna (p<0,05). Perbandingan kadar gula darah (GD) kelompok BF dan BK menghasilkan kadar GD yang stabil yaitu kelompok BF menghasilkan kadar GD sebelum spinal (122,40±18,34) mg/dl, 10 menit setelah operasi dimulai (114,88±23,31) mg/dl, dan 1 jam post operatif (128,04±21,91) mg/dl, sedangkan pada kelompok BK menghasilkan kadar GD sebelum spinal (118,96±15,99) mg/dl, 10 menit setelah operasi mulai (109,48±10,08)mg/dl,1 jam setelah operasi selesai (122,24±18,14) mg/dl. Secara statistik perbandingan rata-rata GD kedua kelompok tidak bermakna pada kedua kelompok (p>0,05).