Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Implementation of occupational safety and health in a medical laboratory: A Qualitative Study Marisca Jenice Sanaky; Nuril Sofiantin; Army Dwi Israyanti; Nur Ismi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : LPPM Politeknik Sandi Karsa, South Sulawesi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiksh.v14i2.297

Abstract

Introduction: Occupational Safety and Health (OSH) plays a vital role in ensuring safe and effective learning environments in medical laboratory education. Academic laboratories pose inherent risks from chemical, biological, physical, and ergonomic hazards. Despite established OSH standards, their implementation in educational laboratory settings remains inconsistent, particularly in developing country contexts. Methods: A qualitative study was conducted in the Medical Laboratory Technology Program laboratory at Politeknik Sandi Karsa, Indonesia. Data were collected through moderate participant observation, semi-structured interviews, and document review. A total of 25 participants were purposively selected, including students, laboratory instructors, laboratory personnel, and program administrators. Data were analysed thematically using an OSH management framework encompassing the preparation, planning, organising, and implementation stages. Results: The study found that OSH implementation was not fully optimised across all management stages. Significant challenges included the absence of structured OSH training and socialisation, a lack of comprehensive laboratory standard operating procedures, unclear organizational roles for OSH responsibilities, inadequate laboratory infrastructure, and inconsistent compliance with personal protective equipment requirements. Additionally, routine monitoring and evaluation of OSH practices were not systematically conducted. Conclusion: These findings suggest that limited institutional commitment, insufficient awareness, and infrastructural constraints hinder effective OSH implementation. Strengthening governance mechanisms, enhancing human resource capacity, establishing clear procedures, and improving facilities are critical to advancing laboratory safety. Comprehensive and sustained OSH management is essential to minimize occupational risks and to promote a safe and productive academic medical laboratory environment.
Effect of Clotting Time Before Centrifugation on Total Cholesterol: A Cross-Sectional Study Fontianus Nong Melky; Nuril Sofiantin; Marisca Jenice Sanaky
Journal Interdisciplinary Health Vol. 2 No. 2 (2026): Volume 2 Number 2 May 2026
Publisher : Edukasi Ilmiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61099/jih.v2i2.250

Abstract

Introduction: Pre-analytical variables are a major source of laboratory testing error, with clotting time before centrifugation representing a potentially critical factor in serum-based biochemical analysis. Although total cholesterol is considered a relatively stable analyte, minor operational variations in clotting time may affect measurement accuracy. This study aimed to determine whether differences in clotting time (30 minutes versus 60 minutes) before centrifugation affect total cholesterol results under controlled laboratory conditions. Research Methodology: A quantitative analytic study with a paired cross-sectional design was conducted in a clinical chemistry laboratory from June to August 2025. Eighteen adult participants were recruited using purposive sampling. For each participant, venous blood samples were divided into two conditions: clotting for 30 minutes and 60 minutes before centrifugation. Total serum cholesterol was measured using the enzymatic CHOD-PAP method. Data were analyzed using descriptive statistics and a Paired Sample T-Test with α = 0.05. Results: The mean total cholesterol level after 30 minutes of clotting was 141.92 ± 18.45 mg/dL, compared to 146.33 ± 19.12 mg/dL after 60 minutes. The mean difference was 4.41 mg/dL (3.10%). Statistical analysis showed no significant difference in clotting duration between the two groups (p = 0.179). Conclusion: Extending clotting time from 30 to 60 minutes before centrifugation does not significantly affect total cholesterol measurement. These findings support analytical stability within this interval and may inform evidence-based refinement of pre-analytical laboratory procedures.
Analisis Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Patologi Klinik Nuril Sofiantin; Marisca Jenice Sanaky; Hardyansa
HEALTH SCIENCE & BIOMEDICAL JOURNAL Vol. 2 No. 1 (2026): April 2026 : Health Science & Biomedical Journal (HSBJ)
Publisher : Literasi Indonesia Emas (PT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek fundamental dalam menjamin keamanan, mutu, dan efektivitas kegiatan laboratorium. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai K3 di laboratorium. Metode: Desain penelitian menggunakan observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 28 responden yang dipilih secara total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner dengan 10 pertanyaan tertutup yang mencakup aspek definisi K3, tujuan, penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur operasi standar (SOP), penanganan sampel, stabilitas reagen, penanggulangan kebakaran, pertolongan pertama pada kecelakaan, dan pengelolaan limbah infeksius. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, dengan penentuan kategori pengetahuan baik (76–100%), cukup (61–75%), dan kurang (<60%). Hasil: Tingkat pengetahuan mahasiswa tentang K3 berada pada kategori baik dengan persentase rata-rata 86,4%. Sebagian besar responden memahami dengan baik definisi K3 (100%), SOP laboratorium (100%), serta tindakan P3 apabila terjadi kecelakaan kerja (100%). Namun demikian, aspek stabilitas dan reliabilitas reagen (68%) serta pengelolaan limbah infeksius (50%) masih menunjukkan tingkat pemahaman yang rendah. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan perlunya peningkatan pemahaman mahasiswa melalui pembelajaran teori yang komprehensif, pelatihan praktis, serta simulasi keadaan darurat agar kesiapan mereka dalam menghadapi risiko kerja di laboratorium lebih optimal.
Hubungan Kader C-Reaktive Protein (CRP) Dan Kadar Trigliserida Pada Penderita Obesitas Di Kota Makassar Nurul Fitri Ramadhani; Nuril Sofiantin; Ahmad Hidayat
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11725

Abstract

Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi faktor risiko berbagai penyakit metabolik serta kardiovaskular. Kondisi ini berkaitan dengan inflamasi kronis derajat rendah yang ditandai oleh peningkatan kadar C-Reactive Protein (CRP) serta gangguan metabolisme lipid yang ditunjukkan oleh meningkatnya kadar trigliserida. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar C-Reactive Protein (CRP) dengan kadar trigliserida pada penderita obesitas di Kota Makassar. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 45 responden yang terdiri atas 30 responden obesitas dan 15 responden non-obesitas yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pemeriksaan kadar CRP dilakukan menggunakan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA), sedangkan kadar trigliserida diperiksa menggunakan metode fotometri. Data dianalisis secara deskriptif dan inferensial untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden obesitas cenderung memiliki kadar CRP dan kadar trigliserida yang lebih tinggi dibandingkan kelompok non-obesitas. Namun, hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar C-Reactive Protein (CRP) dan kadar trigliserida pada penderita obesitas (p > 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa kadar trigliserida pada penderita obesitas tidak hanya dipengaruhi oleh proses inflamasi, tetapi juga oleh berbagai faktor lain, seperti pola makan, aktivitas fisik, usia, derajat obesitas, dan kondisi metabolik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan upaya deteksi dini dan pencegahan komplikasi kardiometabolik pada penderita obesitas serta menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya dengan cakupan sampel yang lebih luas.
Pemeriksaan Kesehatan dalam Upaya Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Desa Bulu-Bulu Kecamatan Tonra Kabupaten Bone Nuril Sofiantin; Marisca Jenice Sanaky; Hardyansa Hardyansa
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 4 (2026): Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i4.1567

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Desa Bulu-Bulu, Kecamatan Tonra, Kabupaten Bone, melalui pelaksanaan pemeriksaan kesehatan secara terencana sebagai upaya promotif dan preventif. Metode pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada 18 Juni 2025 ini meliputi penyuluhan kesehatan serta pemeriksaan fisik langsung menggunakan alat Point of Care Testing (POCT). Parameter kesehatan yang diuji meliputi kadar glukosa darah, asam urat, dan kolesterol total pada warga desa setempat. Hasil pelaksanaan menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif yang sangat tinggi dari masyarakat dalam mengikuti seluruh rangkaian pemeriksaan rutin. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berhasil mendeteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (seperti diabetes melitus, gout, dan gangguan kardiovaskular) sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat secara mandiri demi menurunkan beban penyakit di tingkat komunitas.