Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : REKA GEOMATIKA

Pemanfaatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Jenis Quadcopter untuk Percepatan Pemetaan Bidang Tanah (Studi Kasus: Desa Solokan Jeruk Kabupaten Bandung) Hartono, Dhiky; Darmawan, Soni
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.807 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2018i1.2655

Abstract

ABSTRAKPendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak di Indonesia. Program PTSL dimulai pada tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada tahun 2025. Dengan luas darat Indonesia mencapai 2,01 juta km2, dibutuhkan teknologi yang dapat mempercepat program PTSL, di antaranya menggunakan pesawat tanpa awak (drone). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan unmanned aerial vehicle (UAV) jenis Quadcopter untuk pemetaan bidang tanah yang ditinjau dari ketelitian, biaya, dan kecepatan. Daerah yang akan dikaji merupakan daerah yang sedang melaksanakan program PTSL yaitu Desa Solokan Jeruk Kecamatan Solokan Jeruk Kabupaten Bandung. Metodologi penelitian terdiri atas akuisisi data menggunakan UAV jenis Quadcopter dan proses pengolahan foto menggunakan perangkat lunak Agisoft Photoscan yang digeoreferensikan dengan ground control points (GCP) yang didapat dari pengamatan GPS Stop and Go. Hasil penelitian ini menunjukkan UAV jenis Quadcopter dapat mempercepat program PTSL dengan tingkat akurasi 96%, kecepatan penyediaan peta kerja atau peta dasar untuk program PTSL kurang dari 5 hari untuk luasan 1000 Ha, namun dengan biaya yang cukup tinggi.Kata Kunci: PTSL, UAV jenis Quadcopter, Ground Control Point (GCP) ABSTRACTComplete Systematic Land Registration (CSLR) is a land registration activity for the first time that is carried out simultaneously in Indonesia. The PTSL program was started in 2016 and targeted for completion by 2025. With Indonesia's land area reaching 2.01 million km2, technology is needed that can accelerate the CSLR program, one of which is using a drone. The purpose of this research is to know the extent of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) capability of Quadcopter type for mapping of plot of land in terms of accuracy, speed, and economics. The study area is area that is being implemented the program, which located in the village of Solokan Jeruk, Solokan Sub-District, Bandung Regency. The research methodology consists of data acquisition by using UAV type Quadcopters and photo processing using Agisoft Photoscan software that will be georeferenced to the Ground Control Point (GCP) that is obtained from the GPS Real Time Kinematic observation using the Stop and Go method. The results of this study indicate that the UAV type Quadcopter can accelerate the CSLR program by providing 96% accuracy, and the speed of providing a work map or base map for CSLR program of less than 5 days for 1000 Ha, but at a high cost.Keywords: CSLR, UAV type Quadcopter, Ground Control Point (GCP)
Identifikasi Perubahan Garis Pantai dan Ekosistem Pesisir di Kabupaten Subang Handiani, Dian N; Darmawan, Soni; Hernawati, Rika; Suryahadi, Muhammad F; Aditya, Yohanes D
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.715 KB) | DOI: 10.26760/jrg.v2017i2.1765

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini adalah kajian awal dari valuasi ekonomi atas manfaat dan jasa ekosistem di pesisir Subang. Faktor-faktor utama dalam valuasi adalah keberadaan ekosistem dan perubahan di pesisir, serta manfaat dan jasa ekosistemnya. Estimasi perubahan garis pantai dihitung berdasarkan tumpang susun data satelit Landsat tahun 1988, 1996, 2003, dan 2016. Estimasi menunjukkan terjadi perubahan garis pantai sebesar 8,17 km sejak tahun 1988-2013. Perubahan tersebut didominasi oleh sedimentasi dan abrasi sepanjang pantai. Sedimentasi tertinggi terjadi di Kecamatan Pusakanagara (869,9 ha) dan Blanakan (725,4 ha), serta abrasi tertinggi terjadi di Kecamatan Legonkulon (885,8 ha). Ekosistem alami yang berubah dan dimanfaatkan secara intensif di pesisir Subang adalah kawasan estuari dan mangrove. Sehingga mengakibatkan penurunan fungsi ekologi pada ekosistem tersebut. Adapun lahan tambak sebagai ekosistem buatan yang menggantikan kawasan mangrove, hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan pangan. Penelitian ini menunjukkan perlunya valuasi ekonomi atas lahan mangrove versus budidaya tambak di Kecamatan Legonkulon, serta kawasan estuari yang berfungsi sebagai sarana transportasi di Kecamatan Pusakanagara.Kata kunci: garis pantai, ekosistem pesisir, erosi, sedimentasi, SubangABSTRACTThis research is a preliminary study for economic valuation of coastal services and goods in Subang Regency. Main factors in the valuation are ecological existing, changing, services and goods of coastal ecosystem. Coastline changes estimation was based on the overlay of Landsat satellite image at year of 1988, 1996, 2003, and 2016. Estimation shows since year of 1988 to 2013 there is changing of coastline around 8,17 km. The changes are dominantly caused by coastline sedimentation and abrasion. Higher sedimentation occured in Pusakanagara (869,9 ha) and Blanakan (725,4) Subdistrict, while highest abrasion occured in Legonkulon (885,8 ha) Subdistrict. Estuary and mangrove forests are natural ecosystem that had been used intensively and changing very excessively in this region. These changing causes degradation in functions of these ecosystems. Meanwhile, changing of mangrove forest into aquaculture only provides food. This research shows the necessity in economic valution of mangrove forest versus aquaculture in Legonkulon Subdistrict, and also estuary as transportation function in Pusakanagara Subdistrict.Keywords: coastline, coastal ecosystem, erosion, sedimentation, Subang
Pemanfaatan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Jenis Quadcopter untuk Percepatan Pemetaan Bidang Tanah (Studi Kasus: Desa Solokan Jeruk Kabupaten Bandung) Dhiky Hartono; Soni Darmawan
REKA GEOMATIKA Vol 2018, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak di Indonesia. Program PTSL dimulai pada tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada tahun 2025. Dengan luas darat Indonesia mencapai 2,01 juta km2, dibutuhkan teknologi yang dapat mempercepat program PTSL, di antaranya menggunakan pesawat tanpa awak (drone). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemampuan unmanned aerial vehicle (UAV) jenis Quadcopter untuk pemetaan bidang tanah yang ditinjau dari ketelitian, biaya, dan kecepatan. Daerah yang akan dikaji merupakan daerah yang sedang melaksanakan program PTSL yaitu Desa Solokan Jeruk Kecamatan Solokan Jeruk Kabupaten Bandung. Metodologi penelitian terdiri atas akuisisi data menggunakan UAV jenis Quadcopter dan proses pengolahan foto menggunakan perangkat lunak Agisoft Photoscan yang digeoreferensikan dengan ground control points (GCP) yang didapat dari pengamatan GPS Stop and Go. Hasil penelitian ini menunjukkan UAV jenis Quadcopter dapat mempercepat program PTSL dengan tingkat akurasi 96%, kecepatan penyediaan peta kerja atau peta dasar untuk program PTSL kurang dari 5 hari untuk luasan 1000 Ha, namun dengan biaya yang cukup tinggi.Kata Kunci: PTSL, UAV jenis Quadcopter, Ground Control Point (GCP) ABSTRACTComplete Systematic Land Registration (CSLR) is a land registration activity for the first time that is carried out simultaneously in Indonesia. The PTSL program was started in 2016 and targeted for completion by 2025. With Indonesia's land area reaching 2.01 million km2, technology is needed that can accelerate the CSLR program, one of which is using a drone. The purpose of this research is to know the extent of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) capability of Quadcopter type for mapping of plot of land in terms of accuracy, speed, and economics. The study area is area that is being implemented the program, which located in the village of Solokan Jeruk, Solokan Sub-District, Bandung Regency. The research methodology consists of data acquisition by using UAV type Quadcopters and photo processing using Agisoft Photoscan software that will be georeferenced to the Ground Control Point (GCP) that is obtained from the GPS Real Time Kinematic observation using the Stop and Go method. The results of this study indicate that the UAV type Quadcopter can accelerate the CSLR program by providing 96% accuracy, and the speed of providing a work map or base map for CSLR program of less than 5 days for 1000 Ha, but at a high cost.Keywords: CSLR, UAV type Quadcopter, Ground Control Point (GCP)
Identifikasi Perubahan Garis Pantai dan Ekosistem Pesisir di Kabupaten Subang Dian N Handiani; Soni Darmawan; Rika Hernawati; Muhammad F Suryahadi; Yohanes D Aditya
REKA GEOMATIKA Vol 2017, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini adalah kajian awal dari valuasi ekonomi atas manfaat dan jasa ekosistem di pesisir Subang. Faktor-faktor utama dalam valuasi adalah keberadaan ekosistem dan perubahan di pesisir, serta manfaat dan jasa ekosistemnya. Estimasi perubahan garis pantai dihitung berdasarkan tumpang susun data satelit Landsat tahun 1988, 1996, 2003, dan 2016. Estimasi menunjukkan terjadi perubahan garis pantai sebesar 8,17 km sejak tahun 1988-2013. Perubahan tersebut didominasi oleh sedimentasi dan abrasi sepanjang pantai. Sedimentasi tertinggi terjadi di Kecamatan Pusakanagara (869,9 ha) dan Blanakan (725,4 ha), serta abrasi tertinggi terjadi di Kecamatan Legonkulon (885,8 ha). Ekosistem alami yang berubah dan dimanfaatkan secara intensif di pesisir Subang adalah kawasan estuari dan mangrove. Sehingga mengakibatkan penurunan fungsi ekologi pada ekosistem tersebut. Adapun lahan tambak sebagai ekosistem buatan yang menggantikan kawasan mangrove, hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan pangan. Penelitian ini menunjukkan perlunya valuasi ekonomi atas lahan mangrove versus budidaya tambak di Kecamatan Legonkulon, serta kawasan estuari yang berfungsi sebagai sarana transportasi di Kecamatan Pusakanagara.Kata kunci: garis pantai, ekosistem pesisir, erosi, sedimentasi, SubangABSTRACTThis research is a preliminary study for economic valuation of coastal services and goods in Subang Regency. Main factors in the valuation are ecological existing, changing, services and goods of coastal ecosystem. Coastline changes estimation was based on the overlay of Landsat satellite image at year of 1988, 1996, 2003, and 2016. Estimation shows since year of 1988 to 2013 there is changing of coastline around 8,17 km. The changes are dominantly caused by coastline sedimentation and abrasion. Higher sedimentation occured in Pusakanagara (869,9 ha) and Blanakan (725,4) Subdistrict, while highest abrasion occured in Legonkulon (885,8 ha) Subdistrict. Estuary and mangrove forests are natural ecosystem that had been used intensively and changing very excessively in this region. These changing causes degradation in functions of these ecosystems. Meanwhile, changing of mangrove forest into aquaculture only provides food. This research shows the necessity in economic valution of mangrove forest versus aquaculture in Legonkulon Subdistrict, and also estuary as transportation function in Pusakanagara Subdistrict.Keywords: coastline, coastal ecosystem, erosion, sedimentation, Subang