Claim Missing Document
Check
Articles

Identifikasi Pencemaran Logam Berat pada Sedimen Sungai Batang Arau Kota Padang Berdasarkan Nilai Suseptibilitas Magnetik Ridha Putri Yanti; Afdal Afdal
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.012 KB) | DOI: 10.25077/jfu.10.2.248-254.2021

Abstract

Telah dilakukan identifikasi pencemaran logam berat pada sedimen Sungai Batang Arau Kota Padang berdasarkan nilai suseptibilitas magnetik. Pengambilan sampel dilakukan mulai dari hulu hingga hilir pada 20 titik dengan kedalaman 10 cm. Hasil pengukuran menunjukkan nilai suseptibilitas magnetik  berkisar antara 116,6×10-8 kg-1m3 sampai 914,0×10-8 kg-1m3. Pola χFD (%) pada scattergram menunjukkan bahwa hampir seluruh sampel memiliki nilai χFD (%) < 5%. Hal ini menunjukkan ukuran bulir di lokasi penelitian yaitu bulir non-SP campuran halus dan kasar yang banyak dihasilkan dari proses-proses pencemaran. Berdasarkan nilai suseptibilitas magnetik  dan pola χFD (%) pada scattergram daerah penelitian telah mengalami pencemaran dari kategori tercemar rendah hingga tercemar sangat tinggi. Sedimen yang terletak di zona perumahan padat penduduk di kawasan tengah sungai cenderung memiliki nilai suseptibilitas yang lebih tinggi daripada di zona perumahan non-padat penduduk di kawasan hulu. Dapat dikatakan sumber dari pencemaran ini adalah sumber antropogenik.  Identification of heavy metal pollution in the sediments of the Batang Arau River, Padang City based on the magnetic susceptibility value has been carried out. Sampling was collected from upstream to downstream at 20 points with 10 cm depth. The results shows that magnetic susceptibility values range from 116.6× 10-8 kg-1m3 to 914.0 × 10-8 kg-1m3. The pattern of χFD (%) in the scattergram shows that almost all samples have a value of χFD (%) <5%. This shows the grain size in the research location, namely the fine and coarse mixture of non-SP grains which are mostly produced from pollution processes. Based on the magnetic susceptibility value and the χFD(%) pattern  in the scattergram, the research area has experienced pollution from low to very high polluted categories. Sediments located in densely populated residential zones in the midstream area  to have a higher susceptibility value than in non-densely populated residential zones in the upstream area. It can be said that the source of this pollution is an anthropogenic source.
Kajian Suseptibilitas Magnetik Tanah Sebagai Indikator Longsor di Gunung Nago, Padang Gina Felita; Afdal Afdal; Marzuki Marzuki
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2226.061 KB) | DOI: 10.25077/jfu.11.1.75-81.2022

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai analisis nilai suseptibilitas magnetik tanah daerah potensi longsor di kawasan Gunung Nago. Sampel tanah diambil pada empat lintasan yaitu lintasan A, B, C dan D dengan jarak antar lintasan 5 m yang terdiri dari 10 titik sampel, sehingga membentuk grid yang terdiri dari 40 titik sampel untuk tiap kedalaman. Sampel diambil dengan variasi kedalaman 25, 50 dan 100 cm sehingga dihasilkan 120 sampel tanah. Pengukuran suseptibilitas magnetik menggunakan MS2B Bartington Susceptibility Meter dengan dua frekuensi, yaitu frekuensi rendah (0,47 kHz) dan frekuensi tinggi (4,7 kHz). Hasil pengukuran χFD (%) menunjukkan nilai berkisar antara 0,72% hingga 10,26%. Berdasarkan nilai suseptibilitas magnetik bergantung frekuensi χFD (%) lokasi penelitian memiliki kandungan bulir superparamagnetik yang rendah (kurang dari 10%) sehingga tanah daerah penelitian tersebut lebih kesulitan untuk menyerap air dan menjadikan area ini sulit terjadi longsor. Area kedalaman 25 cm memiliki nilai rata-rata χFD (%) sebesar 1,87% - 4,5% dan diperkirakan area kedalaman 25 cm memiliki kecenderungan rendah mengalami longsor. Sementara, area kedalaman 50 cm memiliki nilai rata-rata χFD (%) lebih rendah sebesar 1,64% - 5,19% dan diperkirakan kedalaman ini memiliki kecenderungan lebih rendah untuk terjadinya longsor.
Penentuan Zona Intrusi Air Laut di Area Pelabuhan Perikan Samudera Bungus Menggunakan Metoda Geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi Wenner Dua Dimensi Yoci Darwita Putri; Dwi Pujiastuti; Afdal Afdal
Jurnal Fisika Unand Vol 9 No 4 (2020)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1038.589 KB) | DOI: 10.25077/jfu.9.4.465-471.2020

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mendeteksi intrusi air laut di area Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bungus Padang. Data yang diambil merupakan data sekunder dari Loka Riset Sumber Daya Kerentanan Pesisir Bungus Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Data diperoleh dengan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Wenner 2 dimensi. Pengukuran dilakukan pada 2 lintasan yang sejajar pantai yaitu Lintasan 1 dan 2, dan 1 lintasan tegak lurus dengan pantai yaitu Lintasan 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga lintasan sudah mengalami intrusi air laut. Intrusi terjadi sejauh 85 m dari bibir pantai. Lintasan 3 telah mengalami pertambahan luas intrusi dibandingkan pada penelitian Kusumah pada tahun 2015 namun kedalaman dan jarak intrusi dari pantai yang hampir sama. A Research to detect seawater intrusion zone in the area of Bungus Ocean Fisheries Port (PPS), Padang has been carried out. The resistivity data taken from the Bungus Coastal Vulnerability and Resource Research Station, Marine and Fisheries Research and Human Resources Agency, Ministry of Marine Affairs and Fisheries. Survey conducted using resistivity geoelectric method with 2 dimensional Wenner configuration. Measurement conducted at two lines paralel to coastal line (Line 1 and 2) and one line prependicular to coastal line (Line 3). The results show that all lines have experienced sea water intrusion. Intrusion occurs as far as 85 m from the shoreline. Line 3 has experienced an increase in area  of intrusion compared to Kusumah's study in the year of 2015 but depth and the distance from intrusion from the coast is almost the same.
Identifikasi pH, TDS, Konduktivitas Listrik, Kandungan Timbal (Pb), Tembaga (Cu), dan Kadmium (Cd) pada Bak Reservoir PDAM Kota Padang Panjang Deri Sriwahyuni; Afdal Afdal
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.927 KB) | DOI: 10.25077/jfu.10.4.504-510.2021

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi nilai pH, TDS, konduktivitas listrik dan kandungan timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada bak reservoir PDAM Kota Padang Panjang. Pengujian kandungan logam berat menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bak reservoir Kandang Ditabek memiliki nilai pH antara 6,7 – 7,9, sedangkan pada bak reservoir Lubuak Mato Kuciang antara 6,9 – 7,3. Nilai konduktivitas listrik bak Kandang Ditabek memiliki nilai tertinggi sebesar 159,1 µS/cm, nilai terendah adalah 156,6 µS/cm dan untuk bak Lubuk Mato Kuciang antara 120,9 – 126,6 µS/cm. Nilai TDS untuk kedua bak reservoir berturut-turut sebesar 596,5 – 513,1 ppm dan 417,5 – 499,7 ppm. Nilai konsentrasi rata-rata keseluruhan logam berat bak Kandang Ditabek logam Pb sebesar 0,120 mg/L, logam Cu sebesar 0,030 mg/L dan logam Cd sebesar 0,033 mg/L, sedangkan pada bak Lubuak Mato Kuciang logam Pb sebesar 0,045 mg/L, logam Cu sebesar 0,050 mg/L dan logam Cd sebesar 0,014 mg/L. Konsentrasi logam berat pada penelitian telah melebihi ambang batas standar baku mutu PERMEN LH No. 82 Tahun 2001 dan Peraturan MENKES RI No. 32 Tahun 2017. Nilai ambang batas yang ditetapkan untuk logam Pb sebesar 0,03 mg/L dan 0,01 mg/L, logam Cu 0,02 mg/L dan logam Cd sebesar 0,01 mg/L dan 0,003 mg/L.
Identifikasi Pencemaran Air Di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Tungkal Selatan Kota Pariaman Husnul Khaira; Afdal Afdal
Jurnal Fisika Unand Vol 11 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.497 KB) | DOI: 10.25077/jfu.11.2.214-220.2022

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi pencemaran air berdasarkan nilai temperatur, pH, konduktivitas listrik, TDS, dan kandungan logam berat di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Tungkal Selatan Kota Pariaman. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak sepuluh titik di sekitar TPA. Analisis tingkat pencemaran menggunakan metode Indeks Pencemaran air (IP). Hasil pengukuran menunjukkan sampel lindi memiliki nilai rata-rata temperatur 29,7 °C, pH 8,2, konduktivitas listrik 172,35 µS/cm, TDS 1300,9 mg/l, kosentrasi logam berat Hg, Pb, dan Zn berturut-turut adalah 0,0065 mg/l, 0,0088 mg/l, 0,0556 mg/l. Secara umum lindi tidak mengalami pencemaran tinggi sehingga bisa dilepas ke sungai. Semua nilai parameter untuk sampel air sungai setelah melewati TPA lebih tinggi daripada sebelum melewati TPA. Hal ini menunjukkan bahwa lindi mempengaruhi kualitas air sungai. Sampel air sumur memiliki nilai rata-rata temperatur 27,5 °C, pH 6,05, konduktivitas listrik 84,58 µS/cm, dan TDS 87,09 mg/l. Nilai parameter yang didapat tidak berbanding terbalik dengan jarak titik sampel terhadap TPA. Hal ini menunjukkan lindi tidak mempengaruhi kualitas air sumur yang berada di sekitar lokasi TPA. Semua sampel air sungai dan air sumur memiliki 1≤IP≤5. Secara keseluruhan sampel air sungai dan air sumur dikategorikan tercemar ringan dengan IP rata-rata total 3,0621. 
Profil Pencemaran Air Sungai di Muara Batang Arau Kota Padang dari Tinjauan Fisis dan Kimia Fara Diba Nasution; Afdal Afdal
Jurnal Fisika Unand Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.58 KB) | DOI: 10.25077/jfu.5.1.1-6.2016

Abstract

Penelitian untuk menentukan profil pencemaran air sungai di muara Batang Arau kota Padang dari tinjauan fisis dan kimia berdasarkan nilai total padatan terlarut (TDS), konduktivitas listrik (EC), pH, dan kandungan logam berat Pb dan Fe yang telah dilakukan. Sampel air sungai diambil pada 10 lokasi di daerah muara dengan jarak antara lokasi adalah  200 m. Pengambilan sampel juga dilakukan di bagian tengah dan hulu sungai Batang Arau sebagai pembanding. TDS ditentukan dengan metode gravimetry, konduktivitas listrik diukur dengan conductivity meter, pH diukur dengan pH meter dan kosentrasi logam berat ditentukan menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Nilai rata-rata TDS di daerah muara adalah 782,5 mg/l. Nilai ini sudah melebihi kadar kontaminasi untuk air minum yaitu 500 mg/l. Nilai rata-rata konduktivitas listrik di daerah muara adalah 172,5 µS/cm. Nilai ini jauh lebih tinggi dari pada nilai konduktivitas listrik air di perairan murni.  Nilai rata-rata pH di daerah muara 6,7, yang tergolong sebagai air netral. Kosentrasi logam berat Fe 0,105 mg/l dan Pb 0,005 mg/l. Kedua nilai ini masih berada di bawah ambang baku mutu air. Dari hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa kualitas air di muara Batang Arau masih dalam kondisi normal.Kata kunci: konduktivitas listrik, pencemaransungai, zat padat terlarut
ANALISIS PRE STACK TIME MIGRATION (PSTM) DAN PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM) METODE KIRCHHOFF DATA SEISMIK 2D LAPANGAN ‘Y’ CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Yenni Fitri; Afdal Afdal; Daz Edwiza; Mualimin -
Jurnal Fisika Unand Vol 4 No 3: Juli 2015
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1866.845 KB) | DOI: 10.25077/jfu.4.3.%p.2015

Abstract

ye_nhi@ymail.comABSTRAKPada penelitian ini telah dilakukan migrasi sebelum stack metode Kirchhoff dengan domain waktu dan kedalaman. Pre stack time migration (PSTM) dan pre stack depth migration (PSDM) menghasilkan penampang seimik dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing. PSTM menghasilkan penampang seismik dengan reflektor yang lebih fokus tetapi kemenerusan kurang kontinyu. PSDM menghasilkan penampang seismik dengan kemenerusan reflektor yang baik tetapi kurang fokus. Dari segi kemenerusan reflektor, PSDM lebih cocok diaplikasikan pada data seismik 2D lapangan ‘Y’ Cekungan Jawa Barat Utara. Hal ini karena daerah penelitian ini memiliki struktur geologi dan statigrafi yang kompleks.Kata kunci : stacking, migrasi, PSTM dan PSDMAbstractPre stack migration using the Kirchhoff method in time and depth domains has been conducted. The seismic cross-section produced by the pre stack time migration (PSTM) and pre stack depth migration (PSDM) has certain advantages and disadvantages. The reflector of the cross-section from the PSTM more focuses but less continuity. On the other hand, the PSDM yields the cross-section with better reflector continuity but less focus. Thus, in terms of reflector continuity, the PSDM is more proper used in 2D seismic data of 'Y' field, North West Java Basin. This is due to the basin having complex geologic structure and stratigraphy.Keywords : stacking, migration, PSTM and PSDM
Suseptibilitas Magnetik Tanah Sebagai Indikator Bencana Longsor Daerah Sitinjau Lauik Alvan Dhani; Afdal Afdal; Arif Budiman
Jurnal Fisika Unand Vol 10 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.282 KB) | DOI: 10.25077/jfu.10.2.191-197.2021

Abstract

Pengukuran nilai suseptibilitas magnetik tanah untuk memprediksi longsor pada daerah Sitinjau Lauik telah dilakukan menggunakan metoda kemagneta batuan .  Sampel tanah diambil berdasarkan daerah yang diduga belum terjadi longsor (L2 dan L3) dan daerah telah terjadi longsor (L1 dan L4) sebanyak empat daerah, sampel diambil dengan variasi kemiringan (atas, tengah, bawah) dan kedalaman 25, 50, dan 75 cm sebanyak 36 titik sampel.  Pengukuran suseptibilitas magnetik mengunakan alat Bartington Susceptibility Meter MS2B.  Pada daerah diduga belum terjadi longsor nilai χLF  rata-rata yaitu 405,9×10-8 m3kg-1, sedangkan pada daerah telah terjadi longsor nilai χLF  rata-rata yaitu 285,2 ×10-8 m3kg-1.  Hasil pengukuran nilai suseptibilitas magnetik menunjukkan bahwa tanah yang terkandung di daerah sitinjau lauik mengandung lempung, dengan ditemukannya mineral magnetik seperti illite, montmorillonite, dan hematit yang merupakan mineral penyusun dari lempung.  Daerah L3 lebih rentan terjadi longsor karena memiliki nilai χFD (%) berkisar (1,79-7,65)% dengan rata-rata 4,08 %, yang menunjukkan tanah pada L3 telah dipengaruhi oleh perubahan suhu dan cuaca yang akan menyebabkan sifat magnetik dari tanah tersebut melemah dan terjadilah pelapukan pada tanah sehingga memicu pergerakan tanah. Measurement of soil magnetic susceptibility to predict landslides in Sitinjau Lauik has been happened by using the rock magnetism method.  Sample were taken from four areas based on area that has not happened landslide (L2 and L3) and area where landslide had occurred (L1 and L4). Sample were taken with slope variation ( top, middle, and bottom) and depth of 25, 50, 75 cm for 36 samples.  The magnetic susceptibility measurement was performed with Bartington Susceptibility Meter MS2B.  The results of measuring the magnetic susceptibility value show that the soil contained in the lauik site contains clay, with the discovery of magnetic minerals such as illite, montmorillonite, and hematite which are the constituent minerals of clay. The L3 area is more prone to landslides because it has a value of χFD (%) ranging (1.79-7.65)% with an average of 4.08%, which indicates that the soil at L3 has been affected by changes in temperature and weather which will cause magnetic properties from the soil weakens and there is weathering of the soil, which triggers soil movement.
Penentuan Konfigurasi Elektroda Metode Geolistrik Tahanan Jenis Paling Optimum untuk Survei Air Tanah Afdal Afdal
Jurnal Ilmu Fisika Vol 1 No 2 (2009): September 2009
Publisher : Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jif.1.2.1-7.2009

Abstract

Pilihan konfigurasi elektroda yang tepat akan menentukan kualitas pencitraan bawah permukaan, termasuk dalam survei air tanah. Tipe konfigurasi, selain menentukan kualitas pencitraan, juga menentukan efektifitas dan efisiensi survei yang berhubungan nantinya dengan kebutuhan dana dan sumber daya. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi melalui eksperimen dengan menggunakan model di laboratorium untuk memperoleh informasi konfigurasi elektroda yang memberikan informasi paling optimum untuk survei air tanah.  Konfigurasi yang dibandingkan adalah konfigurasi Wenner dan Schlumberger. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi Schlumberger dan konfigurasi Wenner mempunyai kemampuan deteksi anomali yang tidak jauh berbeda. Konfigurasi Schlumberger mempunyai penetrasi arus yang lebih dalam (yaitu sekitar 33 cm) daripada konfigurasi Wenner (sekitar 28 cm). Konfigurasi Schlumberger mempunyai kesalahan-inversi yang lebih besar (yaitu antara 8,0% dan 9,9%) daripada konfigurasi Wenner (15,0% sampai 17,3%). Untuk kedua jenis konfigurasi, anomali yang bersifat konduktif lebih mudah dideteksi daripada anomali yang bersifat non-konduktif.
PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAHAN CITRA UNTUK PENENTUAN SIFAT FISIS BATUAN Afdal Afdal
Jurnal Ilmu Fisika (JIF) Vol 2 No 1 (2010): March 2010
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jif.2.1.9-14.2010

Abstract

Interpretasi data geofisika seperti dalam geofisika eksplorasi, pertambangan, teknik, dan geofisika lingkungan membutuhkan pengetahuan tentang sifat fisis batuan. Beberapa sifat fisis batuan dapat diperoleh dengan teknik pengolahan citra digital. Dalam penelitian ini dikembangkan perangkat lunak pengolahan citra digital untuk penentuan sifat fisis batuan. Perangkat lunak pengolahan citra yang dikembangkan dapat digunakan untuk menentukan beberapa sifat fisis batuan seperti karakteristik pori dan rekahan. Karakteristik pori terdiri atas porositas dan dimensi fraktal. Sedangkan karakteristik rekahan terdiri atas distribusi panjang rekahan, densitas dan dimensi fraktal.