Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGARUH KOMPENSASI DAN STRES KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA PEGAWAI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS I CIPINANG DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Rina Yulianti; Endang Tri Pujiastuti; Sukardi Sukardi; Ardi Kusmara
Jurnal Manajemen Bisnis Krisnadwipayana Vol 11, No 2 (2023): JURNAL MANAJEMEN BISNIS KRISNADWIPAYANA
Publisher : Program Studi Magister Manajemen Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35137/jmbk.v11i2.1076

Abstract

The purpose of this study was to determine the impact of compensation and work stress on the employee work satisfaction with work motivation as an intervening variable in Cipinang Class I Jail, Jakarta. This study was conducted using a saturated sample. The analysis tool used is SEM (Structural Equation Modeling). The test result showed that 1) Compensation had a positive and significant impact on work satisfaction meaning that the increasing compensation increased employee satisfaction. 2) Work stress had a positive and significant impact on employee work satisfaction meaning that the increasing work stress would also increase employee work satisfaction. 3) Compensation had a positive and significant impact on employee motivation meaning that the increasing compensation increased employee motivation. 4) Work stress had no positive yet insignificant impact on employee motivation meaning that increased employee stress caused work satisfaction to not necessarily increase. 5) Work motivation had a positive and significant impact on employee work satisfaction meaning that increasing motivation increased employee work satisfaction. 6) Work motivation mediated work compensation had a positive and significant impact on employee satisfaction meaning that the motivation given by the leaders could increase work satisfaction. 7) Work motivation did not mediate work stress and was insignificant for employee work satisfaction meaning that work motivation did not necessarily affect employee work stress
Ipteks Bagi Masyarakat (IbM) Desa Gili Timur Yang Menghadapi Konflik Sertifikasi Tanah Rina Yulianti
RechtIdee Vol 8, No 2 (2013): DECEMBER
Publisher : Trunojoyo Madura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/ri.v8i2.988

Abstract

Abstrak Kesadaran untuk melakukan legalisasi asset oleh warga desa Gili Timur sudah ada namun pengetahuan melaksanakan proses mendaftarkan hak atas tanahnya masih rendah.Ketika ada inisiasi Kepala Desa untuk dilakukan pendaftaran tanah secara kolektif atau sertifikasi massal swadaya, masyarakat tergerak untuk mendaftarkan tanah mereka. Namun, karena setelah di tunggu berbulan-bulan pengurusan sertifikat itu tidak kunjung selesai maka terja- dilah konflik antara masyarakat Desa Gili Timur dengan Kepala Desa dan Oknum Kantor Pertanahan. Ketidaktahuan masyarakat   terhadap upaya hukum yang bisa di tempuh terkait bebasnya Oknum BPN dan Kepala Desa dari segala dakwaan penipuan sertifikasi tanah warga maka perlu dilakukan kegiatan penyuluhan hukum. Metode penyuluhan hukumdilakukan secara langsung dan tidak langsung. Bentuk secara langsung adalah pendidikan dan pelatihan kemahiran hukum,simulasi dalam pendaftaran tanah. Bentuk tidak langsung adalah pemberian pengetahuan proses dan tata cara pendaftaran tanah dalam brosur dan buku panduan bantuan hukum.Hasil penyuluhan hukum adalah meningkatknya kesadaran hukum warga Desa Gili Timur, indikatornyaadalah adanya kemampuan warga korban sertifikasi menuntut pihak kejaksaan segera melakukan eksekusi terhadap terdakwa yaitu Kepala desa dan oknum Kantor pertanahan berdasarkan putusan kasasi yang memvo- nis 2 tahun pidana penjara. Adapun permasalahan kerugian yang diderita sementara diselesaikan dengan mediator dan fasilitas pengurusan tanah melalui prona oleh Kantor pertanahan Kabupaten Bangkalan.Kata Kunci : Konflik, Sertifikasi, Tanah
PELAKSANAAN PROGRAM KAMPUNG KELUARGA BERENCANA DI KELURAHAN NYAPAH KECAMATAN WALANTAKA KOTA SERANG Siti Rohayati; Leo Agustino; Rina Yulianti
Jurnal Kebijakan Pembangunan Daerah Vol 5 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56945/jkpd.v5i2.136

Abstract

The high birth rate has become a problem for Serang City from year to year, causing uncontrolled population growth. These factors are the background of the KB Village Program. The Office of Women's Empowerment, Child Protection, and Family Planning (DP3AKB) Serang City is the main organisation in charge of family planning issues in Serang City. Therefore, DP3AKB has sent a Family Planning Field Officer (PLKB) to implement the family planning program at the sub-district level. PLKB formed a KB Village Program Manager (PPK KB) so that villages could cooperate in finding and registering family planning acceptors by going directly to the field. The problems that occur in the implementation of the KB village program in Nyapah Village, Walantaka District are: lack of awareness of the people who are included in the fertile age couple (PUS) who have not become KB participants, lack of number and quantity of human resources in the KB village, Nyapah village, Walantaka district, lack of health facilities. in the Family Planning village, the lack of competence of the Pokja as implementers. The organization of the family planning village in Nyapah Village, Walantaka District, and community participation in the family planning village program in Nyapah Village has not been maximized. The purpose of this study was to describe the implementation of the Family Planning Village Program in Nyapah Village, Walantaka District, Serang City
KOTA CILEGON IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBERDAYAAN SOSIAL DALAM REHABILITAS RUMAH TIDAK LAYAK HUNI DI KOTA CILEGON Ronald Al Kausar; Rina Yulianti; Titi Stiawati
Jurnal Kebijakan Pembangunan Daerah Vol 5 No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56945/jkpd.v5i2.143

Abstract

Poverty alleviation is a concern and focus of the Cilegon Municipal Government as an effort to implement government functions in terms of service, empowerment and development to the community. Looking at the poverty rate in terms of the existence of uninhabitable homes in the City of Cilegon. Of course, the local government makes efforts to overcome it by issuing a policy contained in the form of a program. The theory used in this study is the implementation of policies put forward by Hill and Hupe which consists of three aspects of managing policy implementation, namely managing policy processes, managing relationships between organizations and managing internal and external relationships. The research method used is a descriptive method with a qualitative approach. Determination of informants using purposive techniques. Based on the results of research, the rehabilitation program of uninhabitable houses in the city of Cilegon has not fully run optimally in the level of realization of development work. Assistance programs aimed at the poor by providing financial assistance in the form of self-help stimulants, where the community is required to build independently based on community or government initiatives with a community empowerment based approach, so that the realization of community hope and welfare.
EVALUASI KEBIJAKAN REVITALISASI PASAR TRADISIONAL DALAM MEWUJUDKAN PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL DI PASAR PETIR KABUPATEN SERANG Neli Nur Laili; Riswanda Riswanda; Rina Yulianti
Jurnal Kebijakan Pembangunan Daerah Vol 6 No 1 (2022): June 2022
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56945/jkpd.v6i1.162

Abstract

ABSTRAK Revitalisasi Pasar Tradisional Petir merupakan program yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Serang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar pasar. Namun dalam penerapannnya, di pasar tersebut masih ada beberapa masalah pada sisi fasilitas prasarana penunjang dan minimnya sosialisasi. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari hingga Juni tahun 2021 dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan data diperoleh melalui purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program revitalisasi Pasar Petir belum optimal terbukti dengan: belum terpeliharanya ketertiban pasar Petir, tidak semua fasilitas yang tersedia seperti kios/los diisi oleh pedagang, sumber daya aparatur dan tenaga pengelola pasar yang masih kurang, semberdaya prasarana penunjang tidak terpelihara dengan baik, minimnya sosialisasi dan penegakan mekanisme pemanfaatan fasilitas pasar kepada pedagang. Sebagai saran dari hasil penelitian adalah perlu adanya peningkatan evaluasi dan monitoring secara rutin oleh pejabat terkait dalam rangka mengetahui dan memantau aktivitas pasar baik dari segi fisik, manajemen, ekonomi dan sosial budaya, serta perlunya penambahan staf pengelola Pasar Petir Serang. Kata Kunci : Ekonomi lokal, kebijakan revitalisasi, pasar tradisional
Analisis Teknik Social Engineering Sebagai Ancaman Dalam Keamanan Sistem Informasi: Studi Literatur Eristya Maya Safitri; Zelda Ameilindra; Rina Yulianti
Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi dan Robotika Vol. 2 No. 2 (2020): Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi dan Robotika
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jifti.v2i2.26

Abstract

Di era sekarang ini, informasi merupakan salah satu aset yang berharga bagi sebuah perusahaan, oleh karena sebuah perusahaan akan berusaha untuk melindungi informasi yang mereka miliki. Namun, dinding keamanan sistem informasi yang terkuat sekalipun dapat runtuh jika orang di dalamnya membuat kesalahan yang mengakibatkan adanya celah pada dinding keamanan tersebut. Kesalahan seperti ini biasanya di eksploitasi oleh attacker dengan menggunakan social engineering. Social engineering merupakan suatu metode peretasan (hacking) dimana seorang attacker melakukan aksinya dengan memanipulasi dan merekayasa sebuah data berupa website, aplikasi atau software, file dan lain-lain yang dikirim menggunakan email juga media komunikasi berupa SMS dan telepon. Hal ini bertujuan agar korban tertarik, tertipu dan tidak mencurigai sehingga seorang attacker dapat melakukan segala jenis aksinya. Karena itulah pada paper ini akan dibahas tentang tipe penyerangan social engineering dengan cara menganalisa serta mengumpulkan literatur. Sehingga dapat memberi informasi dan upaya penghindaran kepada orang lain tentang social engineering dan ancamannya.
Penerapan Play Therapy Coloring Terhadap Tingkat Kecemasan Hospitalisasi Pada Pasien Anak Usia Prasekolah Di RSUD Karanganyar Sandy Ilham Prasetyo; Ida Nur Imamah; Rina Yulianti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 2 No. 8 (2023)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hospitalisasi merupakan salah satu penyebab kecemasan pada anak-anak. penyebab kecemasan bagi anak-anak tersebut karena kondisi lingkungan sosial seperti sesama pasien anak-anak yang di rawat serta sikap dan interaksi petugas dan lingkungan fisik rumah sakit seperti bangunan atau ruang perawatan, peralatan rumah sakit, bau khas, petugas rumah sakit dan pakaian putih pekerja menjadi alasan kenapa anak-anak selalu merasa cemas di ruang perawatan. Tujuan : Mengetahui hasil implementasi dari penerapan play therapy coloring terhadap tingkat kecemasan hospitalisasi pada pasien anak usia prasekolah di RSUD Karanganyar. Metode : rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus mengunakan metode pre dan post iplementasi dengan 2 responden anak yang mengalami kecemasan akibat hospitalisasi. Hasil : terdapat penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukannya play therapy coloring pada pasien anak yang mengalami kecemasan akibat hospitalisasi. Kesimpulan : terdapat penurunan tingkat kecemasan pada anak di RSUD Karangayar akbiat hospitalisasi, dimana faktor jenis kelamin dan dukungan keluarga mempengaruhi penurunan tingkat kecemasan pada anak.
PERAN NOTARIS & PPAT DALAM PEMBUATAN AKTA SEHUBUNGAN DENGAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Damarani Widyastuti Eka; Dewi Ratnasari Tamba; Susanti; Rina Yulianti
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 2 No. 11 (2024): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi November
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/v2i11.958

Abstract

Kredit Pemilikan Rumah, layanan yang diberikan oleh bank untuk masyarakat mendapatkan hunian dengan mudah. Setiap proses KPR dibutuhkan peran notaris dalam melakukan legalisasi dan pembuatan akta yang mendukung proses KPR. Mulai dari Akta Jual Beli, Akta Pemberian Hak Tanggungan, dan lainnya. Bertujuan adanya penjaminan kepastian hukum dan perlindungan, alat bukti kuat, dan meminimalisir permasalahan di kemudian hari. Akta autentik berkekuatan pembuktian sempurna kecuali terdapat pembuktian sebaliknya dengan merujuk putusan yang berkekuatan hukum tetap Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dilakukan studi kepustakaan berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Berdasarkan penelitian ditemukan peran notaris dan PPAT dalam perannya di proses KPR, seperti APHT, AJB, dan SKMHT serta melakukan legalisasi pada dokumen pendukung lainnya. Dengan demikian, Notaris dan PPAT memiliki peran yang sangat penting dalam keabsahan legalitas KPR, baik dalam legalisasi dokumen persyaratan KPR sampai dengan pembuatan akta-akta dalam perjanjian KPR hingga berakhirnya perjanjian tersebut. Setelah adanya legalisasi perjanjian kredit tersebut yang menjadi perjanjian pokok pinjam meminjam terdapat perjanjian tambahan yang mengatur mengenai jaminan yang diberikan dalam kredit KPR.
Analisis Implementasi Kebijakan Sistem Kerja pada Pemerintah Daerah Kabupaten Paser Decy Mutia Suhartini; Agus Priyanto; Rina Yulianti
Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah Vol. 7 No. 7 (2025): Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/alkharaj.v7i7.8874

Abstract

In the context of bureaucratic simplification, the President of the Republic of Indonesia has mandated the implementation of bureaucratic reform, which consists of three stages of transformation: organizational transformation, position transformation, and performance management transformation. With this bureaucratic transformation, civil servants (ASN) are required to be able to adapt and perform in order to achieve organizational performance through a more agile working system. In the Paser Regency Government, bureaucratic transformation has been carried out up to the stage of policy implementation efforts on the working system through Paser Regent Regulation Number 9 of 2024. Meanwhile, within the East Kalimantan Provincial Government, as of June 2024, almost 90.9% of Provincial/City and Regency Governments have prepared working system guidelines, with only around 45.5% or five city/regency governments still in the facilitation and drafting stages. This shows that efforts to implement policies at the regional level have begun. However, the implementation of the working system itself, even after the Working System Guidelines were established, has not yet been followed up as expected in the phase of work system adjustments—namely changes in work mechanisms and business processes. Regarding the transformation of the working system into stages of policy implementation—including socialization activities, drafting of technical policy guidelines, resource allocation, capacity building and training, and full implementation (including monitoring, evaluation, and performance appraisal)—these must be carried out immediately. This is so that the policy can serve as a reference to fully assess the impact of bureaucratic reform after going through the three stages of transformation. This research was conducted to assess the extent of the policy implementation efforts of the Regulation of the Minister for Administrative and Bureaucratic Reform (Permenpan RB) Number 7 of 2022 concerning the Working System in the regions, and what obstacles are faced by local governments, especially in Paser Regency, in the steps of its implementation. The research results show that changes in performance management positively affect ASN performance and have an impact on public service performance. Implementation of the working system in accordance with Permenpan RB Number 7 of 2022 must be followed up with more dynamic changes so that performance targets, performance agreements, and the working system can be integrated and continuous.
Penerapan Foot Massage Terhadap Tekanan Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi Di RSUD Karanganyar Zara Rahmasari; Sri Hartutik; Rina Yulianti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 2 No. 8 (2023)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia adalah individu yang mengalami proses menua, dengan bertambahnya usia maka seseorang akan mengalami penurunan kondisi fisik maupun non fisik. Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik lebih dari atau sama 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg. Foot massage merupakan terapi sentuhan tradisional yang dapat memberikan efek relaksasi dan melemaskan otot-otot yang tegang, dan juga bermanfaat bagi kesehatan. Tujuan : Mengetahui hasil implementasi pemberian foot massage terhadap tekanan darah pada lansia di RSUD Karanganyar. Metode : Penerapan dilakukan dengan metode studi kasus kepada 2 responden, sesuai kriteria inklusi dan eklusi, instrumen penelitian menggunakan pengukuran tekanan darah dan SOP Foot massage, selama 3 hari berturut-turut dalam sehari selama 10-15 menit pada waktu pagi hari. Hasil : Berdasarkan hasil penerapan yang sudah dilakukan, terdapat penurunan tekanan darah sebelum dan sesudah di lakukan penerapan foot massage pada 2 responden dengan rata-rata sistolik 10 mmHg dan diastolik 11 mmHg. Kesimpulan : Adanya perbedaan penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi sebelum dan sesudah penerapan foot maasage terhadap tekanan darah pada lansia.