Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Efek Pemberian Madu terhadap Gambaran Histopatologik Aorta Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Margarin Syahrul, Kurniawan; Kairupan, Carla F.; Durry, Meilany F.
e-Biomedik Vol 6, No 1 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v6i1.18796

Abstract

Abstract: Honey has various health benefits due to the antioxidant activities of two compounds namely phenolic and flavonoid. These two compounds are speculated to confer prevention and therapeutic effects on atherosclerosis. Atherosclerosis is caused by a number of factors, one of which is hyperlipidemia. This study was aimed to investigate the effects of honey administration on the histopathological features of the aorta of Wistar rats (Rattus norvegicus) induced by margarine. This was an experimental study employed 19 rats divided into four groups. Negative control (NC) group, received no treatment; positive control (PC) group, given margarine 5g/day/rat for 28 days; P1 group, given margarine 5g/day/rat and honey 2 ml/day/rat simultanously for 28 days; and P2 group, given margarine 5g/day/rat for 28 days followed by the administration of honey 2 ml/day/rat for the next 7 days. Three groups NC, PC, and P1 were terminated at day 29, while P2 group was terminated at day 36. The results showed that the histopathological features of the aorta of wistar rats were normal in P1 group as well as NC group. On the other hand, PC and P2 groups exhibited the presence of foam cells, although the number of foam cells was fewer in P2 group compared to PC group. Conclusion: Honey exhibits preventive effects on atherosclerosis in the aorta of Wistar rats induced by margarine which was indicated by the reduction of the number of foam cells on the histopathological features of the aorta.Keywords: honey, margarine, atherosclerosis Abstrak: Madu memiliki banyak manfaat karena aktivitas antioksidan yang terkandung di dalamnya, yaitu fenolat dan flavonoid. Kedua senyawa ini diduga dapat memberikan efek pencegahan dan terapi terhadap proses aterosklerosis. Aterosklerosis terjadi karena beberapa faktor, salah satunya hiperlipidemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian madu terhadap gambaran histopatologik aorta tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi margarin. Jenis penelitian ialah eksperimental, menggunakan subyek 19 ekor tikus Wistar yang dibagi dalam empat kelompok. Kelompok KN tidak diberi perlakuan; kelompok KP diberi margarin 5 g/hari/tikus selama 28 hari; kelompok P1 diberi margarin 5 g/hari/tikus dan madu 2 ml/hari/tikus secara bersamaan selama 28 hari; dan kelompok P2 diberi margarin 5 g/hari/tikus selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pemberian madu 2 ml/hari/tikus selama tujuh hari. Tikus kelompok KN, KP, dan P1 diterminasi pada hari ke-29, sedangkan kelompok P2 diterminasi pada hari ke-36. Hasil penelitian menunjukkan gambaran histopatologik aorta tikus Wistar yang normal pada kelompok P1 sebagaimana yang terlihat pada kelompok KN. Sebaliknya pada kelompok KP dan P2, tampak adanya sel busa tapi jumlahnya lebih sedikit pada kelompok P2 dibandingkan yang terlihat pada kelompok KP. Simpulan: Madu memiliki efek pencegahan terhadap aterosklerosis pada aorta tikus Wistar yang diinduksi margarine, ditandai dengan berkurangnya bahkan tidak ditemukannya sel busa pada gambaran histopatologik aorta.Kata kunci: madu, margarin, aterosklerosis
Gambaran histopatologik lambung tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diberi sari buah nenas (Ananas comosus (L.) Merr) setelah induksi asam mefenamat Sembiring, Raend; Kairupan, Carla; Loho, Lily L.
eBiomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.5.1.2017.14943

Abstract

Abstract: Inflammation of the stomach can be caused by various factors, including the use of non-steroidal anti-inflammatory (NSAID) drugs such as mefenamic acid. Pineapple (Ananas comosus (L.) merr) is a herbal remedy used to treat gastritis. Pineapple contains several nutrients such as vitamin C and bromelain enzyme that are efficacious as anti-inflammatory and antioxidant. This study aimed to determine histopathological features of the gastric of wistar rats (Rattus norvegicus) given pineapple juice after induction of mefenamic acid. This was an experimental study using 20 wistar rats divided into four groups; each group consisted of five rats. Group I (negative control) was given no treatment. Group II was induced with mefenamic acid 23.25 mg/day single dose for seven days. Group III was induced with mefenamic acid 23.25 mg/day single dose for seven days then was given no treatment during the next seven days. Group IV was induced with mefenamic acid 23.25 mg/day single dose for seven days then was administered with pineapple juice over the next seven days. Rats in group I and II were terminated on day-8 while those in groups III and IV were terminated on day-15. The results showed that the gastric tissue of rats in group IV had less inflammatory cells but more regenerating cells than those in group II and III. Conclusion: Histopathological features of the gaster of wistar rats treated with pineapple juice after the induction of mefenamic acid showed milder signs of acute gastritis and more prominent of cell regeneration/tissue recovery than those given no pineapple juice.Keywords: gastritis, mefenamic acid, pineapple Abstrak: Peradangan lambung dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya penggunaan obat golongan anti-inflamasi non steroidal (AINS) seperti asam mefenamat. Buah nanas (Ananas comosus (L.) merr) merupakan salah satu obat herbal yang digunakan untuk mengatasi gastritis. Buah nanas mengandung beberapa bahan nutrisi seperti enzim bromelain dan vitamin C yang berkhasiat sebagai anti inflamasi dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologik lambung tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diberikan sari buah nanas setelah induksi asam mefenamat. Jenis penelitian ialah eksperimental menggunakan subyek 20 ekor tikus wistar yang dibagi dalam empat kelompok; setiap kelompok terdiri atas lima ekor tikus. Kelompok I (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan. Kelompok II diberikan asam mefenamat 23.25 mg/hari dosis tunggal selama tujuh hari. Kelompok III diberikan asam mefenamat 23.25 mg/hari dosis tunggal selama tujuh hari dan tidak diberikan perlakuan selama tujuh hari berikutnya. Kelompok IV diberikan asam mefenamat 23.25 mg/hari dosis tunggal selama tujuh hari dan diberikan sari buah nanas selama tujuh hari berikutnya. Tikus pada kelompok I dan II diterminasi pada hari ke-8 dan kelompok III dan IV pada hari ke-15. Hasil penelitian menunjukkan gambaran histopatologik lambung tikus wistar berupa infiltrasi sel-sel radang yang lebih sedikit serta sel-sel regenerasi yang lebih aktif dan banyak pada kelompok IV jika dibandingkan kelompok II dan III. Simpulan: Gambaran histopatologik lambung tikus wistar yang diinduksi sari buah nanas setelah diberi asam mefenamat menunjukkan tanda-tanda gastritis akut yang lebih ringan dan regenerasi sel/pemulihan jaringan yang lebih menonjol dibandingkan dengan yang tidak diberi sari buah nanas. Kata kunci: gastritis, asam mefenamat, nanas
GAMBARAN HISTOPATOLOGI LAMBUNG TIKUS WISTAR YANG DIBERI CABE RAWIT (Capsicum frutescens) Teng, Philip; Kairupan, Carla; Loho, Lily
eBiomedik Vol 1, No 3 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.3.2013.3268

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Capsaisin adalah zat aktif yang terkandung dalam cabe rawit dan juga merupakan salah satu bahan iritan bagi mamalia yang dapat menimbulkan sensasi seperti terbakar. Rasa tidak enak di daerah lambung yang diakibatkan oleh capsaicin terjadi oleh adanya stimulasi pada reseptor Transient receptor potential vanilloid-1 yang terdapat pada lambung.Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana gambaran histopatologi lambung tikus wistar setelah diberikan cabe rawit.Metode: Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado sejak Oktober 2012 hingga Januari 2013. Penelitian menggunakan 17 ekor tikus wistar yang terdiri dari 5 kelompok perlakuan dan berlangsung selama 7 hari. Penelitian ini menggunakan cabe rawit dalam dosis 45mg, 90mg, 135mg, dan 180mg untuk melihat perubahan gambaran histopatologi lambung tikus wistar.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cabe rawit pada dosis 180mg tidak memperlihatkan kerusakan yang berarti. Penggunaan cabe rawit pada dosis 90mg memperlihatkan kerusakan yang hebat dengan banyak terlihatnya tanda-tanda gastritis akut.Kesimpulan: Penggunaan cabe rawit dalam jumlah yang sedikit hingga sedang dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih dibandingkan dengan penggunaan dalam jumlah yang banyak.Kata Kunci: Cabe rawit, gastritis akutAbstractBackground: Capsaicin is one of the active substantial that can be found in chili pepper and one of the irritant for mammal that causing the burning sensation. The discomfort sensation in the gastric by capsaicin can be caused because the Transient receptor potential vanilloid-1 that can be found in gastric is stimulated.Objective: To demonstrate the gastric that was administered with chili pepper.Method: The study conducted on Integrated Research Laboratory Faculty of Medicine Sam Ratulangi University Manado from October 2012 to January 2013. The study used 17 wistars, which divided to 5 groups and last to 7 days. This study was using chili pepper in 45mg, 90mg, 135mg, and 180mg to study the histological changes of wistar rat’s gastric.Results: The result showed that the administration of 180mg dose of chili pepper did not cause a meaningful damage. The administration in 90mg of chili pepper did cause a great damage with many inflammation signs occurring.Conclusions: The administration of chili pepper in little to moderate dose causing a greater damage than the administration of chili pepper in high dose.Keywords: Chili pepper, acute gastritis.
Pengaruh pemberian ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap gambaran histopatologik hati tikus wistar yang diberikan parasetamol dosis toksik Sidabutar, Denty M.; Kairupan, Carla F.; Durry, Meilany
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.12224

Abstract

Abstract: Clove (Syzygium aromaticum) contains eugenol, a phenolic compound, which has been suggested to possess antioxidant activity. This compound is suspected to be able to minimize damage to the liver cells caused by drugs such as paracetamol. This study aimed to observe the effects of clove leaf extract on histopathological features of Wistar rat liver tissue induced with toxic doses of paracetamol. This was an experimental laboratory study. Subjects were 24 male Wistar rats. The dose of clove leaf extract was 200 mg/day (single dose) and of paracetamol 50 mg/day (single dose) orally. Group A (negative control) was given no treatment for 14 days. Group B was given paracetamol for 14 days. Group C was given clove leaf extract for 7 days and then added with paracetamol for 7 days. Group D was given clove leaf extract and paracetamol simultaneously for 14 days. Group A showed normal histological feature of liver cells. Group B showed liver cell damage induced by paracetamol. Group C showed regeneration of liver cells, but there were still some necrosis and fatty liver cells. Group D showed regeneration of liver cells meanwhile cell necrosis was hardly found. Conclusion: Clove leaf extract could improve the histopathological changes of liver tissues of Wistar rats due to administration of paracetamol at toxic dose. This improvement was manifested as better regeneration of liver cells than that of rats not treated with clover leaf extract. Keywords: clove, paracetamol, liver Abstrak: Cengkeh (Syzygium aromaticum) mengandung senyawa eugenol, suatu komponen fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa eugenol diduga dapat meminimalisir kerusakan sel hati yang antara lain disebabkan oleh obat-obatan yang berefek hepatototoksik seperti parasetamol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun cengkeh terhadap gambaran histopatologik hati tikus wistar yang diinduksi dengan parasetamol dosis toksik. Jenis penelitian ini eksperimental laboratorik. Subjek penelitian 24 ekor tikus wistar. Pada penelitian ini digunakan ekstrak daun cengkeh 200 mg/hari (dosis tunggal) dan obat parasetamol 50 mg/hari (dosis tunggal) per oral. Subjek penelitian dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan selama 14 hari. Kelompok B diberikan parasetamol selama 14 hari. Kelompok C diberikan ekstrak daun cengkeh selama 7 hari kemudian ditambahkan parasetamol secara bersamaan selama 7 hari. Kelompok D diberikan ekstrak daun cengkeh dan parasetamol secara bersamaan selama 14 hari. Kelompok A memperlihatkan gambaran histopatologik sel hati normal. Kelompok B memperlihatkan kerusakan sel hati berupa nekrosis dan perlemakan sel. Kelompok C memperlihatkan regenerasi sel hati namun masih terdapat nekrosis dan perlemakan sel hati. Kelompok D memperlihatkan regenerasi sel hati yang luas dan hampir tidak ditemukan nekrosis sel. Simpulan: Pemberian ekstrak daun cengkeh memperlihatkan perbaikan gambaran histopatologik jaringan hati tikus wistar yang mengalami kerusakan akibat parasetamol dosis toksik berupa regenerasi sel hati yang lebih baik dibandingkan dengan yang terlihat pada jaringan hati tikus wistar yang tidak diberi ekstrak daun cengkeh.Kata kunci: cengkeh, parasetamol, hati
Gambaran histopatologik mukosa laring tikus wistar yang dipapar asap rokok, obat nyamuk bakar, dan kendaraan bermotor Poluan, Holy; Kairupan, Carla; Durry, Meilany
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.12222

Abstract

Abstract: Air polution is a condition where the air is contaminated with chemicals, particles/matters and other biological substances such as cigarette smoke, mosquito coil smoke, and exhaust gas. Cigarette smoke, mosquito coil smoke and exhaust gas contain substances that can cause inflammation, hyperresponsivity, obstruction, and metaplasia of the respiratory tract. This study aimed to compare the exposure effect of cigarette smoke, mosquito coil smoke, and exhaust gas on the histopathological features of Wistar rat larynx. This was an experimental laboratory study. Subjects were 20 rats divided into 4 groups; Group I, the negative control group, and 3 treatment groups (Group II, III, and IV). Group II was exposed by cigarette smoke, group III was exposed by mosquito coil smoke, and group IV was exposed by exhaust gas. Subjects were put in a modified exposure cage in according with the treatment groups and were exposed for 2 hours per day for 30 days. The results showed that inflammatory cells were found the most in group 4, meanwhile in group II were the least. Metaplasia occured the most in group II, menwhile group III and IV had similar results. In general, group IV showed the worst pathological reaction, followed by group III and group II. Conclusion: Histopathological feature of larynx of wistar rat exposed by exhaust gas showed the worst histopathological changes, followed by mosquito coil smoke exposure group and cigarette smoke group. Keywords: cigarette smoke, mosquito coil smoke, exhaust gas, larynx histopathological feature, inflammatory cells, metaplasia Abstrak: Polusi udara adalah suatu kondisi dimana udara tercemari oleh bahan kimia, zat/partikel dan bahan biologis lainnya.Asap rokok, asap obat nyamuk dan asap kendaraan bermotor merupakan contoh polusi udara. Asap rokok, asap obat nyamuk dan asap kendaraan bermotor mengandung zat yang dapat menyebabkan peradangan, hiperresponsivitas, obstruksi dan metaplasia saluran pernapasan. Penelitian ini bertujuan untukmembandingkan pengaruh paparan asap rokok, asap obat nyamuk dan asap kendaraan bermotor terhadap gambaran histopatologik laring tikus wistar. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik. Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus yang dibagi dalam 4 kelompok: 1 kelompok kontrol negatif (kelompok I) dan 3 kelompok perlakuan (kelompok II, III, IV). Kelompok II dipaparkan asap rokok, kelompok III dipaparkan asap obat nyamuk bakar dan kelompok IV dipaparkan asap kendaraan bermotor. Subjek penelitian kelompok perlakuan diletakkan di kandang perlakuan yang telah dimodifikasi menurut kelompok perlakuan dan diberi paparan asap selama 2 jam per hari selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel radang paling banyak terdapat pada kelompok IV, dan paling sedikit pada kelompok II. Metaplasia yang terjadi paling banyak terdapat pada kelompok II sedangkan kedua kelompok III dan IV memiliki jumlah yang hampir sama. Secara umum kelompok IV menunjukkan reaksi patologik laring yang paling jelek, diikuti oleh kelompok III dan kelompok II. Simpulan: Gambaran histopatologik laring tikus wistar yang dipapar asap kendaraan bermotor menunjukkan perubahan histopatologik yang paling jelek, diikuti yang dipapar dengan asap obat nyamuk bakar dan asap rokok.Kata kunci: asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap obat nyamuk, gambaran histopatologik laring, sel radang, metaplasia
Pengaruh pemberian getah bonggol pisang (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kuntze. AAB) terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit tikus Wistar (Rattus norvegicus) Wakkary, Jacqueline J.; Durry, Meilany; Kairupan, Carla
e-Biomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i1.15018

Abstract

Abstract: Wound healing can be assisted by modern and traditional medicine. Banana stem sap is often used as a herbal remedy for wounds. The sap of banana stem contains saponins, flavonoids, anthraquinone, quinone, lectin, and tannins that are expected to promote wound healing. This study was aimed to determine the effect of banana stem sap on incised wound of the skin of Wistar rats. This was an experimental laboratory study. A total of 21 Wistar rats (Rattus norvegicus) were used in this study; one was used to obtain a normal skin sample, and the others were divided into control groups (A1 and B1) and treated groups (A2 and B2), five rats in each group. A 1-cm-skin incision was made on the back of each rat in all groups. The wounds of group A1 and B1 were untreated. In group A2 and B2, the wounds were applied with 0,5 ml of banana stem sap (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kuntze. AAB) twice a day. Macroscopic and microscopic examinations of the wounds were performed on day-5 (group A1 and A2) and day-14 (group B1 and B2). The results showed that, either macroscopically (wound area and crusting) or microscopically (crust, reepithelization, angiogenesis, proliferation of fibrous tissue and inflammatory cells), group A2 and B2 exhibited better wound healing compared with group A1 and B1. Conclusion: Better wound healing process in Wistar rats treated with banana stem sap on their insiced wounds compared to those that were untreated indicates that banana stem sap play distinct roles in promoting wound healing.Keywords: wound healing, banana stem sap Abstrak: Penyembuhan luka dapat dibantu dengan pengobatan modern ataupun teradisional. Masyarakat awam sering menggunakan pengobatan tradisional salah satunya getah bonggol pisang untuk mengobati luka. Getah bonggol pisang mengandung saponin, flavonoid, antrakuinon, kuinon, laktin, dan tanin yang diduga dapat membantu penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian getah bonggol pisang terhadap penyembuhan luka sayat pada kulit tikus wistar. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik dengan subjek 21 ekor tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang dibagi dalam: satu ekor tanpa perlakuan (sampel kulit normal) dan empat kelompok perlakuan (lima ekor tiap kelompok). Kelompok A1 dan B1 dibuat luka sayat ± 1 cm pada daerah punggung tetapi tidak diolesi getah bonggol pisang (Musa paradisiaca var. sapientum L. Kuntze. AAB). Kelompok A2 dan B2 dibuat luka sayat kemudian diolesi getah bonggol pisang 0,5 ml dua kali sehari. Penilaian dan pengambilan sampel jaringan kulit luka dilakukan pada hari ke-5 (kelompok A1 dan A2) dan hari ke-14 (kelompok B1 dan B2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran penyembuhan luka, baik secara makroskopik (area permukaan luka dan kerak luka) maupun mikroskopik (krusta, reepitelisasi, angiogenesis, proliferasi jaringan ikat dan sel-sel radang) pada kelompok A2 dan B2 lebih baik dibandingkan dengan kelompok A1 dan B1. Simpulan: Ditemukan tanda-tanda penyembuhan luka yang lebih baik pada kelompok tikus Wistar yang diberikan getah bonggol pisang pada luka sayatnya dibandingkan dengan yang tidak diberikan, yang mengindikasikan bahwa getah bonggol pisang berperan khusus dalam membantu proses penyembuhan luka.Kata kunci: penyembuhan luka, getah bonggol pisang
GAMBARAN HISTOPATOLOGIK PAYUDARA MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI BENZO(α)PYRENE DAN DIBERIKAN EKSTRAK KUNYIT (Curcuma longa L.) Nansi, Eka M.; Durry, Meilany F.; Kairupan, Carla
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7504

Abstract

Abstract: Breast cancer (Carcinoma mammae) is one of the most common cancers affecting women. The etiology of breast cancer is still unknown, however, there are several important risk factors linked to the occurence of breast cancer, as follows: genetic, hormonal, and environmental. Polycyclic aromatic hydrocarbons (PHA) such as benzo(a)pyrene is a carcinogenic agent that can be found in the surrounding environment. It has been proven that benzo(a)pyrene can induce tumors in experimental animal models. Turmeric is a natural biocompound that is often used to treat cancer due to its curcumin contents. Curcumin interacts with a variety of genetic molecules that undergo mutation in cancer. This study aimed to determine the effects of turmeric extract administration on the hispathological features of the breast of mice induced with benzo(a)pyrene. This was an experimental study using 15 female mice weighing 20-30g divided into 3 groups. Group A (negative control) was given standard food for 28 days and terminated on day 29. Group B (treatment I), the breasts were induced with benzo(a)pyrene subcutaneously for 14 days and the mice were terminated on day 29. Group C (treatment II), the breasts were induced with benzo(a)pyrene for 14 days and the mice were given the tumeric extract on day 15-28 and then terminated on day 29. Tissues were stained with hematoxylin eosin. The results showed that Group A had normal microscopic features of breast tissues. Group B showed PMN inflammatory cells, thickening layer of cuboidal epithelial cells surrounding the lactiferous ducts (>4 layers) as well as cells with coarse nucleus chromatin. Although mice in group C still presented the PMN inflammatory cells, their cuboidal epithelial layers were thinner than that of group B (2-3 layers) and the cells contained rough nucleus chromatin. Conclusion: The histopathological features of the breast of benzo(a)pyrene induced mice administered with turmeric extract showed fewer layers of cuboidal epithelial cells with rough nucleus chromatin of the lactiferous duct cells wall compared to those treated with benzo(a)pyrene without turmeric extract.Keywords: benzo(a)pyrene, turmeric, hyperplasia, breastAbstrak: Kanker payudara (Carcinoma mammae) dikenal sebagai salah satu kanker yang paling sering menyerang kaum wanita. Penyebab pasti kanker payudara belum diketahui, namun ada beberapa faktor risiko yang penting dalam terjadinya kanker payudara yaitu keturunan, hormonal dan lingkungan. Senyawa hidrokarbon poliaromatik (HPA) merupakan karsinogen yang dapat ditemukan dalam lingkungan sekitar, contohnya ialah benzo(α)pyrene. Telah terbukti bahwa benzo(α)pyrene dapat menyebabkan tumor pada setiap model hewan percobaan. Beberapa pengobatan kanker sering melibatkan kunyit karena kandungan kurkuminnya yang dapat berinteraksi dengan berbagai molekul genetik yang bermutasi pada 510Nansi, Durry, Kairupan: Gambaran histopatologik payudara...sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kunyit terhadap gambaran histopatologik payudara mencit yang diinduksi benzo(α)pyrene. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang menggunakan mencit betina dengan berat 20-30g sebanyak 15 ekor, dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok A (kontrol negatif), mencit diberi pelet standard selama 28 hari dan diterminasi pada hari ke-29. Kelompok B (perlakuan I), payudara mencit diinduksi benzo(α)pyrene secara subkutan selama 14 hari dan mencit diterminasi pada hari ke-29. Kelompok C (perlakuan II), payudara mencit diinduksi benzo(α)pyrene selama 14 hari dan mencit diberi ekstrak kunyit pada hari ke- 15-28 kemudian diterminasi pada hari ke-29. Jaringan diwarnai dengan hematoksilin eosin. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok A didapatkan gambaran mikroskopik jaringan payudara mencit yang normal. Pada kelompok B didapatkan adanya sel-sel radang PMN, penebalan lapisan sel epitel kuboid yang mengelilingi duktus laktiferi (>4 lapis) serta sel-sel dengan kromatin inti yang kasar, sedangkan pada kelompok C masih menunjukkan adanya sel-sel radang PMN, lapisan sel epitel kuboid yang tidak setebal pada kelompok B (2-3 lapis) serta kromatin inti sel yang kasar. Simpulan: Gambaran histopatologik payudara mencit yang diinduksi benzo(𝛼)pyrene kemudian diberikan ekstrak kunyit menunjukkan jumlah lapisan sel epitel kuboid dengan kromatin inti kasar pada dinding duktus laktiferi tampak lebih sedikit dibandingkan dengan yang terlihat pada payudara mencit yang tidak diberikan ekstrak kunyit.Kata kunci: benzo(a)pyrene, kunyit, hiperplasia, payudara.
EFFECT OF CHRYSOMYA DOMINATION ON CALCULATING POST MORTEM INTERVAL Kristanto, Erwin G; Sembel, Dantje T; Salaki, Christina L; Kairupan, Carla; Huijbregts, Hans
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 1 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.1.2012.748

Abstract

Abstrak. Perkiraan saat kematian dihitung melalui penelitian dengan empat ekor bangkai hewan coba babi domestik pada lapangan terbuka dan area bersemak di Manado, Indonesia. Proses dekomposisi mulai dari tahap segar sampai skeletonisasi berlangsung selama 7-11 hari dengan tahap-tahap tumpang tindih, yang berbeda dengan di daerah empat musim (temperate). Chrysomya rufifacies dan Chrysomya megacepahala merupakan jenis lalat primer dominan yang ditangkap dari sekitar bangkai hewan coba dan dari hasil rearing. Simpulan: pada bangkai hewan coba yang didominasi oleh Chrysomya rufifacies dan Chrysomya megacephala, perkiraan saat kematian dengan menggunakan kedua spesies ini merupakan alat ukur terpercaya. Karakteristik perkembangan serangga amat dibutuhkan sebagai alat analitik untuk kepentingan penegakan hukum di Indonesia. Kata kunci: Chrysomya rufifacies, Chrysomya megacephala, dominasi, post mortem interval  Abstract. Post mortem intervals (PMIs) were estimated in each of four decomposing pig carcasses located in an open field, as well as in a bushy area in Manado, Indonesia. The decomposition in Manado, proceeded from fresh to complete skeletonization, which occured within seven to eleven days, and lacked the intermediate step characteristics of decomposition as would be found in more temperate climates. Chrysomya rufifacies and Chrysomya megacepahala were the most dominant fly species collected near the carcasses, and from the rearing. Conclusion: estimation of PMIs in carcasses dominated by Chrysomya rufifacies and Chrysomya megacephala is best done by using the two spesies as measuring tools. Detailed characterization of the development of forensically important species across an array of conditions is necessary to provide adequate analytical tools for law enforcement agencies in Indonesia.Key words: Chrysomya rufifacies, Chrysomya megacephala, domination, post mortem interval
GAMBARAN HISTOPATOLOGI KARTILAGO SENDI LUTUT TIKUS WISTAR SETELAH PEMBERIAN SIPROFLOKSASIN Lintong, Poppy; Kairupan, Carla; Saul, Mulyadi
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 1 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.1.2009.810

Abstract

Abstract: Ciprofloxacin is a kind of antibiotic which belongs to the fluoroquinolone group. It is very effective against microbes, but has several side effects in bones, joints, and tendons, especially for individuals under 18 years. The purpose of this study was to find out the side effects of ciprofloxacin on wistar rats’ knee joints. This was an experimental and descriptive study, using 12 wistar rats as samples, which were grouped in 4 groups: 3 treated, 1 control. The treated groups were given different total daily oral doses of ciprofloxacin (2 mg, 6 mg, and 18 mg) for 14 days. On the 15th day, all the samples were terminated, and their right back knees were examined pathologically, focusing on the knee cartilages. Wistar rats treated with 18 mg ciprofloxacin showed foci of cartilage matrix edema and degradation of chondrocytes. This study concluded that 18 mg doses of ciprofloxacin daily caused destruction of the matrix and chondrocytes of the wistar rats’ knee joint cartilages. Key words: ciprofloxasin, knee joint, matrix edema, chondrocytes’ degradation. Abstrak: Siprofloksasin adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang sangat efektif untuk mengobati infeksi, namun dapat menimbulkan beberapa efek samping, antara lain gangguan pada tulang, sendi, dan tendon, terutama pada yang berusia dibawah 18 tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek siprofloksasin pada sendi lutut tikus. Penelitian ini bersifat eksperimental deskriptif dengan menggunakan sampel 12 ekor tikus wistar  yang dibagi atas empat kelompok (3 kelompok perlakuan  dan 1 kelompok kontrol). Pada kelompok perlakuan diberikan siprofloksasin per oral dengan  dosis 2mg, 6 mg, dan 18 mg setiap hari  selama 14 hari. (Dosis ini pada manusia dengan berat badan rata  rata 50 kg setara dengan dosis  1000 mg, 3000 mg, dan 9000 mg per hari). Pada hari ke15, tikus kontrol dan perlakuan diterminasi kemudian sendi lutut di eksisi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan  histopatologi sendi lutut difokuskan pada jaringan kartilago hialin. Tikus kontrol dan tikus perlakuan dengan pemberian siprofloksasin dosis 2 mg dan 6 mg memperlihatkan jaringan kartilago normal; sedangkan pada tikus perlakuan dengan dosis 18 mg  terlihat fokus-fokus pembengkakan matriks tulang rawan dan degradasi kondrosit. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian siprofloksasin pada tikus wistar dengan dosis 18 mg (setara dengan 9000 mg pada manusia)  per hari selama 14 hari telah menimbulkan kelainan fokal pada kartilago berupa pembengkakan matriks dan degradasi kondrosit. Kata kunci: siprofloksasin, sendi lutut, pembengkakan matriks, degradasi kondrosit.
GAMBARAN MIKROSKOPIK GINJAL TIKUS WISTAR (RATTUS NORVEGICUS) SETELAH DIINDUKSI DENGAN GENTAMISIN Lintong, Poppy M; Kairupan, Carla F; Sondakh, Priska L N
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.800

Abstract

Abstract: Gentamycin, a frequently used aminoglycoside antibiotics, has a nephrotoxic effect to human beings and animals. The purpose of this research was to find out the microscopic changes of wistar rat kidneys after gentamycin induction. This was an experimental study, using five adult wistar rats, divided into three groups. Group I was the control group; group II consisted of two rats, injected with gentamycin 0,3 ml/day (dose of 60 mg/kg body weight/day) intraperitoneally for seven days; and group III consisted of two rats, injected with gentamycin 0,3 ml/day intraperitoneally for 10 days. Group I and II were terminated at day-8, and group III at day-11. Their kidneys were processed for microscopic slides, stained with hematoxylin eosin and Periodic Acid Schiff. In microscopic evaluation, group II and III showed oedema, necrosis, apoptosis, and basal membrane destruction of tubular epithelial cells. Group III also showed fat vacuoles in these epithelial cells (macrovesicular fatty changes). Conclusion: wistar rats injected with gentamycin 60 mg/kg body weight/day for 7 and 10 days showed oedema, necrosis, apoptosis, and basal membrane destruction of tubular epithelial cells; and macrovesicular fatty changes after 10 days of gentamycin.Key words: gentamycin, necrosis tubular epithelial cells, fatty changesAbstrak: Gentamisin termasuk antibiotik golongan aminoglikosida berspektrum luas yang bersifat nefrotoksik terhadap manusia dan hewan. Tujuan penelitian ini untuk melihat perubahan mikroskopik struktur ginjal tikus Wistar setelah diberikan gentamisin. Metode penelitian eksperimental dengan menggunakan lima ekor tikus Wistar dewasa yang dibagi atas tiga kelompok. Kelompok I tanpa perlakuan; kelompok II terdiri dari dua ekor tikus perlakuan yang diinjeksi dengan gentamisin 0,3 ml/hari (dosis 60 mg/kgBB/hari) secara intraperitonial selama tujuh hari; dan kelompok III terdiri dari dua ekor tikus perlakuan yang diinjeksi dengan gentamisin 0,3 ml/hari secara intraperitonial selama 10 hari. Tikus Wistar kelompok I dan II diteminasi hari ke-8, sedangkan kelompok III diterminasi hari ke-11. Ginjal tikus kelompok I -III kemudian dibuat preparat histopatologik dengan pengecatan rutin hematoksilin eosin dan Periodic Acid Schiff (PAS). Hasil penelitian menunjukkan tikus Wistar perlakuan yang diberikan gentamisin 0,3 ml/hari selama 7 sampai 10 hari secara mikroskopik memperlihatkan pembengkakan, nekrosis, apoptosis, dan destruksi membrana basalis sel epitel tubulus; dan pada hari ke-10 terlihat vakuol-vakuol lemak pada sel epitel sehingga inti terdesak ke tepi (perlemakan makrovesikuler). Simpulan: pemberian gentamisin pada tikus Wistar dengan dosis 60 mg/kg BB/hari selama 7-10 hari menunjukkan pembengkakan, nekrosis, apoptosis sel epitel tubulus, dan membrana basalis tubulus rusak; dan setelah hari ke-10 juga terlihat perlemakan makrovesikuler.Kata kunci: gentamisin, nekrosis sel epitel tubulus, perlemakan makrovesikuler