Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Gambaran histopatologik lambung tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diberikan air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia) Laomo, Suhaidir; Loho, Lily L.; Kairupan, Carla F.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.15016

Abstract

Abstract: Lime squash is often used as a herbal remedy for gastritis, even though it is acidic. It contains citric acid and vitamin C which in certain doses can be irritant to the stomach. Nevertheless, lime squash also contains antioxidants such as limonene, flavonoids, and vitamin C, that play certain roles in improving the protection of the stomach and the ability of cell regeneration, and as anti-inflammatory agents. This study aimed to reveal the histopathological features of the gaster of Wistar rats (Rattus norvegicus) treated with lime squash. This was an experimental laboratory study using 15 adult Wistar rats divided into three groups (five rats in each group). Group A (negative control) was given no treatment; group B and C were treated with lime squash 0.5 and 1.56 ml/day, respectively. Lime squash was given in a single dose for seven consecutive days. Rats were terminated on day eight. The results revealed that the gaster of Wistar rats in group A were similar to that of the normal gaster, while group B and C showed no signs of inflammation and the gastric gland cells appeared enlarged and dense. Conclusion: Histopathological features of the gaster of Wistar rats, treated with either low or high dose (three-fold) lime squash, showed no signs of abnormalities such as inflammation, however, there were enlarged glandular cells which might be related to increased gastric mucosal defence.Keywords: lime, gastric histopathological features, inflammatory cells, gastric glands Abstrak: Air perasan jeruk nipis sering digunakan sebagai obat herbal terhadap gastritis, meskipun bersifat asam. Air perasan jeruk nipis mengandung asam sitrat yang pada dosis tertentu menjadi bahan iritan terhadap lambung. Namun demikian, kandungan antioksidan seperti limonene, flavonoid dan vitamin C berperan dalam meningkatkan proteksi lambung dan kemampuan regenerasi sel, serta sebagai anti inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologik lambung tikus wistar yang diberikan air perasan jeruk nipis. Jenis penelitian ialah eksperimental menggunakan 15 ekor tikus Wistar yang dibagi dalam tiga kelompok (lima ekor tikus tiap kelompok). Kelompok A (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan; kelompok B dan C masing-masing diberi air perasan jeruk nipis 0,5 ml/hari dan 1,56 ml/hari dosis tunggal selama tujuh hari, Semua tikus diterminasi pada hari ke-8. Hasil yang didapatkan pada gambaran histopatologik lambung tikus wistar yaitu: kelompok A sesuai dengan gambaran lambung normal; kelompok B dan C tidak menunjukkan tanda-tanda peradangan namun sel-sel kelenjar lambung tampak membesar dan padat. Simpulan: Gambaran histopatologik lambung tikus wistar yang diberi air perasan jeruk nipis, baik dosis rendah maupun tinggi (tiga kali lipat) tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan seperti peradangan, melainkan tampak terjadi pembesaran sel-sel kelenjar lambung yang mungkin berhubungan dengan peningkatan pertahanan mukosa lambung. Kata kunci: jeruk nipis, gambaran histopatologik lambung, sel radang, kelenjar lambung
Pengaruh Minuman Tradisional Beralkohol Khas Sulawesi Utara Dosis Bertingkat terhadap Gambaran Morfologik Hati Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Rembang, Addi A.; Kairupan, Carla F.; Lintong, Magdalena P.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28742

Abstract

Abstract: Excessive consumption of alcoholic beverages can affect the liver, in the form of fatty liver, alcoholic hepatitis, and liver cirrhosis. This study was aimed to determine the influence of alcoholic drink on the liver if it is consumed routinely in low and moderate doses, specifically an alcoholic drink produced by residents of North Sulawesi, namely Cap Tikus. It was an experimental laboratory study. Subjects were 24 Wistar rats divided into one control group and three treatment groups, each of six rats. The control group (K) was not given Cap Tikus. Treatment group 1 (K1) was given Cap Tikus at a dose of 1.08 mL/day in male rats (K1A) and 0.81 mL/day in female rats (K1B). Treatment group 2 (K2) was given Cap Tikus at a dose of 2.16 mL/day in male rats (K2A) and 1.62 mL/day in female rats (K2B). Treatment group 3 (K3) was given Cap Tikus at a dose of 4.32 mL/day in male rats (K3A) and 3.24 mL/day in female rats (K3B). All rats were terminated on day 21 and their livers were prepared for microscopic examination. The results showed fatty liver cells in all treatment groups. At moderate and high doses there were necrotic liver cells. Hepatitis was found in the male group with the highest dose. In conclusion, Wistar rats given Cap Tikus had fatty liver cells at all doses, liver cell necrosis at moderate and high doses, and the presence of hepatitis in the group of male rats at high doses.Keywords: Cap Tikus, fatty liver cells, and necrotic liver cells, hepatitis Abstrak: Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada hati, berupa perlemakan hati, hepatitis alkoholik, dan sirosis hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minuman beralkohol terhadap hati bila dikonsumsi secara rutin dalam dosis rendah maupun sedang, secara khusus minuman beralkohol yang diproduksi oleh masyarakat Sulawesi Utara, yaitu Cap Tikus. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik. Subyek penelitian ialah 24 ekor tikus Wistar yang dibagi atas satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari enam ekor tikus. Kelompok kontrol (K) tidak diberikan Cap Tikus. Kelompok perlakuan 1 (K1) diberikan Cap Tikus dengan dosis 1,08 mL/hari pada tikus jantan (K1A) dan 0,81 mL/hari pada tikus betina (K1B). Kelompok perlakuan 2 (K2) diberikan Cap Tikus dengan dosis 2,16 mL/hari pada tikus jantan (K2A) dan 1,62 mL/hari pada tikus betina (K2B). Kelompok perlakuan 3 (K3) diberikan Cap Tikus dengan dosis 4,32 mL/hari pada tikus jantan (K3A) dan 3,24 mL/hari pada tikus betina (K3B). Semua tikus diterminasi pada hari ke-21 dan hati tikus dilakukan pemeriksaan mikroskopik. Hasil pemeriksaan menunjukkan perlemakan sel hati pada semua kelompok perlakuan. Pada dosis sedang dan tinggi terdapat sel-sel hati yang mengalami nekrosis sedangkan pada kelompok jantan dengan dosis paling tinggi terdapat hepatitis. Simpulan penelitian ini ialah tikus Wistar yang diberikan minuman Cap Tikus mengalami perlemakan sel hati pada semua dosis; nekrosis sel hati pada dosis sedang dan tinggi; serta adanya hepatitis pada kelompok tikus jantan dengan dosis tinggi.Kata kunci: Cap Tikus, perlemakan dan nekrosis sel hati, hepatitis
Perbandingan Efek Beberapa Minuman Ringan Berkarbonasi terhadap Gambaran Histopatologik Lambung Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Papia, Yetrida M.; Durry, Meilany F.; Kairupan, Carla F.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28741

Abstract

Abstract: Carbonated soft drinks are beverages that undergo carbonation with the addition of acidic ingredients, caffeine, and preservatives. Consumption of these drinks increases signi-ficantly worldwide and is associated with gastrointestinal problems. This study was aimed to determine whether there were any differences in the effects of some carbonated soft drinks on gastric histopathological images of Wistar rats (Rattus norvegicus). It was an experimental study with a randomized posttest only control group. Subjects were 20 Wistar rats, male and female, divided into 5 groups; one control group (not treated) and four treatment groups (P1 to P4). Each treatment group was given one type (brand) of carbonated soft drinks, namely Coca-cola® (P1), Fanta® (P2), Sprite® (P3), and Big cola® (P4) at a dose of 7 ml/day for 29 days. The results showed that the gastric histopathological images of all treatment groups were different from of the control group. Infiltration of many inflammatory lymphocytes, hyperemia, and edema in the gastric mucosal stroma were observed in all treatment groups. In conclusion, all treatment groups showed gastric histopathological images, namely infiltration of many inflammatory lymphocytes, hyperemia, and mucosal stromal edema. However, there was no significant difference in histo-pathologic images among all treatment groups.Keywords: carbonated softdrink, gastric histopathological images Abstrak: Minuman ringan berkarbonasi merupakan minuman yang mengalami proses karbonasi dengan tambahan bahan asam, kafein, dan bahan pengawet. Konsumsi minuman ini menun-jukkan peningkatan nyata di seluruh dunia dan dikaitkan dengan timbulnya berbagai masalah kesehatan pada saluran cerna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek beberapa minuman ringan berkarbonasi terhadap gambaran histopatologik lambung tikus Wistar. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan randomized posttest only control group. Subyek penelitian terdiri dari 20 ekor tikus Wistar jantan dan betina, dibagi menjadi satu kelompok kontrol dan empat kelompok perlakuan (P1 sampai P4). Setiap kelompok perlakuan diberikan satu jenis (merek) minuman ringan berkarbonasi, yaitu Coca-cola® (P1),Fanta® (P2), Sprite® (P3), dan Big cola® (P4) dengan dosis 7 ml/hari selama 29 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran histopatologik lambung tikus Wistar pada semua kelompok perlakuan berbeda dengan yang terlihat pada kelompok kontrol. Jaringan lambung kelompok P1, P2, P3, dan P4 terlihat memiliki gambaran histopatologik yang serupa, yaitu adanya infiltrasi banyak sel-sel radang limfosit, hiperemi dan edema pada stroma mukosa. Simpulan penelitian ini ialah gambaran histopatologik lambung tikus Wistar yang diberikan minuman ringan berkarbonasi Coca-cola®, Fanta®, Sprite®, ataupun Big cola®semuanya menunjukkan adanya infiltrasi sel-sel radang limfosit, hiperemi dan edema stroma mukosa; tidak tampak perbedaan jelas antara kelompok tikus yang diberi minuman ringan berkarbonasi dengan merek berbeda.Kata kunci: minuman ringan berkarbonasi, gambaran histopatologik lambung
Efek Hepatoprotektif Tanaman Obat Palawe, Christesa Y.; Kairupan, Carla F.; Lintong, Poppy M.
Medical Scope Journal Vol 3, No 1 (2021): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.3.1.2021.33542

Abstract

Abstract: Medicinal plant that contain antioxidants is an alternative therapeutic option for liver disorders. This study was aimed to review the hepatoprotective effects of medicinal plants. This was a literature review study using PubMed, Google Scholar and Clinical Key. The results showed 10 hepatoprotective medicinal plants, as follows:  soursop leaves, yellow bamboo shoots, moringa leaves, green betel leaves, libo fruit, kenikir, neem leaves, bitter bean seeds, black cumin, and solo garlic. All of them showed hepatoprotective activities based on the results of the tests, using biochemical and histopathological parameters. Soursop leaves could increase SOD level and reduce MDA level; yellow bamboo shoots were demonstrated to maintain SGPT activities and bilirubin level; moringa leaves have been associated with the reduction of MDA, SGOT, and SGPT levels; green betel leaves were able to reduce SGOT and SGPT levels and improve liver centrolobular necrosis; libo fruit was able to lower SGPT level; kenikir and bitter bean seeds were shown to reduce SGOT and SGPT levels; neem leaves were associated with the reduction of ALT level and protection against liver cell damage; black cumin was found to reduce fat degeneration; solo garlic could reduce MDA, SGPT, and SGOT levels, and maintain SOD level. In conclusion, the 10 hepatoprotective medicinal plants have the ability to increase SOD levels, reduce SGOT, SGPT and MDA levels, maintain bilirubin levels, regenerate centrilobular necrosis of the liver, and reduce fat degeneration of the liver. Solo garlic shows the largest amount of hepatoprotective activities, followed by yellow bamboo shoots, green betel leaves and libo fruit.Keywords: medicinal plants, hepatoprotector effect  Abstrak: Pengobatan menggunakan tanaman obat yang mengandung antioksidan merupakan pilihan terapi alternatif untuk gangguan pada hati. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah efek hepatoprotektif tanaman obat. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan PubMed, Google Scholar dan Clinical Key. Hasil penelitian mendapatkan 10 tanaman obat hepatoprotektor yaitu daun sirsak, rebung bambu kuning, daun kelor, daun sirih hijau, buah libo, kenikir, daun mimba, biji petai, jintan hitam, dan bawang lanang. Tanaman-tanaman obat tersebut memiliki aktivitas hepatoprotektif berdasarkan pengujian dengan parameter biokimia dan histopatologi. Daun sirsak dapat meningkatkan kadar SOD dan menurunkan kadar MDA; rebung bambu kuning dapat mempertahankan aktivitas SGPT dan kadar bilirubin; daun kelor menurunkan kadar MDA, SGOT, dan SGPT; daun sirih hijau menurunkan kadar SGOT dan SGPT, serta memperbaiki nekrosis sentrolobuler hati; buah libo menurunkan kadar SGPT; kenikir dan biji petai menurunkan kadar SGOT dan SGPT; daun mimba menurunkan kadar SGPT dan memiliki daya proteksi terhadap kerusakan sel hati; jintan hitam dapat mengurangi degenerasi lemak; bawang lanang menekan peningkatan kadar MDA, SGPT, SGOT dan mempertahankan kadar SOD. Simpulan penelitian ini Kesepuluh tanaman obat hepatoprotektor tersebut memiliki kemampuan dalam meningkatkan kadar SOD, menurunkan kadar SGOT, SGPT dan MDA, mempertahankan kadar bilirubin, memperbaiki nekrosis sentrolobuler hati, dan mengurangi degenerasi lemak hati. Bawang lanang menunjukkan aktivitas hepatoprotektor terbesar, diikuti rebung bambu kuning, daun sirih hijau, dan buah libo.Kata kunci: tanaman obat, efek hepatoprotektor
Morfologi, Patogenesis, dan Imunoterapi Kanker Paru Tipe Adenokarsinoma Robot, Renita Y.; Durry, Meilany F.; Kairupan, Carla F.
Medical Scope Journal Vol 3, No 1 (2021): Medical Scope Journal
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/msj.3.1.2021.33544

Abstract

Abstract: Although some common therapies for cancers are available, many patients experience relapse during therapy. Therefore, an understanding of the pathogenesis of lung adenocarcinomas is needed in lung cancer therapies, especially targeted therapies. Immunotherapy has been shown to be effective in the therapy of various tumors, including non-small cell lung cancer (NSCLC). This study was aimed to review the morphology, pathogenesis, and immunotherapy of lung adenocarcinomas. This was a literature review study using databases of Clinical Key, Pubmed, and Google Scholar. The results showed that morphology of lung adenocarcinomas was characterized by the presence of lesions consisting of several morphological spectra, starting with pre-invasive lesions, then minimally invasive adenocarcinomas to invasive adenocarcinomas. Pathogenesis of lung adenocarcinomas was associated with genetic changes of several genes such as EGFR, KRAS, ALK, and ROS1; however, the most frequently involved were EGFR, KRAS, and ALK. The immunotherapies used for lung adeno-carcinomas were nivolumab, pembrolizumab, atezolizumab, tremelimumab, durvalumab, avelumab, cemiplimab, cetuximab, panitumumab, and matuzumab; however, the most commonly used were nivolumab, pembrolizumab, and atezolizumab. In conclusion, morphological spectra of lung adeno-carcinomas are pre-invasive lesions, minimally invasive adenocarcinomas, and invasive adeno-carcinomas. Pathogenesis of lung adenocarcinomas is associated with the presence of genetic changes, especially mutations of EGFR, KRAS and ALK. The most widely used immunotherapies for lung adenocarcinomas are nivolumab and pembrolizumab, which are included in the PD-1 antibody group and atezolizumab in the PD-L1 antibody group.Keywords: lung adenocarcinoma morphology; pathogenesis; immunotherapy  Abstrak: Telah tersedia beberapa terapi umum kanker namun banyak pasien mengalami kekambuhan saat terapi. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman tentang patogenesis adenokarsinoma paru dalam terapi kanker paru khususnya terapi target. Imunoterapi dianggap sebagai teknologi yang memberikan harapan dan telah terbukti efektif dalam terapi berbagai tumor, termasuk non-small cell lung cancer (NSCLC). Penelitian ini bertujuan untuk menelaah morfologi, patogenesis, dan imunoterapi dari kanker paru tipe adenokarsinoma. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan database Clinical Key, Pubmed, dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan morfologi adenokarsinoma paru ditandai adanya lesi yang terdiri dari beberapa spektrum morfologik, diawali dengan lesi preinvasif, selanjutnya lesi adenokarsinoma invasif minimal sampai adenokarsinoma invasif. Patogenesis adenokarsinoma paru berhubungan dengan perubahan genetik beberapa gen, yaitu EGFR, KRAS, ALK, dan ROS1; namun yang paling sering terlibat ialah EGFR, KRAS, dan ALK Imunoterapi yang digunakan untuk terapi adenokarsinoma paru ialah nivolumab, pembrolizumab, atezolizumab, tremelimumab, durvalumab, avelumab, cemiplimab, cetuximab, panitumumab, dan matuzumab; namun terbanyak digunakan ialah nivolumab, pembrolizumab, dan atezolizumab. Simpulan penelitian ini ialah spektrum morfologi dari adenokarsinoma paru berupa lesi preinvasif, adenokarsinoma invasif minimal, dan adenokarsinoma invasif. Patogenesis dari adenokarsinoma paru berhubungan dengan adanya perubahan genetik, terutama mutasi EGFR, KRAS, dan ALK. Imunoterapi yang paling banyak digunakan untuk terapi adenokarsinoma paru ialah nivolumab dan pembrolizumab yang termasuk dalam golongan antibodi PD-1 serta atezolizumab yang masuk dalam golongan antibodi PD-L1.Kata kunci: morfologi adenokarsinoma paru; patogenesis; imunoterapi
Relationship between Nutrition Knowledge, Consumption Pattern and Physical Activity, and Body Image in Students during the Covid-19 Pandemic Crifianny P. Wenas; Alexander S. L. Bolang; Carla F. Kairupan
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37347

Abstract

Abstract: Body image is an individual’s experience in the form of perception of his/her body shape and weight as well as behavior that leads to the individual’s evaluation of physical appearance. This study aimed to determine the relationship between nutritional knowledge, consumption pattern and physical activity, and the body image of students in the Covid-19 pandemic. This was a quantitative study with an analytical observational design using a cross sectional approach. Respondents were all students of Geothermal Specialization the Geothermal Specialization Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences at Manado State University totaling 88 people. The study instrument was in the form of questionnaire made into google form. The results showed that 71 respondents (80.7%) had a positive body image. The bivariate analysis using chi-square test showed a significant relationship between body image and nutritional knowledge (p=0.046), consumption pattern (p=0.000), and physical activity (0.014). Multivariate analysis using logistic regression showed that physical activity was the variable having most dominant relationship with body image (OR 3,245; 95% CI 1,239 – 8,502). In conclusion, there is a significant relationship between nutritional knowledge, consumption pattern, physical activity, and the body image of students in the Covid-19 pandemic. Physical activity is the most related factor with body image.    Keywords: body image; nutritional knowledge; consumption pattern; physical activityAbstrak: Body image merupakan pengalaman individu berupa persepsi terhadap bentuk dan berat tubuhnya, serta perilaku yang mengarah pada evaluasi individu tersebut terhadap penampilan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi, pola konsumsi dan aktivitas fisik dengan body image mahasiswa pada masa pandemi Covid-19. Metode penelitian yaitu kuantitatif dengan rancangan observasional analitik dan desain potong lintang. Responden yaitu seluruh mahasiswa Peminatan Geotermal Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Negeri Manado berjumlah 88 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner, dibuat dalam bentuk google form. Hasil penelitian mendapatkan 80,7% responden memiliki body image positif. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menunjukkan hubungan bermakna antara body image dengan pengetahuan gizi (p=0,046), pola konsumsi (p=0,000), dan aktivitas fisik (p=0,014). Analisis multivariat menggunakan regresi logistik mendapatkan bahwa aktivitas fisik merupakan variabel yang memiliki hubungan paling dominan dengan body image (OR 3,245; 95% CI 1,239 – 8,502). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara pengetahuan gizi, pola konsumsi, dan aktivitas fisik dengan body image mahasiswa pada masa pandemi Covid-19. Aktivitas fisik merupakan faktor yang paling berhubungan dengan body image.Kata kunci: body image; pengetahuan gizi; pola konsumsi; aktivitas fisik
Tinjauan Mengenai Manfaat Flavonoid pada Tumbuhan Obat Sebagai Antioksidan dan Antiinflamasi Puja A. U. Husna; Carla F. Kairupan; Poppy M. Lintong
eBiomedik Vol. 10 No. 1 (2022): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v10i1.38637

Abstract

Abstract: Flavonoids in medicinal plants can prevent the formation of free radicals and reduce tissue damage due to inflammation. The aim of this study was to examine the role of flavonoids in medicinal plants as antioxidants and anti-inflammatory. The type of research is a literature review using three databases, namely ClinicalKey, PubMed, and Google Scholar. The results of this study showed a number of medicinal plants possess flavonoids that have been associated with antioxidant and anti-inflammatory activities. Kersen leaves, especially quercetin, can prevent damage to the duodenal mucosa. Dissotis rotundifolia plants prevent gastric mucosal damage. Flavonoids, especially from lemon peels, can reduce skin serum MDA levels and increase SOD enzymes due to UVB rays. Kerehau leaves lower MDA levels in the blood. Cyclocarya paliurus leaves induce SOD and T-AOC enzymes in the liver. Juniperus phoenicea leaves increase SOD, Cat, and GSH enzymes and decrease leukocyte count, platelet count, and CRP levels in the dermal layer. Sungkai leaves decreased exudate volume and the number of segmental neutrophils and stem neutrophils. Flavonoids in kelor leaves, sambang getih plant, and Juniperus sabina plant can reduce edema volume. In conclusion, flavonoids in medicinal plants as antioxidant agents can prevent tissue damage, increase endogenous enzyme activities, and reduce serum MDA levels, while as anti-inflammatory agents they can reduce edema volume and inhibit inflammatory mediators.Keywords: medicinal plants; flavonoids; antioxidants; anti-inflammatory  Abstrak:  Kandungan flavonoid pada tumbuhan obat dapat mencegah pembentukan radikal bebas dan mengurangi kerusakan jaringan akibat peradangan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kandungan flavonoid pada tumbuhan obat sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan tiga database, yaitu ClinicalKey, PubMed, dan Google Scholar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah tumbuhan obat mengandung flavonoid yang bermanfaat sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Daun kersen terutama quercetin dapat mencegah kerusakan mukosa duodenum. Tumbuhan Dissotis rotundifolia mencegah kerusakan mukosa lambung. Flavonoid terutama isomangiferin dari kulit lemon dapat menurunkan kadar MDA serum kulit dan meningkatkan enzim SOD akibat dari sinar UVB. Daun kerehau menurunkan kadar MDA serum. Daun Cyclocarya paliurus meningkatkan enzim SOD dan T-AOC pada hati. Daun Juniperus phoenicea meningkatkan enzim SOD, Cat, dan GSH serta menurunkan jumlah leukosit, trombosit, dan level CRP lapisan dermal. Daun sungkai menurunkan volume eksudat dan jumlah neutrofil segmen dan neutrofil batang. Flavonoid pada daun kelor, tumbuhan sambang getih, dan tumbuhan Juniperus sabina dapat menurunkan volume edema. Simpulan dari penelitian ini ialah manfaat flavonoid pada tumbuhan obat sebagai antioksidan berupa mencegah kerusakan jaringan, meningkatkan aktivitas antioksidan endogen, dan menurunkan kadar MDA serum, sedangkan sebagai antiinflamasi berupa menurunkan volume edema dan menghambat mediator-mediator inflamasi.Kata kunci: tumbuhan obat; flavonoid; antioksidan; antiinflamasi