Reny Sawitri
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

HABITAT DAN POPULASI BURUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI, KABUPATEN KUNINGAN Sawitri, Reny; Mukhtar, Abdullah Syarief; Karlina, Endang
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Taman Nasional (TN) Gunung Ciremai sebagai habitat hutan pegunungan di Jawa Barat memiliki keanekaragaman jenis burung yang sesuai dengan relung ekologinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang tipe  habitat, pemanfaatan tumbuhan  oleh burung,  keragaman jenis burung serta pengelolaannya secara in-situ. Metode pengamatan dilakukan dengan meletakkan plot secara purposive random sampling pada habitat burung dengan radius + 25 m, pencatatan jenis burung dilakukan  di dalam maupun di luar plot contoh. Habitat burung yang terdapat di kawasan TN Gunung Ciremai ada tiga  tipe,  di mana kawasan yang dikelola dengan sistem Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM), Cibunar mempunyai keragaman jenis dan keseimbangan  paling tinggi (H’ = 2,7440 dan E = 0,7657), keadaan ini didukung oleh tingkat kesukaan burung terhadap jenis tumbuhan dan sebagai dampak daerah ecotone. Kepadatan  jenis  burung  yang  lebih  dari  10  ekor  per  ha  adalah  burung  kacamata  gunung  (Zosterops palpebrosa Nich) dan prenjak (Prinia familiaris Horsfield), hal ini didukung oleh perilaku burung yang suka berkelompok dan pemakan serangga. Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh burung untuk mencari pakan, beristirahat, bersarang, dan tidur adalah pohon buah-buahan seperti Durio zibethinus Murr, Artocarpus heterophylla Lamk., Syzigium aromaticum O.Ktze., dan Parkia speciosa Hask. Jenis tumbuhan yang lain sebagai habitat adalah Bambusa vulgaris Schrad, sedangkan marga ficus-ficusan digunakan burung sebagai tempat mencari pakan dan beristirahat. Pengelolaan secara in-situ telah dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk penanaman pohon buah-buahan dan tidak menebang  marga ficus-ficusan di kawasan PHBM. Upaya konservasi yang harus dilakukan adalah pengayaan tanaman dan peningkatan kesadaran masyarakat lokal untuk menarik burung dan mencegah perburuan liar, baik terhadap burung yang telah dilindungi maupun yang belum dilindungi.
KERAGAMAN GENETIK DAN DISTRIBUSI HAPLOGROUP TRENGGILING (Manis javanica Desmarest, 1822) Sawitri, Reny; Takandjandji, Mariana; Zein, M. S A.; Rianti, Anita
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian keragaman genetik dari populasi trenggiling (Manis javanica Desmarest, 1822) belum banyak dilakukan. Penelitian ini menganalisis sekuen fragmen D-loop DNA mitokondria trenggiling, yang bertujuanuntuk menyelidiki diversitas genetika trenggiling dari dua populasi, yaitu kawasan konservasi dan lembaga konservasi di Sumatera Utara dan Jawa. Fragmen D-loop DNA mitokondria yang teramplifikasi sepanjang 1129 pasang basa, terdapat 55 haplotipe dengan 120 situs, dan 12 haplogroup.  Tiga frekuensi haplotipe tertinggi dijumpai pada H-19 (9,09%), H-15 dan H-43 (3,64%), dan lainnya 1,8%. Jarak genetik antarhaplotipe trenggiling berkisar antara 0,001-0,099 dengan rata-rata 0,012. Jarak genetik haplogroup dengan reference berkisar 0.001-0,019; jarak genetik dalam haplogroup berkisar antara 0,003-0,015; jarak genetikantar haplogroup berkisar 0,003-0,021, dan jarak genetik antara haplogroup dengan outgroup berkisar 0,0940,109. Diversitas nukleotida (Pi) sebesar 0,008 dan diversitas haplotipe (Hd) 0,994±0,006, yangmenunjukkan keragaman genetik yang tinggi. Hasil Tajima test pada jarak genetik antar haplotipe populasi trenggiling menunjukkan nilai D: -2,337 (berbeda nyata pada taraf P<0,1), sedangkan hasil Fu and Lis testmenghasilkan D: -4,444 dan F: -4,337 (berbeda nyata pada taraf P<0,02). Hal ini merupakan indikator tingginya keragaman genetik dan ekspansi populasi trenggiling.
KARAKTERISTIK DAN PERSEPSI MASYARAKAT DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Sawitri, Reny; Subiandono, Endro
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenetapan perluasan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak berdasarkan SK Menteri Kehutanan RI No. 175/KPTS-II/2003 dari 40.000 hektar menjadi 113.357 hektar, bagi Kabupaten Lebak menimbulkan  permasalahan antara kepentingan konservasi dan pembangunan daerah melalui  pendapatan asli daerah (PAD). Untuk melihat permasalahan ini, dilakukan pengamatan karakteristik masyarakat, pengelolaan lahan, pemanfaatan sumberdaya hutan berupa potensi geologi, pertambangan emas, air, tumbuhan, satwaliar serta persepsi masyarakat terhadap potensi tersebut, terutama masyarakat pada lima kampung di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar mata pencaharian utama dan sampingan masyarakat di bidang pertanian sebagai petani dan buruh tani dan di bidang  pertambangan, sedangkan pekerjaan lainnya adalah perdagangan dan transportasi. Pendapatan masyarakat yang bermata pencaharian di bidang pertanian dengan luas sawah ≥ 0,5 ha (Rp 1.350.000,00  per KK per bulan) lebih rendah dibandingkan bidang pertambangan (Rp 1.500.000,00 per KK per bulan). Pemanfaatan sumberdaya hutan yang paling utama adalah sumber air,  perkayuan untuk bahan bangunan dan kayu bakar. Persepsi masyarakat lebih banyak ditujukan pada pemanfaatan potensi geologi berupa pertambangan emas, tetapi bagi masyarakat Kampung Lebak Sembada, Desa Citorek Kidul sebaiknya lokasi pengambilan emas tersebut dikembalikan kepada fungsinya sebagai kawasan konservasi untuk melestarikan sumber mata air. Kegiatan yang dapat  meningkatkan sosial ekonomi masyarakat yaitu permudaan tanaman cengkeh, penanaman aren, dan peternakan dengan sistem kandang.
STATUS KONSERVASI MAMALIA DAN BURUNG DI TAMAN NASIONAL MERBABU Sawitri, Reny; Mukhtar, Abdullah Syarief; Iskandar, Sofian
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Nasional (TN) Merbabu merupakan jejaring kawasan yang termasuk dalam jaringan kawasan konservasi di Jawa Tengah bagi satwa mamalia dan burung.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi habitat, satwa mamalia, burung dan status konservasinya. Pengamatan satwa dilakukan pada jalur transek pendakian maupun ditentukan menurut keterwakilan habitat secara purposive random sampling. Hasil pengamatan habitat, di TN Merbabu terdapat hutan alam dan hutan tanaman pinus, puspa, akasia maupun bekas kebakaran dengan keragaman jenis vegetasi sangat rendah (H’ berkisar 0,46-0,59), karenajenis dan populasi pohon sangat terbatas. Hal ini berdampak pada keragaman satwa mamalia (10 jenis) dan burung (45 jenis), di antaranya termasuk macan tutul (Panthera pardus) sebagai species yang terancampunah menurut Red Data Book, IUCN dan  Appendix I CITES. Keragaman jenis dan keseimbangan burung yang paling tinggi di hutan alam (H’ = 1,3833 dan E = 0,4475). Kepadatan populasi jenis burung tertinggi diantaranya adalah burung kacamata gunung (Zosterops montanus) = 29 ekor per ha, walet linchii (Collocalia linchii) = 27 ekor per ha, dan sriti (Collocalia esculenta) = 22 ekor per ha, hal ini didukung oleh ketersedianpakannya berupa serangga.  Status konservasi satwa mamalia dan burung dihubungkan dengan status keendemikannya, 60% mamalia dilindungi menurut  Peraturan Pemerintah No. 7/1999, 50% termasuk ke dalam IUCN. Status konservasi burung hanya delapan jenis yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No.7/1999 dan satu jenis termasuk ke dalam Appendix CITES. Keberadaan satwa mamalia maupun burung dengan prioritas konservasi tinggi harus dipertimbangkan dalam penetapan zonasi, sebagai zona inti atau zona rimba
INTERAKSI MASYARAKAT DENGAN HUTAN DAN LINGKUNGAN SEKITARNYA DI KAWASAN DAN DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL KUTAI Sawitri, Reny; Suharti, Sri; Karlina, Endang
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Kutai (TNK) seluas 198.629 ha, sejak tahun 2000-an mulai dirambah penduduk untuk dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, lahan perkebunan dan tambak seluas 53.629 ha (27%), sehingga hutan yang tersisa dan masih utuh sekitar 145.000 (73%). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi interaksi masyarakat di dalam kawasan maupun daerah penyangga TNK, melalui wawancara dengan responden sebanyak 33 KK (Kepala Keluarga) yang dipilih secara purposive. Keterkaitan masyarakat dengan TNK dibedakan berdasarkan tipologi masyarakat berlatar belakang sosial ekonomi dan budaya berbeda yaitu dari etnis Dayak, Kutai, Jawa dan Bugis. Interaksi masyarakat ke dalam kawasan TNK dilakukan dengan berbagai tujuan antara lain untuk memperluas lahan garapan masyarakat, sedangkan bagi pemerintah daerah dilakukan guna memperluas daerah dalam rangka otonomi daerah. Untuk mengatasi masalah perambahan hutan hendaknya didasarkan pada aspek konservasi untuk mengembalikan fungsi kawasan TNK seperti semula, sedangkan pelestarian dan pengembangan pemanfaatan potensi sumberdaya alam yang termasuk keanekaragaman tumbuhan lokal dan endemik Kalimantan seperti buah-buahan dan bahan pewarna perlu disosialisasikan dan dibudidayakan di kebun rakyat baik untuk masyarakat lokal maupun pendatang.
ENVIRONMENT CARRYING CAPACITY OF ECOTOURISM IN AEK NAULI RESEARCH FOREST, SIMALUNGUN REGENCY, NORTH SUMATERA Silvaliandra Sihombing, Vivin; Karlina, Endang; Garsetiasih, R.; Rianti, Anita; Sawitri, Reny
Indonesian Journal of Forestry Research Vol. 9 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Forestry Research
Publisher : Association of Indonesian Forestry and Environment Researchers and Technicians

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/ijfr.2022.9.2.147-163

Abstract

Currently, ecotourism has become an important industry because of its rapid development. Many tourism practices have adverse environmental impacts. Due to the increasingly destructive commercialization of the natural resources on which we depend, there are several negative impacts. Aek Nauli Research Forest (ANRF), with an area of 1,900 hectares, is one of the natural tourist destinations around the Lake Toba Tourism area managed by the Aek Nauli Research Institute for Environmental and Forestry Development (BP2LHK). The location of the study is in Girsang District, Sipangan Bolon, Simalungun Regency, North Sumatera Province. The tourist objects are natural panorama, elephant conservation education tour, and siamang animal ape park. On average, the number of visitors of ANRF on regular days is 100-300 visitors/day and on holidays reaches 300-1,700 visitors/day. The increase in the number of visitors is perceived to have an impact on environmental sustainability. This study aims to determine the capacity of the ANRF ecotourism area to accommodate the number of tourists per day simultaneously. The method used is the effective carrying capacity by Cifuentes method based on several stages of analysis, namely Physical Capacity (PCC), Real Capacity (RCC), Management Capacity (MC), and Effective Capacity (ECC). The environmental carrying capacity analysis results showed that the PCC, RCC, ECC were 26,106 visitors/day, 3,007 visitors/day, 2,505 visitors/day respectively while MC was 0.83. This value can be used to advise managers to limit visitors, particularly during peak season, in order to preserve objects and the quality of visits.