Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENGARUH FREKUENSI DAN WAKTU BACKWASH MEMBRAN TERHADAP PENINGKATAN BIOMASSA PADA BIOREAKTOR MEMBRAN Dissa Samatha; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.2

Abstract

Abstrak: Penyumbatan (fouling) membran terjadi pada penggunaan bioreaktor membran (BRM) saat mengolah zat warna azo, zat warna yang paling sering digunakan dalam industri tekstil. Hal tersebut terjadi karena biomassa yang digunakan dalam pengolahan tertahan di permukaan membran, saat membran melakukan penyaringan. Penyumbatan biomassa biasanya diatasi dengan melakukan pencucian (backwash), dimana frekuensi banyaknya dan lamanya waktu pencucian dapat dilakukan bervariasi sesuai kebutuhan membran untuk menghilangkan biomassa di permukaannya. Pada penelitian ini, BRM yang memiliki tiga tangki, yaitu tangki anoksik, kontak, dan stabilisasi serta saluran pembuangan yang disebut permeat dioperasikan dengan tiga variasi waktu filtrasi dan backwash yang berbeda. Perbedaan waktu filtrasi dan backwash yang dioperasikan pada bioreaktor membran membuat keadaan operasional BRM berbeda tiap variasinya sehingga lingkungan pengolahan akan otomatis berubah juga. Lingkungan pengolahan ini sendiri merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung kehidupan biomassa di dalam pengolahan sehingga perubahan lingkungan akan memberikan efek kepada kehidupan biomassa. Hal tersebut terlihat pada tiap variasi yang dioperasikan mempunyai perbedaan jumlah biomassa yang cukup signifikan satu sama lainnya. Perbedaan ini menandakan bahwa waktu filtrasi dan backwash memberikan pengaruh terhadap peningkatan biomassa di dalam suatu pengolahan dengan bioreaktor membran. Kata Kunci: Backwash, Peningkatan Biomassa, Penyumbatan, Waktu filtrasi dan Backwash  Abstract: Membrane fouling found on membrane bioreactor (MBR) operated for the treatment of azo dye, the most common dye used in textile industry. This fouling phenomenon occurred because the biomass, which used in this treatment, restrained on membrane surface during the filtration process. Usually, this biomass fouling cleaned with operating backwash, which the frequency and duration can vary depend on needs to remove biomass from membrane's surface. In this research, MBR, which has three tanks, anoxic, contact, and stabilization tank and also one waste system called permeate, operated in three different variations of filtration and backwash time. The Difference in filtration and backwash time made the MBR operational condition changed depends on which variation applied and this changed automatically affected the treatment's environment. Moreover, the treatment's environment has been an important factor in supporting biomass life, so it's changed would have an effect on biomass too. This condition happened when three different variations operated in the treatment and gave a significant difference on total biomass. The difference indicated that different filtration and backwash time would give an effect on biomass increasement in the treatment using membrane bioreactor. Key words: Backwash, Biomass Increasement, Filtration and Backwash Time, Fouling
PENGARUH UMUR LUMPUR TERHADAP KINERJA BIOREAKTOR MEMBRAN DALAM BIODEGRADASI ZAT WARNA AZO REMAZOL BLACK-5 Mohammad Faiz Jatnika; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Masuknya zat warna azo ke lingkungan tidaklah diinginkan tidak hanya karena karena zat warna tersebut memiliki warna yang menurunkan nilai estetik tetapi juga karena beberapa zat warna azo dan penguraiannya bersifat toksik serta mutagenik . Pengolahan zat warna azo umumnya dilakukan dengan kombinasi pengolahan biologi anaerob-aerob, dimana kondisi anaerob berfungsi untuk menurunkan kadar warna, sedangkan kondisi aerob berfungsi untuk mengolah zat organik dan senyawa aromatik yang muncul sebagai hasil biodegradasi zat warna. Senyawa aromatik yang terdapat dalam air akan dapat meningkatkan toksisitas dari hasil pengolahan apabila tidak tercapai pengolahan yang sempurna. Salah satu alternatif pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan bioreaktor membran (BRM), yang merupakan kombinasi proses lumpur aktif dengan sistem membran, di mana membran dapat menggantikan unit gravitasi sedimentasi tradisional dalam proses lumpur aktif yang dapat beroperasi pada beban organik yang tinggi, namun lahan yang dibutuhkan lebih sedikit. Bioreaktor membran terdiri atas tangki anoksik, tangki kontak, dan tangki stabilisasi.. Umpan terdiri dari zat warna azo Remazol Black-5 dan ko-substrat berupa limbah industri tempe sebagai sumber organik. Pada penelitian ini, akan ditinjau pengaruh umur lumpur terhadap kinerja bioreaktor membran (BRM) dalam biodegradasi zat warna azo remazol black-5 . Kinerja bioreaktor membran (BRM) terhadap penyisihan warna dan COD diamati melalui hasil analisis sampel dari tangki umpan, anoksik, kontak, stabilisasi dan effluen yang diambil dari dasar tangki. Hasil kinerja bioreaktor membran mencapai efisiensi tertinggi pada umur lumpur 20 hari, dengan penyisihan warna dan penyisihan COD dalam air limbah mencapai 85%.
APLIKASI TEPUNG JAGUNG SEBAGAI KOAGULAN ALAMI UNTUK MENGOLAH LIMBAH CAIR TAHU Eka Prihatinningtyas; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2012.18.1.10

Abstract

Abstrak: Proses pembuatan tahu menghasilkan banyak sekali limbah cair yang mempunyai karakteristik kekeruhan, total padatan dan total padatan tersuspensi yang tinggi. Salah satu proses pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan koagulasi. Tepung jagung dapat digunakan sebagai koagulan alami. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari kondisi optimum pengolahan limbah cair tahu dengan meggunakan koagulan alami yang terbuat dari tepung  jagung. Ekstrak jagung dapat dibuat dengan cara melarutkan 5 gram tepung jagung dalam 100 ml NaCl dan diaduk selama 30 menit. Selanjutnya campuran tersebut dipisahkan dengan sentrifugasi. Supernatan yang diperoleh dinamakan ekstrak jagung. Jagung  ionik diperoleh dengan cara melewatkan ekstrak jagung dalam kolom resin Amberlite. Hasil percobaan menunjukkan bahwa jagung dapat digunakan sebagai koagulan alami karena bersifat polielektrolit. Adanya gugus karboksil, hidroksil dan amida menyebabkan larutan polielektrolit ini bermuatan negatif. Hasil koagulasi memberikan efisiensi penurunan kekeruhan yang cukup signifikan. Jagung ionik memberikan hasil penurunan kekeruhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan ekstrak jagung karena jagung ionik bersifat lebih negatif daripada ekstrak jagung. Proses koagulasi yang terjadi pada kekeruhan awal yang tinggi memberikan efisiensi penurunan kekeruhan yang lebih baik dibandingkan dengan kekeruhan rendah. Proses koagulasi berjalan dengan efisien pada pH 5 karena pada titik tersebut diperoleh titik isoelektrik. Pada over flowrate kurang dari 0,03 m/menit, alum akan memberikan efisiensi penyisihan padatan tersuspensi yang lebih besar daripada ekstrak jagung. Sedangkan pada over flowrate lebih dari 0,03 m/menit kecepatan pengendapan kaolin dengan alum sama dengan ekstrak jagung.Kata kunci: koagulasi, koagulan alami, ekstrak jagung, jagung ionik. Abstract: Tofu industries produced amount of wastewater which characteristics of high in  turbidity, total solid and  total suspended solid. Coagulation can be done to reduce that parameters. Starch can be used as natural coagulant at this process. The aim of this research was found the optimum condition on tofu wastewater treatment using natural coagulant from maize. Maize extract made by dissolved 5 grams of maize into 100 ml NaCl and stirred 30 minutess to accomplish extraction and then separated by centrifugation. The supernatant named extract of maize. Extract of maize loaded onto column packed with Amberlite and produced ionic maize. The experimental results show that the maize can be used as a natural coagulant because they are polyelectrolytes. Presence of carboxyl, hydroxyl and amides groups led to this solution are anionic polyelectrolytes. The results of the efficiency of coagulation provide a significant turbidity removal.  Ionic maize yield better turbidity removal compared to extract of maize because ionic maize more negative than extract of maize. Coagulation processes that occur at high initial turbidity gave efficiency of  turbidity removal better than low turbidity. Coagulation process runs efficiently at pH 5 because at that point obtained the isoelectric point.  At over flowrate of more than 0.03 m/ min, the alum will provide efficiency of suspended solids removal greater than extract of maize. While the over flowrate less  than 0.03 m / min, settling velocity of kaolin using  alum and extract of maize are the same. Keywords: coagulation, natural coagulant, extract of maize, ionic maize. 
APLIKASI ELEKTROKOAGULASI PASANGAN ELEKTRODA ALUMINIUM PADA PROSES DAUR ULANG GREY WATER HOTEL Ansiha Nur; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.1.7

Abstract

Abstrak: Elektrokoagulasi salah satu teknologi mempunyai efisiensi yang tinggi dalam penghilangan kontaminan, menghasilkan effluen yang jernih,  waktu operasional yang pendek, lumpur yang dihasilkan lebih sedikit, stabil dan mudah disisihkan. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan grey water sintetis dan asli dari Hotel Grand Royal Panghegar secara batch dan sistem menerus menggunakan pasangan elektroda alumunium monopolar. Percobaan batch dilakukan perlakuan terhadap limbah sintetis. Variasi yang digunakan pada sistem batch adalah waktu kontak (5 - 60 menit) dan kerapatan arus (21 - 104 A/m2). Pada sistem kontinyu digunakan kerapatan  arus 104 A/m2 pada variasi waktu detensi (900, 936, 975 detik) dan variasi beban (200;300;400 mg COD/L). Dari hasil penelitian pada sistem batch diperoleh kondisi optimum pada kerapatan arus 104 A/m2 pada menit ke-15 dengan laju pelepasan ion alumunium sebesar 0,0071 g/menit. Kinetika laju perubahan konsentrasi pada reaktor elektrokoagulasi mengikuti orde 1 pada memberikan hasil terbaik pada penyisihan kekeruhan, COD dan minyak lemak yaitu sebesar 87,73%, 87,48% dan 77,50%. Pada aplikasi elektrokoagulasi sistem menerus dengan variasi waktu kontak 975 detik memberikan hasil terbaik dengan tingkat penyisihan kekeruhan sebesar 89,32%, COD sebesar 89,09% dan minyak lemak sebesar 89,79%, sementara pada variasi beban pengolahan 400 mg COD/L memberikan hasil terbaik dengan tingkat penyisihan kekeruhan sebesar 89,97%, COD sebesar 61,52% dan minyak lemak sebesar 90,05%. Hasil proses elektrokoagulasi ini berada di bawah baku mutu yang ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 serta Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2011, sehingga aman digunakan sebagai reclaimed water untuk  flushing toilet dan  penyiraman tanaman. Kata kunci: elektrokoagulasi, elektroda aluminium, kerapatan arus, grey water, reclaimed water Abstract:  Electrocoagulation is one technology that  has high efficiency in the removal of contaminants, good quality  effluent , short operation time , low sludge production, stable and easy to remove . This research uses synthetic and  Grand Hotel Royal Panghegar's grey water and conducted with batch and continuous systems using aluminum monopolar electrode pair. Batch experiments uses synthetic grey water. Variations used in the batch system are detention time (5-60 minutes) and current density (21-104 A/m2). The continuous system uses the current density 104 A/m2, variation detention time (900 , 936 , 975 seconds ) and load variations (200 ; 300 ; 400 mg COD/L) . The results obtained in the batch system has optimum condition on the current density 104 A/m2 in the 15th minute with an aluminum ion release rate is 0.0071 g / min . Kinetics of concentration on the rate of the electrocoagulation reactor following the first order reaction  gives the best results in the elimination of turbidity , COD and oil grease efficiency are 87.73% , 87.48% and 77.50% . In the application of continuous electrocoagulation system with a detention time of 975 seconds variation gives the best results with turbidity removal efficiency is 89.32% , COD is 89.09% and oil grease is 89.79% , while the variation of the processing load of 400 mg COD/L gives the best results with turbidity removal efficiency is  89.97% , COD is 61.52% and oil grease is 90.05% . The results of the electrocoagulation process is under the quality standard of Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Number 907/MENKES/SK/VII/2002 and Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Number 112 Year 2011, so it is safe to use  reclaimed water for flushing toilets and watering plants. Keywords: electrocoagulation, aluminum electrode, current density, grey water, reclaimed water
REMEDIASI TUMPAHAN MINYAK MENGGUNAKAN METODE SOIL WASHING DENGAN OPTIMASI KONDISI REAKSI Agus Jatnika Effendi; Narita Indriati
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.8

Abstract

Abstrak: Pengembangan proses fisika-kimia, Soil Washing, masih jarang diaplikasikan pada setiap perusahaanperusahaan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan proses biologi. Proses leaching merupakan salah satu metode alternative yang dapat diaplikasikan secara ekonomi karena tidak membutuhkan tambahan energy. Proses tersebut menggunakan surfaktan tween80 sebagai leaching agent untuk penyisihan TPH (Total Petroleum Hydrocarbon). Reaktor yang yang digunakan adalah leaching column berbahan dasar plexy glass yang memiliki ketinggian 100cm dan berdiameter 6cm. Pengukuran dilakukan dengan memvariasi konsentrasi surfaktan dan menentuan nilai koefisien distribusi. Diketahui kandungan TPH awal pada karakteristik, yaitu light oil (sand) 2,34%, heavy oil (loam) 1,61% dan light oil (sandy loam) 4,48%. Konsentrasi surfaktan optimum untuk tanah light oil (sand), heavy oil (loam), light oil (sandy loam) adalah 1,5%; 0% dan 0,5%. Berdasarkan hasil pengukuran Kd setelah proses Soil Washing diketahui bahwa nilai Kd optimum pada adalah tanah sand, yaitu sekitar 110,382 sedangkan untuk tanah light oil (sandy loam) dan heavy oil (loam), adalah dan 10,230 dan 27,183. Persentase COD tanah yang terleaching pada light oil (sand) sementara heavy oil (loam), light oil (sandy loam) adalah 74,8%; 63% dan 45%. TPH tanah yang tersisa adalah heavy oil (loam) 5009.2 mg/kg, light oil (sandy loam) 24490 mg/kg dan light oil (sand) 8704,4 mg/kg.  Kata kunci: Leaching Column, Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), Tween 80 Abstract : The development of physicochemical process, Soil Washing, is still seldom applicated in everycompany especially in Indonesia. Usually they still use biological process. Leaching process is one of alternative treatment that can be applicated economically because it doesn't need additional energy. This process used a surfactant Tween80 as Leaching Agent for TPH removal. The used reactor, leaching column based on plexyglass which had a height of 100 cm and a diameter of 6cm. Measurements were performed by varying the concentration of surfactant and Distribution Coefficient (Kd). It was known that the content of the initial TPH in soil characteristics, namely light oil (sand) 2.34%, heavy oil (loam) 1.61% and light oil (sandy loam) 4.48%. The optimum of concentrations for light oil (sand), heavy oil (loam), light oil (sandy loam) are 1.5%; 0% dan 0.5%. Based on the result of Distribution Coefficient (Kd) after Soil Washing process was known that the optimum Kd was Sand (light oil) 110,382, loam (heavy oil) 27,183 and sandy loam (light oil) 10.230. Percentage of leached Soil COD in light oil (sand), heavy oil (loam), light oil (sandy loam) were 74.8%; 63% and 45%. Then, TPH measurement result left in the soil are heavy oil (loam) 5009.2 mg/Kg, light oil (sandy loam) 24,490 mg/Kg and light oil (sand) 8704.4 mg/Kg. Key words: Leaching Column, Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), Tween 80
Kinetic Study of Paracetamol Degradation with Advanced Oxidation Process (AOP) Combination of Ozone, Hydrogen Peroxide and Ultraviolet (O3/H2O2/UV) Tarigan, Azarya Yoseph; Effendi, Agus Jatnika
Jurnal Multidisiplin Madani Vol. 4 No. 4 (2024): April 2024
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/mudima.v4i4.8612

Abstract

Paracetamol is an analgesic and antipyretic drug commonly used by the public, with consumption reaching thousands of tons per year. Paracetamol, also known as acetaminophen, consists of a benzene ring core substituted by a hydroxyl group and a nitrogen atom. Paracetamol is not easily adsorbed or biologically degraded, which raises significant concerns about its impact on humans and the environment. One of the commonly used conventional treatments for paracetamol involves chlorine, which produces hazardous by- products such as 1,4-benzoquinone and N-acetyl-p-benzoquinone imine. Therefore, a better and safer method is needed for the treatment of paracetamol. Advanced Oxidation Processes (AOPs) are proven methods for treating difficult-to-degrade organic compounds and converting them into simpler compounds. AOPs utilize free radicals to oxidize pollutant compounds, transforming them into more manageable forms. The performance of AOPs can be enhanced by combining oxidants such as ozone, hydrogen peroxide, and ultraviolet light. Hence, in this research, the AOP method is employed to treat paracetamol, and the study aims to analyze the kinetics, efficiency, and by-products of this AOP method