Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Aktivitas Daun Jambu Air (Syzygium Samarangense (BL.) Merr Et. Perry) serta Optimasi Suhu dan Lama Penyeduhan Ulil Albab; Ratih Rizqi Nirwana; R. Arizal Firmansyah
Walisongo Journal of Chemistry Vol 1, No 1 (2018): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v2i1.2670

Abstract

Radikal bebas merupakan suatu senyawa yang dapat menyebabkan kerusakan dan struktur pada fungsi sel yang dapat dicegah dengan antioksidan. Antioksidan dihasilkan dari ekstraksi seperti pada air seduhan teh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui suhu dan waktu yang optimum dalam mengesktrak daun jambu air (Syzygium samarangene  (BL.) Merr.et Perry) dan mengetahui nilai aktivitas antioksidan berupa Inhibisi Consentration (IC50). Dalam penelitian ini metode yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara terpisah dan dirancang secara faktorial (4 x 3) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah suhu yaitu 70°C,  80°C,  90°C, 100°C.  Faktor kedua adalah waktu  yaitu 5 menit, 10 menit, 15 menit. Untuk mengetahui aktivitas antioksidannya berupa IC50 digunakan metode penangkal radikal bebas DPPH (1,1 –diphenyl-2-picylhydrazyl). Kemudian hasil absorbansi dari spektrofotometer Visibel  dianalisa statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis yang menyatakan bahwa suhu tidak berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan ekstrak daun jambu air Semarang. Sedangkan waktu berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan ekstrak daun jambu air Semarang. Suhu dan waktu optimum penyeduhan yang disarankan yaitu pada 70oC selama 5 menit dengan persen (%) hambatan yaitu 77,46%. Sementara itu aktivitas antioksidan ditunjukan dengan nilai IC50 yaitu 41,01 ppm.
Aktifitas Kitosan-Glukosa Sebagai Pengawet Ikan Bandeng Duri Lunak Oftiana Irayanti Wardani; R. Arizal Firmansyah; Siti Mukhlishoh Setyawati
Walisongo Journal of Chemistry Vol 1, No 1 (2018): Walisongo Journal of Chemistry
Publisher : Department of Chemistry Faculty of Science and Technology Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wjc.v2i1.2672

Abstract

Modifikasi Kitosan dengan Glukosa mampu memperbaiki kemampuan kitosan dalam mengawetkan makanan. Kitosan-Glukosa yang diaplikasikan pada ikan bandeng duri lunak dengan cara pelapisan menghasilkan adanya perbedaan kandungan protein sebesar 0,0045%, 0,0048%, dan 0,072%. Sedangkan perbedaan kandungan mikroba sebesar 4,05 x 104 ; 7 x 104 ; dan 1,37 x 106. Pengukuran tersebut dilakukan di hari ke 1, 3, dan 5 pada kontrol ikan yang tidak mengalami pelapisan dengan ikan yang mengalami pelapisan. Hasil uji organoleptik dengan skala nilai 1-4 pada tampilan, aroma, warna dan rasa pada hari ke 5 menunjukkan bahwa nilai ikan yang mengalami pelapisan lebih tinggi dari pada yang tidak mengalami pelapisan. Uji IR menunjukkan tidak ada gugus baru terbentuk antara kitosan-glukosa.
Analisis Aspek Molekuler Biomarka Alkana Bercabang Core Badak 1/208 Muara Badak, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur R. Arizal Firmansyah; R. Y. Perry Burhan
Journal of Natural Sciences and Mathematics Research Vol 1, No 1 (2015): June
Publisher : Faculty of Science and Technology, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.184 KB) | DOI: 10.21580/jnsmr.2015.1.1.481

Abstract

Study compound biomarka branched alkanes on core 1/208 Rhinos have done to contribute to the activities of oil exploration wells 1/208 Muara Badak Badak, East Kalimantan's Kutai Kartanegara-through core biomarka profile branched alkanes. Core samples extracted by alternately with solvent mixture of toluene-methanol (3: 1) and chloroform-methanol (3: 1). Then fractionated by Column Chromatography and Thin Layer Chromatography to obtain aliphatic hydrocarbon fraction. Fractions obtained were identified using Gas Chromatography-Mass Spectrometry.The content biomarka aliphatichydrocarbon fraction were identified, among others, iso and anteiso alkanes, mono and trimethyl alkanes. Compounds iso and anteiso alkanes, and alkyl alkane other, providing information that the source of organic material core samples I and II is derived from microorganisms prokaryotic or biogenic precursor derived from cyanobacteria (marine microorganisms) and homologous monomethyl alkanes found in core samples II closer homologous series monomethyl alkanes found in sediments and oil and Precambrian Proterozoic era, so it can be said that the core sample II core samples older than I.
Organic Geochemical Characteristics of Ngrayong Formation Polaman Sediment Rock, Northeast Java Basin-Indonesia Yulfi Zetra; Rafwan Year Perry Burhan; Sulistiyono Sulistiyono; Arizal Firmansyah; Darin Salsabila
Indonesian Journal of Chemistry Vol 23, No 6 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.83534

Abstract

A study of the sedimentary rocks of the Ngrayong formation has been carried out on five samples from the Polaman outcrop point to determine the potential of coal as a source rock for producing oil and gas through GC-MS analysis. Biomarker analysis shows the presence of n-alkanes (C16-C36) with a bimodal distribution, indicating that the source of organic material in sedimentary rocks comes from bacteria, algae, and vascular plants, which is supported by several parameters such as CPI, OEP, LHCPI, wax index, ACL and AlkTerr values. This dominant source of terrigenous organic matter is also proven by the TAR value, C31/C19, C29/C17 ratio, and several aromatic compounds and their derivatives. Bacterial input as an organic source of allouchtonic sedimentary rocks is also proven by the presence of hopanoid, de-A-lupane biomarkers, and C17/C31 ratio. The oxic deposition environment is indicated by the Pr/Ph ratio. CPI and OEP parameters, C29 bb/ab ratio > 0.15 and C31 22S/(22S+22R) < 1 indicate low maturity of the sediment sample. Several parameters and the presence of biomarkers stated above conclude that Ngrayong coal as a source rock has the potential to produce oil and gas.