Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

STRUKTUR KOMUNITAS JENIS MANGROVE DI KABUPATEN TANAH LAUT PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Wantoro, Wantoro; Syahdan, Muhammad; Salim, Dafiuddin
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v1i1.3303

Abstract

Kabupaten Tanah Laut adalah kabupaten yang memiliki ekosistem mangrove, dimana ekosistem mangrove tersebar sepanjamg pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui komposisi dan struktur tegakan; (2) Mengetahui pengelompokan jenis mangrove. Pengumpulan  data  dilakukan  melalui  pengamatan langsung (observasi)  dengan menggunakan metode Transek Garis dan Plot (line transect plot) dan analisis pengelompokan menggunakan Cluster Analysis dan Geographic Information System  (GIS).  Hasil penelitian menemukan komposisi jenis mangrove sejati di kawasan pesisir Kabupaten Tanah Laut terdiri  dari  dua puluh tiga  jenis  yaitu Api-api (Avicennia spp.), jenis Rambai atau Pedada (Sonneratia spp.), jenis Bakau (Rhizophora spp.), jenis Dolichandrone spathacea (Buta-buta), Ceriops tagal, Tancang (Bruguiera spp.), Xylocarpus granatum (Apel laut), Lumnitzera littorea, Nypah fruticans, Intsia bijuga, Cerbara manghas , Heritiera littoralis, Jeruju., Ketapang, Pandan , Cemara, Waru. Jenis-jenis tersebut ditemukan di sepanjang pantai Kabupaten Tanah Laut dan berada pada muara sungai.
KEANEKARAGAMAN PERIFITON PADA DAUN LAMUN JENIS HALOPHILA OVALIS DAN ENHALUS ACOROIDES DI PERAIRAN DESA TANJUNG SUNGKAI KABUPATEN KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Sirojudin, Sindyan; Salim, Dafiuddin; Nursalam, Nursalam
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v5i1.11796

Abstract

Perifiton adalah salah satu organisme yang memiliki hubungan erat dengan tumbuhan lamun. Perifiton berfungsi sebagai produsen utama bagi organisme akuatik dalam rantai makanan di laut. Perifiton melimpah dikarenakan banyaknya nutrien yang ada di ekosistem lamun. Namun, kelimpahan perifiton pada daun lamun dapat menyebabkan degradasi ekosistem lamun karena dapat menghambat proses fotosintesis. Kondisi ekosistem lamun sangat menentukan keberadaan perifiton, dimana lamun dengan kesuburan dan kerapatan yang tinggi menjadi media yang baik bagi penempelan perifiton. Jenis perifiton yang menempel pada lamun jenis  Enhalus acoroides dan Halophila ovalis yaitu sebanyak 17 jenis yang terdiri dari 10 famili. Kelimpahan perifiton pada setiap stasiun sebanyak 395 - 513 individu/cm2. Indeks keanekaragaman yang terdapat di semua stasiun yakni sebesar 1,145 - 1,192, sedangkan indeks keseragaman pada setiap stasiun sebanyak 0,413 - 0,430, dan indeks dominasi pada setiap stasiun antara 0,069 - 0,083. Hubungan kerapatan dengan kelimpahan lamun di Perairan Desa Tanjung Sungai terbilang kuat, yaitu 95 %.
KARAKTERISTIK HABITAT PENELURAN PENYU DI PULAU DENAWAN DAN PULAU KALAMBAU KECAMATAN PULAU SEMBILAN KABUPATEN KOTABARU KALIMANTAN SELATAN Ghalib, Andi Muhammad; Salim, Dafiuddin; Nursalam, Nursalam
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v3i2.11768

Abstract

Habitat pantai tempat penyu untuk bertelur memiliki syarat umum yaitu pantai mudah dijangkau dari laut, pasir relatif berukuran sedang untuk mencegah runtuhnya lubang sarang pada saat pembentukan sarang, kemudian posisi pantai harus cukup tinggi agar dapat mencegah telur terendam oleh pasang surut air laut. Pulau Denawan dan Pulau Kalambau  merupakan wilayah yang masih alami dan tidak berpenduduk yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan yang memiliki potensi besar habitat peneluran penyu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pantai dan jenis penyu di Pulau Denawan dan Pulau Kalambau, sebaran sarang telur penyu di Pulau Denawan dan Pulau Kalambau serta karakteristik habitat peneluran penyu di Pantai Pulau Denawan dan Pulau Kalambau Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Kotabaru. Hasil penelitian yang diperoleh ialah habitat peneluran penyu Pulau Denawan dan Pulau Kalambau memiliki kondisi yang berbeda. Jenis penyu yang ditemukan selama pengamatan adalah Chelonia mydas (penyu hijau).
STUDI KERUSAKAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KAWASAN WISATA BAHARI PULAU LIUKANG LOE KABUPATEN BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN Nirwan, Nirwan; Syahdan, Muhammad; Salim, Dafiuddin
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v1i1.3304

Abstract

Kerusakan  terumbu  karang  diakibatkan  dua  faktor  yakni  aktivitas  manusia dan  proses  alami.  Aktivitas  manusia  yang  mengancam  ekosistem  terumbu karang yakni penggunaan bahan peledak, jala tarik, racun dan wisata bahari. Sementara  proses  alami  seperti  bleaching,  penyakit,  pemanansan  global, pemangsaan  dan  eutrofikasi.  Salah  satu  metode  yang  efektif  untuk menentukan  tingkat  kerusakan  terumbu  karang  yaitu  Underwater  Photo Transek (UPT) kemudian dianalis menggunakan aplikasi Coral Point Count with Excel extensions (CPCe). Penelitian ini dilaksanakan di perairan daerah wisata bahari Pulau  Liukang Loe  Kabupaten Bulukumba Provinsi  Sulawesi Selatan  dengan  tujuan  untuk  mengetahui  tingkat  dan  penyebab  kerusakan terumbu karang. Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi kerusakan tingkat “Sedang”  dengan  tutupan  rata-rata  karang  mati  pada  kedalaman  3  meter 41,47% dan kedalaman 10 meter 38,66%. Kerusakan ini disebabkan berbagai macam  aktivitas  manusia  seperti  kegiatan  wisata  snorkeling  dan  diving, pengeboman  ikan,  pelemparan  jangkar  kapal,  dan  pembiusan.  Adapun kerusakan akibat proses alami yakni penyakit dan pemanasan global.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERAIRAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI PERAIRAN TELUK TAMIANG KABUPATEN KOTABARU Miftahurrahman, Miftahurrahman; Baharuddin, Baharuddin; Salim, Dafiuddin
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v2i2.11758

Abstract

Perairan Teluk Tamiang diatas tahun 2010 sudah tidak ada kegiatan budidaya rumput laut, disebabkan pengaruh aktivitas dari darat dan pengaruh hidrooseanografi akibat perubahan iklim yang menimbulkan penyakit white spot pada rumput laut (thallus memutih, lalu menjadi rusak dan mati) faktor penyebab masalah kualitas perairan yaitu sirkulasi arus, TSS, salinitas. Penelitian ini mengkaji lokasi kesesuaian dengan membagi 2 musim aspek kajian 11 parameter kesesuaian budidaya rumput laut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesesuaian lahan perairan untuk lokasi budidaya rumput laut pada dua musim (peralihan I dan peralihan II) yang berbeda di perairan Teluk Tamiang Kabupaten Kotabaru. Penentuan lokasi sampling menggunakan metode porposive sampling yaitu teknik yang dalam penentuan sampel dilakukan pemetaan secara spasial dan menggambarkan seluruh lokasi studi. Berdasarkan hasil Analisa kesesuaian perairan budidaya rumput laut Eucheuma cottonii di perairan Teluk Tamiang. Luas lokasi yang diteliti 1670 ha meliputi musim Peralihan II (10, 2018) Sesuai (S1) 3 ha (0%) dan sesuai (S3) 435 ha (26%) dan cukup sesuai 1232 ha (74%), sedangkan musim Peralihan I (04, 2019) Sesuai (S2) 164 ha (10%), Cukup Sesuai (S3) 1471 ha (88%) dan Tidak Sesuai (S4) 35 ha (2%). Jika faktor utama lingkungan seperti substrat dasar dan kedalaman sudah masuk dalam kategori N atau tidak sesuai, maka tidak disarakan ke petani untuk budidaya di lokasi tersebut.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN PADA EKOSISTEM LAMUN DI PERAIRAN DESA TANJUNG SUNGKAI KECATAMAN PULAU LAUT TANJUNG SELAYAR KABUPATEN KOTABARU Hadirawati, Hadirawati; Salim, Dafiuddin; Lestarina, Putri Mudhlika
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v4i2.11783

Abstract

Ikan dan ekosistem lamun adalah salah satu sumberdaya laut yang cukup potensial mengingat pentingnya manfaat dari ikan dan ekosistem lamun itu sendiri baik secara ekologi maupun ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa adanya interaksi yang terjadi antara ikan dan lamun yang saling membutuhkan satu sama lain dalam proses pertumbuhan maupun berkembang biak. Desa Tanjung Sungkai memiliki ekosistem lamun dengan luas sekitar ±12 ha, aktivitas penduduk yang terjadi di wilayah tersebut meliputi pendaratan perahu-perahu nelayan, pemukiman dan kegiatan lainnya yang memiliki potensi dapat merusak kestabilan ekosistem, baik terhadap penurunan kelimpahan ikan, ekosistem lamun maupun penurunan kualitas perairan didaerah tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, maka perlu di lakukan penelitian untuk mengetahui kelimpahan jenis dan struktur komunitas ikan pada ekosistem lamun didaerah tersebut.
STUDI STRUKTUR KOMUNITAS DAN POLA SEBARAN MAKROZOOBENTHOS DI PADANG LAMUN DESA TANJUNG SUNGKAI KABUPATEN KOTABARU Hasbullah, Hasbullah; Salim, Dafiuddin; Nursalam, Nursalam
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v2i1.11691

Abstract

Perairan Tanjung Sungkai merupakan salah satu daerah pesisir yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar. Keberadaan lamun diperairan Tanjung Sungkai sangat penting secara ekologi. Habitat makrozoobenthos ada dua yaitu epifauna dan infauna, untuk kehidupan organisme di perairan hewan makrozoobenthos sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan tempat tinggalnya, maka akan berpengaruh terhadap komposisi dan kelimpahannya. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan pengambilan sampel makrozoobenthos dengan perhitungan menggunakan indeks kelimpahan, indeks keseragaman, indeks keanekaragaman, indeks dominasi dan indeks morisita dan juga pengambilan kualitas air dengan pengukuran parameter fisika dan kimia. Dari hasil perhitungan indeks makrozoobenthos ditemukan 15 spesies dari 3 kelas yaitu kelas Gastropoda, Bivalvia, dan Crustacea di Perairan Tanjung Sungkai. Struktur komunitas makrozoobenthos pada stasiun 1, 2, dan 3 dengan mengetahui indeks keanekaragamn berkisar antara 2,422-2,479 termasuk keanekaragaman sedang, sedangkan untuk indeks keseragaman berkisar antara 0,88-0,90 termasuk dalam keseragaman tinggi, ekosistem tersebut dalam kondisi stabil dan yang terakhir. Pada pola sebaran dari ketiga stasiun memiliki pola sebaran yang bersifat teratur.
POLA SEBARAN SPASIAL NIPAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN PARAMETER FISIK KIMIA PERAIRAN DI SISI TIMUR MUARA SUNGAI BARITO Bawaihi, Muhammad; Salim, Dafiuddin; Nursalam, Nursalam
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v3i2.11774

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran nipah, kondisi kualitas perairan dan menganalisis hubungan antara parameter kualitas perairan dengan pola sebaran nipah. Penelitian ini dilakukan di sisi timur muara Sungai Barito Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar. Pengambilan data dilakukan dengan mengkaji beberapa studi literatur, pengumpulan data sekunder, penentuan titik sampling, pengambilan data lapangan, analisis sebaran spasial tumbuhan nipah, analisis sebaran spasial kualitas perairan dan analisis data hubungan kualitas perairan dengan tumbuhan nipah. Data perameter fisika dan kimia diukur dengan cara in-situ menggunakan marking area. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi lingkungan meliputi Suhu, Salinitas, DO, pH Air dan pH Tanah. Hasil penelitian ini menunjukan nilai suhu di lokasi penelitian berkisar antara 25 – 32,9°C, nilai DO antara 4,2 – 7,3 mg/l, salinitas berkisar antara 0,03 – 0,41 ppm, dan nilai pH dengan kisaran 4-5. Sebaran nipah di sisi timur muara Sungai Barito seluas 2,52 ha berada di Desa Tanipah dan sekitarnya, 1,48 ha  tersebar di Desa Aluh-Aluh Besar dan sekitarnya serta 0,73 ha di Desa Kuin dan sekitarnya, serta terdapat hubungan yang kuat antara parameter lingkungan perairan dengan pola sebaran nipah
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA EKOSISTEM LAMUN (Seagrass) DI PERAIRAN DESA SUNGAI DUA LAUT KECAMATAN SUNGAI LOBAN KABUPATEN TANAH BUMBU KALIMANTAN SELATAN Sukartini, Desi; Rifa'i, Muhammad Ahsin; Salim, Dafiuddin
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v1i2.11676

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas plankton di ekosistem lamun dan hubungannya dengan kualitas air, yang meliputi pengukuran kualitas air, jumlah dan kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi plankton. Penelitian dilaksanakan bulan Januari hingga Juni 2018 di wilayah perairan Desa Sungai Dua Laut Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu. Penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling dan pengambilan sampel plankton menggunakan plankton net. Jumlah spesies plankton yang ditemukan sebanyak 38 spesies yang terbagi dalam 5 kelas. 30 spesies fitoplankton berasal dari kelas Cyanophyta, Chlorophyta, Bacillariophyceae dan Dinophyceae dan 8 spesies zooplankton berasal dari kelas Crustacea. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 222 – 440 sel/l dengan 1.390 sel/l didominasi dari kelas Bacillariophyceae dan kelimpahan zooplankton berkisar antara 8 – 16 ind/l yang seluruhnya didominasi dari kelas Crustacea dengan jumlah 54 ind/l. Indeks keanekagaraman berkisar antara 1.50 – 2.99, indeks keseragaman berkisar antara 0.84 – 1.94 dan indeks dominansi berkisar antar 0.56 – 1.27 dengan dominansi dari spesies Chaetoceros laevis dan Diaptomus vulgaris mendominasi di Stasiun 1. Kelimpahan plankton dengan suhu, salinitas, pH dan kecerahan menunjukkan korelasi yang positif tetapi hubungannya tidak signifikan. Kelimpahan plankton dengan nitrat, fosfat juga menunjukkan korelasi yang positif tetapi hubungannya bersignifikan karena nilai p hitung <0.05. Adapun kelimpahan plankton dengan DO menunjukkan hasil korelasi berbanding terbalik (negatif) dengan hubungan yang tidak signifikan karena nilai p hitung >0.05.
KEANEKARAGAMAN KOMUNITAS GORGONIAN DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN SEBELAH TIMUR KABUPATEN TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Munir, Muhammad Misbachul; Nursalam, Nursalam; Salim, Dafiuddin
Marine Coastal and Small Islands Journal - Jurnal ilmiah Ilmu Kelautan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/m.v3i1.11764

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan struktur komonitas gorgonian, serta hubungannya dengan parameter lingkungan di Kawasan Konservasi Perairan sebelah Timur. Penelitian ini dilakukan di Kawasan Konservasi sebelah Timur, Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.  Penelitian ini dilakukan pada lokasi Karang Kandang Haur, Karang Katoang (inner reef). Karang Penyulingan, Karang Mangkok (middle reef), dan Karang Mabela (outer reef). Pengambilan data Gorgonian dilakukan dengan cara menyelam (diving) dengan membentang roll meter sepanjang 100 meter dan luas pengamatan 2,5 meter ke kanan dan 2,5 meter kekiri, data parameter lingkungan diukur secara insitu seperti suhu, arus, kedalaman dan salinitas maupun tutupan bentik. Hasil penelitian ini menunjukan kelimpahan gorgonian pada Karang Kandang Haur 0,054 ind/m2 dan pada Karang Katoang mencapai 0,104 ind/m2 .Karang Penyulingan diperoleh nilai 0,088 ind/m2 dan karang Mangkok diperoleh nilai 0,11 ind/m2. Pada Karang mabela kelimpahan gorgonian sebesar 0,2 ind/m2. Adapun tutupan bentik pada zona inner, middle dan outer adalah “kategori sedang”,  “kategori baik” dan “kategori cukup baik” secara berturut-turut. Hasil analisis kemiripan menunjukkan Stasiun 1 dan Stasiun 5 memiliki kesamaan < 50 dan stasiun 2, 3, dan 4 memiliki kesamaan 74,72%.