Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI KENYAMANAN TERMAL MASJID AL-KAUTSAR KERTONATAN, KARTASURA, SUKOHARJO Syamsiyah, Nur Rahmawati; Nur Izzati, Hanifa
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 8, No 2 (2021): October
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v8i2.45792

Abstract

Iklim tropis lembab di Indonesia menyebabkan rendahnya kecepatan angin, serta kelembapan dan suhu udara yang tinggi. Kelembapan tinggi menyebabkan sirkulasi udara tidak lancar dan berpengaruh pada kenyamanan termal. Masjid adalah bangunan untuk kegiatan ibadah, yang menuntut kenyamanan termal, selain kenyamanan audial. Upaya alat bantu penghawaan seperti kipas angin tidak akan bekerja optimal jika masjid tidak memiliki sistem sirkulasi udara yang baik. Masjid Al-Kautsar Kertonatan menarik untuk diteliti dari aspek penghawaan alami. Masjid berada di sudut pertigaan jalan kampung dan menghadap area persawahan. Saat masjid digunakan seluruh kipas angin dinyalakan, namun keluhan jamaah selalu muncul yaitu ketidaknyamanan termal, seperti rasa panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas termal masjid Al-Kautsar Kertonatan, melalui metode kuantitatif pengukuran suhu udara, kelembapan udara dan kecepatan angin dengan alat thermohygrometer dan anemometer. Pengukuran termal dilakukan di dalam dan di luar ruang masjid secara bersamaan pada lima waktu salat. Selain pengukuran termal, dilakukan pula wawancara bebas kepada jamaah terkait kenyamanan termal. Hasil penelitian mengindikasikan pola aliran udara tidak merata dan tidak lancar di dalam ruangan, sehingga kualitas termal dalam kategori tidak nyaman dengan suhu udara rata-rata 31.0°C dan kecepatan angin rata-rata 0.1m/detik. Evaluasi subjektif mengindikasikan bahwa jamaah merasa nyaman apabila berada dekat jendela atau berada di tengah-tengah ruang, karena pada bagian itu aliran udara terasa. Solusi terbaik agar aliran merata di dalam ruang adalah redesain bukaan agar udara lebih banyak masuk, di samping itu perlu adanya penambahan vegetasi. MOSQUE THERMAL COMFORT STRATEGY (CASE STUDY OF AL-KAUTSAR MOSQUE, SUKOHARJO, CENTRAL JAVA) Indonesia's humid tropical climate causes low wind speed, as well as high humidity and air temperature. High humidity causes poor air circulation and affects thermal comfort. A mosque is a building for worship activities, which demands thermal comfort, in addition to audible comfort. Efforts for ventilation aids such as fans will not work optimally if the mosque does not have a good air circulation system. Al-Kautsar Kertonatan Mosque is interesting to study from the aspect of natural ventilation. The mosque is at the corner of the village road fork and overlooks the rice fields. When the mosque is used, all the fans are turned on, but complaints from the congregation always arise, namely thermal discomfort, such as feeling hot. This study aims to identify the thermal quality of the Al-Kautsar Kertonatan Mosque, through quantitative methods of measuring air temperature, humidity, and wind speed using thermohygrometer and anemometer. Thermal measurements are carried out inside and outside the mosque space simultaneously at five prayer times. In addition to thermal measurements, freed interviews were also conducted with the congregation regarding thermal comfort. The results indicate that the airflow pattern is not evenly distributed and not smooth so that the thermal quality is in the uncomfortable category with an average air temperature of 31.0°C and an average wind speed of 0.1m/second. The subjective evaluation indicated that pilgrims felt comfortable when they were near the window or in the middle of the room because in that part the airflow was felt. The best solution so that the flow is evenly distributed in the room is to redesign the opening to allow more air to enter, in addition to the need for additional vegetation.
OPTIMASI SHADING DEVICES RUMAH TINGGAL (STUDI KASUS : PERUMAHAN LOH AGUNG VI JATEN KARANGANYAR) Maya Puspitasari; Nur Rahmawati Syamsiyah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 14, No 1: Januari 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.714 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v1i1.1134

Abstract

Perkembangan perumahan saat ini sangat pesat. Banyak perumahan dibangun denganberagam tipe dan desain. Setiap desain yang dibuat tentunya sudah memperhatikanaspek pencahayaan alami untuk penerangan ruang-ruang di dalamnya. Penelitian inidilatarbelakangi maraknya penggunaan shading devices di perumahan, sebagaipenahan panas matahari yang umumnya memiliki desain tergolong sederhana, yaituberupa cor beton yang ditempatkan pada bagian atas jendela. Namun apakah desainitu sudah efektif sesuai fungsinya atau belum, maka penelitian ini bertujuan untukmelihat efektifitas desain shading devices yang selama ini banyak digunakan.Perumahan Loh Agung VI terpilih sebagai lokasi penelitian, dengan pertimbanganperumahan ini hanya memiliki satu tipe rumah, dengan berbagai posisi rumah terhadaparah datang matahari, sehingga sangat memungkinkan untuk dibandingkan. Metodepenelitian yang digunakan adalah kuantitatif sejak pengumpulan data hingga prosesanalisis. Analisis menggunakan rumus solar geometry, yang mempertimbangkan sudutjatuh matahari terhadap lokasi penelitian dan waktu pengukuran. Waktu yang dipilihadalah saat panas matahari maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa shadingdevices yang ada di rumah-rumah Perumahan Loh Agung VI tidak efektif memberikanperlindungan terhadap radiasi matahari. Optimasi desain shading devices agar sesuaifungsi adalah berbentuk kisi-kisi, sehingga mampu mereduksi cahaya dan panasmatahari.
Kualitas Akustik Ruang Utama Masjid Siti Aisyah Surakarta Nur Utami Isyana Dewi; Nur Rahmawati Syamsiyah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 16, No 2: Juli 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2462.775 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v16i2.10592

Abstract

Masjid sebagai bangunan ibadah umat Islam dituntut untuk nyaman. Salah satu kenyamanan adalah terhadap aspek suara seperti tingkat kebisingan rendah, distribusi bunyi merata serta kenyamanan terhadap pengguna ruang. Fokus penelitian ini adalah menganalisis tingkat tekanan bunyi, kinerja elemen serta evaluasi subjektif kenyamanan bunyi oleh pengguna ruang utama Masjid Siti Aisyah Surakarta. Penelitian menggunakan pengukuran tingkat tekanan bunyi dan analisis pemetaan bunyi dalam ruang serta persepsi keruangan dari pengguna melalui kuesioner secara online. Pengukuran tingkat tekanan bunyi menggunakan Sound Level Meter dan pemetaan bunyi menggunakan aplikasi Surfer 11. Hasil pengukuran bahwa intensitas bunyi ruang rata-rata yaitu sebesar 53.30 dBA saat ruang dalam kondisi sedikit aktivitas serta 70.45 dBA pada saat ruang dalam kondisi ada aktivitas kajian agama. Hasil pemetaan saat ruang sedikit aktivitas adalah bunyi terdistribusi merata, namun saat ruang digunakan untuk kajian, terjadi interferensi gelombang berupa penguatan bunyi, yang menyebabkan kebisingan. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa pengguna Masjid Siti Aisyah tidak terganggu dengan kebisingan, baik bising yang bersumber dari dalam bangunan maupun dari luar bangunan, karena pengguna masjid sudah mempersiapkan diri dengan niat untuk beribadah sehingga dapat beradaptasi dengan keadaan di ruang utama masjid Siti Aisyah.
PERFORMANSI GREENSHIP BUILDING PADA RUMAH TURI DI SURAKARTA (PENEKANAN PADA WATER CONCERVATION DAN MATERIAL RESOURCE AND CYCLE) surya Arafat Arafat; Nur Rahmawati Syamsiyah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 1: Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.426 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v13i1.694

Abstract

Green Architecture atau arsitektur hijau akhir-akhir ini sangat diminati oleh para arsitek dan konsumen. Konsep arsitektur hijau merupakan konsep perancangan bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Faktor-faktor dalam dan luar bangunan sangat diperhatikan agar minim dampak kerusakan sumber daya alam yang telah ada. Rumah Turi di Surakarta adalah sebuah hotel yang menjadi objek penelitian, untuk mencari kesesuaian antara bangunan dengan konsep green building. Metode dalam penelitian adalah kualitatif dengan mengacu pada Guidelines Green Building Council Indonesia. Lebih khusus lagi adalah pada Greenship for Existing Building. Beberapa lembaga sertifikasi bangunan hijau di dunia yang sudah berperan aktif, di antaranya BREEAM (Building Research Establishment's Environmental Assesment Method) di Inggris, LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) di USA, Green Star (Standar Bangunan Hijau) di Australia. Indonesia melalui Green Building Council Indonesia memiliki parameter penilaian green building yang telah disesuaikan dengan iklim dan keadaan alam di Indonesia. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa konsep green building Hotel Rumah Turi dari segi pengelolaan air dan bahan material yang digunakan masih kurang maksimal. Nilai yang didapat adalah sebesar 50 % dari 2 parameter yang digunakan. Hasil penilaian ini akan menjadi rekomendasi, sehingga diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan air dan bahan material pada Hotel Rumah Turi Surakarta.
Kajian Perbandingan Gaya Arsitektur dan Pola Ruang Masjid Agung Surakarta dan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta Nur Rahmawati Syamsiyah; Andriata Muslim
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 15, No 1: Januari 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1232.279 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v15i1.8989

Abstract

Masjid merupakan tempat dimana seorang muslim beribadah kepada Allah dengan khusyuk. Kehadiran masjid sangat penting bagi kehidupan muslim, sehingga tidak heran jika masjid menjadi salah satu objek penting yang sering berkaitan dengan dunia arsitektur dalam perancangannya. Masjid-masjid Mataram Kuno merupakan bangunan yang mempunyai nilai sejarah tinggi bagi umat  Islam di Indonesia khususnya di Jawa. Keberadaan masjid-masjid tersebut bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga menjadi salah satu identitas umat Islam di Jawa yang diwujudkan dalam suatu bentuk arsitektural seperti ruang beserta ornamennya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya arsitektur dan pola tata ruang Masjid Agung atau Masjid Gedhe Surakarta dan Masjid Kauman Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, melalui pengamatan fisik masjid, lalu melakukan analisis yang sifatnya diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dan persamaan kedua masjid tersebut dari segi gaya arsitektur dan pola tata ruangnya. Persamaaan yang diperoleh antara lain tipologi ruang dan bentuk arsitektur. Sedangkan perbedaan seperti gaya arsitektur Jawa yang memiliki keunikan masing-masing seperti adanya pengaruh gaya arsitektur Eropa dan Timur Tengah.
Transformasi Digital dalam Perancangan Arsitektur: Studi Kasus Perkuliahan Daring STUPA 2 Arsitektur UMS Nur Rahmawati Syamsiyah; Hafizhah Winda Putri; Nadiifa Firsty Laksana
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 1: Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2452.49 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v18i1.13322

Abstract

Dunia dikejutkan dengan wabah pandemic Covid-19, yang mengacaukan seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Semua sekolah ditutup dan dianjurkan belajar di rumah, dengan metode pembelajaran online atau daring. Tujuan tulisan ini adalah menyampaikan hasil penelitian tentang pendapat mahasiswa peserta Studio Perancangan Arsitektur (STUPA)2 terhadap perkuliahan daring meliputi tingkat kesulitan dalam memahami materi dan kemanfaatan teknologi transformasi digital dalam menunjang pembelajaran STUPA2. Metode penelitian adalah diskriptif kualitatif dan kuantitatif, dilakukan dengan menyaring pendapat mahasiswa melalui kuesioner dalam googleform. Sejumlah 137 responden adalah mahasiswa peserta STUPA 2, sejumlah 44% sulit memahami materi, sehingga memerlukan pendampingan intensif terutama saat mendisain denah. Mahasiswa merasa belum berpengalaman dalam merancang, sehingga ada ketakutan saat membuat disain, terutama saat membuat gambar potongan (41%), namun percaya diri saat membuat gambar tampak (28%). Literasi digital yang didukung platform Schoology sangat diperlukan dalam memahami transformasi gambar secara digital menjadi cetak, berkolaborasi dengan emosi mahasiswa untuk menghasilkan disain kreatif dan mampu bereksplorasi disain. Tanpa literasi digital kemajuan teknologi tidak sepenuhnya dapat digunakan sebagai alat komunikasi disain, terutama bagi mahasiswa yang baru sepertiga bagian mengenal STUPA.
Penerapan Tolok Ukur Mac dari Greenship Neighborhood Versi 1.0 dan Evaluasi Subjektif pada Kawasan Kebun Raya Indrokilo Di Boyolali. Naufal Kholid; Nur Rahmawati Syamsiyah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 17, No 1: Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1389.708 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v17i1.10854

Abstract

Kebun Raya Indrokilo (KRI) merupakan kawasan cagar alam yang dibangun sebagai sarana edukasi dan konservasi tumbuhan hutan hujan dataran rendah dan sebagai bentuk upaya menjaga keanekaragaman hayati dari degradasi habitat. Untuk itu kawasan ini menarik untuk diteliti bagaimana penerapan arsitektur hijau pada kawasan serta bagaimana opini pengunjungmengenai sarana yang ada. Penelitian ini ditujukan untuk menilai penerapan tolok ukur movement and connectivity (MAC) dan mengetahui evaluasi subjektif dari pengunjung. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berupa penjelasan dari penilaian parameter MAC, dan metode kuantitatif dalam memberikan penilaian dan prosentase evaluasi subjektif. Data hasil tolok ukur MAC dikomparasikan dengan hasil wawancara dengan jumlah sample 20 orang pengunjung Kebun Raya dengan intensitas kunjungan yang bervariasi. Hasil yang diperoleh dari kawasan ini adalah  Kebun Raya Indrokilo memenuhi 17 nilai dari 26 nilai maksimal pada kategori MAC dan persentase kepuasan pengunjung sebesar 45%. Adanya upaya penerapan arsitektur hijau pada kawasan Kebun Raya Indrokilo oleh pengelola, dapat dilihat dari penilaian MAC dari greenship yang diterapkan oleh KRI mencapai 13% dari 21% persentase maksimal pada kategori tersebut tetapi perlu adanya sinergi antara penerapan greenship dengan upaya edukasinya kepada masyarakat.
RANCANGAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN MELALUI METODE SOUNDSCAPE Nur Rahmawati Syamsiyah; Sentagi Sosetya Utami; Atyanto Dharoko
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur berkelanjutan adalah arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang, dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kebutuhan itu berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, dari satu kawasan ke kawasan lain dan paling baik bila ditentukan oleh masyarakat terkait. Konsep keberlanjutan pada masa kini perlu dikembangkan agar kebertahanan karakter cultural identity di suatu lingkungan semakin meningkat. Aplikasi keberlanjutan dilakukan melalui disain berkonsep ekologis, yang menekankan unsur alam secara efisien dan mengutamakan unsur kualitas ketimbang kuantitas. Soundscape diperkenalkan sebagai pengidentitas unsur-unsur pembentuk lingkungan. Sounscape bagian dari akustika lingkungan yang menitikberatkan kualitas persepsi kenyamanan audio sebuah kawasan. Bahasa bunyi dan bahasa arsitektur berbeda, namun keduanya sama-sama membutuhkan pengayaan panca indra untuk menghasilkan suatu karya bernilai estetis. Disain asitektur yang justru masih mempertahankan keberlanjutannya dengan baik, akan memberikan efek soundscape yang lebih bermakna. Place menjadi sebuah  space yang memiliki ciri khas tersendiri, baik secara visual terlihat maupun abstrak. Ciri khas tersebut menjadi jiwa dari space itu sendiri, sebagai inti dari fungsi soundscape. Tulisan ini berupa kajian teoritik pentingnya unsur soundscape: kerangka kerja, metode dan studi kasus, sebagai elemen penting dalam lingkungan dan sebagai upaya mempertahankan identitas lingkungan dan keberlanjutan arsitektur.
SOUNDSCAPE KAWASAN: EVALUASI RUANG BERKELANJUTAN Nur Rahmawati Syamsiyah; Atyanto Dharoko; Sentagi Sesotya Utami
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.613 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i1.181

Abstract

Abstract: The density of major cities in Indonesia is the impact of the rapid development of the population. Increasing the population as well as their welfare make the residential and traffic environment in urban areas less healthy. Noisy, and air quality as the main indicators that can be felt to be very disturbing to the human environment. The sound quality perspective is one that is overlooked. Even though the government of the Republic of Indonesia has issued standard noise levels in Kep-48 / MENLH / 11/1996, evaluation and control of reality in the field is still lacking. The soundscape approach that is very concerned about the environment as a resource will be the most effective when applied in urban and regional planning. This paper aims to explore how sound impacts in providing an auditory experience in open space through a soundscape approach with case studies of open space or the court of the Great Mosque of Yogyakarta. This case can be an example of implementing a strategy to create peace of space in the midst of the hustle and bustle of the city. On the other hand soundscaping techniques become the needs of every city to do, and in particular there must be a spatial pattern that unites and adapts to each other between buildings, open spaces, vegetation, water elements and activities, so that the sustainability of a comfortable and calm space will last long. Keywords: space sustainability; noise; auditory experience; soundscapeAbstrak: Kepadatan kota-kota besar di Indonesia merupakan dampak perkembangan penduduk yang begitu cepat meningkat. Peningkatan jumlah penduduk sekaligus kesejahteraan mereka membuat lingkungan pemukiman dan lalu lintas di perkotaan semakin kurang sehat. Bising, dan kualitas udara sebagai indikator utama yang dapat dirasakan sangat mengganggu lingkungan hidup manusia. Perspektif kualitas suara adalah salah satu yang terabaikan. Sekalipun pemerintah Republik Indonesa sudah mengeluarkan baku tingkat kebisingan dalam Kep-48/MENLH/11/1996, namun evaluasi dan kontrol terhadap kenyataan di lapangan masih kurang dilakukan. Pendekatan soundscape yang sangat memperhatikan lingkungan sebagai sumber daya akan menjadi yang paling efektif bila diterapkan dalam perencanaan kota dan kawasan. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dampak suara dalam memberikan pengalaman auditory dalam ruang terbuka melalui pendekatan soundscape dengan studi kasus kawasan ruang terbuka atau pelataran Masjid Agung Yogyakarta. Kasus ini dapat menjadi contoh penerapan strategi menciptakan ketenangan ruang di tengah hiruk pikuk kota. Di sisi lain teknik soundscaping menjadi kebutuhan setiap kota untuk dilakukan, dan secara khusus harus ada pola spasial yang menyatukan dan saling menyesuaikan antara bangunan, ruang terbuka, vegetasi, unsur air dan aktifitas, sehingga keberlanjutan ruang kawasan yang terkondisi nyaman dan tenang akan bisa bertahan lama.Kata Kunci: keberlanjutan ruang; kebisingan; pengalaman auditory; soundscape
Karakteristik Taman Anak Cerdas Kota Surakarta sebagai Penunjang Kota Layak Anak (KLA) Aditya Mulya Pratama; Nur Rahmawati Syamsiyah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 19, No 2: Juli 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.352 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v19i2.18408

Abstract

Konferensi Habitat II atau City Summit yang diadakan di Turki tahun 1996, menghasilkan gagasan tentang Kota Layak Anak (KLA). Tahun 2005 Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak mengenalkan KLA dan menunjuk Kota Surakarta menjadi salah satu pilot project pengembangan KLA. Penerapan konsep KLA yang telah dilakukan Pemerintah Kota Surakarta adalah Taman Anak Cerdas atau TAC. Saat ini Kota Surakarta memiliki 13 TAC yang tersebar di 5 Kecamatan. Peraturan tentang TAC terdapat dalam Peraturan Walikota Surakarta No.6 Tahun 2008. TAC bertujuan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapat kesempatan belajar IT, mengembangkan bakat dan mendapat tempat bermain. Dari 13 TAC tentunya memiliki perbedaan aktivitas yang dapat dilakukan di TAC tersebut. Karena itu timbul pertanyaan tentang apakah fasilitas dan aktivitas di 13 TAC memiliki karakteristik tersendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil apakah fasilitas dan kegiatan pada 13 TAC memiliki ciri khas atau tidak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana pencarian data dengan observasi secara langsung serta melakukan dokumentasi dan wawancara terbuka kepada pengelola dan pengunjung. Analisis dan pembahasan dengan diskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa karakteristik TAC Kota Surakarta terbagi dalam 3 kategori yaitu berdasarkan aktivitas, fasilitas, dan style bangunan. Aktivitas di TAC ditunjang oleh beberapa fasilitas yang mendukung kecerdasan anak melalui permainan logika, permainan atraktif (motorik aktif) dan permainan tradisional. Sementara itu style bangunan dari semua TAC didominasi bangunan berbentuk pendopo. Bentuk ini memiliki makna kerukunan atau guyub sehingga dapat menjadi ciri khas TAC di Surakarta.
Co-Authors Aditya Mulya Pratama Agus Dwi Anggono Aji Kurniawan Aji Kurniawan ANDIKA SAPUTRA Andriata Muslim Anggreini, Diana Putri Anindita, Yessica Ashari, Evita Salsabila Al Atyanto Dharoko Atyanto Dharoko Atyanto Dharoko Azari, Devina Olga Dewi, Nur Utami Isyana Dhani Mutiari Eko Wahyu Widodo El Baqir, Almas Artha Meyvira Elvareta, Khaula Cipta Febriyani, Shintya Fendera, Risalia Nur Gafebryan, Crysna Leallyo Hafizhah Winda Putri Hanendya, Seruni Inas Haq, Kholid Misyalul Hartaningrum, Sindy Eviola Hidayat, Muhammad Fathur Jihan, Kaltsum Farah Kholid, Naufal Laksana, Nadiifa Firsty Mahiroh, Aqila Widyas Maulina, Andria Cahya Maya Puspitasari Maya Puspitasari, Maya Muslim, Andriata Mutiara, Deviesta Nanda Alifta Nadiifa Firsty Laksana Naufal Kholid Naufal, Muhammad Habibin Nugraha, Dwi Agung Nugrahanto, Falih Nur Izzati, Hanifa Nur Utami Isyana Dewi Nurrahman, Yahya Octaviani, Alfina Rahma Parku, Adi Wira Pradana, Whindy Yudha Prajatama, Ghaza Ilham Putra, Akvianata Adhi Pradana Putra, Bimantara Rizendra Putri, Destiana Putri, Hafizhah Winda Rahayu, Ida Putri Ramadhani, Nur Anisa Rani, Tania Rahma Rini Hidayati Rini Kuswati Rosali, Mohammad Afiq Saputra, Riski Dwi Sentagi Sosetya Utami Shalihah, Adilla Neta Sholihah, Fika Annisa' Subrata, Deandra Daffa Jaya Suci, Mubliha Wulan surya Arafat Arafat surya Arafat Arafat, surya Arafat Syaktika, Syori Taufikqurrahman, Aditya Thabroni, Muhammad Sidik Utami, Sentagi Sesotya Widodo, Ervina Meillin Wijaya, Hanifa Calista Wisnu Setiawan Zahrani, Nadira Zakiyah, Safira