Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Hubungan Internasional

Labour Migration from Indonesia to South Korea: Challenges in Maximizing Potentials Yazid, Sylvia
Jurnal Hubungan Internasional Vol 6, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/hi.61106

Abstract

Analisa tentang mengapa seseorang bermigrasi untuk bekerja di negara lain umumnya dilakukan melalui pencarian dan pendeskripsian faktor-faktor “push” dan “pull” , di mana pendapatan rendah dan pengangguran yang tinggi menjadi faktor pendorong dan pendapatan tinggi dan pengangguran yang rendah menjadi faktor penarik. Ini dapat digunakan untuk menjelaskan alasan umum bagi migrasi tenaga kerja yang bersifat sementara namun tidak cukup untuk menjelaskan lebih lanjut mengapa seseorang memutuskan bermigrasi ke suatu negara dan bukan ke negara lainnya. Inilah yang dihadapi Indonesia dan Korea Selatan. Walaupun masih banyak orang yang mencari pekerjaan di Indonesia dan Korea Selatan masih membutuhkan pekerja asing, jumlah orang Indonesia yang bekerja di kategorikan kecil bila dibandingkan dengan jumlah di negara penerima lainnya di kawasan seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong dan Thailand. Asumsinya terdapat sejumlah faktor yang menghalangi terwujudnya dampak maksimum dari faktor pendorong dan penarik ini. Tulisan ini menganalisa faktor-faktor penghambat tersebut, terutama terkait dengan tingginya persyaratan yang ditetapkan oleh Korea Selatan dan keterbatasan kemampuan untuk memenuhi persyaratan ini dari sisi Indonesia. Pemahaman tentang faktor-faktor penghambat ini akan dapat berkontribusi bagi upaya meningkatkan jumlah pekerja Indonesia di Korea Selatan, yang dapat dianggap sebagai negara yang cukup aman untuk tempat bekerja. An analysis of why people migrate to work in another country is commonly conducted through a listing and description of the push and pull factors, with low income and high unemployment being the push factors and high income and low unemployment being the pull factors. It can be used to explain in general the reasons for temporary labour migration but not to explain why people choose to migrate to a certain country, instead of the others. This is the case of South Korea and Indonesia. There is still a number of Indonesian workers seeking for employment abroad, and there is also a high demand for foreign workers in South Korea. However, the number of Indonesians working in South Korea can still be considered small if compared to the numbers of Indonesians working in other countries in the region, such as Malaysia, Singapore, Hong Kong and Taiwan. The assumption is that there are factors that hinder maximum impacts of this push and pull factors. This paper looked into these hindering factors which are mainly related to the high requirements from the South Korea side and the inability to fulfill the requirements from the Indonesia side. An understanding of these hindering factors may contribute to the efforts of increasing the number of Indonesians working in South Korea, which is considered as a reasonably safe country to work in.
Tata Kelola Remitansi Buruh Migran Indonesia oleh Pemangku Kepentingan di Tingkat Nasional dan Akar Rumput: Praktik Baik, Peluang dan Tantangan Dewi, Elisabeth Adyiningtyas Satya; Yazid, Sylvia
Jurnal Hubungan Internasional Vol 6, No 2 (2017): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/hi.62116

Abstract

This study is intended to provide general descriptions of the actors involved in the management of remittance sent by Indonesian migrant workers from their working abroad. Data was collected through interviewing 2 actors at the national level, a national NGO and a government institution, and 3 actors at the grassroot level, a local NGO, academic, and a community of women migrant workers. The interview is intended to identify the actors involved, their relative position and function within the remittance flow, bad practices that need to be avoided, and best practices that need to be replicated.  This study found that there are still needs for: safe and cheap remittance sending mechanism, remittance is still mainly used for consumption, there is a need for capacity building to assist Indonesian migrant workers to start their own business, and the strong influence of patriarchy culture in the management of remittance sent by women migrant workers. Kajian ini ditujukan untuk memberikan gambaran umum tentang aktor yang terlibat dalam pengelolaan aliran dana yang dikirimkan oleh buruh migran Indonesia sebagai hasil mereka bekerja di luar negeri. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai 2 aktor di tingkat nasional, NGO nasional dan badan pemerintah, dan 3 aktor di tingkat akar rumput, NGO lokal, akademisi dan komunitas buruh migran perempuan. Wawancara ditujukan untuk mengetahui siapa aktor yang terlibat, posisi relatif mereka dan fungsi yang mereka jalankan dalam alur remitansi, praktik buruk yang perlu dihindari, dan praktik baik yang patut direplikasi. Penelitian ini menemukan masih diperlukannya mekanisme pengiriman remitansi yang aman dan murah, remitansi masih lebih digunakan untuk kebutuhan konsumsi, diperlukannya capacity building untuk membantu BMI memulai usaha, masih kentalnya budaya patriarki dalam pemanfaatan remitansi yang datang dari buruh migran perempuan.
Labour Migration from Indonesia to South Korea: Challenges in Maximizing Potentials Sylvia Yazid
Jurnal Hubungan Internasional Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/hi.61106

Abstract

Analisa tentang mengapa seseorang bermigrasi untuk bekerja di negara lain umumnya dilakukan melalui pencarian dan pendeskripsian faktor-faktor “push” dan “pull” , di mana pendapatan rendah dan pengangguran yang tinggi menjadi faktor pendorong dan pendapatan tinggi dan pengangguran yang rendah menjadi faktor penarik. Ini dapat digunakan untuk menjelaskan alasan umum bagi migrasi tenaga kerja yang bersifat sementara namun tidak cukup untuk menjelaskan lebih lanjut mengapa seseorang memutuskan bermigrasi ke suatu negara dan bukan ke negara lainnya. Inilah yang dihadapi Indonesia dan Korea Selatan. Walaupun masih banyak orang yang mencari pekerjaan di Indonesia dan Korea Selatan masih membutuhkan pekerja asing, jumlah orang Indonesia yang bekerja di kategorikan kecil bila dibandingkan dengan jumlah di negara penerima lainnya di kawasan seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong dan Thailand. Asumsinya terdapat sejumlah faktor yang menghalangi terwujudnya dampak maksimum dari faktor pendorong dan penarik ini. Tulisan ini menganalisa faktor-faktor penghambat tersebut, terutama terkait dengan tingginya persyaratan yang ditetapkan oleh Korea Selatan dan keterbatasan kemampuan untuk memenuhi persyaratan ini dari sisi Indonesia. Pemahaman tentang faktor-faktor penghambat ini akan dapat berkontribusi bagi upaya meningkatkan jumlah pekerja Indonesia di Korea Selatan, yang dapat dianggap sebagai negara yang cukup aman untuk tempat bekerja. An analysis of why people migrate to work in another country is commonly conducted through a listing and description of the push and pull factors, with low income and high unemployment being the push factors and high income and low unemployment being the pull factors. It can be used to explain in general the reasons for temporary labour migration but not to explain why people choose to migrate to a certain country, instead of the others. This is the case of South Korea and Indonesia. There is still a number of Indonesian workers seeking for employment abroad, and there is also a high demand for foreign workers in South Korea. However, the number of Indonesians working in South Korea can still be considered small if compared to the numbers of Indonesians working in other countries in the region, such as Malaysia, Singapore, Hong Kong and Taiwan. The assumption is that there are factors that hinder maximum impacts of this push and pull factors. This paper looked into these hindering factors which are mainly related to the high requirements from the South Korea side and the inability to fulfill the requirements from the Indonesia side. An understanding of these hindering factors may contribute to the efforts of increasing the number of Indonesians working in South Korea, which is considered as a reasonably safe country to work in.
Tata Kelola Remitansi Buruh Migran Indonesia oleh Pemangku Kepentingan di Tingkat Nasional dan Akar Rumput: Praktik Baik, Peluang dan Tantangan Elisabeth Adyiningtyas Satya Dewi; Sylvia Yazid
Jurnal Hubungan Internasional Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/hi.62116

Abstract

This study is intended to provide general descriptions of the actors involved in the management of remittance sent by Indonesian migrant workers from their working abroad. Data was collected through interviewing 2 actors at the national level, a national NGO and a government institution, and 3 actors at the grassroot level, a local NGO, academic, and a community of women migrant workers. The interview is intended to identify the actors involved, their relative position and function within the remittance flow, bad practices that need to be avoided, and best practices that need to be replicated.  This study found that there are still needs for: safe and cheap remittance sending mechanism, remittance is still mainly used for consumption, there is a need for capacity building to assist Indonesian migrant workers to start their own business, and the strong influence of patriarchy culture in the management of remittance sent by women migrant workers. Kajian ini ditujukan untuk memberikan gambaran umum tentang aktor yang terlibat dalam pengelolaan aliran dana yang dikirimkan oleh buruh migran Indonesia sebagai hasil mereka bekerja di luar negeri. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai 2 aktor di tingkat nasional, NGO nasional dan badan pemerintah, dan 3 aktor di tingkat akar rumput, NGO lokal, akademisi dan komunitas buruh migran perempuan. Wawancara ditujukan untuk mengetahui siapa aktor yang terlibat, posisi relatif mereka dan fungsi yang mereka jalankan dalam alur remitansi, praktik buruk yang perlu dihindari, dan praktik baik yang patut direplikasi. Penelitian ini menemukan masih diperlukannya mekanisme pengiriman remitansi yang aman dan murah, remitansi masih lebih digunakan untuk kebutuhan konsumsi, diperlukannya capacity building untuk membantu BMI memulai usaha, masih kentalnya budaya patriarki dalam pemanfaatan remitansi yang datang dari buruh migran perempuan.