Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Configuration of the Cultural Identity of Islamic Studies Professors in Mataraman through the Lens of Geertz Muwaffiqillah, Moch.; Huda, Syamsul; Zulfa, Indana; Huggins, Brett Aaron
Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial
Publisher : Prodi Sosiologi Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/asketik.v9i2.3377

Abstract

This study explores the configuration of cultural identity among professors of Islamic studies at state Islamic higher education institutions (PTKI) in the Mataraman region of East Java, Indonesia. Drawing on Clifford Geertz’s santri–priyayi–abangan framework, the research examines how professors negotiate their self-identities within Javanese socio-religious structures. Employing an interpretive ethnographic approach, this study is based on in-depth interviews with professors of Islamic studies from three PTKI—IAIN Kediri, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, and IAIN Ponorogo—complemented by participatory observation of academic rituals, religious gatherings, and institutional practices, as well as analysis of relevant institutional documents. The findings reveal a dynamic interplay between academic professionalism and pesantren-based cultural heritage. While most informants identify primarily as professional Islamic intellectuals rather than traditional kyai or priyayi, many embody hybrid cultural affiliations. Their achieved status as state-recognized professors often contrasts with community perceptions rooted in religious authority and pesantren lineage. This identity configuration points to the emergence of a new social formation—the elite santri—characterized by academically sanctioned authority that remains culturally resonant. The study contributes to a nuanced understanding of contemporary Islamic academia and shifting patterns of religious authority in Javanese Muslim society.
Implementasi Konsep Nāsikh Mansukh dalam Peradilan Pelaku Zina di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam muhhamad zainal abidin; Shonifah Al-Atqiya', Vina; Nursanggita, Mega; Thohir, Muhammad; Muwaffiqillah, Moch.
MAGHZA Vol 11 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nāsikh dan Mansukh  merupakan salah satu konsep dalam studi Al-Qur’an yang memiliki peranan penting dalam perubahan hukum dari masa ke masa. Salah satu pembahasan yang cukup menarik dalam konteks negara Indonesia adalah usaha penerapan  hukuman rajam bagi pelaku zina di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah provinsi yang menerapkan hukuman pidana Islam di Indonesia. Salah satu hukum yang dijalankan adalah peradilan bagi pelaku zina dengan cara dicambuk. Dikursus mengenai kemungkinan penerapan hukuman rajam di Aceh atau peradilan bagi pelaku zina yang telah dijalankan di Aceh menjadi bahan perdebatan di kalangan akademisi. Artikel ini bertujuan untuk menelaah konsep Nāsikh dan Mansukh dalam sistem peradilan bagi pelaku zina serta mengevaluasi legitimasi hukuman tersebut dalam kerangka hukum Islam di Aceh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tematik (maudu’i), yang melibatkan penelusuran terhadap sumber-sumber hukum Islam seperti Al-Qur’an, hadis, jurnal-jurnal Ilmiyah serta pandangan ulama klasik dan kontemporer. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa konsep Nāsikh dan Mansukh memainkan peran penting dalam memahami dinamika perubahan hukum dalam Islam, termasuk dalam perdebatan mengenai keabsahan dan kemungkinan penerapan hukum rajam di Aceh. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai posisi hukum rajam dalam hukum Islam serta relevansinya dengan sistem hukum yang berlaku di Indonesia.