Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengambilan Pektin dari Kulit Jeruk Bali (Citrus Maxima) dengan Cara Ekstraksi Saadatur Rofiah; Sri Mulyaningsih; Ahmad Shobib
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 2, No 1 (2021): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.794 KB) | DOI: 10.56444/cjce.v2i1.2221

Abstract

Abstrak Limbah kulih jeruk bali belum dimanfaatkan dengan baik, sehingga hal ini menjadi fokus untuk dilakukan pengolahan selanjutnya. Kulit jeruk bali mengandung pektin dalam konsentrasi tinggi. Dalam penelitian ini pektin diambil dengan cara ekstraksi agar terjadi perubahan senyawa pektin yang disebabkan oleh proses hidrolisis protopektin menggunakan pelarut/solven asam, solven yang dipilih adalah HCl. Dalam melakukan penetapan variabel, ada variabel tetap dan variabel berubah yang bertujuan untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh dan kondisi optimum pengambilan pektin dari kulit jeruk bali dengan cara ekstraksi. Pektin yang dihasilkan dari ekstraksi ini diharapkan dapat memenuhi standar IPPA (International Pectin Producers Association). Percobaan dilakukan dengan menggunakan kulit jeruk bali yang sudah kering dan berbentuk serbuk berukuran 50 mesh, kemudian menambahkan solven HCl sesuai rancangan percobaan. Larutan hasil ekstraksi kemudian disaring untuk memisahkan ampas dan filtrat. Filtrat kemudian ditambahkan ethanol. Setelah tercampur merata, filtrat didiamkan hingga terbentuk endapan, kemudian disaring dan dikeringkan dalam oven. Pektin kering ditimbang beratnya dan dianalisis kadar metoksil dan galakturonatnya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel yang paling berpengaruh adalah suhu, dengan kondisi optimum pada suhu 80oC, konsentrasi solven HCl 0,2 N dan waktu ekstraksi adalah 120 menit menghasilkan presentase yield sebesar 96,88%. Hasil analisa pektin dari penelitian ini yaitu kadar metoksilnya 4,39% dan kadar galakturonatnya 44% sehingga pektin yang dihasilkan dari penelitian ini sesuai dengan standar mutu IPPA.
PENGAMBILAN MINYAK KELAPA MURNI MENGGUNAKAN METODE FERMENTASI RAGI ROTI (Saccharomyces cerevisiae) Septya Diagung Manunggal; Mega Kasmiyatun; Sri Mulyaningsih
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 2, No 2 (2021): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.798 KB) | DOI: 10.56444/cjce.v2i2.2817

Abstract

Virgin coconut oil Virgin coconut oil (VCO) diperoleh dari buah kelapa segar (non-kopra) dan diproses tanpa suhu tinggi dan bahan kimia. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi dan jumlah ragi terhadap rendemen VCO yang dihasilkan optimum, mendapatkan kualitas VCO yang dihasilkan berdasarkan Standar Nasional Indonesia. Variabel tetap yaitu 1500 ml volume air, bahan baku kelapa parut 3000 gram, suhu fermentasi 27 - 30 ºC, jenis ragi Saccharomyces cerevisiae, pH 6 – 8, volume kanil 2000 ml. Sedangkan variabel berubah yaitu waktu fermentasi (jam): 20, 22, 24, 26 dan jumlah ragi (gr): 1, 1,5, 2, 2,5, serta variable respon yaitu volume VCO yang dihasilkan. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah anova dua sisi. Metode anova dua sisi merupakan jenis metode anova yang digunakan untuk mengetahui adakah pengaruh berbagai kriteria yang diuji terhadap hasil yang diinginkan. Hasil analisis didapatkan keadaan fisik tidak berwarna, berbau khas minyak kelapa dengan berat jenis pada kondisi optimum, didapatkan kadar 0,96 gr/ml. Kadar bilangan iod 1,73 g iod/100 g dan kadar asam lemak 0,18%. Standar Nasional Indonesia berat jenis memiliki kadar 0,915 – 0,920, bilangan iod memiliki kadar 4,1 – 11 g iod/100 g, sedangkan bilangan asam memiliki kadar maksimal 0,2%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan waktu fermentasi berpengaruh terhadap hasil rendemen minyak VCO. Jumlah ragi berpengaruh terhadap hasil rendemen minyak VCO. Pada hasil pengujian bilangan Iod diperoleh hasil 1,73 sedangkan pada ketentuan syarat SNI sebesar 4,1 -11,0 mg/g. Hasil pengujian hipotesa pada taraf signifikan ???? = 0.01 dan ???? = 0.05 hipotesa diterima.
PENGARUH PENAMBAHAN CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) DAN GELATIN SEBAGAI BAHAN PENGIKAT PADA PEMBUATAN TABLET KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L) Ahmad Shobib; MF. Sri Mulyaningsih; Ery Fatarina
CENDEKIA EKSAKTA Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3194/ce.v2i2.2085

Abstract

Manggis merupakan salah satu buah favorit yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Manggis merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena selain dikonsumsi buahnya, kulit manggis juga dapat digunakan dalam pengobatan tradisional, yaitu mengobati sakit perut, diare, disentri, dan infeksi luka. Kandungan utama senyawa yang terdapat dalam kulit manggis adalah xanthone yang mempunyai sifat antimikroba, antiinflamasi, antioksidan, dan dapat menghambat pertumbuhan sel kanker usus. Kulit buah manggis yang dibuang, ternyata dapat dikembangkan sebagai kandidat obat.Tablet adalah obat dalam bentuk sediaan padat yang mengandung obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Bahan pengikat sangat berpengaruh terhadap kualitas fisik tablet. Dalam penelitian ini digunakan CMC (Carboxymethyl Celulosa) dan gelatin sebagai bahan pengikat dalam pembuatan tablet kulit manggis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Obyek yang diteliti adalah tablet kulit manggis. Penelitian ini meliputi kadar air dan karakteristik fisik tablet kulit manggis. Dari hasil penelitian diperoleh kadar air kulit manggis 67,11 % dan kadar serbuk kulit manggis 32,89 %. Dan hasil penelitian karakteristik fisik tablet didapatkan hasil yang paling optimal dari bahan pengikat yang digunakan yaitu tablet kulit manggis dengan penambahan CMC 15 gram. Didapatkan rerata keseragaman bobot (CV) adalah 4,18 %. Kekerasan tablet adalah 5,93 kg. Kerapuhan tablet  adalah 0,46 %. Waktu hancur tablet adalah 8,89 menit. Kata kunci :  tablet kulit manggis, cmc, gelatin, karakteristik fisik table
EFEKTIVITAS PESTISIDA ORGANIK EKSTRAK KULIT JERUK NIPIS TERHADAP KEMATIAN JANGKRIK Rudi Firyanto; MF Sri Mulyaningsih; Laura Nisa
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v6i2.5507

Abstract

Pestisida organik adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang bersifat mudah terurai di alam. Salah satu tumbuhan yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan pestisida organik adalah kulit jeruk nipis. Kulit jeruk dapat berpotensi menjadi repellent karena mengandung minyak atsiri dengan komponen limonene, mirsen, linalool, oktanal, decanal, sitronelol, neral, geraniol, valensen dan sinensial. Linalool, sitronelol dan geraniol termasuk senyawa yang bersifat repellent terhadap serangga (arthropoda).  Pengunaan bahan alami dari ekstrak kulit jeruk diharapkan lebih aman jika dibandingkan dengan bahan kimia Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT). Proses pembuatan pestisida organik dilakukan dengan ekstraksi maserasi menggunakan ethanol sebagai pelarut. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel terhadap hasil pengujian pestisida organic terhadap jangkrik. Hasil penelitian menunjukkan pada konsentrasi pestisida organic 5% didapatkan prosentase kematian jangkrik 72%, pada konsentrasi 15% didapatkan prosen kematian jangkrik 80%, dan pada konsentrasi 25% didapatkan prosen kematian jangkrik 88%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh terhadap perbedaan konsentrasi pestisida organic terhadap kematian jangkrik. Kata kunci: jeruk nipis, maserasi, pestisida organik AbstractOrganic pesticides are pesticides whose basic ingredients come from plants that are easily biodegradable in nature. One of the plants that can be used as raw material for making organic pesticides is lime peel. Orange peel can potentially be a repellent because it contains essential oils with components of limonene, mirsen, linalool, octanal, decanal, citronellol, neral, geraniol, valensen and sinensial. Linalool, citronellol and geraniol are compounds that are repellent to insects (arthropoda). The use of natural ingredients from orange peel extract is expected to be safer when compared to the chemical Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT). The process of making organic pesticides is done by maceration extraction using ethanol as a solvent. This study aims to determine the effect of variables on the results of testing organic pesticides on crickets. The results showed that at 5% organic pesticide concentration, 72% of crickets died, at 15%, 80% of crickets died, and at 25%, 88% of crickets died. The results showed that there was an effect on differences in the concentration of organic pesticides on the mortality of crickets.. Keywords: lime, maceration, organic pesticide
OPTIMASI WAKTU EVAPORASI PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU DENGAN MEMBRAN ULTRAFILTRASI agnes anggi simanjuntak; Mega Kasmiyatun; Sri Mulyaningsih
CHEMTAG Journal of Chemical Engineering Vol 3, No 2 (2022): CHEMTAG Journal of Chemical Engineering
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/cjce.v3i2.3098

Abstract

Tahu merupakan makanan tradisional sebagian besar masyarakat di Indonesia.Kegiatan industri tahu di Indonesia didominasi oleh usaha-usaha skala kecil dengan modal yang terbatas, sehingga sebagian besar industri tahu tidak memiliki pengolahan limbah, dimana limbah cair langsung dibuang keselokan, sungai atau badan air tanpa pengolahan terlebih dahulu. Hal tersebut akan mengakibatkan kadar oksigen dalam air menurun tajam. Limbah industri cair tahu mengandung zat tersuspensi sehingga mengakibatkan air menjadi kotor atau keruh,oleh karena itu teknologi pemisahan membran dapat menjadi alternatif dalam pengolahannya.Tujuan dari penelitian ini adalah mengoptimasi membran pada proses pengolahan limbah cair tahu.Langkah awal adalah preparasi membran dengan bahan yang digunakan adalah polisulfon, dimetil formamid dan aquadest. Polislfon dan dimetil formamid dicampurkan guna mendapatkan larutan dope 15%.Kemudian dilakukan debubbling pada temperatur 50C selama 24 jam. Lalu dilakukan waktu evaporasi dengan variasi waktu 2,5; 5; 7,5 menit dan dicelupkan kedalam bak koagulasi yang berisi aquadest.Membran yang dihasilkan kemudian dianalisa struktur morfologi dengan Scanning Elecron Microscopy (SEM) serta uji kinerjanya menggunakan membran Ultrafiltrasi. Kondisi operasi optimum yang diperoleh dari pengolahan limbah cair tahu dengan membran PSfDMF15% 7,5 menit terdapat pada P = 20 psia dengan nilai fluks (Jv) = 0,76 x 10-3 cm3/cm2.det, permeabilitas (Lp) = 0,0366 cm3/cm2.det.psia, dan rejeksi (R) = 96,80%. Sedangkan kondisi permeat yang dihasilkan pada pengolahan limbah cair tahu dengan membran PSfDMF15% 7,5 menit, yakni pada P = 20 psia dengan pH = 7,5; TSS = 74 mg/L, BOD= 90 mg/L, dan COD = 156 mg/L. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini cukup efektif, karena secara umum hasilnya sesuai dengan standar baku mutu limbah cair tahu.Kata kunci : Limbah Cair Tahu, Membran Ultrafiltrasi, Polisulfon, Waktu Evaporasi
PEMBUATAN ECO ENZYME DARI LIMBAH ORGANIK RUMAH TANGGA DI RW V PEDURUNGAN TENGAH, KOTA SEMARANG Mulyaningsih, MF Sri; Shobib, Ahmad; Kasmiyatun, Mega; Muryanto, St; Zulaidah, Agustien; Tariojanah, I’ie
Majalah Ilmiah Inspiratif Vol 10, No 1 (2024): Majalah Ilmiah Inspiratif Januari 2024
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat RW V Kekancan Mukti Pedurungan Tengah, Kota Semarang, menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan sampah rumah tangga, dimana limbah tersebut seringkali dibuang sembarangan. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah yang baik. Umumnya, warga masih menerapkan sistem pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) tradisional. Situasi ini berdampak pada lingkungan yang tidak sehat dan menciptakan pencemaran udara akibat bau tak sedap. Salah satu solusi untuk mengelola limbah organik adalah melalui produksi eco enzyme. Eco enzyme, yang pertama kali ditemukan di Thailand oleh Dr. Rosukan Poompanvong, telah menjadi solusi yang banyak digunakan di negara-negara berkembang untuk mengatasi masalah pengelolaan sampah. Selain manfaatnya dalam pengolahan sampah, eco enzyme juga memiliki kemampuan sebagai desinfektan, penyubur tanah, dan berbagai aplikasi lainnya. Oleh karena itu, kami mengajukan proposal pengabdian kepada masyarakat dengan tema "Pembuatan Eco Enzyme dari Limbah Rumah Tangga." Tujuan dari proposal ini adalah untuk mengedukasi warga masyarakat tentang cara mengubah limbah rumah tangga menjadi produk yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Kata Kunci: Sampah organik, Eco Enzyme, Go green