Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

TEKNOLOGI BUDIDAYA KEDELAI RAMAH LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI KABUPATEN BANTUL Anshori, Arif; Prasetiyono, Catur; Pustika, Arlyna Budi
Proceeding Seminar LPPM UMP 2015: Buku I Bidang Ilmu Ekonomi dan Pertanian, Proceeding Seminar Nasional LPPM 2015, 26 September
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan budidaya kedelai, selain memberikan manfaat bagi kehidupan, juga dapat berdampak buruk apabila tidak selaras lingkungan. Potensi residu pestisida dan bahan agrokimia, inefisiensi pemakaian air dan akumulasi logam berat merupakan sebagian dari dampak negatif yang dapat ditimbulkan. Tujuan penelitian ini adalah dihasilkannya teknologi budidaya kedelai ramah lingkungan dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu di Kabupaten Bantul, serta tingkat penerimaannya oleh petani. Penelitian dilakukan pada tahun 2012. Teknologi dirakit secara partisipatif bersama petani, dengan memperhatikan kondisi biofisik setempat. Hasil rakitan teknologi budidaya kedelai dicoba oleh 15 orang petani kooperator. Dilakukan pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman, serta analisis ekonomi. Persepsi dan tingkat penerimaan petani terhadap paket teknologi yang diperkenalkan diukur pada saat awal dan akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil kedelai lebih baik dan secara ekonomi lebih menguntungkan dari pada kedelai yang tanpa pengenalan teknologi. Petani cenderung menerima teknologi setelah melihat contoh, pertumbuhan dan hasil serta analisis ekonomi.Kata kunci : kedelai, budidaya, ramah lingkungan, pengelolaan tanaman terpadu
EROSI NOL UNTUK KEBERLANJUTAN BUKIT KARST DI GUNUNGKIDUL Anshori, Arif
Proceeding Seminar LPPM UMP 2015: Buku I Bidang Ilmu Ekonomi dan Pertanian, Proceeding Seminar Nasional LPPM 2015, 26 September
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karst merupakan sumberdaya alam tidak terbarukan, dengan karakteristik relief dan drainase khas yang sangat rentan terhadap perubahan fisik. Karst mempunyai banyak nilai penting bagi ekosistem dan kehidupan. Penyebab utama kerusakan karst di Gunungkidul adalah perubahan ekosistem akibat perubahan kegiatan manusia dari semula bertani, berburu dan mengambil kayu beralih ke pertambangan, juga oleh proses erosi tanah. Di daerah karst Gunungkidul, lapisan tanah sangat tipis, seringkali disebut sebagai “batu bertanah”, rentan terhadap proses erosi. Degradasi tanah karena erosi akan menyebabkan penurunan daya dukung bagi kegiatan pertanian, kerusakan karst dan lingkungan. Erosi tanah pada bukit karst harus dikendalikan, tidak melebihi ambang batas. Suatu kedalaman tanah tertentu harus dipelihara sebagai tempat berjangkarnya akar tanaman dan sebagai tempat menyimpan air serta unsur hara, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Ambang batas erosi nol atau tanpa erosi sesuai untuk tanah pada bukit karst Gunungkidul. Ambang batas erosi nol didasarkan pada lapisan tanah tipis, menumpang batuan karbonat yang tidak berfungsi sebagai bahan induk tanah, lereng curam dan aktivitas pertanian yang tinggi. Ambang batas erosi nol akan menjaga ekosistem karst tetap tertutup tanah dan vegetasi, lebih jauh menjaga keberlanjutan fungsi hidrologis dan ekosistem karst.Kata kunci: erosi nol, karst, Gunungkidul
TEKNOLOGI BUDIDAYA KEDELAI DENGAN PENDEKATAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) DI KAB KULON PROGO D.I. YOGYAKARTA Suradal, Suradal; Bekti, Utomo Bimo; Anshori, Arif
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 32, No 1 (2017): March
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.256 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v32i1.15902

Abstract

Kulon Progo Regency is one producer of soybeans in D.I. Yogyakarta. The research aims to find out the result of soybean and farmers perception on soybean production technologies with an approach of integrated crop management (ICM) in Kulon Progo. The research was conducted in April-November 2013. 10 soybean varieties were planted to determine the level of productivity. Pattern and timing of planting explored through interviews with farmers and field inspections. Interviews were conducted with farmers to determine the perceptions of soybean production technology with the approach of integrated crop management (ICM) and in particular soybean varieties. The data were analyzed descriptively. The results showed in Kulon Progo Regency soybeans planted in irrigated land, rainfed lowland and upland, adjust the availability of water. The results showed in Kulon Progo Regency soybeans planted in irrigated land, rainfed lowland and upland, adjust the availability of water. Soybean production technology is not implemented by farmers as a whole, depends on the conditions of agro-ecosystems and agricultural inputs. In general, farmers agree with soybean production technology components with the approach of integrated crop management (ICM). Some farmers do not agree with the manufacture of drainage, mulching straw and harvest when 95% of the leaves have yellowed. Varieties Detam-2, Ijen and Tanggamus more adaptive and give higher yields. However, soybean farmers in Kulon Progo Regency prefer largely seeded soybean as Argomulyo and Burangrang. Gema varieties favored for short-lived.
The Stratification of Organic Carbon and Nitrogen in Top Soils as Affected by the Management of Organic and Conventional Rice Cultivation Anshori, Arif; Pramono, Ali; Mujiyo, Mujiyo
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 35, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.192 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v35i1.34488

Abstract

Organic and conventional management in rice cultivation have an impact on the nature of soil and the sustainability of agricultural system. This study aimed to determine the stratification of organic carbon and nitrogen in top soil from organic and conventional rice management. Top soil samples from organic and conventional rice management were taken before planting rice to find out the parameters of several soil characteristics. After rice was planted, top soil samples were taken at the depths of 0-4, 4-8, 8-12, 12-16, 16-20, 20-24 and 24-28 cm from organic and conventional rice fields, to determine the total organic carbon, total nitrogen and nitrate. The results show that organic rice management will provide better soil properties. Stratification of organic carbon and nitrogen was found in top soil from organic and conventional rice fields. Organic rice field appeared to have organic carbon content that was significantly higher than that of conventional rice field, and it is concentrated on top soil surface. The total nitrogen content in layers 0-4 cm and 4-8 cm in organic rice field was considerably higher than in conventional, but the content was different in layers 8-24 cm. Nitrate content was significantly different in top soil 12-16, 16-20 and 20-24 cm, significantly in top soil 8-12 cm, with nitrate in top soil of conventional rice field higher than in organic rice field. However, it was not significant in 0-4 cm and 4-8 cm top soils. This condition was influenced by organic and synthetic chemical fertilization, nitrification, denitrification and leaching.
Utilization of Deep Groundwater to Support Rice Cultivation in Dry Land Anshori, Arif; Srihartanto, Eko; Minhal, Fibrianty; Budiarti, Sri Wahyuni; Rajiman, Rajiman; Suswatiningsih, Tri Endar
Proceedings Series on Physical & Formal Sciences Vol. 8 (2025): Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pspfs.v8i.1480

Abstract

Land limitations cause dry land to become an alternative for food fulfillment, especially rice. This research aimed to investigate the use of deep groundwater for rice plants irrigation in dry land in the second growing season in terms of production, economy and social aspects. The research was conducted in dry land of Gunungkidul D.I. Yogyakarta Indonesia, in the second growing season. Rainfall was observed to determine the time of irrigation. Sidenuk, Inpari 33 and Inpari 42 varieties, complete with rice production technology components, were tested using a Randomized Completely Block Design with 3 replications. Interviews were conducted to explore the economy and farmers perceptions. The results showed additional irrigation from groundwater in supporting rice planting in the second growing season, with Inpari 42 providing the highest yield of dry grain harvested of 7.2 tons ha-1, straw of 9.6 tons ha-1, carbon absorption in grain of 3.9 tons ha-1, carbon absorption in straw of 4.3 tons ha-1, profit in Indonesian Rupiahs of 17,670,000 and R/C of 2.41. Farmers' constraints on rice planting in the second growing season, especially in terms of capital, control of plant pests and organic fertilizer.
PENGARUH JARAK TANAM DAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP BIOMASA, KLOROFIL, DAN KADAR AIR RELATIF DAUN BAWANG MERAH FASE VEGETATIF Rajiman, Rajiman; Megawati, Sari; Anshori, Arif; Martini, Tri
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3954

Abstract

The aim of this study was to study the effect of plant spacing and variations of inorganic fertilizers on the biomass, chlorophyll, and relative moisture content of shallots in the vegetative growth phase. The research was conducted in May–June 2023 in Plembuatan Village, Playen District, Gunungkidul Regency, D.I. Yogyakarta. The study used a Complete Factorial Randomized Block Design with 3 replications. The first factor is the spacing (J), consisting of: J1 = 10x10 cm2, J2 = 10x15 cm2, J3 = 10x20 cm2, and J4 = 15x15 cm2. The second factor is the variation of inorganic fertilizers consisting of: N1 = basic fertilize of NPK Phonska r 250 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, follow-up I and II NPK Phonska 75 kg/ha, N2 = basic fertilizer of NPK Phonska 250 kg/ha, SP -36 150 kg/ha, follow-up I and II urea 25 kg/ha, N3 = basic fertilizer of NPK Phonska 400 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, follow-up I and II urea 25 kg/ha, and N4 = basic fertilizer of NPK phonska 250 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, follow-up I and II urea 25 kg/ha and KCl 18.75 kg/ha. The results showed that the spacing treatment and fertilizer variation significantly interacted with the parameters of plant height, number of leaves, oven dry weight per clump, chlorophyll a content, chlorophyll b content, total chlorophyll content and relative moisture content of leaf aged 4 WAP, but did not significantly interact with fresh weight per clump. The increase in plant spacing and variations in inorganic fertilizers did not significantly affect plant height, number of leaves and wet weight per clump. Keywords: Biomass, Chlorophyll, and Inorganic Fertilizers INTISARIPenelitian bertujuan mengetahui pengaruh jarak tanam dan variasi pupuk anorganik terhadap biomasa, klorofil, dan kadar air relatif daun bawang merah pada fase pertumbuhan vegetatif. Penelitian dilaksanakan bulan Mei–Juni 2023 di Desa Plembuatan, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi D.I. Yogyakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama jarak tanam (J), terdiri : J1 = 10x10 cm2, J2 = 10x15 cm2, J3 =10x20 cm2, dan J4 = 15x15 cm2. Faktor kedua  variasi pupuk anorganik terdiri : N1 =  Pupuk dasar NPK phonska 250 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, susulan I dan II  NPK Phonska 75 kg/ha, N2 =  Pupuk dasar NPK phonska 250 kg/ha, SP-36 150 kg/ha,  susulan I dan II   urea 25 kg/ha, N3 =  Pupuk dasar NPK phonska 400 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, susulan I dan II  urea 25 kg/ha,  dan N4 =  Pupuk dasar NPK phonska 250 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, susulan I dan II urea 25 kg/ha dan KCl 18,75 kg/ha. Hasil penelitian menghasilkan perlakuan jarak tanam dan variasi pupuk nyata berinteraksi terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, bobot kering oven per rumpun, kandungan klorofil a, kandungan klorofil b, kandungan klorofil total dan kadar air relatif daun bawang umur 4 MST, tetapi tidak nyata berinteraksi terhadap bobot basah per rumpun. Peningkatan jarak tanam maupun variasi pupuk anorganik tidak nyata mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot basah per rumpun. Kata Kunci : Biomasa, Klorofil, dan Pupuk Anorganik.
PENERAPAN SISTEM TUMPANG SARI PADI GOGOKEDELAI DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN GUNUNGKIDUL TERHADAP PERUBAHAN SIFAT TANAH, HASIL DAN ANALISIS USAHA TANI Riyanto, Damasus; Hendrata, Reki; Anshori, Arif
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 28 No. 1 (2021): Juli
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55259/jiip.v28i1.64

Abstract

Program intensifikasi pertanian dalam meningkatkan ketahanan pangan dapat dilakukan dengan tumpang sari padi gogo-kedelai. Penerapan turinan padi gogo-kedelai dengan varietas unggul diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan pada tingkat regional maupun nasional,mengantisipasi perubahan iklim serta memaksimalkan penggunaan lahan Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penerapan turiman padi gogo-kedelai terhadap sifat-sifat tanah, pertumbuhan dan produktivitasnya serta analisis usaha taninya. Penelitian dilakukan di Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul pada bulan November 2019 Maret 2020 di lahan sawah tadah hujan. Rancangan Percobaan menggunakan RAKL dengan 3 ulangan. Benih padi gogo dan kedelai ditanam dengan cara ditugal yaitu 4 baris padi gogo dan 4 baris kedelai menggunakan sistem tanam rapat. Jarak tanam padi 20 cm x 15 cm x 100 cm dan kedelai 30 cm x 15 cm x 100 cm. Varietas padi yang ditanam adalah Inpago 9 dan Inpari 19, sedangkan kedelai Dena 1 dan Grobogan. Masing-masing kombinasi perlakuan sebanyak 4 pola tanam disemprot dengan 2 macam Pupuk organik cair yaitu : fermentasi MOL daun gamal dan fermentasi MOL bonggol pisang dengan aplikasi 200 ml/10 liter air. Hasil penelitian menunjukkan pola tanam Inpari 19- kedelai Dena 1 ditambah penyemprotan POC daun gamal menunjukkan hasil tertinggi yaitu 5,87 ton/ha GKG dan 1,48 ton/ha kedelai, sedang hasil terendah pada turiman Inpago 9 kedelai Grobogan yaitu 4,34 ton/ha GKG dan 1,16 ton/ha kedelai. Perhitungan analisis usaha tani untuk ke-4 pola tanam Inpago 9-kedelai Dena 1, Inpago 9-Grobogan, Inpari 19Dena 1 dan Inpari 19-Grobogan semuanya menunjukkan layak usaha taninya dengan nilai B/C dan R/C rasio berkisar pada nilai rata-rata masing-masing 1,27 dan 2,28 serta lebih menguntungkan dibandingkan penerapan sistem monokultur padi atau kedelai saja.