Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

COPING STRESS ISTERI DALAM PERKAWINAN POLIGINI DI KOTA BANJARMASIN Siti Faridah
Muadalah Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Studi Gender & Anak
Publisher : Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/mu'adalah.v4i2.2115

Abstract

Setiap perempuan berharap menikah dengan seorang laki-laki dan menjadi isteri satu-satunya, namun harapan sering tidak sejalan dengan kenyataan. Di mana suami menghadirkan “madu” bagi isterinya dan isteri dihadapkan pada keputusan suami untuk berpoligini. Dalam keadaan demikian, ada isteri yang meminta atau menggugat cerai suaminya, namun ada yang bertahan dengan berbagai pertimbangan. Hasil penelitian terhadap istri (pertama) yang bertahan dalam perkawinan poligini menyatakan bahwa ketiga subjek menerapkan 1. Coping stress yang berfokus pada  aspek emosi (EFC) yaitu: a. Berusaha tidak mempermasalahkan poligini suaminya dengan bersikap biasa. b. Berusaha mengontrol emosi (sabar dan ikhlas). c Mengakui peran diri dalam perkawinan poligini suami. d. Tidak mampu menolak keinginan suami untuk berpoligini dan e. Berusaha mengembangkan diri dengan meminta nasehat, doa dan air doa kepada orangtua dan orang alim, rajin ke majelis taklim, berdoa, berzikir, salat malam dan ibadah lainnya untuk mendapatkan ketenangan. 2. Coping stress yang berfokus pada masalah (PFC) adalah a. Melakukan perencanaan terhadap perkawinan poligini suami.  b. Subjek 1 dan subjek 2 membiarkan suami menikah di bawah tangan. c. Meminta nasehat dan dukungan keluarga dan orang alim. d. Menganggap sebagai takdir Allah dan e. Berusaha melupakan masalah-masalah yang ada. Adapun faktor utama yang menyebabkan ketiga subjek mampu bertahan dalam perkawinan poligini adalah faktor agama dan faktor anak. Subjek 1 dan 3 menambahkan dengan faktor ekonomi, Faktor pendukung ketiga subjek adalah faktor kasih sayang. Subyek 1 dan 2 tidak siap dengan status janda, sedang subjek 3 karena faktor menjaga harga diri suami.Kata Kunci: Coping Stress, Poligini, Istri Bertahan dalam Perkawinan.
The Level of Academic Flow Among 11th Grade Students at State Islamic Senior High School 2 Hulu Sungai Utara Muhammad Syafi'i; Musfichin; Siti Faridah
Interdisciplinary Journal of Social Science and Education (IJSSE) Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Indonesian Academy of Social and Religious Research (IASRR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53639/ijsse.v2i1.16

Abstract

Academic Flow is a state in which an individual is fully focused and engaged in academic work or activities. It occurs when someone enjoys their work and maintains a high level of concentration, especially if the task aligns with their interests. The level of academic flow reflects the extent to which an individual experiences a flow state during the learning process or participation in academic activities. This flow experience encompasses full concentration, excitement, and a loss of awareness of time. The aim of this research is to assess the level of academic flow among students in the 11th grade of State Islamic Senior High School 2 Hulu Sungai Utara. The method employed is a quantitative survey with random sampling, involving 176 students. Data were collected through a questionnaire survey. The results indicate that the majority of students (60.8%) experience a moderate level of academic flow, 39.2% have a high level, while no students exhibit a low level (0%).
Manajemen Stres untuk Caregiver dengan Metode Dzikir dan Dukungan Sosial Azwar, Rahmad Nisfi; Izzati, Maya Nur; Rahimah, Siti; Fadhila, Mahdia; Faridah, Siti; Bahri, Melinda
Shihatuna : Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Vol 3 No 1 (2023) : Juni
Publisher : FKM UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/shihatuna.v3i1.12720

Abstract

Penyakit ialah salah satu bentuk Stressor, membuat para penderitanya terkhusus lansia mengalami kecemasan, stres dan bahkan sampai pada gangguan depresi. Hal ini pun bisa berdampak pada orang-orang terdekat khususnya keluarga, baik berdampak pada fisiologis ataupun faktor psikologisnya. Keluarga sampai bisa mengorbankan waktu dan tenaganya hingga membuat kelelahan serta memunculkan stres. Adapun orang yang merawat para lansia dengan PTM disebut dengan caregiver. Kemudian dari hal itu peneliti melakukan psikoedukasi manajemen stres kepada para lansia  dan khususnya kepada caregiver sebagai jalan keluar dalam permasalahan stres mereka, dengan metode dzikir dan juga dukungan sosial. Metode dzikir ini dipakai karena, dari dzikir ini memiliki manfaat yang sangat banyak untuk psikologisnya, diantara manfaatnya ialah meredakan stres, meningkatkan keberhargaan diri dan lainnya. Kemudian metode dukungan sosial juga menjadi fokus peneliti dalam psikoedukasi ini, hal ini juga didasari oleh manfaat dari dukungan sosial. Adapun bentuk dukungan sosial itu bermacam-macam, diantaranya memberi nasihat, membantu dalam aktivitas keseharian dan lainnya. Psikoedukasi ini melalui 3 langkah: yaitu tahapan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam tahap evaluasi peneliti melakukan wawancara mengenai pemahaman manajemen stres kepada caregiver dan menemukan hasil bahwa caregiver memenuhi aspek pemahaman.