Thomas Eko Purwata
Department Of Neurology, Faculty Of Medicine, Universitas Udayana/ Sanglah General Hospital

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Diagnosis dan Manajemen Fibromialgia Purwata, Thomas Eko
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.998 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i5.1134

Abstract

Fibromyalgia (FM) syndrome is a common chronic pain syndrome characterized by widespread musculoskeletal pain and hyperalgesia. Despite increased awareness and understanding, FM remains underdiagnosed due to heterogeneity of its clinical presentation, pain site and comorbid conditions. The American College of Rheumatology (2010) proposed a simple, practical criteria more suitable for use in primary and specialty care for clinical diagnosis of fibromyalgia. Extensive researches suggested a neurogenic origin for the most prominent symptom of FM. The clinical presentation of FM is heterogeneous; treatment should be individualized, depends on pain severity, presence of other symptoms or comorbidities and degree of functional impairment.Fibromialgia (FM) merupakan sindrom nyeri kronik yang umum dijumpai, ditandai dengan nyeri muskuloskeletal yang tersebar luas disertai hiperalgesia. Meskipun pengetahuan dan pemahaman tentang fibromialgia meningkat, penyakit ini sering tidak terdiagnosis karena heterogenitas gambaran klinis, lokasi nyeri, dan kondisi komorbid. The American College of Rheumatogy (ACR) pada tahun 2010 merekomendasikan kriteria praktis yang lebih tepat digunakan dalam diagnosis klinis fibromialgia pada layanan kesehatan primer maupun spesialistik. Penelitian-penelitian skala besar membuktikan bahwa gejala paling mencolok pada FM bersifat neurogenik. Manifestasi klinis FM sangat bervariasi sehingga manajemennya bersifat individual, bergantung pada berat ringannya nyeri, ada tidaknya gejala lain atau komorbiditas, dan derajat gangguan fungsi yang terjadi.
Aspek Klinis dan Penatalaksanaan Meralgia Parestetika Astika, Domy; Purwata, Thomas Eko
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 2 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.798 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i2.1162

Abstract

Meralgia parestetika (MP) merupakan mononeuropati saraf kutaneus femoralis lateral (LFCN). LFCN sering mengalami kompresi pada ligamentum inguinale dan biasanya berhubungan dengan kehamilan, obesitas, dan pemakaian ikat pinggang ketat. Pasien mengeluhkan rasa kesemutan, baal, dan sensasi terbakar pada paha bagian lateral. Etiologi MP dapat spontan maupun iatrogen. Diagnosis MP ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan elektrodiagnostik. Pengobatan berupa terapi konservatif dan bedah.Meralgia paresthetica (MP) is an entrapment neuropathy of the lateral femoral cutaneous nerve (LFCN). The LFCN is frequently compressed at the inguinal ligament in relation to pregnancy, obesity, and tight belts. Patients present with numbness, tingling and painful burning sensation on the lateral thigh. The etiology can be spontaneous or iatrogenic. Diagnosis can be confirmed with anamnesis, physical and electrodiagnostic examination. Treatment consists of conservative and surgery management.
Trauma Medula Spinalis: Patobiologi dan Tata Laksana Medikamentosa Gondowardaja, Yoanes; Purwata, Thomas Eko
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.12 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1110

Abstract

Trauma medula spinalis merupakan keadaan yang dapat menimbulkan kecacatan permanen dan mengancam nyawa. Saat ini penggunaan kortikosteroid masih menjadi perdebatan di samping obat-obat baru yang diharapkan mampu memberikan pilihan terapi bagi pasien trauma medula spinalis.Spinal cord injury can cause disability and life threatening condition. Corticosteroid use is still controversial despite newest research. New management guideline recommendation is urgently needed.
KADAR ASAM URAT (AU) SERUM PADA PENDERITA TRAUMATIC BRAIN INJURY (TBI): SEBUAH STUDI POTONG-LINTANG ANALITIK Dwijo Anargha Sindhughosa; Thomas Eko Purwata; I Putu Eka Widyadharma; I Wayan Niryana
E-Jurnal Medika Udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Traumatic brain injury (TBI) didefinisikan sebagai cedera otak akut akibat adanya energi mekanik terhadap kepala yang berasal dari tenaga fisik eksternal. Patofosiologi TBI melibatkan adanya iskemia fokal maupun global. Penelitian menunjukkan adanya peningkatan kadar AU serum pada pasien dengan stroke iskemik akut (SIA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kadar AU serum pada penderita TBI berdasarkan derajat keparahannya. Penelitian ini merupakan studi potong-lintang analitik yang melibatkan total sampel sebanyak 96 pasien TBI baik laki-laki maupun perempuan. Kadar AU serum tinggi didefinisikan sebagai kadar AU serum >7,0 mg/dl pada laki-laki dan >6,0 mg/dl pada perempuan. Karakteristik sampel dianalisis secara deskriptif. Uji ANOVA satu arah dan analisis post hoc digunakan untuk menentukan perbedaan kadar AU serum berdasarkan derajat keparahan TBI. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan rerata kadar AU serum berdasarkan derajat keparahan TBI (5,81 ± 1,46 vs 6,61 ± 2,03 mg/dl vs 7,3 ± 2,06 mg/dl pada derajat ringan, sedang, dan berat ; p < 0,05). Kadar AU serum pada pasien TBI derajat sedang dan berat lebih tinggi secara signifikan dibanding pasien TBI derajat ringan.  
KORELASI LAMA DUDUK DENGAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA HOTEL THE GRAND SANTHI DENPASAR Adhiyoga Santosa; I Putu Eka Widyadharma; Thomas Eko Purwata
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.803 KB)

Abstract

Nyeri punggung bawah (NPB) sebagai masalah kesehatan umum didunia berada pada urutan kelima di Amerika sebagai keadaan yang membawa pasien untuk mencari pertolongan dokter. Lama duduk adalah salah satu faktor risiko yang dicurigai menyebabkan NPB.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi lama duduk dengan nyeri punggung bawah pada karyawan hotel. Penelitian ini dilakukan di Hotel The Grand Santhi Denpasar pada seluruh karyawan. Kuisioner dibagikan kepada seluruh karyawan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sejumlah 75 sampel yang didapatkan, 33% memiliki keluhan NPB. Setelah dianalisis terdapat korelasi yang tidak bermakna antara lama duduk dengan NPB (p = 0.172) dengan kekuatan korelasi yang sangat lemah (r = 0.156). Pada aktivitas fisik membungkuk didapatkan korelasi yang lemah dengan NPB (r=0,272; p = 0,014). Dari hasil tersebut diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara lama duduk dengan NPB, namun terdapat korelasi lemah yang bermakna antara kegiatan fisik membungkuk dengan NPB.  
PERBEDAAN KEJADIAN DEPRESI PADA KARYAWAN PEREMPUAN DENGAN LAMA KERJA PANJANG DAN LAMA KERJA PENDEK DI PERUSAHAAN BISMA GROUP DENPASAR Putu Stephanie Apriliana Hardika; Thomas Eko Purwata
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.259 KB)

Abstract

High prevalence of depression at productive ages placed this neuropsychiatry disturbance as one of the most often disease occurs at workplace. Several factors are contributed in the occurrence of depression, one of them is working time. The aim of this study was to determine the difference in prevalence of depression among female workers with long-time working and short-time working. This study was done at Bisma Group Company Denpasar by cross-sectional approached. All female workers were interviewed in order to get samples which fulfill inclusion and exclusion criteria. Depression status was measured by Hamilton Depression Rating Scale. Among 45 samples, 71.11% is developing depression. The prevalence of depression is found higher among female workers with long-time working: (1) depression with long duration of work is about 87.5% and (2) depression with long job tenure is about 86.4%. This study also found the significant difference in prevalence of depression with duration of work (p = 0.01) and job tenure (p = 0.027). The conclusion is the long-time working could increase the prevalence ratio of depression among female workers. In other words, there is significant difference in proportion of depression among female workers with long-time working and short-time working at Bisma Group Company Denpasar. Keywords: female workers, working time, depression
Ashitaba (Angelica keiskei) leaves extract prevents spatial memory impairment in male balb/c mice (Mus musculus) with brain aging Indah Mira Tiaraputri Wijaya; Wimpie Pangkahila; Thomas Eko Purwata
IJAAM (Indonesian Journal of Anti-Aging Medicine) Vol 5 No 1 (2021): Indonesian Journal of Anti-Aging Medicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36675/ijaam.v5i1.64

Abstract

Background: Memory impairment is one of the symptoms of aging process which can be caused by free radicals or oxidative stress. Antioxidants such as flavonoids are compounds that can inhibit reactive oxygen species (ROS). Ashitaba (Angelica keiskei) is one of the natural compound that contains high flavonoids. The purpose of this study was to prove that Ashitaba (Angelica keiskei) leaves extract prevents spatial memory impairment in male Balb/c mice (Mus musculus) with brain aging Methods: Experimental randomized pretest-posttest group using 26 mice, aged 3 months, healthy (active and willing to eat), weighing 20-30 grams. Mice were induced with oral D-Galactose of 300 mg/kgBW/day for 4 consecutive weeks to achieve the brain aging condition. Control group treated with placebo (2 ml of aquabidest), and another group was treated with Ashitaba leaves extract of 20 mg/kgBW/day. Before and after treatment for 28 days, spatial memory were examined using the Morris Water Maze method. Results: The results showed a significant decrease in probe test (from 72,9±5,69% to 40,8±5,10%; p<0,001) and the number of platform crossings (from 7,37±0,527 times to 4,50 ± 0,771 times; p<0,001) in the control group suggesting that D-Galactose-only treatment impaired spatial memory. In contrast, the group treated with D-Galactose and Ashitaba leaves extract, there was no change in probe test (from 72,1±5,9% to 66,0±6,72%; p>0,05) and number of platform crossings (from 7,65±0,881 times to 6,98±0,787 times; p>0,05). Conclusion: This study indicated that Ashitaba (Angelica keiskei) leaves extracts prevented spatial memory impairment in male Balb/c mice (Mus musculus) with brain aging.
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN TELEPON PINTAR DENGAN KEJADIAN NYERI LEHER PADA DEWASA MUDA USIA 18-24 TAHUN Komang Wiswa Mitra Kenwa; I Gusti Ngurah Purna Putra; Thomas Eko Purwata
Callosum Neurology Vol 1 No 3 (2018): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.285 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v1i3.26

Abstract

Latar belakang: Beberapa masalah yang muncul dalam penggunaan telepon genggam antara lain efek kecanduan, anti sosial, dan permasalahan kesehatan seperti nyeri pada leher, lelah otot, dan kaku otot. Objektif: Untuk mengetahui adanya hubungan antara penggunaan telepon pintar dengan kejadian nyeri leher pada dewasa muda berusia 18-24 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan menggunakan kuesioner mengenai kebiasaan penggunaan telepon pintar dan mengenai riwayat nyeri leher. Data dianalisis dengan menggunakan analisis bivariat korelasional. Hasil: Terdapat 118 responden dengan proporsi perempuan 89 orang (75,4%) dan laki-laki yaitu 20 orang (24,6%). Usia rata-rata responden adalah 19,4 tahun. Akumulasi durasi penggunaan telepon pintar rata-rata 7,54 jam. Prevalensi nyeri leher adalah 83,1% dengan rata-rata skala nyeri leher adalah 2,79. Analisis durasi penggunaan telepon pintar dan skala nyeri leher menunjukan korelasi lemah (0,209) yang signifkan dimana peningkatan durasi penggunaan dapat meningkatkan skala nyeri leher (p = 0,023). Simpulan: Terdapat hubungan lemah namun bermakna antara durasi penggunaan telepon pintar dengan kejadian nyeri leher pada individu dewasa muda. Kata Kunci: Durasi Pemakaian, Telepon Pintar, Nyeri Leher, Dewasa Muda
Trauma Medula Spinalis: Patobiologi dan Tata Laksana Medikamentosa Yoanes Gondowardaja; Thomas Eko Purwata
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1110

Abstract

Trauma medula spinalis merupakan keadaan yang dapat menimbulkan kecacatan permanen dan mengancam nyawa. Saat ini penggunaan kortikosteroid masih menjadi perdebatan di samping obat-obat baru yang diharapkan mampu memberikan pilihan terapi bagi pasien trauma medula spinalis.Spinal cord injury can cause disability and life threatening condition. Corticosteroid use is still controversial despite newest research. New management guideline recommendation is urgently needed.
Diagnosis dan Manajemen Fibromialgia Thomas Eko Purwata
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i5.1134

Abstract

Fibromyalgia (FM) syndrome is a common chronic pain syndrome characterized by widespread musculoskeletal pain and hyperalgesia. Despite increased awareness and understanding, FM remains underdiagnosed due to heterogeneity of its clinical presentation, pain site and comorbid conditions. The American College of Rheumatology (2010) proposed a simple, practical criteria more suitable for use in primary and specialty care for clinical diagnosis of fibromyalgia. Extensive researches suggested a neurogenic origin for the most prominent symptom of FM. The clinical presentation of FM is heterogeneous; treatment should be individualized, depends on pain severity, presence of other symptoms or comorbidities and degree of functional impairment.Fibromialgia (FM) merupakan sindrom nyeri kronik yang umum dijumpai, ditandai dengan nyeri muskuloskeletal yang tersebar luas disertai hiperalgesia. Meskipun pengetahuan dan pemahaman tentang fibromialgia meningkat, penyakit ini sering tidak terdiagnosis karena heterogenitas gambaran klinis, lokasi nyeri, dan kondisi komorbid. The American College of Rheumatogy (ACR) pada tahun 2010 merekomendasikan kriteria praktis yang lebih tepat digunakan dalam diagnosis klinis fibromialgia pada layanan kesehatan primer maupun spesialistik. Penelitian-penelitian skala besar membuktikan bahwa gejala paling mencolok pada FM bersifat neurogenik. Manifestasi klinis FM sangat bervariasi sehingga manajemennya bersifat individual, bergantung pada berat ringannya nyeri, ada tidaknya gejala lain atau komorbiditas, dan derajat gangguan fungsi yang terjadi.