Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Adaptation and Mitigation Strategies of Climate Change From Agricultural Sector In the Tabalong District (South Borneo) Rian Yaitsar Chaniago; Rachmat Boedisantoso; Arie Dipareza Syafei
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 15, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24433527.v15i1.8985

Abstract

Agriculture and climate change have a complex causal relationship. The agricultural sector produces large amounts of Green House Gases (GHG) such as CH4, CO2, and N2O which affect the climate. One of the consequences of climate change is an increase in rainfall. This has caused 2,971.51 ha of submerged and damaged rice fields in the Tabalong District. This study aims to determine the climate change adaptation and mitigation strategies of the agricultural sector in the Tabalong District. Emission measurements and mapping of the distribution of GHG emissions are shown to support strategy determination. The GHG inventory is calculated using the Indonesian Ministry of Environment and Forestry method, mapping the distribution of emissions using the geographic information system method, and determining the best adaptation and mitigation strategies using the Analytic Hierarchy Process (AHP) with Expert Choice Software. The results showed that GHG emissions from the agricultural sector of the Tabalong District until 2030 amounted to 191,384 tCO2e / year.  There are five Sub-districts identified as the largest GHG-producing districts from the mapping of the distribution of GHG. The results of the AHP synthesis show that there are three strategies for climate change adaptation and four strategies for climate change mitigation
SOSIALISASI PENGURANGAN DAN PEMILAHAN SAMPAH DI SMP PLUS MURUNG PUDAK Rian Yaitsar Chaniago
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.15048

Abstract

Pengelolaan sampah telah menjadi perhatian utama akibat peningkatan jumlah produksi tiap tahunnya dan berdampak pada peningkatan masalah lingkungan dan kesehatan manusia. Pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk sekolah. Sekolah memiliki peranan penting sebagai wadah yang tepat untuk penanaman dan pembentukan karakter peduli sampah sejak dini. Permasalahan kondisi mitra saat ini adalah pengelolaan sampah yang belum optimal. Hal ini disebabkan oleh tingkat pengetahuan siswa terhadap sampah yang masih kurang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan sosialisasi pengurangan dan pemilahan sampah di SMP Plus Murung Pudak. Terdapat 3 metode yang digunakan yakni metode demonstrasi dan audio visual untuk kegiatan pengurangan sampah, metode demonstrasi dan praktik lapangan untuk kegiatan pemilahan sampah, dan metode pre-test dan post-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa. Kegiatan pengurangan sampah yang direkomendasikan adalah penerapan 7R (Reduce, Reuse, Recycle, Rethink , Regift, Repair, dan Refuse). Kegiatan sosialisasi tersebut memiliki manfaat bagi siswa untuk memahami jenis-jenis sampah yang ada di sekitarnya dan langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah. Hasil menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi ini meningkatkan pengetahuan siswa terhadap pemilahan dan pengurangan sampah sebesar 18%.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA BANK SAMPAH DI INDONESIA Rian Yaitsar Chaniago
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v9i1.17432

Abstract

Bank sampah merupakan salah satu kebijakan pengurangan sampah yang diupayakan oleh pemerintah Indonesia. Selain sebagai strategi pengurangan sampah, implementasi bank sampah bertujuan untuk merubah paradigma masyarakat terhadap sampah, meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bank sampah saat ini tidak hanya sebatas tempat untuk jual beli sampah, namun telah berkembang menjadi unit pengolahan sampah. Kegiatan pada bank sampah bergantung dari jenisnya yakni Bank Sampah Induk (BSI) atau Bank Sampah Unit (BSU). Perbedaan antara kedua jenis bank sampah terletak pada jangkauan pelayanan dan kelengkapan fasilitas bank sampah. Saat ini, terdapat beberapa permasalahan yang terjadi pada bank sampah. Hal ini dibuktikan dari adanya penurunan presentase bank sampah di beberapa daerah. Penurunan presentase ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja bank sampah, antara lain: desain pengelolaan sampah, desain Standar Operasional Prosedur (SOP) pendirian bank sampah,infrastruktur bank sampah, sistem organisasi bank sampah, kompetensi pengelola bank sampah, sinergi antar pemangku kepentingan, partisipasi masyarakat, jenis sampah, dan rantai pasok sampah.Kata kunci: bank sampah, kinerja, sampah.
Sosialisasi Mitigasi Dampak Gelombang Tsunami Berbasis Ekosistem Mangrove di Pesisir Pantai Paseban Ririn Endah Badriani; Noven Pramitasari; Tika Kumala Sari; Intan Har Aselna; Rian Yaitsar Chaniago
PEKAT: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Puslitbang Sinergis Asa Professional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37148/pekat.v4i2.66

Abstract

Ekosistem Mangrove secara alami memiliki sistem perakaran kokoh dan struktur anatomi daun yang mampu meredam ombak besar, badai, abrasi, erosi, serta mencegah intrusi air laut ke wilayah daratan. Ekosistem mangrove juga berperan penting secara ekologis sebagai habitat bagi berbagai flora dan fauna, baik akuatik maupun darat, menyediakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan manusia, serta dukungan bagi sektor pariwisata. keberadaan mangrove sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan melindungi kawasan pesisir dari berbagai ancaman kerusakan. Ekosistem mangrove memiliki sistem perakaran yang kokoh serta anatomi daun yang dirancang secara alami untuk meredam ombak besar, mencegah abrasi dan erosi, serta menghalau intrusi air laut ke wilayah daratan Pantai Paseban terletak di Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember. Wilayah pesisir Pantai Paseban saat ini belum memiliki ekosistem mangrove, yang mengakibatkan wilayah tersebut rentan terhadap kerusakan akibat abrasi dan intrusi air laut. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa  sosialisasi kepada masyarakat sekitar, tokoh masyarakat, dan perangkat desa. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat adalah masyarakat pesisir Pantai Paseban Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya masyarakat daerah pesisir Pantai Paseban mengenai upaya mitigasi dampak gelombang tsunami berbasis ekosistem mangrove. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat pesisir Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan masyarakat mendapatkan pemahaman teoritis mengenai potensi bahaya tsunami, tetapi juga pengetahuan praktis mengenai bagaimana peran mangrove untuk meredam kekuatan gelombang tsunami, tata cara penanaman dan merawat mangrove secara berkelanjutan. Hasil dari kegiatan ini dapat menambah pengetahuan  praktis masyarakat di pesisir pantai terkait peran mangrove serta cara penanaman dan perawatan mangrove.
POTENSI PEMANFAATAN SAMPAH MENJADI ENERGI KOTA BANJARMASIN BERDASARKAN KARAKTERISTIK KIMIA SAMPAH Chaniago, Rian Yaitsar
Jurnal Daur Lingkungan Vol 8, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/daurling.v8i2.367

Abstract

Waste management operations in Banjarmasin City are still a regional challenge due to the closure of the Basirih landfill. This closure has an impact on waste transportation and disposal activities in Banjarmasin City. The implementation of a new waste paradigm that views waste as a resource can be a solution for waste management in Banjarmasin City. The method used is Tchobanoglous et al (1993). Data on waste generation and composition in Banjarmasin City were obtained from the national waste inventory website. There are 5 elements that can explain the amount of energy content in waste including carbon, hydrogen, oxygen, nitrogen, and sulfur. The analysis results show that the chemical formula of Banjarmasin City waste per day without sulfur content is C49H68O22N (without water) and C49H75O26N (with water). Meanwhile, the chemical formula with sulfur content is C804H1122O365N16S (without water) and C804H1245O427N16S (with water). The energy content using wet weight is 9,808 Btu/lb or 22,813 kJ/kg. While the energy content if the waste uses dry weight is 9,201 Btu/day or 21,402 kJ/kg. This indicates that Banjarmasin City can utilize waste into energy.
Potensi Pemanfaatan Sampah menjadi Energi di Kabupaten Tabalong (Provinsi Kalimantan Selatan) Chaniago, Rian Yaitsar
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 13, No 2 (2025): July 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v13i2.93297

Abstract

Energy is essential for well-being, health, and socio-economic development, and the consumption of fossil fuels has caused various harmful environmental impacts, such as global warming and environmental pollution. Waste-to-energy converts waste into energy, creating significant benefits for both waste management and energy security. The purpose of this study was to determine the potential utilization of waste to energy in Tabalong Regency. The method used is the approach of chemical characteristics of waste. The analysis results indicate that the chemical formula of Tabalong Regency's daily waste without sulfur content is C79H117O37N (without water) and C79H126O42N (with water). Meanwhile, the chemical formula with sulfur content is C937H1386O442N12S (without water) and C937H1502O501N12S (with water). The chemical formula of waste with sulfur was then analyzed to determine the Waste to Energy (WtE) potential of waste in Tabalong Regency. The analysis results reveal that the potential energy using wet weight is 9,309 Btu/day or 21,653 kJ/kg. While the potential energy if the waste uses dry weight is 9,800 Btu/day or 22,794 kJ/kg.
Assessment Of Access To Sanitation For Communities In Tapin Regency, South Kalimantan Province Chaniago, Rian Yaitsar; Supraba, Intan; Firdiansyah, Agus
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 22 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 22 No. 2, Juli 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jkl.v22i2.1044

Abstract

Providing access to sanitation is one of the global and national commitments in order to improve people's welfare. Inadequate sanitation results in a number of health risks such as diarrhea, malnutrition, stunted growth, and several other health problems. The purpose of this study was to identify the accessibility of proper sanitation for the people of Tapin Regency. The scope of this study was the condition of sanitation facilities and infrastructure available in homes in Tapin District. The methods used in this research were interviews, field observations, and documentation. Data sources were determined using purposive sampling techniques. Based on the findings in the field, some people still practice open defecation even though they have a toilet at home. A more economically viable alternative for the community for a sustainable sanitation system is to concentrate on safe fecal disposal for those using latrines rather than building a new large-scale wastewater system. There are 5 indicators studied to determine the level of access to community sanitation, namely the availability of handwashing with soap and clean water facilities, access to proper sanitation, open defecation behavior, access to household wastewater management systems, and access to septage management systems. This study highlights the importance of using comprehensive sanitation indicators beyond basic latrine access, especially in rural areas where data is limited, local governments should prioritize investment in fecal sludge treatment infrastructure and strengthen community engagement in sanitation behavior change programs.  
ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM BERBASIS EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR PANTAI PASEBAN Dhokhikah, Yeny; Chaniago, Rian Yaitsar; Filzdzah, Cantika Almas; Lee, Wei Koon
Jurnal Pengabdian Masyarakat Aufa (JPMA) Vol. 7 No. 3 (2025): Vol. 7 No 3 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan Di Kota Padangsidipuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/jpma.v7i3.2134

Abstract

Pantai paseban merupakan salah satu daerah di Kabupaten Jember yang terdampak perubahan iklim akibat gelombang laut. Tantangan untuk melindungi masyarakat dan infrastruktur di wilayah ini sangat besar dan tindakan harus segera diambil jika konsekuensi terburuk dan solusi yang paling mahal harus dihindari. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah sosialisasi, edukasi, diskusi, dan pendampingan. Materi sosialisasi merupakan solusi dari permasalahan lapangan yang terjadi di wilayah pesisir Paseban. Materi berisikan tentang pengenalan dasar terhadap perubahan iklim, ekosistem pada wilayah pesisir, dan strategi adaptasi yang sesuai dengan kebutuhan mitra pengabdian. Kegiatan penyuluhan tentang perubahan iklim sangat diperlukan oleh masyarakat pesisir untuk mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi. Selain itu pada kegiatan ini juga dijelaskan bagaimana strategi adaptasi yang dapat diterapkan oleh masyarakat pantai paseban berbasis ekosistem mangrove. Terdapat beberapa manfaat dari ekosistem mangrove yakni sebagai strategi mitigasi tsunami, dapat mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan. Selain itu, manfaat lain dari ekosistem mangrove adalah dapat dimanfaatkan untuk membuat produk kerajinan, pengembangan usaha penangkapan dan budidaya kepiting, dan sebagai pengembangan ekowisata.
PERAN PEMULUNG DALAM PENGURANGAN SAMPAH: KAJIAN LITERATUR Rian Yaitsar Chaniago; Nanda Yaultsa
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v12i1.25784

Abstract

Pemulung adalah orang yang bekerja mengumpulkan barang-barang bekas dari jalanan, perumahan, dan nonperumahan, ke tempat pembuangan sampah yang kemudian akan dijual ke pengepul sampah. Pemulung akan memilah, membongkar, dan mencuci sampah yang dikumpulkan terlebih dahulu. Jumlah dan komposisi sampah yang dapat dikumpulkan oleh pemulung tergantung pada nilai jual dan fungsi sampah tersebut. Barang-barang yang memiliki nilai ekonomis dikumpulkan untuk selanjutnya dijual kepada pengepul sampah. Sebagian lainnya diambil dan digunakan untuk keperluan pribadi. Metode yang digunakan adalah studi literatur. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa peran pemulung dalam pengelolaan sampah sangatlah penting. Mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait pemilahan dan pengumpulan sampah. Oleh karena itu, keterlibatan pemulung secara aktif dalam pengelolaan sampah perlu dirancang sebagai strategi untuk mendukung terwujudnya paradigma baru pengelolaan sampah.