Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

INOVASI PENGOLAHAN AMPAS KEDELAI UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PENGRAJIN TAHU PADA MASA COVID DI DESA BATUMARTA I KECAMATAN LUBUK RAJA OKU Fifian Permata Sari; Munajat Munajat; Ardi Asroh
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.995 KB)

Abstract

Abstract Soybean dregs processing innovation is an innovation offered to tofu craftsmen partners in Batumarta I Village, Lubuk Raja District, OKU Regency to increase their income during the Covid pandemic. Tofu production activities in this village every day produce waste in the form of dregs. Soybean waste is usually thrown away or used as animal feed. To produce additional content for the tofu craftsmen, the dregs are reprocessed into commercially valuable snacks, for example, soybean dregs shredded. Amlai or Soybean Dregs Shredded is a new business option that can provide more profit for tofu craftsmen in Batumarta I village. Since entering the covid pandemic, many efforts have affected its impact, reducing sales turnover, including tofu making efforts. The solution given to tofu craftsmen is through processing the waste into other forms of snacks that can be sold for profit, one of which is Amlai (Shredded Soybean Dregs). Soybean dregs processing, the remainder of making tofu can be a commercial value financial product. Apart from generating profits, this business helps tofu craftsmen in handling their waste to create an environmentally friendly industry. The method used in this case is through assistance in the form of processing soybean dregs into shredded. Shredded dry texture has a long shelf life. The solutions provided are also through business management training, digital-based marketing for Amlai in order to attract market attention. The technology of processing soybean dregs into shredded soybean dregs (Amlai) will cancel a new business that can become a typical financial product of Batumarta I Village. With attractive packaging and online marketing, it is hoped that it will be able to increase the income of tofu craftsmen, especially during the Covid pandemic. Abstrak Inovasi pengolahan ampas kedelai merupakan inovasi yang ditawarkan pada mitra pengrajin tahu di Desa Batumarta I Kecamatan Lubuk Raja Kabupaten OKU untuk meningkatan pendapatan mereka selama masa pandemic covid.. Kegiatan produksi tahu setiap harinya di Desa ini menghasilkan limbah buangan berupa ampas. Ampas kedelai ini biasanya sering dibuang begitu saja atau dijadikan sebagai pakan ternak. Untuk menghasilkan kentungan tambahan bagi pengrajin tahu maka ampas diolah Kembali menjadi penganan yang bernilai komersil, contohnya adalah abon ampas kedelai . Amlai atau Abon Ampas Kedelai merupakan pilihan usaha baru yang dapat memberikan keutungan lebih bagi pengrajin tahu di Desa Batumarta I. Bahan baku yang banyak tersedia sebagai hasil sisa olahan tahu merupakan sumber daya yang bisa diolah untuk meningkatkan pendapatan khususnya di masa covid. Semenjak masuk masa pandemic covid, banyak usaha yang terkena dampaknya sehingga menurunkan omset penjualan, termasuk usaha pembuatan tahu. Solusi yang diberikan pada pengrajin tahu adalah melalui olahan limbahnya menjadi bentuk penganan lain yang bisa dijual untuk mendatangkan keuntungan salah satunya adalah Amlai (Abon Ampas Kedelai). Pengolahan ampas kedelai sisa pembuatan tahu bisa menjadi produk andalan yang bernilai komersil. Selain mendatangkan keuntungan, usaha ini membantu pengrajin tahu dalam penanganan limbahnya untuk mewujudkan industri ramah lingkungan. Metode yang digunakan dalam hal ini adalah melalui pendampingan berupa pengolahan ampas kedelai menjadi abon. Abon dengan tekstur kering memiliki daya simpan yang cukup lama. Solusi yang diberikan juga melalui pelatihan manajemen kelola usaha, pemasaran berbasis digital untuk Amlai agar dapat menarik perhatian pasar. Teknologi pengolahan ampas kedelai menjadi abon ampas kedelai (Amlai) akan memunculkan usaha baru yang dapat menjadi produk andalan khas Desa Batumarta I. Dengan kemasan yang menarik dan pemasaran online diharapkan mampu meningkatkan pendapatan pengrajin tahu khususnya di masa pandemic covid.
PEMBUATAN POC ASAL KEONG MAS DI DESA GUNUNG KURIFAN KECAMATAN PENGANDONAN OKU Ardi Asroh; Novriani Novriani
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (ABDIMAS) Universitas Baturaja Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (ABDIMAS) Universitas Baturaja
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54895/abdimu.v5i2.3180

Abstract

Keong mas merupakan salah satu hama utama tanaman padi yang berdampak negatif terhadap produktivitas pertanian. Namun, hama ini berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Desa Gunung Kuripan, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, dengan tujuan memberikan edukasi kepada petani mengenai teknik pembuatan dan aplikasi POC berbahan dasar keong mas. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, tanya jawab, dan praktik langsung. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias dalam menerima informasi ini, karena POC dari keong mas dapat menjadi solusi dalam mengatasi kelangkaan pupuk anorganik sekaligus mengendalikan hama. Kandungan nutrisi dan mikroorganisme dalam POC keong mas mendukung peningkatan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN MENJADI ECO ENZYME SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN Nurlaili Nurlaili; Gribaldi Gribaldi; Ema Pusvita; Novriani Novriani; Ardi Asroh; Yulhasmir Yulhasmir; Susanti diana; Nurmala Dewi; Endang Lastinawati; Henny Rosmawati; Putri Ayu Ogari; Windi Lestari; Firnawati Sakalena; Livia Vinota
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 6, No 4 (2026): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v6i4.3091

Abstract

Improperly managed agricultural waste can cause environmental pollution and reduce its economic value. This community service program aimed to improve community knowledge and skills in converting agricultural waste into eco enzyme to support sustainable agriculture. The program was conducted in Batu Winangun Village, Ogan Komering Ulu Regency, Indonesia, involving 20 participants using the Participatory Rural Appraisal (PRA) approach through educational sessions, demonstrations, hands-on practice, mentoring, and evaluation using observations, pre-tests, and post-tests. The results showed that all participants completed the training, 95% successfully produced eco enzyme according to the recommended formulation, 90% understood the fermentation process and its applications, and all participants expressed their intention to apply the technology independently. The program effectively enhanced community capacity in managing organic agricultural waste based on circular economy principles, producing value-added products that support sustainable agriculture while reducing the potential for environmental pollution. ABSTRAKLimbah pertanian yang belum dikelola secara optimal berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan kehilangan nilai ekonomi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah pertanian menjadi eco enzyme untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Batu Winangun, Kabupaten Ogan Komering Ulu, dengan melibatkan 20 peserta menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) melalui penyuluhan, demonstrasi, praktik, pendampingan, serta evaluasi menggunakan observasi, pre-test, dan post-test. Hasil menunjukkan seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai, 95% mampu membuat eco enzyme sesuai formulasi, 90% memahami proses fermentasi dan pemanfaatannya, serta seluruh peserta berminat menerapkannya secara mandiri. Pelatihan ini efektif meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah organik berbasis ekonomi sirkular sehingga menghasilkan produk bernilai tambah yang mendukung pertanian berkelanjutan sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DARI URINE KAMBING DI DESA TANJUNG SARI, KABUPATEN OKU Nurlaili Nurlaili; Ema Pusvita; Gribaldi Gribaldi; Ardi Asroh; Novriani Novriani; Ekawati Danial; Yulhasmir Yulhasmir; Susanti Diana; Nurmala Dewi; Firnawati Sakalena; Dora Fatmanurshanti; Endang Lastinawati; Henny Rosmawati; Putri Ayu Ogari; Windi Lestari
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 6, No 1 (2026): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v6i1.2545

Abstract

This Community Service (PkM) activity was carried out in Tanjung Sari Village, Pengandonan District, Ogan Komering Ulu Regency (OKU), to improve the knowledge and skills of farmers/breeders in utilizing goat urine waste as raw material for liquid organic fertilizer (POC). The main problem of the community is the dependence on chemical fertilizers and the lack of optimal use of livestock waste that has the potential to pollute the environment. The implementation method is carried out through counseling, training, and demonstrations of making POC using local ingredients (goat urine, ginger-turmeric-galangal rhizomes, EM4, dolomite, shrimp paste, and molasses). POC is fermented for two weeks and applied to corn and vegetable crops at a dose of 200 ml/L of water. Field observations showed that plants that were given POC had greener leaves, stronger stems, and more uniform growth compared to controls without POC. This activity improves farmers' practical skills in producing organic fertilizers independently and encourages productive livestock waste management. Thus, this PkM contributes to increasing crop productivity and strengthening sustainable agricultural practices in Tanjung Sari Village.ABSTRAKKegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani/peternak dalam memanfaatkan limbah urine kambing sebagai bahan baku pupuk organik cair (POC). Permasalahan utama masyarakat adalah ketergantungan pada pupuk kimia dan belum optimalnya pemanfaatan limbah ternak yang berpotensi mencemari lingkungan. Metode pelaksanaan dilakukan melalui penyuluhan, pelatihan, dan demonstrasi pembuatan POC menggunakan bahan lokal (urine kambing, rimpang jahe-kunyit-lengkuas, EM4, dolomit, terasi, dan molase). POC difermentasi selama dua minggu dan diaplikasikan pada tanaman jagung dan sayuran dengan dosis 200 ml/L air. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan tanaman yang diberi POC memiliki daun lebih hijau, batang lebih kuat, serta pertumbuhan lebih seragam dibandingkan kontrol tanpa POC. Kegiatan ini meningkatkan keterampilan praktis petani dalam memproduksi pupuk organik secara mandiri serta mendorong pengelolaan limbah ternak yang produktif. Dengan demikian, PkM ini berkontribusi pada peningkatan produktivitas tanaman dan penguatan praktik pertanian berkelanjutan di Desa Tanjung Sari.