Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENGARUH KONSENTRASI BAHAN STABILISATOR PEG 1000 DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP KESTABILAN DIMENSI KAYU KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) Lusyiani Lusyiani; Violet Burhanuddin; Putri Nadilla
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v3i3.2270

Abstract

Kayu bersifat higroskopis dan anisotropis, karena itulah untuk meningkatkan kualitas kayu diperlukan suatu perlakuan stabilisasi dimensi.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh konsentrasi Polyethylene Glycol 1000 dan waktu perendaman terhadap stabilisasi dimensi kayu yakni nilai penyusutannya.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Polyethylene glycol 1000, kayu Kecapi dan air suling sebagai pelarutnya.  Proses stabilisasi dimensi dilakukan dengan menggunakan metode proses difusi bulking yang mengganti bahan penstabilnya dengan air.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 120 buah sampel.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Polyethylene Glycol 1000 pada tingkat konsentrasi 30% dan lama perendaman 5 hari memiliki nilai stabilisasi dimensi terbaik untuk semua parameter yang diuji.  Tingkat konsentrasi tertinggi untuk Polyethylene Glycol 1000 dan lama perendaman yang terlama, nilai penyusutannya paling kecil dan juga dapat meningkatkan nilai stabilisasi dimensi.Wood is hygroscopic and anisotropic, hence it is needed to improve the quality of wood by dimension stabilization treatment. The aim of study is to examine the effect of Polyethylene Glycol  1000 concentration and soaking time on the shrinkage rate stabilization dimensions. Polyethylene glycol 1000 and Kecapi wood were used in the research and distilled water as a solvent.  Stabilization was carried out by bulking method that replaced stabilizer material with water by diffusion process.  A member of 120 pieces samples were used in the study. The research results showed that Polyethylene Glycol  1000 at 30% concentration level and 5 days of soaking time have the best value of stabilization for all tested parameters.  The hingher level concentration of Polyethylene Glycol 1000 and the longer immersion time, smaller shrinkage and increasing the value of stabilization dimensions, as well.
SIFAT FISIKA DAN KETEGUHAN PATAH PAPAN SEMEN PARTIKEL DARI PELEPAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jack) Violet Burhanuddin
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v13i1.1499

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku papan semen partikel dan untuk mengetahui sifat fisika dan mekanika papan semen partikel pada berbagai perbandingan semen dan partikel dari dua merek semen (Tonasa dan Tiga Roda). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 2 x 3 sebanyak 5 kali ulangan, dimana faktor A adalah merek semen yaitu semen tonasa dan semen Tiga Roda kemudian faktor B adalah perbandingan antara partikel dan semen. Hasil pengujian sifat fisika dan mekanika masing-masing menunjukan pengaruh yang sangat berbeda nyata, hal ini disebabkan karena semakin banyak penambahan jumlah perekat semen maka semakin baik pula sifat fisika dan mekanika papan semen yang dibuat, sedangkan untuk faktor merek semen tidak menunjukan perbedaan yang nyata.Kata kunci : Pelapah kelapa sawit, sifat fisika dan mekanika, papan semen partikel
SIFAT FISIKA DAN NILAI KETEGUHAN REKAT KAYU KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) Violet Burhanuddin; Diana Ulfah; Rika Emelya
Jurnal Hutan Tropis Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v4i2.3601

Abstract

The research  aim was to determine the physical properties and bonding strenght value of Kecapi wood, and the relationship between the above both parameters, as well.  The above knowledge will be implemented in producing wood products. The ASTM D 143-52 dan ASTM D 1759-64 standard (1975) were used in order to test the physical properties and the bonding strength value.  The research result showed as followed average value of density based on the volume of dried air was 0,42; density based on the volume of dried kiln 0,43; wood moisture content 15,90%; radial shrinkage 2,75%; tangential shrinkage 4,22% and longitudinal shrinkage 0, 13%; anisotropy value was 2,37%; bonding strength value 64,11 kg/cm2 and timber damage 2,0%.The strenght of the wood is III – IV, and durability class as IV-V.  The wood has a high level of defect free and different shrinkage on the three-way cross-section.  Also, the research result showed that the bonding strenght complied with standard and timber damage was low.  So, koetjape wood may be recommended to be products by using glue-bond technology.  Meanwhile the relationships between physical properties and the bonding strength showed that only moisture content which had strong relation with bonding strength, namely r = 0,916.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika dan nilai keteguhan rekat kayu Kecapi (Sandoricum koetjape Merr) serta mengetahui hubungan antara sifat fisika dengan nilai keteguhan rekat kayu. Sifat fisika dan keteguhan rekat ini akan diaplikasikan untuk pemanfaatan produk kayu yang cocok berdasarkan sifat dasar dan besarnya kekuatan kayu tersebut. Pengujian sifat fisika dan nilai keteguhan rekat ini menggunakan standar ASTM D 143-52 dan ASTM D 1759-64 (1975). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai berat jenis berdasarkan volume kering udara 0,42, berat jenis berdasarkan volume kering tanur 0,43, nilai kadar air 15,90%, penyusutan radial 2,75%, penyusutan tangensial 4,22% dan penyusutan longitudinal 0,13%, nilai anisotropi 2,37%.  Rata-rata nilai keteguhan rekat 64,11 kg/cm2 dan rata-rata kerusakan kayu 2,00%. Berdasarkan nilai berat jenis, kayu ini termasuk kategori berat sedang yang memiliki kelas kuat (III-IV) dan kelas awet (IV-V). Kayu kecapi memiliki tingkat bebas cacat yang tinggi dengan nilai penyusutan kayu pada tiga arah penampang memiliki penyusutan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keteguhan rekat memenuhi standar dengan nilai kerusakan kayunya rendah, jadi kayu Kecapi dapat digunakan sebagai kayu yang memiliki kekuatan rekat yang baik untuk dijadikan produk dengan menggunakan teknologi perekatan. Berdasarkan hasil analisis regresi linear hubungan sifat fisika (berat jenis, kadar air dan penyusutan kayu) dengan keteguhan rekat kayu menunjukkan hanya kadar air yang berpengaruh nyata terhadap nilai keteguhan rekat (r = 0,916). Hal tersebut diduga adanya perlakuan terhadap posisi kayu dalam batang yang tidak sama.
KUALITAS BRIKET ARANG DARI KULIT SABUT BUAH NIPAH (Nypa fruticans WURMB) DALAM MENGHASILKAN ENERGI The qualty of charcoal briquettes that made from nypah (nypa fruticans wurmb) outshel to product energy Rosidah Muis Radam; Lusyiani Lusyiani; Diana Ulfah; Noor Mirad Sari; Violet Violet
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i1.5105

Abstract

The availability skin fiber of fruit Nipah abundant each season can be used as alternative energy sources such. The purpose of this study is to determine the quality of charcoal briquettes from the skin fiber of nipah peel in its ability to produce energy. The results of this study can be used as a consideration in the development of the utilization of the nipah plant part of the fruit peel as briquette fuel. The method used is to compare the capability of 1 kg of charcoal briquettes compared to the 1 liter kerosene capability inserted in the Hock stove with 16 axis in producing energy. The test do the Laboratory of Standardization Center for Industry of Banjarbaru. The Charcoal briquettes in this study contain 5.12% water content, ash content 4.15%, airborne content 36.66%, carbon content bound 58.19% and calorific value 5438,80 cal / gram. The results of charcoal briquette quality analysis when compared with SNI-01-6235-2000 charcoal quality standards of water content, ash content, and calorific values that meet the charcoal quality standard requirements as good fuel, but the content of fly and carbon bound does not meet the requirements charcoal quality standard, airborne content of 33.66% and carbon bound to 58.19%, according to SNI-01-6235-2000 maximum airborne content 15%. and carbon bound ≥ ≥ 77%. Average initial time of ignition for 3’25 “long smoldering 1 hour 9 ‘. The average time of boiling 1 liter of water is 22 ‘05 “. When compared to the use of kerosene by using the Hock stove with 16 axis and if converted to economic value, the charcoal briquettes results of this study can be used as a renewable energy alternative.Keywords: charcoal briquettes, skin fiber of fruit Nipah, energyKetersediaan kulit sabut buah Nipah yang melimpah setiap musimnya dapat dimanfaatkan menjadi sumber energy alternative. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui kualitas briket arang kulit sabut buah nipah dalam kemampuannya menghasilkan energy. Manfaat penelitian ini sebagai bahan infotmasi untuk mengembangkan teknologi pengolahan bagian tumbuhan nipah yaitu bagian kulit buah sebagai bahan bakar briket. Metode yang digunakan adalah membandingkan kemampuan 1 kg briket arang dibandingkan dengan kemampuan 1 liter minyak tanah yang dimasukkan dalam kompor Hock sumbu 16 dalam mengthasilkan energy. Pengujian dilakukan di Laboratorium Balai Risert Standardisasi Industri Banjarbaru. Briket Arang dalam penelitian ini mengandung kadar air 5,12 %, kadar abu 4,15 % , kadar zat terbang 36,66 % , kadar carbon terikat 58,19 % dan nilai kalor 5438,80 cal/gram. Hasil pengujian sifat Fisik dan Kimia briket arang dibandingkan dengan SNI-01-6235-2000, parameter kadar air, kadar abu, dan nilai kalor yang memenuhi persyaratan standar kualitas arang sebagai bahan bakar yang baik, namun kadar zat terbang dan karbon terikat tidak memenuhi 3’25” lama membara 1 jam 9’. Rata-rata waktu mendidihkan 1 liter air adalah 22’ 05”. Jika dibandingkan dengan pemakaian minyak tanah dengan memakai kompor Hock 16 sumbu dan jika dikonversi ke nilai ekonomi, maka briket arang hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai energy alternative yang bersifat renewableKata kunci: Briket arang, kulit sabut buah nipah, energy
VARIASI ARAH AKSIAL BATANG (PANGKAL DAN UJUNG) TERHADAP SIFAT MEKANIKA PAPAN LAMINASI KAYU KELAPA (Cocos nucifera L) DAN KAYU NANGKA (Arthocarpus heterophyllus L) Variation of Stem Axial Direction (Base and Top) to the Mechanical Properties of Laminated Board of Coconut Wood (Cocos nucifera L) and Jackfruit Wood (Arthocarpus heterophyllus L) Violet Violet; Agustina Agustina
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i1.5101

Abstract

The purpose of this research is to know the mechanical properties (MoE and MoR) and the bonding strength of laminated board made of coconat wood and jackfruit wood, based on the number of layers (3 and 5 layers) and the axial part of the stem (base and top) with 1,5 cm board thickness. The results showed that the mechanical properties (MoE and MoR) and bonding strength for 3 and 5 layers of the base of the stems were better than the 3 and 5 layers of the top part. Characteristics of laminated board decreases from the base of stem to the top of stem. The higher number of layers, MoE value tend to decrease, on the contrary MoR value tend to increase.  PVAc glue properties can make good bonding strength with low wood damage percentage. The results of this study showed that the best axial direction used in the manufacture of laminate board is the base of the stem. The result of laminated board can be used as construction materials of light building, furniture and other interior equipments.Keywords : Coconut wood; Jackfruit wood; laminated board; mechanical properties; bonding strengthTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat mekanika (MoE dan MoR) dan keteguhan rekat papan laminasi yang terbuat dari kayu kelapa dan kayu nangka berdasarkan jumlah lapisan (3 dan 5 lapis) dan bagian aksial batang (pangkal dan ujung) dengan ketebalan papan penyusun sebesar 1,5 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat mekanika (MoE dan MoR) dan keteguhan rekat 3 dan 5 lapis bagian pangkal batang lebih baik dibandingkan 3 dan 5 lapis bagian ujung. Karakteristik kayu laminasi menurun dari bagian pangkal batang kebagian ujung batang. Semakin banyak jumlah lapisan maka nilai MoE semakin menurun, sedangkan nilai MoR semakin tinggi.  Kekuatan perekat PVAc mampu menghasilkan keteguhan rekat yang baik dengan persentase kerusakan kayu yang rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa arah aksial terbaik yang digunakan dalam pembuatan papan laminasi adalah bagian pangkal. Hasil penelitian papan laminasi dapat digunakan sebagai bahan kontruksi bangunan ringan, meubel dan pembangunan interior lainnya.Kata Kunci : Kayu Kelapa; Kayu Nangka; Papan Laminasi; Sifat Mekanika; Keteguhan Rekat
PEMANFAATAN LIMBAH DARI CAMPURAN KULIT KAYU GALAM, TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT, SEKAM PADI DAN PUPUK ORGANIK MENJADI POT ORGANIK Muhammad Juriyan Noor; Violet Violet; Noor Mirad Sari
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i2.8540

Abstract

This study to analyze the physical properties (moisture content and density) and mechanical properties (Modulus of Elasticity and Modulus of Rupture) of organic pots from a mixture of Galam bark waste, empty bunches of oil palm, rice husks and organic fertilizers with and without adhesives. This study used a completely randomized factorial design with the standard SNI 03-2105-2006. The quality of organic pots, the physical properties of water content, only treatment A1B1 met the standard with a water content of 13.36%, while for treatment A1B2 (18.58%), A2B1 (14.16%), A2B2 (18.71%), A3B1 (15.89%) and A3B2 (21.96%) did not meet the standard with a maximum score of 14%. The density values obtained were for A1B1 (0.36 g/cm3), A1B2 (0.39 g/cm3), A2B1 (0.35 g/cm3), A2B2 (0.37 g/cm3), A3B1 (0.33 g/cm3), and A3B2 (0.36 g/cm3) did not meet the standard with a value of 0.4 to 0.9 g/cm3. The mechanical properties of fracture toughness (MoR) values obtained in the treatments A1B1 (0.14 kgf/cm2), A1B2 (5.96 kgf/cm2), A2B1 (0.31 kgf/cm2), A2B2 (8.30 kgf/cm2), A3B1 (0.62 kgf/cm2), and A3B2 (11.90 kgf/cm2) did not meet the standard of 82 kgf/cm2. The value of flexural strength (MoE) obtained in the treatments A1B1 (24.10 kgf/cm2), A1B2 (194.94 kgf/cm2), A2B1 (35.07 kgf/cm2), A2B2 (231.70 kgf/cm2), A3B1 (54.59 kgf/cm2), and A3B2 (273.03 kgf/cm2) do not meet the standard of 20,400 kgf/cm2.Tujuan Penelitian ini yaitu menganalisis sifat fisika (kadar air dan kerapatan) dan sifat mekanika (Modulus of Elasticity dan Modulus of Rupture) pot organik dari campuran limbah kulit kayu Galam, tandan kosong Kelapa Sawit, sekam padi dan pupuk organik dengan pemberian perekat dan tanpa perekat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan standar SNI 03-2105-2006. Kualitas pot organik sifat fisika kadar air hanya perlakuan A1B1 yang memenuhi standar dengan kadar air sebesar 13,36%, Sedangkan untuk perlakuan A1B2 (18,58%), A2B1 (14,16%), A2B2 (18,71%), A3B1 (15,89%) dan A3B2 (21,96%) tidak memenuhi standar dengan nilai maksimal sebesar 14%. Nilai kerapatan yang didapatkan untuk A1B1 (0,36 g/cm3), A1B2 (0,39 g/cm3), A2B1 (0,35 g/cm3), A2B2 (0,37 g/cm3), A3B1 (0,33 g/cm3), dan A3B2 (0,36 g/cm3) tidak memenuhi standar dengan nilai 0,4 sampai 0,9 g/cm3. Sifat mekanika keteguhan patah (MoR) nilai yang didapatkan pada perlakuan A1B1 (0,14 kgf/cm2), A1B2 (5,96 kgf/cm2), A2B1 (0,31 kgf/cm2), A2B2 (8,30 kgf/cm2), A3B1 (0,62 kgf/cm2), dan A3B2 (11,90 kgf/cm2) tidak memenuhi standar sebesar 82 kgf/cm2. Nilai keteguhan lentur (MoE) yang didapatkan pada perlakuan A1B1 (24,10 kgf/cm2), A1B2 (194,94 kgf/cm2), A2B1 (35,07 kgf/cm2), A2B2 (231,70 kgf/cm2), A3B1 (54,59 kgf/cm2), dan A3B2 (273,03 kgf/cm2) tidak memenuhi standar sebesar 20.400 kgf/cm2.
SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN PARTIKEL DARI CAMPURAN SERBUK KAYU AKASIA (Acacia auriculiformis) DAN SERBUK KULIT BATANG SAGU (Metroxylon sagu) Muhammad Hidayatullah Misin; Kurdiansyah Kurdiansyah; Violet Violet
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i5.10660

Abstract

Boards made from lignocellulosic materials or wood particles are particle boards by mixing adhesives and then pressing them by heating. Particle board is wildely used for raw material for decoration, construction, and furniture, so it needs good quality to ensure its strength. The purpose of the study was to analyze particle board for physical and mechanical properties from a mixture of acacia (Acacia auriculiformis) sawdust and pieces of sago (Metroxylon sagus) bark swadust using SNI 03-2105-2006 standards. The study used a CDR or completely randomized design using 5 tretments and 3 replications with has total of tests 15 samples. The research results for physical properties include water content with a value of 9.35 - 10.21%, density with a value of 0.63 - 0.86 gr/cm3, and thickness swelling with a value of 11.37 - 16.83%, from all treatments fulfilled the standartds. The results from research on mechanical properties of testing at the Forest Product Technology Lab showed that the MoE with the highest value was in treatment C with a value obtained of 429,713 kgf/cm2 and the MoR obtained with the highest value in treatment C of 6.524 kgf/cm2 where all treatments in the MoE and MoR tests were still not met the standards, while the results from the Banjarbaru Research Institute for Standardization and Industrial Services (BARISTAN) Lab obtained the MoE with the highest value in treatment C, namely 5,478.605 kgf/cm2 where none met the standard and the MoR was only treatment C and treatment D which met the standard.Papan yang terbuat dari bahan berlignoselulosa atau partikel kayu merupakan papan partikel dengan mencampurkan bahan perekat yang ditekan menggunakan pemanas. Kegunaan papan partikel untuk bahan baku dekorasi, kontruksi, dan furniture sehingga perlu kualitas yang bagus sehingga menjamin kekuatannya. Tujuan penelitian dilakukan untuk menganalisis sifat fisika dan mekanika papan partikel campuran serbuk Akasia (Acacia auriculiformis) dan potongan limbah Kayu Sagu (Metroxylon sagus) dengan menggunakan standar SNI 03-2105-2006. Analisis data yaitu rancangan acak lengkap atau RAL menggunakan 5 perlakuan serta 3 ulangan dengan jumlah uji seluruhnya 15 sampel. Hasil penelitian untuk sifat fisika meliputi kadar air dengan nilai 9,35 – 10,21 %, kerapatan dengan nilai 0,63 – 0,86 gr/cm3 dan pengembangan tebal dengan nilai 11,37 – 16,83 %, dari semua perlakuan memenuhi standar. Hasil penelitian sifat mekanika dari pengujian di Lab Teknologi Hasil Hutan bahwa nilai MoE tertinggi pada perlakuan C yaitu 429.713 kgf/cm2 dan nilai MoR tertinggi diperoleh di perlakuan C yaitu 6,524 kgf/cm2 dimana semua perlakuan pada uji MoE dan MoR masih belum memenuhi standar, sedangkan hasil dari Lab Balai riset Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Banjarbaru (BARISTAN) mendapatkan MoE dengan nilai tertinggi pada perlakuan C yaitu 5.478,605 kgf/cm2 dimana tidak ada yang memenuhi standar dan MoR hanya perlakuan C dan perlakuan D yang memenuhi standar.
KADAR AIR BIOPELET DARI SERBUK TUMBUHAN KELAKAI (Stenochlaena palustris (Burm F) Bedd) DAN SERBUK KAYU GALAM (Melaleuca cajuputi sub sp. Cumingiana) Ali Muhakim; Siti Hamidah; Violet Violet
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11737

Abstract

This study aims to determine the water content of biopelets made from the litter of kelakai plants and galam sawdust, according to applicable SNI standards. The biopelet testing procedure used was to use standards (SNI 8021-2014) and the experimental design used a Complete Randomized Design (CRD), with a total of 3 levels of mixed treatment, with 5 repeats so that the number of experiments became 3 x 5 tests = 15 test samples. The weight of the material is 40 grams for each treatment. Recording and processing of data from the results of the study is recorded in an observation table referring to the Complete Randomized Design (CRD) experiment. The resulting biopelet has an average density value cm3, water content in the range of 6.530% - 10.362% results obtained on treatments A, B and C, overall biopelet testing has met the test SNI standards used Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air biopelet yang terbuat dari serasah tumbuhan kelakai dan serbuk kayu galam, sesuai standar SNI yang berlaku. Prosedur pengujian biopelet yang digunakan yaitu menggunakan standar (SNI 8021-2014) dan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan jumlah perlakuan campuran sebanyak 3 tingkat, dengan 5 kali ulangan sehingga jumlah percobaan menjadi 3 x 5 ulangan =15 sampel uji. Berat bahan adalah 40 gram untuk setiap perlakuan. Pencatatan dan pengolahan data dari hasil penelitian dicatat pada tabel pengamatan yang mengacu pada percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Biopelet yang dihasilkan memilki nilai rata-rata kadar air kisaran  6,530% - 10,362%, Semua hasil pengujian yang didapat pada perlakuan A, B dan C, secara keseluruhan pengujian biopelet sudah memenuhi standar uji SNI
VARIASI BAHAN BAKU LIMBAH SERBUK ARANG ULIN DAN ARANG SEKAM PADI TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG Shinta Adjar Novita; Noor Mirad Sari; Violet Violet
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i3.9354

Abstract

Briket arang sebagai bahan tidak kalah dengan bahan bakar lainnya dimana disebut sebagai padatan bahan lunak dari proses karbonasi. Kayu Ulin bagus digunakan sebagai arang karena memiliki berat jenis yang tinggi sehingga kadar air yang terkandung rendah. Limbah sekam umumnya belum banyak dimanfaatkan, sebagian kecil dimanfaatkan untuk bahan bakar industri dan kompos. Tujuan dari penelitian yaitu menganalisis kualitas briket serta mengetahui perlakuan yang terbaik dari pembuatan briket arang dari serbuk arang ulin dan sekam padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap sebanyak 5 perlakuan dan 3 ulangan sehingga memiliki 15 sampel uji. Hasil dari penelitian yaitu kadar air perlakuan D memiliki nilai tertinggi (12,667 %) dan perlakuan B memiliki nilai terendah (2,8733 %) dimana perlakuan B dan C memenuhi standar, kadar abu pada perlakuan B memiliki nilai tertinggi (14,510 %) dan perlakuan E memiliki nilai terendah (13,646 %) dimana tidak ada memenuhi standar, zat terbang pada perlakuan A memiliki nilai tertinggi (28,2400%) dan perlakuan B memiliki nilai terendah (5,6867 %) dimana tidak ada yang memenuhi standar, karbon terikat pada perlakuan E memiliki nilai tertinggi (55,780 %) dan perlakuan A memiliki nilai terendah (37,227%) dimana perlakuan A saja yang tidak memenuhi standar, nilai Kalor pada perlakuan C memiliki nilai tertinggi (4367,366 kal/g) dan perlakuan A memiliki nilai terendah (3076,966 kal/g) dimana tidak ada yang memenuhi standar, serta kerapatan pada perlakuan A memiliki nilai tertinggi (0,8352 g/cm3) dan perlakuan E memiliki nilai terendah (0,5893 g/cm3) dimana tidak ada yang memenuhi standar.
KARAKTERISTIK BATA RINGAN DARI LIMBAH SEKAM PADI (Oryza sativa) DAN SERBUK KAYU AKASIA (Acacia mangium) Characteristics of Lightweight Bricks Made from Rice Husk Waste (Oryza sativa) and Acacia Wood Dust (Acacia mangium) Primananda Maulana Monoarfa; Kurdiansyah Kurdiansyah; Violet Violet
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.10582

Abstract

ABSTRACT. The increasing demand for housing today causes the need for building materials to increase as well. So far, various studies have been carried out but there is still no alternative to efficient construction techniques and the provision of building materials in large quantities and economically without damaging the environment. One solution to fulfil the increasing need for building materials and the abundance of rice husk waste in agricultural areas is to utilise rice husk waste and sawdust into lightweight brick products so that the need for bricks for housing construction can be available in large quantities. The purpose of this research is to analyse the characteristics of lightweight bricks made from rice husk and acacia sawdust waste by testing drying shrinkage, density, water absorption, and compressive strength and to analyse the composition of the mixture of materials that can produce lightweight bricks in accordance with the standard testing parameters.  The research utilized a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments, each repeated five times, resulting in a total of 15 test samples. The research findings indicate that the lightweight bricks produced had the lowest drying shrinkage in treatment C (25.02%) and the highest in treatment B (28.94%), possibly due to suboptimal drying during the brick molding process. The highest density was observed in treatment C (0.79 g/cm3), and the lowest in treatment B (0.76 g/cm3). The highest compressive strength was recorded in treatment C (0.56 N/mm2), whereas the lowest was in treatment A (0.41 N/mm2). Furthermore, the lowest water absorption was found in treatment B (73.52%), while the highest was in treatment A (81.35%). None of the lightweight bricks in the study met the standards for drying shrinkage, density, compressive strength, or water absorption with standards (SNI, 03-6825-2002)ABSTRAK. Makin meningkatnya kebutuhan perumahan saat ini menyebabkan kebutuhan akan bahan bangunan semakin meningkat pula. Selama ini berbagai penelitian sudah dilakukan tetapi masih belum ditemukan alternatif teknik konstruksi yang efisien serta penyediaan bahan bangunan dalam jumlah besar dan ekonomis tanpa merusak lingkungan. Salah satu solusi pemenuhan kebutuhan bahan bangunan yang semakin meningkat dan melimpahnya limbah sekam padi di areal pertanian adalah dengan memanfaatkan limbah sekam padi dan serbuk gergajian kayu menjadi produk bata ringan sehingga kebutuhan akan bata untuk konstruksi perumahan dapat tersedia dalam jumlah besar. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis karateristik bata ringan yang terbuat dari sekam padi dan limbah serbuk kayu akasia dengan pengujian susut pengeringan, kerapatan, serap air, dan kuat tekan serta menganalisi komposisi campuran bahan yang dapat menghasilkan bata ringan sesuai dengan standar parameter pengujian. Metode menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan jumlah percobaan sebanyak 3 perlakuan dengan 5 kali ulangan sehingga jumlah percobaan sebanyak 15 contoh uji. Hasil dari penelitian ini yaitu bata ringan yang dibuat memiliki karakteristik susut pengeringan terendah pada perlakuan C (25.02 %) dan tertinggi pada perlakuan B (28.94 %) dikarenakan kurang maksimalnya penjemuran saat pencetakan bata ringan, kerapatan tertinggi terdapat pada perlakuan C (0.79 g/cm3) dan terendah pada perlakuan B (0.76 g/cm3), kuat tekan tertinggi pada perlakuan C (0.56 N/mm2) dan terendah pada perlakuan A (0.41 N/mm2), serta serapan air terendah pada perlakuan B (73.52 %) dan tertinggi pada perlakuan A (81.35 %), serta bata ringan yang diberi perlakuan tidak ada yang memenuhi standar baik pada susut pengeringan, kerapatan, kuat tekan, maupun pada serapan air dengan menggunakan standar (SNI, 03-6825-2002)