Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Sistem Pelaporan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Menggunakan Arsitektur Microservices Muh. Afdal Ziqri Ramadhan; Bambang Pramono; Isnawaty Isnawaty
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13707

Abstract

Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di UPTD PPA Kota Kendari masih mempertukarkan status kasus secara manual antartahap, sehingga informasi mudah terputus dan sulit dipantau. Penelitian ini membangun sistem pelaporan dan manajemen kasus berbasis web dengan arsitektur microservices yang memisahkan layanan pelaporan dan layanan manajemen kasus, serta menerapkan RabbitMQ sebagai message broker untuk melakukan decoupling penyelarasan status antarlayanan, kemudian mengevaluasi apakah kompleksitas tersebut sepadan dengan karakteristik organisasi penggunanya. Sistem dikembangkan mengikuti Rational Unified Process pada kontainer Docker. Evaluasi mencakup dua eksperimen terpisah, yaitu pengujian beban menggunakan Apache JMeter terhadap lima endpoint pada beban 50, 100, dan 150 virtual user dengan pembanding versi monolitik, serta pengujian ketahanan melalui penyuntikan kegagalan terhadap 200 perubahan status ketika layanan pelaporan dimatikan. Hasilnya menunjukkan arsitektur monolitik mencapai performa setara pada empat dari lima endpoint meskipun hanya memperoleh separuh jatah CPU. Keunggulan microservices yang konsisten hanya ditemukan pada jalur tulis lintas layanan, dengan waktu respons 57,2 persen lebih rendah dan throughput 45,2 persen lebih tinggi pada beban 150 virtual user. Pengujian ketahanan menunjukkan seluruh perubahan status tertahan pada antrean dan tersinkron sepenuhnya setelah layanan pulih, sedangkan pada rancangan tanpa message broker seluruhnya hilang permanen. Disimpulkan bahwa kompleksitas microservices melampaui kebutuhan operasional instansi tersebut, sehingga pemilihan arsitektur perlu didasarkan pada karakteristik organisasi dan beban kerja yang sesungguhnya.
Perancangan Antarmuka Website Portal Kecamatan Menggunakan User Centered Design (Studi Kasus: Kecamatan Tinanggea) Muh Yusuf; Muh. Rabildzan; Ander Gibran Siregar; La Ode Nauval Aqiilah Tsaqif; Alvin S. Padangaran; Arriya Rahaldi Al Kandari; Bambang Pramono; Isnawaty Isnawaty; Muhammad Ihsan Sarita
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13682

Abstract

Transformasi digital pada tingkat kecamatan membutuhkan portal informasi yang tidak hanya menyajikan data wilayah, tetapi juga mendukung komunikasi dua arah antara masyarakat dan pemerintah. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan portal website Kecamatan Tinanggea dengan pendekatan User-Centered Design dan prinsip Human-Computer Interaction. Tahapan penelitian meliputi identifikasi masalah dan kebutuhan pengguna, perancangan antarmuka serta user flow, implementasi website, evaluasi usability, dan analisis hasil. Kebutuhan masyarakat dan administrator digunakan sebagai dasar untuk merancang struktur navigasi, penyajian informasi geografis-demografis, visualisasi data, formulir kontak, serta dashboard pengelolaan pesan. Implementasi antarmuka menerapkan prinsip consistency, visibility, feedback, affordance, recognition over recall, dan error prevention. Evaluasi dilakukan melalui inspeksi heuristik pada halaman beranda, halaman kontak, dan dashboard administrator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa portal berhasil mengintegrasikan informasi wilayah dan layanan komunikasi publik dalam satu antarmuka yang responsif. Konsistensi warna, struktur navigasi, penyajian data berbasis kartu, dan formulir kontak membantu pengguna menemukan informasi serta menyampaikan pesan dengan lebih mudah. Meskipun demikian, masih diperlukan penyempurnaan pada visibilitas status sistem, kejelasan pesan kesalahan, dan konfirmasi aksi kritis. Penelitian ini memberikan rancangan yang dapat menjadi dasar pengembangan layanan digital kecamatan yang lebih informatif, mudah digunakan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Temuan ini juga menunjukkan bahwa integrasi data dan komunikasi dalam satu portal dapat memperkuat transparansi layanan, mempercepat penyampaian aspirasi, dan menjadi acuan evaluasi berkelanjutan bagi pengelola kecamatan.