Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Kombinasi Trash Trap dan Eceng Gondok untuk Mengurangi Sampah serta Menurunkan Kadar BOD di Saluran Pembuang yang Menuju Sungai Sebangau Wingga Pratama; Haiki Mart Yupi; Allan Restu Jaya
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2026): Teras Jurnal (September 2026)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v16i2.1418

Abstract

Abstrak   Pencemaran air di saluran pembuang menuju Sungai Sebangau disebabkan limbah cair dan sampah padat, menurunkan kualitas air. Penelitian ini menganalisis trash trap dan fitoremediasi eceng gondok (Eichhornia crassipes) dalam mengurangi sampah dan kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD), melalui pengambilan sampel 15 hari pada tiga titik pengamatan. Trash trap menahan sampah rata-rata 2064,6 cm³ per hari, dengan BOD awal di hulu sebesar 82,45 mg/L. Fitoremediasi eceng gondok menurunkan BOD, optimal pada hari ke-3 sebesar 44,4%, namun meningkat pada hari ke-15 menjadi -51,3%. Tanaman mengalami kejenuhan ditandai dengan tanaman fitoremediasi berubah warna menjadi kuning dan layu sedangkan fluktuasi debit aliran dengan rentang 338.66 cm3/s sampai 1224.64 cm3/s. Debit tinggi membuat penyerapan zat pencemar kurang efektif (kadar BOD 43.1 mg/L diawal meningkat menjadi 65.2 mg/L), sedangkan debit rendah lebih efektif karena waktu tinggal air lebih lama (kadar BOD 67.3 mg/L diawal meningkat menjadi 37.4 mg/L). Sistem berpotensi menjadi metode penanganan limbah sederhana dan ramah lingkungan.   Kata kunci: Trash trap, eceng gondok, fitoremediasi, BOD, saluran pembuang     Abstract   Water pollution in the drainage channel leading to the Sebangau River is caused by liquid waste and solid trash, which degrade water quality. This study analyzes the effectiveness of a trash trap combined with water hyacinth (Eichhornia crassipes) phytoremediation in reducing solid waste and Biochemical Oxygen Demand (BOD) levels, using 15 days of sampling at three observation points. The trash trap retained an average of 2064.6 cm³ of solid waste per day, with an initial upstream BOD of 82.45 mg/L. Water hyacinth phytoremediation reduced BOD optimally on day 3, achieving a 44.4% reduction, but effectiveness declined by day 15, reaching -51.3%, indicating plant saturation marked by yellowing and wilting of the phytoremediation plants. Flow discharge fluctuated between 338.66 cm³/s and 1224.64 cm³/s, which affected pollutant absorption. High discharge resulted in less effective absorption, with BOD levels rising from 43.1 mg/L to 65.2 mg/L, whereas low discharge was more effective due to longer water retention time, with BOD levels decreasing from 67.3 mg/L to 37.4 mg/L. These findings suggest that the trash trap–phytoremediation system has potential as a simple, low-cost, and environmentally friendly method for wastewater and solid waste management, provided that flow discharge fluctuations and plant saturation periods are properly managed.   Keywords: trash trap, water hyacinth, phytoremediation, BOD, drainage channel.
ANALISIS POLA ALIRAN AIR TANAH PADA LAHAN GAMBUT TROPIS DI SEKITAR SALURAN BERSEKAT KOTA PALANGKA RAYA Azizi Rizaldy; Haiki Mart Yupi; Dwi Anung Nindito
CRANE: Civil Engineering Research Journal Vol 5 No 1 (2024): CRANE
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/crane.v5i1.12364

Abstract

Lahan gambut tropis di Desa Kalampangan merupakan semak belukar yang tumbuh setelah kebakaran lahan. Air tanah pada lahan gambut tropis mempunyai peran penting untuk menjaga kondisi lahan tetap basah. Fluktuasi muka air di saluran berkaitan dengan kondisi air tanah di sekitarnya. Untuk mengetahui aliran air tanah di sekitar saluran bersekat, maka dilakukan penggambaran peta pola aliran air tanah. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data tinggi muka air tanah pada 66 titik, dalam plot berukuran 100 m x 50 m. Pipa-pipa dibenamkan ke dalam tanah dengan posisi vertikal hingga mencapai tanah keras, selanjutnya dilakukan pengukuran. Tinggi muka air di saluran juga diukur, yaitu di bagian hulu dan hilir sekat. Pengukuran ketinggian muka air tanah dilakukan sebanyak 6 kali, saat musim kemarau. Hasil penelitian menunjukkan, pola aliran air tanah di sekitar saluran bersekat cenderung mengalir dari lahan ke arah bagian hilir. Tinggi muka air di saluran bagian hulu sekat, lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi muka air tanah pada lahan, yang menunjukkan sekat kanal membantu menjaga ketinggian muka air tanah pada lahan. Namun tinggi muka air di hilir sekat lebih rendah dibandingkan dengan tinggi muka air tanah pada lahan, sehingga arah aliran air tanah mengalir dari lahan ke bagian hilir saluran bersekat.
Analisis Hubungan Fluktuasi Tinggi Muka Air Di Saluran Pembuang Dengan Parameter Pencemar Air Yang Berasal Dari Kawasan Perkebunan Gambut Tropis Di Desa Kalampangan Provinsi Kalimantan Tengah Nope Adiyasty s; Haiki Mart Yupi; Raden Haryo Saputra
CRANE: Civil Engineering Research Journal Vol 5 No 2 (2024): CRANE
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/crane.v5i2.12812

Abstract

Lokasi penelitian dilakukan pada saluran pembuang yang berada di lahan gambut tropis Provinsi Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Kalampangan, yang memiliki kawasan dengan fungsi lahan yang berbeda yaitu fungsi lahan sebagai kawasan pemukiman, fungsi lahan sebagai area perkebunan. Penggunaan pupuk yang mengandung banyak bahan kimia pada lahan perkebunan akan berdampak pada kualitas air tanah dan air di saluran di sekitar lahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pencemaran air pada saluran pembuang akibat perkebunan penduduk serta untuk mengetahui pengaruh fluktuasi tinggi muka air di saluran terhadap 7 parameter baku mutu air. Dengan cara melakukan pengambilan sampel air, yang selanjutnya dianalisis di laboratorium, pada saat yang bersamaan dilakukan juga pengukuran tinggi muka air, sebanyak 6 kali, mulai dari 20 Juni 2023 sampai 28 Agustus 2023 (musim kemarau). Fluktuasi tinggi muka air dan beberapa parameter pencemar air dianalisis untuk mengetahui hubungan antara parameter. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah dari 7 parameter yang diuji, Amonia dan pH cenderung melebihi batas baku mutu air yang diijinkan, dikarenakan pengaruh pemupukan pada lahan perkebunan. Fluktuasi tinggi muka air di saluran berpengaruh signifikan terhadap parameter BOD (R2 = 0.9746) dan COD (R2 = 0.6374), yang artinya semakin tinggi muka air maka semakin besar nilai BOD dan COD.