Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Penggunaan Berbagai Konsentrasi AB Mix dan POC pada Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) Hidroponik Wick System Naura Widad Bahira; Dwi Purnomo; Rika Despita
Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian Vol. 6 No. 2 (2022): Agrotekma: Jurnal Agroteknologi dan Ilmu Pertanian, Juni
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman pakcoy merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Namun banyak petani terkendala untuk budidaya secara konvensional karena keterbatasan lahan yang dimiliki. Hidroponik merupakan alternatif budidaya pada lahan sempit dengan pemanfaatan pekarangan rumah. Pemberian nutrisi yang tepat pada hidroponik dapat meningkatkan produktivitas tanaman pakcoy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengobatan terbaik terhadap berbagai konsentrasi AB Mix dan Pupuk Organik Cair (POC) limbah sayuran pada tanaman pakcoy (Brassica rapa L.). Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan taraf 1 faktor dengan variasi perlakuan P1 dengan 100% AB Mix, P2 75% AB Mix + 25% POC, P3 50% AB Mix + 50% POC, P4 25% AB Mix + 75% POC, dan P5 100% POC. Analisis data menggunakan ragam (ANOVA) dengan signifikansi 5%, jika dapat dilihat langsung dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Perlakuan berbagai konsentrasi nutrisi untuk memberikan pengaruh yang nyata terhadap tanaman dan cuaca basah, namun memberikan pengaruh tidak nyata pada jumlah daun. Pemberian nutrisi 100% AB Mix dan 50% AB Mix + 50% POC memberikan respon terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy (Brassica rapa L.).
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Adopsi Pembuatan dan Penerapan Pestisida Nabati MICESSLA Mega Jaya Rizky Dinda Ayu; Budi Sawitri; Dwi Purnomo
JURNAL PENYULUHAN PEMBANGUNAN Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Penyuluhan Pembangunan
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/jppm.v1i1.2086

Abstract

Pestisida nabati MICESSLA merupakan salah satu teknologi ramah lingkungan yang mendukung pengembangan budidaya tanaman sehat, namun pestisida nabati MICESSLA tidak akan berguna tanpa adanya adopsi. Penelitian ini bertujuan: Mengetahui karakteristik petani padi Di Desa Banaran Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri, Mengetahui Dukungan Penyuluhan petani Di Desa Banaran Kecamatan Kandangan, Mengetahui tingkat adopsi petani terhadap pembuatan dan penerapan pestisida nabati MICESSLA pada budidaya padi, dan Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tingkap adopsi tentang pembuatan dan penerapan pestisida nabati MICESSLA pada budidaya padi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode penelitian kuantitatif. Metode pengambilan data dilakukan secara survei melibatkan tiga kelompok tani yang telah melaksanakan program budidaya tanaman sehat di Desa Banaran Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri. Data dianalisis menggunakan analisis Regresi Linier Berganda Y = (Tingkat Adopsi) a + b1 X1 + b2X2 +...+bnXn. Hasil penelitian analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa variabel X1 dan X2 berdasarkan R Square sebesar 0,887 menjelaskan bahwa proporsi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 88,7% sedangkan sisanya 11,3% dipengaruhi oleh valiabel lain yang tidak ada didalam model regresi linier berganda. Petani padi dikelompok tani Desa Banaran Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri sebagian besar (54%) telah mengadopsi pestisida nabati MICESSLA dalam kegiatan usahataninya.
Faktor yang Mempengaruhi Adopsi Petani terhadap Penggunaan Mol Buah Belimbing (Averrhoa Carambola) Probiotik di Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek Novia Widi Astutik; Bambang Priyanto; Dwi Purnomo
JURNAL PENYULUHAN PEMBANGUNAN Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Penyuluhan Pembangunan
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/jppm.v1i1.2093

Abstract

Kajian ini dilaksanakan di Desa Sukorejo Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek yang bertujuan untuk mengetahui serta mendeskripsikan faktor internal yaitu karakteristik petani dan faktor eksternal yaitu karakteristik inovasi yang mempengaruhi adopsi inovasi petani terhadap penggunaan Mol buah belimbing probiotik. Kajian ini sangat perlu dilaksanakan karena hasilnya untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kecepatan adopsi petani. Metode yang digunakan dalam kajian yaitu kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan penyebaran kuisioner. Penentuan sampel responden yaitu menggunakan teknik sampel jenuh, serta analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tingkat adopsi petani mayoritas pada tahap menilai dan adanya pengaruh signifikan dari karakteristik petani berupa umur dan tingkat pendidikan serta karakteristik inovasi yaitu kesesuaian, kerumitan, dan kemampuan diujicobakan terhadap penggunaan Mol buah belimbing probiotik.
Minat Petani dalam Penggunaan Agensi Hayati pada Tanaman Padi di Kelompok Tani Desa Sendangrejo Moch. Abi Abdillah; Suhirmanto Suhirmanto; Dwi Purnomo
JURNAL PENYULUHAN PEMBANGUNAN Vol 3 No 2 (2021): Jurnal Penyuluhan Pembangunan
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/jppm.v3i2.2125

Abstract

Teknologi yang direkomendasikan Kementerian Pertanian untuk mengatasi dampak negatif pestisida kimia adalah penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satu komponen PHT yang dapat mengatasi serangan patogen dan juga bermanfaat sebagai organisme pengurai adalah agens hayati . Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan minat anggota Kelompok Tani Desa Sendangrejo dalam menggunakan Agensi hayati, menganalisis faktor-faktor terkait dan menentukan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat anggota kelompok tani dalam menggunakan agensi hayati. Sampel penilaian adalah sensus dari 32 petani. Variabel penilaian adalah faktor internal, faktor eksternal dan minat anggota KWT menggunakan agensi hayati. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, angket dan observasi. Analisis data adalah analisis deskriptif, analisis korelasi Spearman's rank dan analisis Kendall's W. Hasil penilaian mengenai kepentingan anggota KWT berada pada kategori sedang.
DAMPAK PENYULUHAN PERTANIAN TENTANG TEKNIK PERSEMAIAN PADI (Oriza sativa L.) SISTEM DAPOG DI DESA TALKANDANG KECAMATAN KOTAANYAR KABUPATEN PROBOLINGGO Ugik Romadi; Reinaldi Damasus Mite; Dwi Purnomo
JURNAL ILMIAH PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Agricultural Extension, Faculty of Agriculture, Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56189/jippm.v5i1.56

Abstract

Along with population growth, the need for food such as rice will continue to increase, which has an impact on the amount of per capita consumption. Therefore, every component that affects the level of production is very important to consider carefully. In 2016, the Ministry of Agriculture provided assistance to rice plant transplanter machines. Talkandang is one of the villages that received the machine. However, the use of the planting machine is still low or less than optimal in practice. This is due to the fact that farmers lack knowledge about the right way to sow the dapog system to prepare rice seeds to be planted using the planting machine. The purpose of this study was to determine the impact of extension on increasing farmer knowledge, attitudes, and skills. The method used in the study was a quantitative method and was analyzed descriptively using SPSS. The results showed that a) increased knowledge occurred before and after extension; Then in the skill aspect, it was found that 89% of the test results from the extension targets were in the skilled category. Furthermore, in the attitude aspect, 63% of the extension targets gave a positive response to the material provided.
Produksi Bawang Merah Tumpangsari Dengan Cabai Pada Beberapa Jarak Tanam rika Despita; Achmad Nizar; Dwi Purnomo; Yan Fernanda
Agriekstensia : Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian Vol. 19 No. 2 (2020): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.542 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v19i2.1453

Abstract

ABSTRAK Bawang merah adalah komoditas yang dibutuhkan masyarakat Indonesia setiap hari sebagai bumbu masak. Produksi bawang merah perlu ditingkatkan seiiring dengan meningkatnya kebutuhan bawang merah. Salah satu upaya perluasan penanaman bawang merah adalah intensifikasi seperti tumpangsari. Tanaman bawang merah dapat ditumpangsarikan dengan tanaman cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari produksi bawang merah dengan pola tanam tumpangsari pada beberapa jarak tanam. Metode penelitian adalah rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan yaitu: tumpangsari, jarak tanam 15 x 15 cm; tumpangsari, jarak tanam 20 x 20 cm; tumpangsari jarak tanam 25 x 25 cm; monokultur, jarak tanam 15 x 15 cm; monokultur 20 x 20 cm; monokultur 25 x 25 cm. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Pengamatan dilakukan terhadap berat segar umbi, berat umbi kering konsumsi, produksi per ha, jumlah umbi, diameter umbi. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F taraf 5% dan DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi bawang merah dalam satuan ha dengan pola tanam monokultur dan tumpangsari jarak tanam 15 x 15 cm memberikan hasil yang sama. oleh karena itu tumpangsari tanaman bawang merah dengan cabai jarak tanam 15 x 15 cm dapat diterapkan di tingkat petani. Kata kunci: Produksi, Bawang merah, cabai, tumpangsari ABSTRACT Shallots are a commodity that Indonesians need every day as a cooking spice. Production needs to be increased in line with the need for shallots. The increase in the planting area of ​​shallots is intensification such as intercropping. Onion plants can be intercropped with chilli plants. This study aims to study the production of shallots with an intercropping cropping pattern at planting distance. The research method was a randomized group with 6 treatments, namely: intercropping, spacing 15 x 15 cm; intercropping, spacing 20 x 20 cm; intercropping with 25 x 25 cm spacing; monoculture, spacing 15 x 15 cm; monoculture 20 x 20 cm; monoculture 25 x 25 cm. Each treatment was repeated 4 times in order to obtain 24 experimental units. Observations were made on tuber fresh weight, dry tuber weight consumption, production per ha, tuber number, tuber diameter. Observation data were analyzed by means of the F test at 5% level and DMRT level 5%. The results showed that the production of ha-1 with a cropping pattern of monoculture and intercropping with a spacing of 15 x 15 cm gave the same results. Therefore, intercropping of shallots with chillies at a spacing of 15 x 15 cm can be applied to farmers. Keywords: Production, shallots, chillies, intercropping
Analisis Perbandingan Efisiensi Alat Produksi Pupuk Organik Cair (POC) dari Urin Sapi antara Sistem Pengabutan dan Gravitasi di Kabupaten Trenggalek Setya Yoga Pratama; Dwi Purnomo; IG Nyoman Mudita
Jurnal Penyuluhan Pembangunan Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Penyuluhan Pembangunan
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/jppm.v5i1.614

Abstract

Pupuk organik cair (POC) berbasis urin sapi menjadi salah satu inovasi penting untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sekaligus mendukung program pertanian berkelanjutan. Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan alat metode baru yaitu pengabutan apa lebih efisien dibandingkan dengan alat metode lama yaitu gravitasi. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen yang meliputi perbandingan debit air pada alat, perbedaan biaya, waktu yang diperlukan saat pembuatan, uji organolaptik dan mutu terhadap tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengabutan lebih unggul dibandingkan sistem gravitasi, hal ini ditunjukkan melalui waktu produksi yang lebih singkat, biaya listrik lebih rendah, serta kualitas fisik POC lebih baik dari segi warna dan aroma. Namun, uji mutu terhadap tanaman sawi, kediua metode tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan karena hasil pertumbuhan dan jumlah daun relatif sama. Meskipun uji mutu pada tanaman sawi menunjukkan hasil yang relatif sama, penelitian ini mengindikasikan bahwa sistem pengabutan dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dan berpotensi diterapkan secara luas dalam produksi POC berbasis urin sapi.
Minat Petani dalam Penggunaan Agensi Hayati pada Tanaman Padi di Kelompok Tani Desa Sendangrejo Moch Abi Abdillah; Suhirmanto Suhirmanto; Dwi Purnomo
Jurnal Penyuluhan Pembangunan Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Penyuluhan Pembangunan
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/jppm.v5i2.1562

Abstract

Teknologi yang direkomendasikan Kementerian Pertanian untuk mengatasi dampak negatif pestisida kimia adalah penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satu komponen PHT yang dapat mengatasi serangan patogen dan juga bermanfaat sebagai organisme pengurai adalah agens hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan minat anggota Kelompok Tani Desa Sendangrejo dalam menggunakan Agensi hayati, menganalisis faktor-faktor terkait dan menentukan strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat anggota kelompok tani dalam menggunakan agensi hayati. Sampel penilaian adalah sensus dari 32 petani. Variabel penilaian adalah faktor internal, faktor eksternal dan minat anggota KWT menggunakan agensi hayati. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, angket dan observasi. Analisis data adalah analisis deskriptif, analisis korelasi Spearman's rank dan analisis Kendall's W. Hasil penilaian mengenai kepentingan anggota KWT berada pada kategori sedang.