Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGUJIAN MODEL KECENDERUNGAN BERHUTANG MASYARAKAT METROPOLITAN : Indonesia Aka Naefs; Rr. Iramani
Modus Vol. 36 No. 1 (2024): Vol 36 No.1 (2024): MODUS
Publisher : Faculty of Business and Economics Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/modus.v36i1.8529

Abstract

Modern consumer lifestyles have a negative impact on people’s welfare. Currently, debt is an indication of modern consumer behavior because income is considered insufficient to meet needs and wants. This causes society to become more consumptive. What factors influence the tendency to get into debt is an interesting issue to research. This research aims to examine materialism, self-control, savings orientation, and income in influencing propensity to indebtedness in metropolitan communities. Sampling was carried out purposively in two metropolitan areas, namely DKI Jakarta and its surroundings and Surabaya and its surroundings. Data were collected using a survey by distributing questionnaires to the community in both areas where the unit of analysis was the family. The data analysis technique used in this research is Partial Least Square. The results of this research show that of the four variables tested, there are two variables that have a significant effect on the propensity to indebtedness, namely materialism and self-control. The savings orientation and income variables were proven to have no effect on the propensity to indebtedness. Materialism has a significant positive effect on the propensity to indebtedness, meaning that the higher an individual's materialistic attitude, the higher the propensity to indebtedness. Self-control has a significant negative effect on propensity to indebtedness, meaning that the higher a person's self-control, the lower propensity to indebtedness. The implication of the results of this research is that metropolitan communities should reduce their materialistic attitudes and increase their self-control in order to be able to reduce the propensity to indebtedness so that ultimately the community can be free from debt. Keywords: propensity to indebtedness; materialism; self control; savings orientation; income. Gaya hidup konsumen modern memberikan dampak negatif pada kesejahteraan hidup masyarakat. Saat ini berhutang  merupakan salah satu indikasi perilaku konsumen modern karena pendapatan dianggap kurang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Hal ini mengakibatkan masyarakat menjadi lebih konsumtif. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecenderungan berhutang merupakan isue yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji materialisme, pengendalian diri, orientasi menabung, dan pendapatan dalam mempengaruhi kecenderungan berhutang masyarakat metropolitan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive pada dua wilayah metropolitan yakni DKI Jakarta dan sekitarnya serta Surabaya dan sekitarnya. Pengumpulan data dengan menggunakan survei dengan menyebarkan kuesioner pada masyarakat di kedua wilayah tersebut dimana unit analisisnya adalah keluarga. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Partial Least Square. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa dari keempat variabel yang diuji, terdapat dua variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan berhutang yakni materialisme dan pengendalian diri. Untuk variabel orientasi menabung dan pendapatan terbukti tidak berpengaruh terhadap kecenderungan berhutang. Materialisme berpengaruh positif signifikan terhadap kecenderungan berhutang, artinya semakin tinggi sikap materialime individu semakin tinggi kecenderungan berhutang. Pengendalian diri berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan berhutang, artinya semakin tinggi pengendalian diri seseorang semakin rendah kecenderungan berhutangnya.  Implikasinya adalah bahwa masyarakat metropolitan sebaiknya menurunkan sikap materialismenya serta meningkatkan pengendalian dirinya agar mampu menurunkan kecenderungan berhutang yang akhirnya masyarakat dapat terbebas dari hutang. Kata kunci: kecenderungan berhutang; materialisme; pengendalian diri; orientasi menabung; menabung.  
Pengaruh Keputusan Investasi, Kebijakan Dividen Dan Profitabilitas Pada Masa Covid-19 Terhadap Nilai Perusahaan Pada Sektor Farmasi Alya Zahirah Laili Putri; Rr Iramani
Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) Vol. 5 No. 5 (2024): Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ)
Publisher : Yayasan Pendidikan Riset dan Pengembangan Intelektual (YRPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/msej.v4i5.1665

Abstract

Berkembangnya  bisnis dan perekonomian di Indonesia sedang dihadapkan oleh wabah pandemi covid-19. Hal ini membuat para investor sangat membutuhkan informasi terkait perusahaan untuk mengambil keputusan berinvestasi, informasi mengenai pembagian dividen dan laba yang didapatkan. Dari ketiga variabel tersebut juga dianggap dapat berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dampak pandemic covid-19 terhadap keputusan investasi, kebijakan dividen dan profitabilitas dan untuk mengetahui pengaruh keputusan investasi, kebijakan dividen dan profitabilitas terhadap  nilai perusahaan. Terdapat 8 sampel perusahaan farmasi yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji independen sample t-test dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil dari uji independen sample t-test bahwa tidak terdapat perbedaan keputusan investasi, kebijakan dividen dan profitabilitas pada sebelum masa covid-19 dan saat covid-19.  Hasil penelitian ini menunjukkan hasil dari analisis regresi linier berganda bahwa keputusan investasi tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan dan profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.
ANALISIS KINERJA KEUANGAN, SENSITIVITAS TERHADAP INFLASI DAN NILAI TUKAR SEBAGAI PREDIKTOR FINANCIAL DISTRESS Oktavia Kurniawati; Rr. Iramani
IDEI: Jurnal Ekonomi & Bisnis Vol 2 No 2 (2021): DECEMBER 2021
Publisher : Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38076/ideijeb.v2i2.73

Abstract

Identifying a financial distress condition is important because it can become an early warning system before the bankruptcy. The purpose of this research is to exa­mine and analyze the liquidity, leverage, activity, profitability, inflation sensi­ti­vity, and exchange rate sensitivity as predictor financial distress condition in manu­fac­tur­ing company listed in Indonesian Stock Exchange (ISE) in the year 2015 until 2019. Sampling technique used in the research is purposive sampling. The sample consist of 53 companies experiencing financial distress and a company not experiencing fi­nancial distress The data analysis technique is logistic regression The results of this research indicate that liquidity, leverage, profitability and activity can predict finan­cial distress in a negative direction. Inflation sensitivity and IDR/ USD exchange rate sensitivity cannot predict the occurrence of financial distress in a company. Mengidentifikasi kondisi financial distress sangat perlu dilakukan karena kon­disi tersebut adalah merupakan peringatan dini sebelum terjadinya kebangkrutan. Kondisi financial distress dapat diprediksi dengan menggunakan model yang telah dikem­bang­kan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis ki­nerja likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas serta sensitivitas perusahaan ter­ha­dap inflasi dan nikai tukar sebagai prediktor financial distress pada perusahaan ma­nu­­faktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2015 sampai dengan 2019. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sam­pling. Sampel dalam penelitian ini meliputi 53 perusahaan yang mengalami financial dis­tress dan yang tidak mengalami financial distress. Analisis data yang digunakan ada­lah Logistic Regression. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja keu­ang­an yang meliputi kinerja likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas mampu mem­­pre­diksi kondisi financial distress, sementara sensitivitas perusahaan terhadap inflasi dan nilai tukar tidak mampu memprediksi kondisi financial distress perusa­ha­an.