Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

In vitro Study of the Antibiofilm Potential of Bay Leaf Extract (Syzygium polyanthum (Wight) Walp) against Streptococcus sanguinis and Streptococcus mutans Listiana Masyita Dewi; Azka Tarisa Atmaja; Muhammad Marcelliano Rifky Aditomo Putra; Devi Usdiana Rosyidah; Nurhayani Nurhayani; Rima Munawaroh
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2026.151.1145-1152

Abstract

The ability to form biofilms is one of the characteristics of microbes that has the potential to cause antimicrobial resistance. The oral cavity environment, which is frequently exposed to external environments and has a specific histological structure, can lead to the accumulation of EPS, thereby increasing the risk of biofilm formation. Streptococcus is one of the bacterial groups known to have the ability to produce biofilms. Bay leaves (Syzygium polyanthum (Wight) Walp), a member of the Syzygium genus that has been widely used in treating infectious diseases, both traditionally and medically, due to their eugenol content, are suspected to have antibiofilm activity. This study aimed to prove the antibacterial and antibiofilm effects of ethanol extract of bay leaves against Streptococcus sanguinis and Streptococcus mutans bacteria. This study used a post-test only controlled group design, with a microtiter plate assay technique, and determination of MIC50 and MBIC50 through a probit test. The bacterial test results showed that the MIC50 values for Streptococcus sanguinis and Streptococcus mutans were 37.57% and 9.65%, respectively, while the MBIC50 values were 6.41% and 29.98%, respectively. The coefficient of determination (R2) values for both test bacteria, in both the antibacterial and antibiofilm tests, were close to 1. Thus, it can be concluded that bay leaf extract is effective as an antibacterial and antibiofilm agent against Streptococcus sanguinis and Streptococcus mutans bacteria, with a stronger antibiofilm effect than its antibacterial effect.
Seorang Perempuan Usia 63 Tahun dengan Hipoglikemia, Diabetus Melitus, Hipertensi Grade II: Laporan Kasus Eva Yulyasti; N Nurhayani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipoglikemia merupakan suatu keadaan penurunan konsentrasi glukosa serum dengan atau tanpa adanya gejala sistem autonom dan neuroglikopenia. Prevalensi penderita yang mengalami hipoglikemia di Indonesia belum diketahui secara pasti, akan tetapi berdasarkan hasil studi Health Maintenance Organization (HMO) menyatakan bahwa kejadian hipoglikemia sejalan dengan peningkatan prevalensi diabetes. Laporan Kasus : seorang perempuan usia 63 tahun dengan penurunan kesadaran. Pasien mengalami penurunan kesadaran setelah di injeksi insulin novorapid 18 IU pada sore hari dengan GDS 28 mg/dl. Pasien memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus sejak kurang lebih 3 tahun, dan saat ini rutin pengobatan dengan insulin novorapid 16 iu 3 kali sehari. Pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran : E2V2M3, tekanan darah : 158/116 mmHg, nadi : 81 x/menit, pernafasan : 27 x/menit, suhu : 35,60C, Saturasi oksigen : 93% free air. Setelah diberikan infus infus D10% dan D40% 20 tpm mikro, pasien mengalami perbaikan kesadaran dan kadar gula kembali normal.kesimpulan : Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah <70 mg/dl (<4,0 mmol/L) dengan atau adanya whipple’s triad, yaitu terdapat gejala-gejala hipoglikemia, seperti kadar glukosa darah yang rendah, gejala berkurang dengan pengobatan.
Seorang Laki-Laki Usia 39 Tahun dengan Ketoasidosis Diabetikum (KAD), Post Covid-19 Novana Hasri Nur Fahriya; N Nurhayani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah komplikasi kegawatdaruratan akibat diabetes melitus (DM) tidak terkontrol. Kondisi ini ditandai dengan hiperglikemia, dehidrasi, ketoasidosis, dan adanya ketonuria. KAD paling sering terjadi pada diabetes melitus tipe 1, namun juga dapat terjadi pada diabetes melitus tipe 2 dan diabetes gestasional. KAD berpotensi mengancam nyawa dan memerlukan diagnosis dan tatalaksana yang cepat. Tingkat mortalitas pada KAD bervariasi, di India tingkat mortalitas mencapai 30%. Pada laporan kasus ini pasien seorang laki-laki usia 39 tahun menunjukkan gejala hiperglikemia yang mengarah ke kondisi KAD (ketoasidosis diabetikum) mengeluhkan lemas, sesak pada saat masuk rumah sakit disertai mual dan muntah 1 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien memiliki riwayat DM dengan pengobatan insulin selama 3 tahun. Tujuan dari tatalaksana adalah untuk mengoreksi dehidrasi, koreksi asidosis dan kondisi ketosis, secara bertahap memperbaiki kondisi hiperosmolar dan konsentrasi glukosa darah mendekati normal, mengawasi komplikasi dari KAD serta akibat pengobatannya. Prognosis pasien secara umum memburuk pada usia tua dan dengan adanya koma dan hipotensi.
Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Narendra Putra Adi Pamungkas; Devi Usdiana Rosyidah; Retno Sintowati; N Nurhayani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Indonesia merupakan salah satu negara di daerah tropis. Kondisi seperti ini berpotensi menjadi penghasil tanaman obat dunia. Jahe merah termasuk komoditas obat dan rempah dalam temu-temuan. Staphylococcus aureus dan Escherichia coli adalah bakteri komensal namun bisa menimbulkan penyakit pada manusia. Tujuan: Mengetahui potensi Jahe Merah sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus serta mengetahui efektivitas antibakteri jahe merah dibandingkan dengan ciprofloxacin. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratorium dengan desain post test only controlled group. Metode menggunakan sumuran, terbagi menjadi empat konsentrasi yaitu 25%, 20%, 75%, dan 100%. Kontrol negatif menggunakan aquadest dan kontrol positif menggunakan ciprofloxacin. Hasil: Data yang didapatkan diuji statistik non-parametrik Kruskall Wallis mendapat nilai signifikansi 0.001 pada bakteri Escherichia coli dan nilai 0.012 pada bakteri Staphylococcus aureus. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan zona daya hambat tertinggi oleh ekstrak jahe merah dengan konsentrasi 50% mendapat rerata 13.58mm untuk bakteri Staphylococcus aureus dan konsentrasi 25% mendapat rerata 8.1mm untuk bakteri Escherichia coli. Kesimpulan, ekstrak jahe merah memiliki efektivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus namun belum mampu menyamai daya hambat dari ciprofloxacin.