Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Keragaman Tumbuhan Hutan Sekunder di Sekitar Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Riau Nur Hikmah; Siti Nurjannah; Ervizal A.M. Zuhud; Arzyana Sunkar
Cannarium Vol 20, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.662 KB) | DOI: 10.33387/cannarium.v20i2.5236

Abstract

Perubahan tutupan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit dianggap menurunkan keanekaragaman hayati, termasuk keragaman tumbuhan. Hutan sekunder yang berada di sekitar perkebunan kelapa sawit diharapkan dapat menjaga keberlanjutan dari keragaman tumbuhan yang masih tersisa meskipun bukan bagian dari areal perkebunan kelapa sawit. Penelitian dilakukan di empat perkebunan kelapa sawit yang tersebar di dua kabupaten yaitu Kampar dan Pelalawan, Provinsi Riau selama 28 hari pada bulan Maret 2016. Metode penelitian yaitu analisis vegetasi petak tunggal dengan mengidentifikasi keragaman tumbuhan di hutan sekunder yang ada di sekitar perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa keanekaragaman jenis tumbuhan bervariasi sesuai dengan kondisi lokasinya. Jumlah spesies tumbuhan yang ditemukan beragam, PT SAR (85 spesies), PT AMA (71 spesies), PT MUP (44 spesies) dan PTPN (41 spesies). Perbedaan ini karena luasan dan kerapatan hutan sekunder juga berbeda. Nilai kekayaan jenis juga berbeda setiap lokasi, yaitu PT SAR (12.02), PT AMA (9.80), PT MUP (7.66), dan PTPN (5.67). Semakin tinggi nilai kekayaan spesies di suatu lokasi menunjukkan bahwa areal tersebut memiliki keanekaragaman yang tinggi. Hutan sekunder di sekitar PT SAR merupakan areal yang memiliki tingkat keragaman tumbuhan lebih tinggi dibandingkan ketiga lokasi lainnya.
EFEKTIVITAS AREAL NILAI KONSERVASI TINGGI DALAM MENDUKUNG KEANEKARAGAMAN HAYATI DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PROVINSI RIAU Siti Nurjannah
Cannarium Vol 21, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v21i1.6326

Abstract

Perkebunan kelapa sawit sering dianggap menurunkan keanekaragaman hayati, baik tumbuhan maupun satwaliar. Hal ini mendorong setiap perusahaan perkebunan kelapa sawit memiliki areal NKT (Nilai Konservasi Tinggi) sebagai upaya dalam meningkatkan keanekaragaman hayati. Penelitian mengenai pengelolaan areal NKT sudah cukup banyak namun belum ada kesimpulan akhir terkait efektifitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa efektifitas areal NKT dalam mendukung konservasi keanekaragaman hayati di areal perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau. Metode yang digunakan yaitu studi literatur dari berbagai sumber yang relevan. Hasil pustaka menunjukkan bahwa beberapa areal NKT ada yang berbentuk hutan dan non-hutan. NKT yang non hutan merupakan areal kebun sawit yang sudah dialihfungsikan menjadi areal NKT. Hal ini karena beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit melakukan penanaman terlebih dahulu sebelum adanya peraturan terkait areal NKT. Berdasarkan hasil pustaka juga diketahui bahwa areal NKT yang berhutan memiliki keragaman burung dan mamalia lebih tinggi dibandingkan dengan areal kebun sawit. Keragaman kupu-kupu setiap tutupan lahan juga berbeda, namun secara keseluruhan lebih banyak ditemukan di areal NKT. Kesimpulan yang dapat diambil adalah areal NKT sangat dibutuhkan di perkebunan kelapa sawit sebagai areal yang dapat mensuplay kebutuhan pakan, tempat bersarang, tempat berlindung, dan mencari makan di areal NKT yang memiliki keragaman vegetasi. Namun beberapa areal NKT yang non-hutan belum mampu meningkatkan keragaman satwaliar, terutama mamalia dan burung.
Sosialiasi Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Kelurahan Sasa, Ternate Selatan siti nurjannah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 1 No 1 (1): Jurnal Pengabdian Masyarakat Hutan Vol 1 No 1 Agustus 2023
Publisher : Program Studi Kehutanan, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/kehutanan.v1i1.77

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan penduduk di Kelurahan Sasa adalah dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada seperti tumbuhan obat. Tujuan dari kegiatan pengabdian yaitu untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai manfaat, jenis, cara penanaman, serta penggunaan tanaman berkhasiat obat dan penyadartahuan kepada masyarakat tentang potensi ekonomi tanaman obat. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada 16 Desember 2022 di Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate dengan metode demonstrasi dan diskusi. Terdapat 8 jenis tumbuhan obat dengan tingkat konsumsi yang cukup tinggi dapat ditanam sendiri, yaitu kelor (Moringa citrifolia), kembang telang (Clitoria ternatea), kunyit (Curcuma domestica), lengkuas (Alpinia galangal), jahe (Zingiber officinale), salam (Syzygium polyanthum), jeruk (Citrus sp), dan sereh (Cymbopogon nardus). Manfaat yang bisa didapat oleh masayarakat maupun pemerintah adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya kepada ibu rumah tangga, selain mandiri terhadap ketahanan pangan dan obat, akan mampu mandiri juga dalam hal perekonomian.
Pendampingan Kelompok Tani Rica dalam Kampung Marimoi Nyinga Kelurahan Foramadiahi Adriani Adriani; Siti Nurjannah; Tuti Handayani Arifin
Madaniya Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.961

Abstract

Pembibitan merupakan langkah awal kegiatan budidaya, akan tetapi belum semua petani mampu menyediakan bibit yang berkualitas. Kelompok tani rica Marimoi nyinga merupakan salah satu kelompok tani yang berlokasi di Kota Ternate yang melakukan budidaya tanaman cabai. Permasalahan yang dihadapi yaitu bibit cabai yang dihasilkan belum mampu memenuhi kualitas yang dibutuhkan pasaran maupun untuk budidaya sendiri. Hal ini karena masih minimnya pengetahuan mitra terkait pembibitan yang baik dan benar. Belum memiliki tempat persemaian yang memadai sehingga kegiatan penyemaian belum tertata untuk mendukung pembibitan budidaya tanaman cabai. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melakukan pembinaan kepada kelompok tani mitra dalam hal transfer ilmu pengetahuan dan teknologi terkait budidaya tanaman cabai. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan dan transfer iptek melalui demonstrasi. Tahapan kegiatan pengabdian meliputi survey lanjutan dan konsolidasi, sosialisasi dan FGD, Penyuluhan dan pelatihan, serta transfer iptek (pembuatan soil blok dan greenhouse), dan monitoring. Hasil yang diperoleh yaitu telah dilaksanakan sejumlah kegiatan untuk mendukung keberhasilan program yaitu survey lanjutan dan konsolidasi; terlaksana kegiatan sosialisasi dan FGD; terlaksana kegiatan penyuluhan penyemaian dan pembibitan; terlaksana kegiatan penyuluhan terkait hama dan penyakit (OPT), terlaksana pelatihan pembuatan pupuk organik, terlaksana kegiatan pelatihan pembuatan media tanam, dan terlaksana transfer iptek penggunaan soil block serta tersedia tempat persemaian sederhana yang mengadopsi sistem greenhouse. Secara umum, kegiatan ini memberikan insight positif, mitra memperoleh manfaat melalui peningkatan pengetahuan dan transfer teknologi inovasi terkait budidaya tanaman cabai.
Keragaman Jenis Tumbuhan Invasif Kelurahan Jambula, Kota Ternate Provinsi Maluku Utara: Invasive Plant Species Diversity in Jambula Urban Village, Ternate City, North Maluku Province Nurjannah, Siti; Nahlunnisa, Hafizah; Adriani, Adriani; Ashari, Reyna; Darsono, Beti Septiana
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.43151

Abstract

ABSTRACT Biodiversity in Indonesia faces serious threats due to ecosystem degradation, climate change, and especially alien plant invasions. Invasive plant species can replace local vegetation, disrupt ecosystem balance, and trigger conflicts between humans and wildlife. This study aims to identify and analyze the diversity of invasive plant species in Jambula Urban Village, Ternate City, North Maluku Province as preliminary data for sustainable management of biological resources. The method used was purposive sampling combined with field exploration on open land and roadsides during January-March 2025. The results showed that there were 44 invasive plant species belonging to 21 families, with the dominance of the Asteraceae and Poaceae families. Some species such as Chromolaena odorata, Miconia crenata (Clidemia hirta), Lantana camara, and Mikania micrantha are included in the list of the 100 most invasive plants in the world. Identification analysis shows that 13 plant species are categorized as invasive according to three main sources: PermenLHK No P.94/2016, IUCNGISD, and a guidebook on invasive species in Indonesia. These results emphasize the importance of monitoring and managing invasive plants to preserve the ecosystem of Jambula Urban Village, Ternate City.   Keywords: diversity, invasive, Jambula Urban Village, plant   ABSTRAK Keanekaragaman hayati di Indonesia menghadapi ancaman serius akibat kerusakan ekosistem, perubahan iklim, dan terutama invasi tumbuhan asing. Jenis tumbuhan invasif dapat menggantikan vegetasi lokal, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan memicu konflik antara manusia dan satwa liar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keberagaman jenis tumbuhan invasif di Kelurahan Jambula, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara sebagai data awal pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dikombinasikan dengan eksplorasi lapangan pada lahan terbuka dan tepi jalan selama Januari–Maret 2025. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 44 jenis tumbuhan invasif yang tergolong dalam 21 famili, dengan dominasi dari famili Asteraceae dan Poaceae. Beberapa spesies seperti Chromolaena odorata, Miconia crenata (Clidemia hirta), Lantana camara, dan Mikania micrantha termasuk dalam daftar 100 tumbuhan paling invasif di dunia. Analisis identifikasi menunjukkan 13 jenis tumbuhan termasuk dalam kategori invasif menurut tiga sumber utama: PermenLHK No P.94/2016, IUCNGISD, dan buku panduan spesies invasif di Indonesia. Hasil ini menegaskan pentingnya pengawasan dan pengelolaan tumbuhan invasif guna menjaga kelestarian ekosistem di Kelurahan Jambula, Kota Ternate.   Kata kunci: invasif, keanekaragaman, Kelurahan Jambula, tumbuhan
PENGENALAN TANAMAN MULTIGUNA MELALUI KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DUSUN BANGKO, DESA DODINGA, HALMAHERA BARAT Andy Kurniawan; Siti Nurjannah Nurjannah; Sabaruddin; Adriani; Nurfadhilah Arif
Altifani Journal: International Journal of Community Engagement Vol. 5 No. 1 (2024): Altifani Journal: International Journal of Community Engagement
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/altifani.v5i1.261

Abstract

Indonesia has a high level of plant species diversity and can be utilized by the community. The utilization of these plants has not been widely used by the community in North Maluku, therefore it is important to socialize activities to the community in order to increase public knowledge about multipurpose plants. The service activity was carried out in May 2024. The service participants were community members from Bangko Hamlet, Dodinga Village, West Halmahera Regency. Service activities are carried out by presenting material and providing plant seeds to the community. There are seven types of multipurpose plants socialized, namely ginger (Zingiber officinale), turmeric (Curcuma domestica), lemongrass (Cymbopogon nardus), galangal (Alpinia galanga), galangal (Kaempferia galanga), celery (Apium graveolens), and blustru (Luffa cylindrica). To determine the level of community knowledge about multipurpose plants, pre-test and post-test activities were carried out. The results of the community service activities are that the community recognizes and can plant multipurpose plants in the yard and yard, and can utilize them sustainably.
Sosialisasi Pemanfaatan Tumbuhan Obat sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Desa Domato Kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat Nurhikmah; Siti Nurjannah; Adesna Fatrawana; Sabaruddin; Laswi Irmayanti
Altifani Journal: International Journal of Community Engagement Vol. 5 No. 1 (2024): Altifani Journal: International Journal of Community Engagement
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/altifani.v5i1.316

Abstract

Non-Timber Forest Products (NTFPs) are biological forest products, both vegetable and animal and their derivatives originating from forests except wood. NTFPs have an important role for the community because they can increase household income, can improve the local economy, while still preserving forests. One of the NTFPs that people often use is medicinal plants. Community service activities are carried out by providing outreach to the community regarding the use of medicinal plants that can be used in daily life according to disease indications. The series of community service activities carried out are the delivery of Forestry Study Program activities, the delivery of material related to the use of medicinal plants, and the delivery of forestry books which can increase public information regarding the use of forests and forest products.
PEMANFAATAN LIMBAH DAGING BUAH PALA OLEH KELOMPOK WANITA TANI DESA KAIYASA KECAMATAN OBA UTARA KOTA TIDORE KEPULAUAN Adesna Fatrawana; Siti Nurjannah; Abu Rahmat Ibrahim; Adriani
Altifani Journal: International Journal of Community Engagement Vol. 5 No. 3 (2025): Altifani Journal: International Journal of Community Engagement
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/altifani.v5i3.1155

Abstract

The widespread use of nutmeg in North Maluku still focuses on the seeds and mace, which are dried and then sold. This often results in waste nutmeg pulp that is not optimally utilized and is thrown into the environment. Nutmeg pulp, which is the largest part of the nutmeg fruit, can be processed into various products. This community service activity aims to provide additional information and knowledge to women's farmer groups (KWT) in Kaiyasa Village to utilize nutmeg pulp waste into a derivative product, namely nutmeg dodol. The methods used in this activity include counseling and training on the utilization of nutmeg waste into a food product, namely nutmeg dodol, accompanied by technology transfer. The activity was carried out in stages, starting with the counseling stage to provide knowledge related to processing nutmeg pulp waste into dodol, followed by product manufacturing training and technology transfer. After the activity, there was an 80% increase in partners' knowledge level regarding the efficiency and utilization of nutmeg pulp waste and product diversification, namely nutmeg dodol, as obtained from the results of pre-tests and post-tests conducted after the counseling and training activities.
PENERAPAN VERTIKULTUR UNTUK MENDUKUNG KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN Adriani Adriani; Suleyman Suleyman; Lily Ishak; Mardiyani Sidayat; Siti Nurjannah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.40276

Abstract

Vertikultur merupakan salah satu metode inovatif yang memungkinkan budidaya tanaman dilakukan secara vertikal sehingga dapat mengoptimalkan penggunaan ruang pada lahan terbatas. Pengabdian ini bertujuan untuk mengimplementasikan konsep vertikultur sebagai suatu sistem budidaya untuk mendukung pelestarian lingkungan serta memperkenalkan konsep ketahanan pangan. Kegiatan ini dilakukan pada lahan sempit dan terbatas dengan metode yang digunakan berupa sosialisasi dan demonstrasi. Kegiatan pengabdian ini meningkatkan pengetahuan dan memberikan gambaran bahwa penggunaan vertikultur sebagai konsep budidaya tanaman secara vertikal dapat dijadikan alternatif solusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas, dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan dan kondisi serta dapat diimplementasikan secara luas sehingga dapat berkontribusi positif terhadap keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan.