Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SMARTPHONE ADDICTION MEMPENGARUHI MOTIVASI BELAJAR SISWA Rinancy, Hariet; Putri, Rima Berlian
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 2 No. 3 (2023): AGUSTUS 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sjkt.v2i3.17878

Abstract

Motivasi belajar merupakan salah satu factor yang menetukan keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar. Motivasi akan mendorong siswa untuk belajar dengan giat dan sungguh – sungguh demi meraih keberhasilan dalam pendidikannya. Ada banyak factor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, salah satunya dalah penggunaan smartphone. Seiring dengan perkembangan informasi teknologi menjadikan smarthphone sebagai alat kebutuhan bagi semua orang termasuk siswa, namun penggunaan smrtphone yang berlebihan bisa berdampak buruk bagi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendidikan kesehatan tentang smartphone addiction terhadap motivasi belajar siswa di SMP 5 Bukittinggi. Jenis penelitian adalah quasy eksperimen dengan jumlah sampel 81. Teknik pengambilan sampel dengan musltistage sampling. Instrument yang dugunakan adalah kuesioner motivasi belajar siswa. Data dianalisis dengan menngunak uji T-test. Hasil penelitian didapatkan bahwa ada pengaruh signifikan antara pendidikan kesehatan tentang smartphone addiction terhadap motivasi belajar siswa dengan nilai p value 0,000. Motivasi menimbulkan gairah dan semangat belajar pada siswa sehingga perlu dikendalikan factor – factor yang dapat menurunkan motivasi belajar siswa agar tujuan pendidikan nasional bisa tercapai.
Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku bullying pada anak usia sekolah: A systematic literature review Eni, Rosmi; Rinancy, Hariet; Siagian, Siti Hotna
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 3 (2025): Volume 19 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i3.816

Abstract

Background: Bullying is violent behavior carried out by individuals or groups on an ongoing basis against someone who is considered weak or helpless, either physically or psychologically. At school age children are at an essential stage in life, where children have a very large desire to face new things and will be easily influenced by the environment. Purpose: To determine the factors that influence bullying behavior in school-age children. Method: Systematic literature review research sourced from database sources, namely Google Scholar, Pubmed, and Science Direct. The keywords used are bullying, factors, and school children. 149 literatures were obtained, then for the assessment of the quality of the literature using the PRISMA method and 9 literatures were selected that met the inclusion criteria. Results: Of the 9 literatures examined regarding the factors that cause bullying in school-age children, all literatures stated that the most dominant factors causing bullying are family factors, peer influence and school environment. 5 of the literatures stated that the most dominant bullying factors in children are unpleasant experiences and social media influence, while 3 literatures stated that the bullying factors are personality and high self-esteem and substance use. Conclusion: Factors that influence bullying behavior in school-age children are family factors, children's bad experiences (bad experiences in childhood), peer or school factors, social media, and exposure to addictive substances. Therefore, appropriate intervention is needed to address these causal factors, so that the prevalence of bullying behavior in school-age children can decrease.   Keywords: Bullying; School-Age Children; Violence.   Pendahuluan: Bullying adalah perilaku kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok secara terus-menerus terhadap seseorang yang dianggap lemah atau tidak berdaya dapat dilakukan secara fisik maupun psikologis. Pada usia sekolah anak berada pada tahapan esensial dalam kehidupan, dimana anak memiliki angan yang sangat besar untuk menghadapi hal baru dan akan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku bullying pada anak usia sekolah. Metode: Penelitian systematic literature review berasal dari sumber database yaitu Google Scholar, Pubmed, dan Sciencedirect. Kata kunci yang digunakan adalah bullying, factor, dan anak sekolah. Didapatkan 149 literatur, kemudian untuk penilaian kualitas literatur menggunakan metode PRISMA dan terpilih 9 literatur yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Dari 9 literatur yang diteliti, semua literatur menyatakan bahwa faktor yang paling dominan yang menyebabkan terjadinya bullying adalah faktor keluarga, pengaruh teman sebaya, dan lingkungan sekolah. 5 diantara literatur menyatakan, faktor bullying yang paling dominan pada anak adalah pengalaman yang tidak menyenangkan dan pengaruh media social. Sementara 3 literatur menyatakan, faktor bullying adalah kepribadian dan harga diri yang tinggi serta penggunaan zat adiktif. Simpulan: Faktor yang memengaruhi perilaku bullying pada anak usia sekolah adalah faktor keluarga, adverse children experience (pengalaman buruk di masa kecil), peer group atau faktor sekolah, media social, dan paparan zat adiktif. Oleh karena itu, perlunya intervensi yang tepat untuk mengatasi faktor penyebab tersebut, agar prevalensi perilaku bullying pada anak usia sekolah dapat menurun.   Kata Kunci: Anak Usia Sekolah; Bullying; Kekerasan.
Deteksi dini kesehatan mental emosional remaja sebagai upaya mewujudkan generasi emas yang sehat jiwa Rinancy, Hariet; Eni, Rosmi; Gustin, Rahmi Kurnia; Nataria, Desti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1714

Abstract

Background: Adolescence is a turbulent period of transition, both physically, psychologically, and socially. Amid these changes, it is not uncommon for adolescents to face various challenges that can impact their mental and emotional health. Mental health disorders, such as depression, anxiety, or eating disorders, often begin in adolescence, but unfortunately, they often go undetected or are ignored. Early detection is crucial because prompt intervention can prevent these conditions from worsening. Adolescents experiencing mental health problems may exhibit subtle symptoms, such as behavioral changes, decreased academic performance, social withdrawal, or changes in sleep and eating patterns. Ignoring these signs can have long-term impacts on adolescents' lives, including problems with interpersonal relationships, difficulties in education and careers, and an increased risk of risky behaviors such as risky sexual behavior, substance abuse, or even suicide. Purpose: To identify emotional mental health disorders in adolescents as a first step in realizing a mentally healthy golden generation. Method: This descriptive quantitative study describes emotional mental health problems in adolescents. The study was conducted at MAN 1 Padang Pariaman Regency. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 251 respondents. Data collection used the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Results: Most of the 139 adolescents (55.4%) showed abnormal scores on emotional symptoms, most of the 154 adolescents (61.3%) showed borderline scores on behavior, less than half of the adolescents (37%) had normal scores for hyperactivity, most adolescents (66.9%) showed abnormal scores for social problems, and the majority of adolescents (94%) showed normal scores for prosocial behavior. Conclusion: The majority of adolescents in this study experienced emotional mental health problems, so appropriate interventions are needed for adolescents. Suggestion: Schools, when implementing any intervention program, should use these prosocial behaviors as a foundation of strengths to encourage positive changes in other aspects of difficulties. For example, teaching helpful behaviors can improve problematic social relationships.   Keywords: Adolescents; Early Detection; Emotional; Mental Health.   Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Di tengah perubahan ini, tidak jarang remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka. Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan, sering kali dimulai pada usia remaja, namun sayangnya, sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Deteksi dini menjadi sangat krusial karena intervensi yang cepat dapat mencegah kondisi ini menjadi lebih parah. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menunjukkan gejala yang tidak selalu jelas, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan. Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan remaja, termasuk masalah dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam pendidikan dan karier, hingga peningkatan risiko perilaku berisiko seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau bahkan bunuh diri. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan mental emosional pada remaja sebagai langkah awal dalam mewujudkan genarasi emas yang sehat jiwa. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggambarkan masalah kesehatan mental emosional remaja. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 251 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Hasil: Sebagian besar 139 remaja (55.4%) menunjukKan skor abnormal pada gejala emosi, sebagian besar 154 remaja (61.3%) menunjuKkan skor borderline pada perilaku, kurang dari setengah remaja (37%) berada pada skor normal untuk hiperaktivitas, sebagian besar remaja (66.9%) menunjukkan skor abnormal untuk masalah teman sebaya dan mayoritas ramaja (94%) menunjukkan skor normal untuk prososial. Simpulan: Mayoritas remaja pada penelitian ini mengalami masalah kesehatan mental emosinal, sehingga perlu diberikan intervensi yang tepat pada remaja. Saran: Sekolah dalam memberikan setiap program intervensi yang diluncurkan harus menggunakan perilaku prososial ini sebagai fondasi kekuatan untuk mendorong perubahan positif pada aspek kesulitan lainnya. Misalnya, mengajarkan perilaku tolong-menolong dapat meningkatkan hubungan teman sebaya yang bermasalah.   Kata Kunci: Deteksi Dini; Emosional; Kesehatan Mental; Remaja.