Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analisis Tuturan Ritual Ngalap Semangat Suku Tidung Di Sebuku Ditinjau Dari Bentuk Mantra Mulyati, Mulyati; Arifin, Syaiful; Indrahastuti, Tri
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.302 KB) | DOI: 10.30872/adjektiva.v4i1.1445

Abstract

This study discusses the form of the mantra in the ritual speech of the Ngalap Spirit of the Tidung Tribe in Sebuku. Mantra is a word or speech that contains wisdom and supernatural powers. The power of the spell is thought to be able to heal or bring harm. This research is focused on analyzing the form of the mantra in the speech of the Ngalap Spirit Ritual of the Tidung tribe as one of the oral literatures that needs to be developed and preserved because it contains high literary values. The research was conducted with the aim of describing the form of the mantra and the ritual tradition of ngalap the spirit of the Tidung tribe in Sebuku. The method used in this research is a field research method with a qualitative approach that is described descriptively. Data collection techniques used in this study were interview techniques, note-taking techniques and recording techniques. The data analysis technique used is a qualitative descriptive analysis technique. The results of the research obtained are (1) the form of the mantra: a. The form of the line in the first mantra consists of 5 lines, each line contains 2-6 words and consists of 3-10 syllables; b. The form of the first mantra stanza, that is, each stanza consists of 5 lines and contains 2-6 words; c. The choice of words used in the traditional mantra ngalap, the spirit of the Tidung tribe does not only use the Tidung language but also uses the Indonesian language. It's just that the Tidung language is more dominant in its use in the traditional speech of ngalap, the spirit of the Tidung tribe.
Analisis Kesantunan Berbahasa Pada Grup Whatsapp Wali Kelas MI Al-Hikmah Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat Widyasari, Selvia Noor; Indrahastuti, Tri; Elyana, Kukuh
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.116 KB) | DOI: 10.30872/adjektiva.v5i2.1618

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode simak, dokumentasi, dan kemudian disalin ke dalam kartu data. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis berdasarkan maksim-maksim kesantunan Leech yang terdiri atas maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahatian, maksim kesepakatan, dan maksim simpati, yang digunakan untuk memperoleh pematuhan dan pelanggaran kesantunan berbahasa. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat beberapa anggota dalam grup whatsapp yang melakukan pematuhan dan pelanggaran kesantunan berbahasa dengan pematuhan kesantunan berbahasa lebih dominan dibandingkan pelanggaran kesantunan berbahasa. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, saran yang dapat diberikan adalah (1) Semakin banyak penelitian-penelitian berikutnya yang melakukan kajian mengenai kesantunan berbahasa dalam berbagai bentuk komunikasi baik langsung maupun melalui sosial media, mengingat kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam berkomunikasi. (2) Sebagai mahasiswa yang berpendidikan, tentu diharapkan mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan dan mengimplementasikannya dalam berkomunikasi. (3) Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang tertarik untuk mendalami kajian yang berkenaan dengan kesantunan berbahasa.
Analisis Bentuk dan Makna Kata Berafiks yang Berkategori Verbal pada Bahasa Berau Zahara, Hikmah Nur; Indrahastuti, Tri; Elyana, Kukuh
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/adjektiva.v6i1.2113

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada analisis bentuk dan makna kata berafiks yang berkategori verbal pada bahasa Berau, alasan pengambilan objek bahasa Berau karena bahasa Berau merupakan salah satu bahasa yang memiliki jumlah pemakaian yang cukup banyak. Selain itu bahasa Berau merupakan salah satu bahasa daerah asli Kalimantan Timur yang perlu diteliti dan dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses melekatnya afiks serta menemukan afiks pembentuk kata kerja bahasa Berau dan mengetahui kemungkinan-kemungkinan atau perubahan yang terjadi akibat afiksasi. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi dan wawancara. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode padan dan metode agih. Adapun data yang digunakan yaitu bahasa Berau. hasil analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan metode formal berupa kaidah-kaidah atau lambang fonemis. Dari penelitian ini yang dilakukan di lokasi yaitu di Tanjung Redeb, Berau diperoleh bahwa bahasa Bajau memiliki morfem terikat. Hasil penelitian dari analisis data adalah bahwa dalam bahasa Berau tidak ditemukannya jenis afiks infiks. Jenis afiks prefiks pada bahasa Berau berbeda dengan kaidah prefiks bahasa Indonesia pada umumnya, jenis afiks sufiks pada bahasa Berau sama seperti kaidah bahasa Indonesia pada umumnya, dan jenis afiks konfiks pada bahasa Berau sama seperti kaidah bahasa Indonesia pada umumnya
Analisis Struktur Plot dan Nilai Moral dalam Cerita Rakyat Tanjung Harapan ’Anak Durhaka’ Kutai Kartanegara Purnama, Dina; Arifin, Syaiful; Indrahastuti, Tri; Setyawati, Meita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.27297

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur plot dan nilai moral dalam cerita rakyat Anak Durhaka karya Mukrie Abdullah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi pustaka. Data primer diperoleh dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Kutai, sementara data sekunder berasal dari literatur yang relevan. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan unsur plot seperti eksposisi, konflik, klimaks, hingga resolusi, serta nilai moral yang mencakup hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita ini mengikuti pola Piramida Freytag, dimulai dari pengenalan tokoh hingga penyelesaian melalui kutukan sebagai bentuk konsekuensi moral. Nilai-nilai moral yang diangkat mencakup pentingnya menghormati orang tua, kesombongan yang membawa kehancuran, serta adanya balasan supranatural atas perbuatan buruk. Cerita ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan pendidikan karakter yang penting bagi pembaca, khususnya generasi muda, dalam memahami nilai-nilai kehidupan dan budaya lokal.
Pendidikan Karakter dalam Tradisi Gelar Bangsawan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Arifin, Syaiful; Indrahastuti, Tri; Setyawati, Meita; Ulwatunnisa, Marwah; Azmi, Muhammad
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 2 (2025): Volume 10, Nomor 2 - Desember 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i2.11486

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana tradisi gelar kebangsawanan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mencerminkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam masyarakat Kutai. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kutai Kuno kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang memiliki tradisi turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol status sosial, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap leluhur, serta penghargaan terhadap jasa individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan folklore. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gelar seperti Aji, Awang, dan Encek memiliki makna historis dan sosial yang mendalam, di mana setiap gelar diberikan berdasarkan keturunan, jasa, atau peran dalam pemerintahan kesultanan. Selain itu, praktik budaya seperti Beseprah menegaskan prinsip kesetaraan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Meskipun modernisasi mengubah persepsi terhadap sistem gelar, nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya. Oleh karena itu, integrasi nilai warisan budaya dan tradisi lokal dalam pendidikan formal dan nonformal menjadi penting untuk memperkuat karakter generasi muda dan menjaga warisan budaya Kutai agar tetap lestari dalam masyarakat yang terus berkembang.
Integrating Ki Hajar Dewantara's Philosophical Values and Islamic Legal Principles in the Hudoq Kita Dance Tradition Indrahastuti, Tri; Sabri, Indar; Yanuartuti, Setyo; Hidajad, Arif; Arifin, Syaiful
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 29, No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v29i2.9221

Abstract

This study examines the integration of Ki Hajar Dewantara's philosophical values with Islamic legal principles within the Hudoq Kita dance tradition of East Kalimantan. Using a qualitative–descriptive approach supported by a literature review of Dewantara's educational thought and Islamic legal theory, this research develops a conceptual framework that connects moral, cultural, and spiritual values embodied in the Hudoq Kita dance. Ki Hajar Dewantara's triadic principles—ing ngarsa sung tuladha (leading by example), ing madya mangun karsa (inspiring initiative), and tut wuri handayani (empowering from behind)—serve as a pedagogical basis for character formation and cultural learning. These principles closely align with foundational concepts in Islamic law, such as maslahah (public benefit), ʿadl (justice), and wasatiyyah (moderation), which emphasise ethical balance, social responsibility, and communal well-being. The relevance of these values becomes evident in the Hudoq Kita dance, a ritual Dayak tradition performed as an expression of gratitude, supplication, and respect for nature. It’s symbolic masks, rhythmic movements, and collective performance illustrate the harmony of feeling, thought, and will (olah rasa, olah pikir, olah karsa) emphasized by Dewantara. The findings indicate that the Hudoq Kita dance functions not only as an artistic and cultural expression but also as an educational medium for internalizing moral and spiritual values consistent with Islamic ethical teachings. Through its ritual symbolism and environmental reverence, the Hudoq Kita dance cultivates sincerity, cooperation, humility, and respect for God's creation—virtues that resonate with the maqâṣid al-syarîʿah in safeguarding life, intellect, and ecological harmony. Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai filosofis Ki Hajar Dewantara dengan prinsip-prinsip hukum Islam dalam tradisi Tari Hudoq Kita di Kalimantan Timur. Menggunakan pendekatan kualitatif–deskriptif yang didukung oleh telaah literatur terhadap pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara dan teori hukum Islam, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual yang menghubungkan nilai moral, kultural, dan spiritual yang terwujud dalam Tari Hudoq Kita. Tiga prinsip utama Ki Hajar Dewantara—ing ngarsa sung tuladha (memberi teladan), ing madya mangun karsa (membangkitkan semangat dan inisiatif), dan tut wuri handayani (memberi dorongan dari belakang)—menjadi dasar pedagogis bagi pembentukan karakter dan pembelajaran budaya. Prinsip-prinsip ini selaras dengan konsep dasar dalam hukum Islam seperti maṣlaḥah (kemaslahatan), ʿadl (keadilan), dan wasatiyyah (moderasi), yang menekankan keseimbangan etis, tanggung jawab sosial, dan kesejahteraan bersama. Relevansi nilai-nilai tersebut tampak jelas dalam Tari Hudoq Kita, tradisi ritual Dayak yang dipentaskan sebagai ungkapan syukur, permohonan, dan penghormatan terhadap alam. Topeng-topeng simbolik, gerak ritmis, serta performa kolektif dalam tarian ini mencerminkan harmoni antara rasa, pikir, dan kehendak (olah rasa, olah pikir, olah karsa) sebagaimana ditekankan oleh Dewantara. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Tari Hudoq Kita tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni dan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral dan spiritual yang sejalan dengan etika Islam. Melalui simbolisme ritual dan penghormatan terhadap lingkungan, Tari Hudoq Kita menumbuhkan keikhlasan, kerja sama, kerendahan hati, serta penghormatan terhadap ciptaan Tuhan—kebajikan yang selaras dengan maqâṣid al-syarîʿah dalam menjaga kehidupan, akal, dan keharmonisan ekologis.
Children’s Bodily Expression and Learning Interaction Mediated by “Tabola Bale” Indrahastuti, Tri; Martiara, Rina; Arifin, Syaiful
The Future of Education Journal Vol 4 No 9 (2025): #1
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i9.1309

Abstract

This study aims to examine children’s bodily expression and learning engagement through the traditional song “Tabola Bale” as observed in TikTok and Instagram videos. Using a qualitative descriptive approach, the study employs video observation as the primary data source, supported by a literature review on embodied learning in elementary education. Publicly accessible videos featuring children’s responses to the song were selected purposively and analyzed thematically. The findings indicate that children display spontaneous bodily movements, rhythmic coordination, creative variations of movement, and positive affective expressions while engaging with the song. These bodily responses reflect active learning engagement that integrates motor, emotional, and social dimensions. The study also reveals that bodily expression serves as a medium of interaction, enabling meaningful participation through movement. The findings suggest that traditional songs hold pedagogical potential as embodied learning media in both classroom and digital learning contexts. This study contributes to elementary education by highlighting the relevance of culturally grounded songs in fostering active and meaningful learning experiences.
PEMANFAATAN TRADISI LISAN BEDANDENG SUKU KUTAI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Setyawati, Meita; Indrahastuti, Tri; Arifin, Syaiful; Nurdin; Ulwatunnisa, Marwah
Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP) Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jsp.v16i1.13417

Abstract

Tradisi lisan Bedandeng merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Kutai di Kalimantan Timur yang memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal. Namun, dalam praktik pembelajaran, sastra lisan lokal masih jarang dimanfaatkan secara optimal sebagai materi ajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tradisi lisan Bedandeng sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menelaah bentuk puisi lama dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan penutur Bedandeng serta dokumentasi tuturan tradisi lisan yang masih berkembang di masyarakat Suku Kutai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bedandeng memiliki karakteristik struktural yang sesuai dengan bentuk puisi lama, khususnya syair, yang ditandai oleh keteraturan bait, larik, dan rima. Selain itu, tuturan Bedandeng mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi lisan Bedandeng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual dan bermakna, serta berkontribusi dalam penguatan literasi budaya dan pendidikan karakter peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal.