Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analisis Kesantunan Berbahasa Pada Grup Whatsapp Wali Kelas MI Al-Hikmah Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat Widyasari, Selvia Noor; Indrahastuti, Tri; Elyana, Kukuh
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.116 KB) | DOI: 10.30872/adjektiva.v5i2.1618

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode simak, dokumentasi, dan kemudian disalin ke dalam kartu data. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis berdasarkan maksim-maksim kesantunan Leech yang terdiri atas maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahatian, maksim kesepakatan, dan maksim simpati, yang digunakan untuk memperoleh pematuhan dan pelanggaran kesantunan berbahasa. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat beberapa anggota dalam grup whatsapp yang melakukan pematuhan dan pelanggaran kesantunan berbahasa dengan pematuhan kesantunan berbahasa lebih dominan dibandingkan pelanggaran kesantunan berbahasa. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, saran yang dapat diberikan adalah (1) Semakin banyak penelitian-penelitian berikutnya yang melakukan kajian mengenai kesantunan berbahasa dalam berbagai bentuk komunikasi baik langsung maupun melalui sosial media, mengingat kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam berkomunikasi. (2) Sebagai mahasiswa yang berpendidikan, tentu diharapkan mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan dan mengimplementasikannya dalam berkomunikasi. (3) Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang tertarik untuk mendalami kajian yang berkenaan dengan kesantunan berbahasa.
Analisis Bentuk dan Makna Kata Berafiks yang Berkategori Verbal pada Bahasa Berau Zahara, Hikmah Nur; Indrahastuti, Tri; Elyana, Kukuh
Adjektiva: Educational Languages and Literature Studies Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/adjektiva.v6i1.2113

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada analisis bentuk dan makna kata berafiks yang berkategori verbal pada bahasa Berau, alasan pengambilan objek bahasa Berau karena bahasa Berau merupakan salah satu bahasa yang memiliki jumlah pemakaian yang cukup banyak. Selain itu bahasa Berau merupakan salah satu bahasa daerah asli Kalimantan Timur yang perlu diteliti dan dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses melekatnya afiks serta menemukan afiks pembentuk kata kerja bahasa Berau dan mengetahui kemungkinan-kemungkinan atau perubahan yang terjadi akibat afiksasi. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi dan wawancara. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode padan dan metode agih. Adapun data yang digunakan yaitu bahasa Berau. hasil analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan metode formal berupa kaidah-kaidah atau lambang fonemis. Dari penelitian ini yang dilakukan di lokasi yaitu di Tanjung Redeb, Berau diperoleh bahwa bahasa Bajau memiliki morfem terikat. Hasil penelitian dari analisis data adalah bahwa dalam bahasa Berau tidak ditemukannya jenis afiks infiks. Jenis afiks prefiks pada bahasa Berau berbeda dengan kaidah prefiks bahasa Indonesia pada umumnya, jenis afiks sufiks pada bahasa Berau sama seperti kaidah bahasa Indonesia pada umumnya, dan jenis afiks konfiks pada bahasa Berau sama seperti kaidah bahasa Indonesia pada umumnya
Analisis Struktur Plot dan Nilai Moral dalam Cerita Rakyat Tanjung Harapan ’Anak Durhaka’ Kutai Kartanegara Purnama, Dina; Arifin, Syaiful; Indrahastuti, Tri; Setyawati, Meita
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.27297

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur plot dan nilai moral dalam cerita rakyat Anak Durhaka karya Mukrie Abdullah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi pustaka. Data primer diperoleh dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Kutai, sementara data sekunder berasal dari literatur yang relevan. Analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan unsur plot seperti eksposisi, konflik, klimaks, hingga resolusi, serta nilai moral yang mencakup hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita ini mengikuti pola Piramida Freytag, dimulai dari pengenalan tokoh hingga penyelesaian melalui kutukan sebagai bentuk konsekuensi moral. Nilai-nilai moral yang diangkat mencakup pentingnya menghormati orang tua, kesombongan yang membawa kehancuran, serta adanya balasan supranatural atas perbuatan buruk. Cerita ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan pendidikan karakter yang penting bagi pembaca, khususnya generasi muda, dalam memahami nilai-nilai kehidupan dan budaya lokal.
Pendidikan Karakter dalam Tradisi Gelar Bangsawan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Syaiful Arifin; Tri Indrahastuti; Meita Setyawati; Marwah Ulwatunnisa; Muhammad Azmi
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 2 (2025): Volume 10, Nomor 2 - Desember 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i2.11486

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana tradisi gelar kebangsawanan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mencerminkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam masyarakat Kutai. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kutai Kuno kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang memiliki tradisi turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol status sosial, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap leluhur, serta penghargaan terhadap jasa individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan folklore. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gelar seperti Aji, Awang, dan Encek memiliki makna historis dan sosial yang mendalam, di mana setiap gelar diberikan berdasarkan keturunan, jasa, atau peran dalam pemerintahan kesultanan. Selain itu, praktik budaya seperti Beseprah menegaskan prinsip kesetaraan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Meskipun modernisasi mengubah persepsi terhadap sistem gelar, nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya. Oleh karena itu, integrasi nilai warisan budaya dan tradisi lokal dalam pendidikan formal dan nonformal menjadi penting untuk memperkuat karakter generasi muda dan menjaga warisan budaya Kutai agar tetap lestari dalam masyarakat yang terus berkembang.
PEMANFAATAN TRADISI LISAN BEDANDENG SUKU KUTAI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Meita Setyawati; Tri Indrahastuti; Syaiful Arifin; Muhammad Ilham Mustain Murda; Albertus Magnus Rea
Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP) Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jsp.v16i1.13417

Abstract

Tradisi lisan Bedandeng merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Kutai di Kalimantan Timur yang memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal. Namun, dalam praktik pembelajaran, sastra lisan lokal masih jarang dimanfaatkan secara optimal sebagai materi ajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tradisi lisan Bedandeng sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menelaah bentuk puisi lama dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan penutur Bedandeng serta dokumentasi tuturan tradisi lisan yang masih berkembang di masyarakat Suku Kutai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bedandeng memiliki karakteristik struktural yang sesuai dengan bentuk puisi lama, khususnya syair, yang ditandai oleh keteraturan bait, larik, dan rima. Selain itu, tuturan Bedandeng mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi lisan Bedandeng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual dan bermakna, serta berkontribusi dalam penguatan literasi budaya dan pendidikan karakter peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal.
Children’s Bodily Expression and Learning Interaction Mediated by “Tabola Bale” Tri Indrahastuti; Rina Martiara; Syaiful Arifin
The Future of Education Journal Vol 4 No 9 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i9.1309

Abstract

This study aims to examine children’s bodily expression and learning engagement through the traditional song “Tabola Bale” as observed in TikTok and Instagram videos. Using a qualitative descriptive approach, the study employs video observation as the primary data source, supported by a literature review on embodied learning in elementary education. Publicly accessible videos featuring children’s responses to the song were selected purposively and analyzed thematically. The findings indicate that children display spontaneous bodily movements, rhythmic coordination, creative variations of movement, and positive affective expressions while engaging with the song. These bodily responses reflect active learning engagement that integrates motor, emotional, and social dimensions. The study also reveals that bodily expression serves as a medium of interaction, enabling meaningful participation through movement. The findings suggest that traditional songs hold pedagogical potential as embodied learning media in both classroom and digital learning contexts. This study contributes to elementary education by highlighting the relevance of culturally grounded songs in fostering active and meaningful learning experiences.
Language Functions and Speech Acts in the Spoken Language of Elementary School Children on TikTok: A Case Study of @shabiraalula Arini Hayati; Tri Indrahastuti; Tri Wahyuningsih; Hety Diana Septika
The Future of Education Journal Vol 5 No 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i2.1992

Abstract

This study was motivated by the increasing use of TikTok as a social media platform that has influenced children's communication patterns and language use in everyday life. It aims to describe the functions of language, the forms of illocutionary speech acts, and the reflection of children's pragmatic development in spoken language as represented in the TikTok content of @Shabiraalula&Ayah. The study employed a qualitative descriptive approach with a case study design. The data consisted of the spoken utterances of an elementary school-aged child extracted from three TikTok videos published on the @Shabiraalula&Ayah account. Data were collected through observation, documentation, and verbatim transcription, and subsequently analyzed using Halliday's theory of language functions and Searle's speech act theory within the frameworks of pragmatics and the sociolinguistics of digital media. The findings revealed five language functions: representational, interactional, heuristic, regulatory, and personal, with the representational function being the most dominant. Furthermore, the study identified assertive, expressive, and directive illocutionary speech acts, with expressive and assertive acts occurring most frequently. These findings indicate that children are able to use language contextually to convey information, express emotions, and establish social interactions within digital communication environments.
Analisis Analisis Semiotika dalam Siaran Televisi Sekitaran Etam di TVRI Kalimantan Timur Rafita Alistia; Tri Indrahastuti; Marwah Ulwatunnisa
Bahtera: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 23 No. 2 (2024): BAHTERA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Volume 23 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/bahtera.232.07

Abstract

This research aims to explain and describe the elements of semiotic theory by C.S. Pierce (icon, index, and symbol) in the Television Broadcast Sekitaran Etam for the November 2022 Period on TVRI East Kalimantan. The Sekitaran Etam uses the Kutai language with the Tenggarong dialect. This broadcast discusses the culture and local wisdom of the people of East Kalimantan. The method used in this research is a qualitative research method. Data and data sources in this research are quotes containing icons, indexes, and symbols in the script Sekitaran Etam for the November 2022 period on TVRI East Kalimantan. The data analysis technique uses qualitative research techniques, according to Miles and Huberman, namely data reduction, data presentation, and concluding/verification. The research results on television broadcasts Sekitaran Etam for November 2022 on TVRI East Kalimantan found five data. Based on the five data found, eight icons, eight indexes, and seven symbols exist