Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Self Efficacy dengan Kepatuhan Menjalankan Aktivitas Fisik pada Penderita Hipertensi di Masa Pandemi Covid 19 di RW 04 Terban GK V Gondokusuman Yogyakarta Baskara, Made Wahyu Ryan; Winandari, Fransisca; Istiarini, Chatarina Hatri; Pratama, Antonius Yogi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i10.11243

Abstract

ABSTRACT Hypertension is a non-communicable disease, a person is said to have hypertension if the systolic blood pressure measurement results are ≥140 mmHg and the diastolic blood pressure is ≥90 mmHg. Hypertension that is not properly controlled has the potential to cause complications such as stroke, coronary heart disease, and kidney failure and even death. Treatment of hypertension is carried out by pharmacological and non-pharmacological methods, the efforts made are by doing physical activity. Physical activity is recommended at least 150 minutes/week with moderate intensity. Non-compliance in controlling hypertension can occur due to poor self-efficacy. To find out the relationship between self-efficacy and adherence to physical activity in people with hypertension. Correlational research design with cross sectional approach. The population is 42 people and the sample is 42 people. The sampling technique used is total sampling. The results of the chi square test obtained a p-value of 0.024 (<0.05). The contingency coefficient value is 0.329 which means it has a weak close relationship. There is a correlation between self-efficacy and compliance with physical activities in hypertension patients during the Covid-19 pandemic at RW 04 Terban GK V Gondokusuman Yogyakarta in 2023.It is hoped that further researchers can examine the self-motivation of hypertension patients in controlling their disease.  Keywords: Self-Efficacy, Compliance to Physical Activities, Hypertension  ABSTRAK Hipertensi merupakan penyakit tidak menular, seseorang dikatakan mengalami hipertensi apabila hasil pengukuran tekanan darah sistol ≥140 mmHg dan tekanan darah diastol ≥90 mmHg. Hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik berpotensi mengakibatkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal hingga kematian. Penanganan hipertensi dilakukan dengan cara farmakologis dan nonfarmakologis, upaya yang dilakukan yaitu dengan melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik dianjurkan minimal 150 menit/minggu dengan intensitas sedang. Ketidakpatuhan dalam melakukan pengontrolan hipertensi dapat terjadi akibat buruknya efikasi diri.  Untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan kepatuhan menjalankan aktivitas fisik pada penderita hipertensi. Desain penelitian korelasional pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 42 orang dan sampel 42 orang. Teknik sampling yang digunakan total sampling. Hasil uji chi square didapatkan p-value sebesar 0.024 (<0.05). Nilai contingency coefficient yaitu sebesar 0.329 yang bermakna memiliki keeratan hubungan lemah. Terdapat hubungan self efficacy dengan kepatuhan menjalankan aktivitas fisik pada penderita hipertensi di masa pandemi covid 19 di RW 04 Terban GK V Gondokusuman Yogyakarta Tahun 2023. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti terkait motivasi diri pasien hipertensi dalam melakukan pengontrolan penyakitnya. Kata Kunci: Self Efficacy, Kepatuhan, Aktivitas Fisik, Hipertensi
GAMBARAN QUARTER LIFE CRISIS PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR PRODI SARJANA KEPERAWATAN ANGKATAN 2021 DI STIKES BETHESDA YOGYAKARTA TAHUN 2024 rebeka christin; Antonius Yogi Pratama; Christina Yeni Kustanti; Indah Prawesti
Journal Integrative and Holistic Health Studies Vol. 1 No. 1 (2025): Journal Integrative and Holistic Health Studies
Publisher : Punar Svasthya Krista

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66188/jihhs.v1i1.5

Abstract

Quarter Life Crisis (QLC) merupakan fenomena psikologis yang sering dialami individu usia dewasa awal, termasuk mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa dalam fase ini sering mengalami kebimbingan dalam mengambil keputusan, perasaan putus asa, kecemasan, serta tekanan mengenai masa depan akademik, karier, dan kehidupan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran QLC pada mahasiswa tingkat akhir Prodi Sarjana Keperawatan Angkatan 2021 di STIKES Bethesda Yogyakarta tahun 2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 56 orang mahasiswa akhir, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 44 orang mahasiswa akhir. Alat ukur dalam penelitian ini adalah kuesioner yang mengukur tujuh aspek QLC: bimbang dalam mengambil keputusan, putus asa, menilai diri secara negatif, merasa terjebak dalam situasi sulit, perasaan cemas, tertekan, dan khawatir akan hubungan interpersonal. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas (79,5%) mengalami QLC pada tingkat sedang. Aspek yang paling dominan adalah kebimbangan dalam mengambil keputusan (68,2%) dan penilaian diri negatif (54,5%). Quarter life crisis pada mahasiswa tingkat akhir di STIKES Bethesda Yogyakarta berada pada tingkat sedang. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi QLC pada populasi lebih luas dan mengembangkan strategi intervensi yang efektif.
Identifikasi Tanda Dan Gejala Kepikunan Pada Pra Lansia Di Yogyakarta Pratama, Antonius Yogi; Istianti, Daning Widi
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Latar Belakang: Insiden demensia Alzheimer di seluruh dunia meningkat dengan cepat. Estimasi orang dengan demensia di Indonesia pada tahun 2019 sebesar 987,673 (Kemenkes RI, 2019; Nichols E, 2019). Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sendiri ditemukan bahwa angka prevalensi lebih tinggi dari angka global, angka di Jogja sebesar 20,1 persen. Penyakit Demensia atau kepikunan diperkirakan akan makin meningkat kemunculannya di zaman modern. Langkah preventif seperti deteksi dini dan penangan dengan tepat akan dapat meminimalkan angka kejadian demensia meningkat. Tujuan: untuk menggambarkan dan mengidentifikasi tanda dan gejala kepikunan pada pra lansia di Kota Yogyakarta. Metode Proposal: penelitian deskriptif kuantitatif inimenggunakan tehnik purposive sampling dengan 105 responden usia 45-59 (pralansia). Kuesioner deteksi dini kepikunan digunakan dalam penelitian ini. Hasil: analisis deskriptif menunjukkan sebagian besar responden perempuan (72,4%), pendidikan paling banyak adalah tamat pendidikan tinggi (diploma dan sarjana) sebanyak 45,7%, pekerjaan paling besar adalah karyawan swasta (34,3%). distribusi kepikunan pada pralansia di Yogyakarta tahun 2023 yang terbesar adalah tidak pikun 82,9%. Sedangkan sisanya berisiko pikun (17,1%). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82,9% responden tidak pikun. Namun demikian terdapat pralansia yang memiliki risiko pikun yaitu sebesar 17,1% responden. Saran: melakukan penelitian dengan melibatkan variable lain yang menjadi factor risiko terjadinya demensia pada pra lansia.
EFEKTIFITAS PEMBERIAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DAN LOTION TERHADAP KEJADIAN LUKA TEKAN (DECUBITUS) DI RUANG HIGH NURSING DEPENDENCY (HND) RUMAH SAKIT TELOGOREJO SEMARANG TAHUN 2023 Antonius Yogi Pratama; Tri Endang Supriyanti
Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jikk.v7i1.2738

Abstract

Background: In average, the patients who enter the High NursingDependency (HND) wards are the patients with total bed rest at risk of pressure wounds (Decubitus). Pressure wounds are one of the effects of hospitalization oncritical patients. In September 2022, there was one incident of pressure wounds out of a total of 1,030 patients. Pressure wounds can be prevented by maintainingthe integrity of the skin through the use of moisturizers by applying VirginCoconut Oil and lotions. Objective: to recognize the effectiveness of applying VCO and Lotion to the prevalence of pressure wounds Method: Quasi experimental quantitative with the design using two group pretest-posttest design. The sampling technique was purposive sampling technique. The samples were 42 respondents divided into two intervention groups; 21 people in Virgin Coconut Oil group and 21 people in Lotion group. The measurement tools were checklist sheet, pressure wound scale. Results: The result of the effectiveness test using the Mann Whitneyp value test is 0.638 (>0.05). The Wilxocon test in the Virgin Coconut Oil group value is 0.023 (<0.05), and the test in the lotion group is 0.034 (< 0.05). Then, it can be interpreted that there is an effect of applying Virgin Coconut Oil and Lotion on pressure wounds. Conclusion: There is an effect of applying VCO and lotion on pressure wounds. There is no significant difference between the uses of VCO and lotion. Recommendation: Researchers may apply Virgin Coconut Oil and Lotion toprevent pressure wounds (decubitus).