Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Studi Karakteristik Marshall pada Campuran Asphalt Concrete Wearing Course dengan Substitusi Sebagian Aspal Menggunakan Styrofoam Dimas Edsa; Lizar Lizar
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.12865

Abstract

Konstruksi perkerasan jalan saat ini menghadapi tantangan berupa tingginya biaya aspal murni dan meningkatnya beban lalu lintas yang menyebabkan kerusakan dini. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan limbah styrofoam (polistirena) sebagai bahan substitusi aspal penetrasi 60/70 pada campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC). Tujuan utama penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh substitusi aspal dengan styrofoam pada rentang kadar 3% hingga 7% terhadap karakteristik Marshall dan parameter volumetrik. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan proses pencampuran basah (wet process), di mana styrofoam dicairkan bersama aspal pada suhu 150–160°C. Penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) dilakukan terlebih dahulu dan ditetapkan sebesar 5,5%. Selanjutnya, dilakukan pengujian Marshall pada lima variasi kadar substitusi, yaitu 3%, 4%, 5%, 6%, dan 7% dari berat aspal optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan styrofoam meningkatkan nilai stabilitas campuran hingga mencapai puncak pada variasi 5% sebesar 1483,80 kg dan 6% sebesar 1481,34 kg, melampaui campuran normal sebesar 1418,25 kg. Namun, peningkatan kadar styrofoam menyebabkan peningkatan VITM dan VMA serta penurunan kepadatan dan VFWA. Berdasarkan evaluasi terhadap Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, hanya variasi substitusi 3% yang memenuhi seluruh parameter teknis, terutama batas maksimum VITM sebesar 5%. Oleh karena itu, kadar 3% direkomendasikan sebagai kadar substitusi optimum untuk menjaga kinerja, durabilitas, dan manfaat lingkungan campuran AC-WC.
Pengaruh Substitusi Aspal Menggunakan Limbah Styrofoam terhadap Karakteristik Marshall Campuran Asphalt Concrete-Binder Course Ahmad Farhan Ghifari; Lizar Lizar
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.12866

Abstract

Perkerasan jalan memerlukan campuran beraspal yang memiliki kinerja baik agar mampu menahan beban lalu lintas sekaligus memiliki ketahanan terhadap deformasi. Di sisi lain, meningkatnya limbah Styrofoam  yang sulit terurai mendorong pemanfaatannya sebagai material alternatif pada campuran beraspal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh substitusi sebagian aspal menggunakan Styrofoam  terhadap karakteristik Marshall campuran Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan menggunakan aspal penetrasi 60/70 dan variasi kadar substitusi Styrofoam  sebesar 3%, 4%, 5%, 6%, dan 7% dari berat aspal pada Kadar Aspal Optimum (KAO) sebesar 5,5%. Parameter yang dianalisis meliputi stabilitas, flow, Marshall Quotient (MQ), density, Void in Mix (VIM), Void in Mineral Aggregate (VMA), dan Void Filled with Asphalt (VFWA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Styrofoam  memengaruhi seluruh karakteristik Marshall campuran AC-BC. Nilai stabilitas meningkat hingga kadar substitusi tertentu, sedangkan nilai VIM dan VMA cenderung meningkat seiring bertambahnya kadar Styrofoam . Sebaliknya, nilai VFWA menunjukkan kecenderungan menurun. Berdasarkan hasil pengujian dan evaluasi terhadap persyaratan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, kadar substitusi Styrofoam  sebesar 3% memberikan kinerja terbaik karena seluruh parameter Marshall masih memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Styrofoam  berpotensi dimanfaatkan sebagai material substitusi sebagian aspal pada campuran AC-BC dengan kadar yang terbatas agar kinerja campuran tetap memenuhi standar.