Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan Tingkat Asupan Zat Gizi Makro, Indeks Glikemik, Beban Glikemik Dengan Glukosa Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Agesti Avita Tantri; Desti Ambar Wati
JURNAL RISET GIZI Vol. 12 No. 2 (2024): November 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i2.11757

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolik kronis yang di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya asupan zat gizi makro, indeks glikemik dan beban glikemik yang di tandai tingginya kadar glukosa darah sewaktu (GDS) akibat gangguan fungsi insulin.        Tujuan: Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Tingkat Asupan Zat Gizi Makro, Indeks Glikemik Dan Beban Glikemik Dengan Glukosa Darah Sewaktu Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2Metode: Penelitian ini merupakan kuantitatif dengan desain cross sectional yang  dilakukan pada Tanggal 19 Juni- 14 Juli 2024 di RSU Az-Zahra Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah. Populasi berjumlah 162 orang dan responden berjumlah 50 orang yang diambil dengan teknik sampling purposive sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan form recall 2x24 jam. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi gamma. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari 50 orang pasien DM Tipe 2 terdapat 39 (78%)  pasien memiliki kadar GDS hiperglikemik, 24 (48%) asupan energi defisit tingkat berat, 25 (50%) asupan karbohidrat defisit tingkat berat, 20 (40%) asupan protein defisit tingkat berat, 21 (42%) asupan lemak defisit tingkat berat, 25 (50%) indeks glikemik rendah, 26 (52%) beban glikemik rendah.Kesimpulan: Ada hubungan yang kuat antara asupan zat gizi makro (energi p= 0,001. karbohidrat p= 0,002. protein p= 0,005, lemak p= 0,004), indeks glikemik (p=  0,001) dan beban glikemik (p=0,001) dengan kadar glukosa darah sewaktu pasien diabetes melitus tipe 2. Diharapkan pasien DM tipe 2 dapat menerapkan prinsip 3J yaitu tepat jenis, jumlah dan jadwal makanan yang dikonsumsi dalam pengendalian glukosa darah sewaktu.
Hubungan Lemak Viseral dan Massa Otot dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Desti Ambar Wati; Nuzila Meysa Rhasetia
JURNAL RISET GIZI Vol. 13 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v13i2.13148

Abstract

Background: Visceral fat and skeletal muscle mass are important components in glucose metabolism regulation, particularly in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM). Visceral fat is aasociated with insulin resistance, while skeletal muscle serves as the primary site of glucose uptake after meals. Objective: To analyze the association between visceral fat and muscle mass with random blood glucose levels in patients with T2DM. Methods: This cross-sectional study was conducted in July 2024 at the Kota Agung Primary Health Center, Tanggamus Regency, involving 58 T2DM patients selected through purposive sampling. Visceral fat and muscle mass were measured using bioelectrical impedance analysis (BIA), and random blood glucose levels were assessed using a glucometer. Data were analyzed using Pearson’s correlation test. Result: A significant positive association was observed between visceral fat and random blood glucose levels (r = 0.387, p = 0.003). Conversely, a significant negative association was found between muscle mass and random blood glucose levels (r = –0.386, p = 0.003). Female patients generally showed higher visceral fat, lower muscle mass, and higher random blood glucose levels than male patients. Conclusion: Visceral fat is positively associated, and skeletal muscle mass is negatively associated with random blood glucose levels in T2DM patients. These findings highlight the importance of body composition in glycemic control and suggest that interventions targeting visceral fat reduction and muscle mass preservation may be effective in managing T2DM.