Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Hegemoni Soeharto dalam Buku Komik Merebut Kota Perjuangan, 1 Maret 1949 Guruh Ramdani; Haries Marithasari; Renny Soelistiyowati
Jurnal Desain Vol 9, No 3 (2022): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v9i3.12711

Abstract

Digital Popularity and Self-Confidence: Examining the Role of Instagram Followers among University Students Ersya Shafira Chairani; Hari Otang Sasmita; Guruh Ramdani; Fahmi Fuad Cholagi
jitek Vol 13 No 2 (2026): Maret 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jakarta III

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32668/jitek.v13i2.2335

Abstract

Abstract The rapid expansion of social media has transformed how university students construct identity and evaluate self-worth, with Instagram emerging as a prominent platform for social validation. This study aimed to examine the relationship between Instagram follower count and self-confidence among university students, positioning follower count as a psychosocial indicator of digital social approval. Using a quantitative cross-sectional design, data were collected through an online survey administered to 76 undergraduate students who actively used Instagram. Self-confidence was measured using a Likert-scale questionnaire adapted from social self-efficacy theory, while follower count was assessed through self-reported data. Instrument validity and reliability were confirmed prior to analysis.Normality testing indicated non-normality, leading to the use of Spearman’s rank-order correlation to examine the association between variables. The results revealed a strong, statistically significant positive relationship between Instagram follower count and self-confidence, indicating that students with higher follower counts reported greater confidence in social interactions. These findings suggest that follower count serves as a meaningful form of social validation, influencing students’ self-perceptions in both digital and offline contexts.The study highlights the psychological implications of digital popularity metrics and underscores the need for higher education institutions to promote digital literacy and mental health awareness. By fostering critical engagement with social media, universities can help students develop healthier relationships with online validation and support more resilient forms of self-confidence.
Proses Pembuatan Konten Kreatif Visual untuk Pemasaran Digital pada Sosial Media Instagram @BOSSFOOD.OFFICIAL Habsari Sarah Anjaly; Guruh Ramdani
Jurnal Komputer, Informasi dan Teknologi Vol. 5 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/jkomitek.v5i1.2510

Abstract

Studi ini menggunakan teori kreativitas WallaS (1962) dan model AIDA bertujuan untuk mempelajari proses pembuatan konten visual untuk pemasaran digital di instagram @BOSSFOOD.OFFICIAL. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif kualitatif dengan teknik observasi partisipasi aktif, dan dokumentasi data engagement periode Januari sampai Mei 2025. Proses kreatif dimulai pada tahap persiapan dengan melakukan penelitian tentang tren, melakukan analisi audiens, dan mengupulkan ide untuk dimasukan ke dalam storyboard. Pada tahap inkubasi dua hari sebelum publikasi, ide dipelajari, tren dievaluasi, dan elemen visual disempurnakan. Pada tahap iluminasi, ide difinalisasi. Untuk menyempurnakan strategi, tehap verifikasi menggunakan data engagement untuk menyempurnakan strategi. Hasil dari analisis menunjukan bahwa penerapan model AIDA secara efektif meningkatkan engagement dan storytelling edukatif mampu menciptakan ikatan emosional lebih baik daripada kompetitor seperti Lotte Grosir. Hambatan seperti keterbatasan sumber daya manusia, manajemen waktu yang kurang baik, dan kurangnya eksplorasi visual mempengaruhi relevansi konten. Solusi yang disarankan meliputi manajemen waktu yang baik, penambahan sumber daya manusia yang berfokus pada bidang desain grafis, dan evaluasi mendalam terkait konten visual. Dengan solusi ini, diharapkan proses pembuatan konten Instagram @BOSSFOOD.OFFICIAL menjadi lebih efektif, menarik, dan berdampak positif pada tujuan pemasaran online
Digital Popularity and Self-Confidence: Examining the Role of Instagram Followers among University Students Ersya Shafira Chairani; Hari Otang Sasmita; Guruh Ramdani; Fahmi Fuad Cholagi
jitek Vol 13 No 2 (2026): Maret 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jakarta III

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32668/jitek.v13i2.2335

Abstract

Abstract The rapid expansion of social media has transformed how university students construct identity and evaluate self-worth, with Instagram emerging as a prominent platform for social validation. This study aimed to examine the relationship between Instagram follower count and self-confidence among university students, positioning follower count as a psychosocial indicator of digital social approval. Using a quantitative cross-sectional design, data were collected through an online survey administered to 76 undergraduate students who actively used Instagram. Self-confidence was measured using a Likert-scale questionnaire adapted from social self-efficacy theory, while follower count was assessed through self-reported data. Instrument validity and reliability were confirmed prior to analysis.Normality testing indicated non-normality, leading to the use of Spearman’s rank-order correlation to examine the association between variables. The results revealed a strong, statistically significant positive relationship between Instagram follower count and self-confidence, indicating that students with higher follower counts reported greater confidence in social interactions. These findings suggest that follower count serves as a meaningful form of social validation, influencing students’ self-perceptions in both digital and offline contexts.The study highlights the psychological implications of digital popularity metrics and underscores the need for higher education institutions to promote digital literacy and mental health awareness. By fostering critical engagement with social media, universities can help students develop healthier relationships with online validation and support more resilient forms of self-confidence.
Kreativitas Jurnalistik Isu Lingkungan pada Konten Reels Instagram Forest Watch Indonesia Sophie Fathima Primannisa Alyindra; Guruh Ramdani
Hulondalo Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Komunikasi Vol 5 No 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/h2amc289

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi kreativitas jurnalistik dalam produksi konten storytelling isu lingkungan pada Instagram Reels Forest Watch Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan framework S-DIKW (Story-Data-Information-Knowledge-Wisdom) sebagai kerangka analisis untuk memahami proses penyampaian data kehutanan dalam bentuk storytelling digital berbasis video pendek. Data diperoleh melalui observasi non-partisipan, studi pustaka, dan wawancara semi-terstruktur dengan lima informan yang terdiri dari dua kepala bidang media dan data serta tiga anggota bidang media Forest Watch Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Forest Watch Indonesia menerapkan berbagai strategi kreativitas jurnalistik, seperti penggunaan analogi, bahasa populer, hook interaktif, visualisasi data, dramatisasi emosi, serta elemen audio-visual untuk menyederhanakan data lingkungan yang kompleks agar lebih mudah dipahami audiens media sosial. Storytelling juga digunakan sebagai media advokasi digital untuk mendorong keterlibatan publik terhadap isu lingkungan. Penelitian ini menegaskan kontribusi framework S-DIKW dalam membantu analisis strategi data storytelling pada platform video pendek serta memperluas kajian jurnalisme lingkungan digital berbasis media sosial.
Kapitalisme Global dan Penetrasi Budaya Asing dalam Lukisan Dede Eri Supria Guruh Ramdani
Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana Vol. 26 No. 2 (2026): JULY 2026
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/nirmana.26.2.%p

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi kritik terhadap hegemoni kapitalisme global dan penetrasi budaya asing dalam lukisan Dede Eri Supria pada masa Orde Baru. Fokus kajian terletak pada bagaimana karya visual menyuarakan dampak ekspansi kapitalisme serta marginalisasi masyarakat urban di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk membedah lukisan “Di antara Rimba Iklan” (1987) dan “Iced Coconut Juice Versus Coca Cola” (1991), melalui sintesis teori hegemoni Gramsci, produksi ruang Lefebvre, dan semiotika Peirce. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kedua lukisan tersebut merupakan instrumen kritik sosiopolitik yang membongkar komodifikasi ruang publik dan tegangan identitas akibat penetrasi modal asing. Melalui gaya hiperrealisme yang subversif, karya Dede Eri Supria hadir sebagai bentuk kontra-hegemoni visual yang memvalidasi dominasi budaya melalui estetika konsumsi. Secara teoretis, kajian ini memperluas konsep representational space Lefebvre dengan memosisikan seni rupa sebagai ruang tandingan yang mampu merepresentasikan "suasana kebatinan" sejarah yang sering terabaikan dalam dokumen resmi. Sinergi semiotika dalam penelitian ini menunjukan bahwa setiap elemen visual dalam kedua lukisan memikul beban ideologis kuat yang berfungsi membongkar distorsi realitas akibat pembangunan yang dipacu modal asing.
Representasi GoFood Sebagai Pengganti Ibu dalam Iklan “Ungkapkan yang di Hati, Kirimkan yang Berarti” Nathania Raissa Gunawan; Guruh Ramdani; Mulyono
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v8i1.2362

Abstract

Advertisement, as a form of visual and verbal communication, utilizes various elements to attract attention and shape consumer understanding in accordance with its communicative goals. One advertisement that employs connotative signs to shape audience perception is GoFood’s “Ungkapkan yang Di Hati, Kirimkan yang Berarti” campaign. This ad goes beyond merely promoting a food delivery service; it also represents emotional values such as love and care, which are conveyed through its messaging. This study aims to analyze how GoFood is represented as a substitute for the role of a mother in the “Ungkapkan yang Di Hati, Kirimkan yang Berarti” advertisement. The research is conducted using a qualitative descriptive method, employing Stuart Hall’s theory of representation and Roland Barthes’ theory of extended connotation semiotics to uncover the connotative meanings and myths contained in the advertisement. This study is expected to contribute to a deeper understanding of how advertisements work through various connotative signs, visual, verbal, and textual, which can serve as creative methods during the advertisement production process. Abstrak Iklan sebagai bentuk komunikasi visual dan verbal memanfaatkan berbagai elemen untuk menarik perhatian dan membentuk pemahaman konsumen yang sesuai dengan tujuan komunikatifnya. Salah satu iklan yang juga memanfaatkan penanda-penanda konotatif yang membentuk presepsi audiens adalah iklan GoFood versi "Ungkapkan yang di Hati, Kirimkan yang Berarti." Iklan ini tidak hanya sekadar mempromosikan layanan pengantaran makanan, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai emosional, seperti kasih sayang dan perhatian, yang disampaikan melalui iklannya. Penelitian ini bertujuan untuk membedah bagaimana GoFood direpresentasikan sebagai pengganti peran ibu dalam iklan GoFood versi “Ungkapkan yang Di Hati, Kirimkan yang Berarti”. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan teori representasi dari Stuart Hall dan semiotika konotasi berlanjut dari Roland Barthes untuk mengungkap makna-makna konotatif dan juga mitos yang terkandung dalam iklan “Ungkapkan yang di Hati, Kirimkan yang Berarti”. Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan cara kerja iklan melalui berbagai penanda-penanda konotatif, baik yang bersifat visual, verbal, maupun tekstual yang dapat berguna sebagai salah satu bentuk metode kreatif pada tahap produksi pembuatan iklan.
Peran Account Executive dalam Event Marketing Huawei Berbasis Komunikasi Digital Moza Salsabilla; Guruh Ramdani
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v8i1.2728

Abstract

This report examines the role of the Account Executive (AE) in Huawei’s event marketing executed through digital communication at Gushcloud Indonesia. It aims to map how AEs plan, implement, and evaluate campaigns so that brand messages remain consistent across channels. A qualitative approach was used through active participation, observation, in-depth interviews (two AEs and one Account Manager), documentation, and literature review. Findings show that AEs play a central end-to-end role: translating client needs into strategy, building a message house and creative briefs, selecting influencers based on audience–brand fit (beyond follower counts), enforcing message consistency across platforms (social media, website, livestream), coordinating vendors under clear SLAs, and closing with data-driven evaluation (reach, engagement, timeline adherence, and audience feedback). Key challenges include client–agency expectation gaps, cross-platform consistency, multi-party coordination, time–budget constraints, and the need for technological and cross-cultural sensitivity. Recommended practices include establishing a message house, content calendar, go-live checklist/war room, pre-flight testing of materials (titles, hooks, thumbnails, CTAs), SLA-based vendor control, and rapid post-mortems for iterative improvement. Overall, a well-structured AE function boosts audience engagement and strengthens brand awareness, while sales impact typically follows over time. Abstrak Penelitian ini mengkaji peran Account Executive (AE) dalam pemasaran acara Huawei yang dilakukan melalui komunikasi digital di Gushcloud Indonesia. Tujuannya adalah untuk memetakan bagaimana AE merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kampanye sehingga pesan merek tetap konsisten di berbagai saluran. Pendekatan kualitatif digunakan melalui partisipasi aktif, observasi, wawancara mendalam (dua AE dan satu Account Manager), dokumentasi, dan tinjauan pustaka. Temuan menunjukkan bahwa AE memainkan peran sentral dari awal hingga akhir: menerjemahkan kebutuhan klien ke dalam strategi, membangun kerangka pesan dan brief kreatif, memilih influencer berdasarkan kesesuaian audiens-merek (di luar jumlah pengikut), menegakkan konsistensi pesan di berbagai platform (media sosial, situs web, siaran langsung), mengoordinasikan vendor di bawah SLA yang jelas, dan menutup dengan evaluasi berbasis data (jangkauan, keterlibatan, kepatuhan terhadap jadwal, dan umpan balik audiens). Tantangan utama meliputi kesenjangan ekspektasi klien-agensi, konsistensi lintas platform, koordinasi multi-pihak, kendala waktu-anggaran, dan kebutuhan akan sensitivitas teknologi dan lintas budaya. Praktik yang direkomendasikan meliputi pembentukan tim pemasaran terpadu, kalender konten, daftar periksa/ruang kerja persiapan peluncuran, pengujian awal materi (judul, pengantar, gambar mini, ajakan bertindak), kontrol vendor berbasis SLA, dan analisis pasca-peluncuran yang cepat untuk perbaikan berulang. Secara keseluruhan, fungsi AE yang terstruktur dengan baik meningkatkan keterlibatan audiens dan memperkuat kesadaran merek, sementara dampak penjualan biasanya akan terlihat seiring waktu.
Representasi GoFood Sebagai Pengganti Ibu dalam Iklan “Ungkapkan yang di Hati, Kirimkan yang Berarti” Nathania Raissa Gunawan; Guruh Ramdani; Mulyono
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v8i1.2362

Abstract

Advertisement, as a form of visual and verbal communication, utilizes various elements to attract attention and shape consumer understanding in accordance with its communicative goals. One advertisement that employs connotative signs to shape audience perception is GoFood’s “Ungkapkan yang Di Hati, Kirimkan yang Berarti” campaign. This ad goes beyond merely promoting a food delivery service; it also represents emotional values such as love and care, which are conveyed through its messaging. This study aims to analyze how GoFood is represented as a substitute for the role of a mother in the “Ungkapkan yang Di Hati, Kirimkan yang Berarti” advertisement. The research is conducted using a qualitative descriptive method, employing Stuart Hall’s theory of representation and Roland Barthes’ theory of extended connotation semiotics to uncover the connotative meanings and myths contained in the advertisement. This study is expected to contribute to a deeper understanding of how advertisements work through various connotative signs, visual, verbal, and textual, which can serve as creative methods during the advertisement production process. Abstrak Iklan sebagai bentuk komunikasi visual dan verbal memanfaatkan berbagai elemen untuk menarik perhatian dan membentuk pemahaman konsumen yang sesuai dengan tujuan komunikatifnya. Salah satu iklan yang juga memanfaatkan penanda-penanda konotatif yang membentuk presepsi audiens adalah iklan GoFood versi "Ungkapkan yang di Hati, Kirimkan yang Berarti." Iklan ini tidak hanya sekadar mempromosikan layanan pengantaran makanan, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai emosional, seperti kasih sayang dan perhatian, yang disampaikan melalui iklannya. Penelitian ini bertujuan untuk membedah bagaimana GoFood direpresentasikan sebagai pengganti peran ibu dalam iklan GoFood versi “Ungkapkan yang Di Hati, Kirimkan yang Berarti”. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan teori representasi dari Stuart Hall dan semiotika konotasi berlanjut dari Roland Barthes untuk mengungkap makna-makna konotatif dan juga mitos yang terkandung dalam iklan “Ungkapkan yang di Hati, Kirimkan yang Berarti”. Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan cara kerja iklan melalui berbagai penanda-penanda konotatif, baik yang bersifat visual, verbal, maupun tekstual yang dapat berguna sebagai salah satu bentuk metode kreatif pada tahap produksi pembuatan iklan.
Peran Account Executive dalam Event Marketing Huawei Berbasis Komunikasi Digital Moza Salsabilla; Guruh Ramdani
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v8i1.2728

Abstract

This report examines the role of the Account Executive (AE) in Huawei’s event marketing executed through digital communication at Gushcloud Indonesia. It aims to map how AEs plan, implement, and evaluate campaigns so that brand messages remain consistent across channels. A qualitative approach was used through active participation, observation, in-depth interviews (two AEs and one Account Manager), documentation, and literature review. Findings show that AEs play a central end-to-end role: translating client needs into strategy, building a message house and creative briefs, selecting influencers based on audience–brand fit (beyond follower counts), enforcing message consistency across platforms (social media, website, livestream), coordinating vendors under clear SLAs, and closing with data-driven evaluation (reach, engagement, timeline adherence, and audience feedback). Key challenges include client–agency expectation gaps, cross-platform consistency, multi-party coordination, time–budget constraints, and the need for technological and cross-cultural sensitivity. Recommended practices include establishing a message house, content calendar, go-live checklist/war room, pre-flight testing of materials (titles, hooks, thumbnails, CTAs), SLA-based vendor control, and rapid post-mortems for iterative improvement. Overall, a well-structured AE function boosts audience engagement and strengthens brand awareness, while sales impact typically follows over time. Abstrak Penelitian ini mengkaji peran Account Executive (AE) dalam pemasaran acara Huawei yang dilakukan melalui komunikasi digital di Gushcloud Indonesia. Tujuannya adalah untuk memetakan bagaimana AE merencanakan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kampanye sehingga pesan merek tetap konsisten di berbagai saluran. Pendekatan kualitatif digunakan melalui partisipasi aktif, observasi, wawancara mendalam (dua AE dan satu Account Manager), dokumentasi, dan tinjauan pustaka. Temuan menunjukkan bahwa AE memainkan peran sentral dari awal hingga akhir: menerjemahkan kebutuhan klien ke dalam strategi, membangun kerangka pesan dan brief kreatif, memilih influencer berdasarkan kesesuaian audiens-merek (di luar jumlah pengikut), menegakkan konsistensi pesan di berbagai platform (media sosial, situs web, siaran langsung), mengoordinasikan vendor di bawah SLA yang jelas, dan menutup dengan evaluasi berbasis data (jangkauan, keterlibatan, kepatuhan terhadap jadwal, dan umpan balik audiens). Tantangan utama meliputi kesenjangan ekspektasi klien-agensi, konsistensi lintas platform, koordinasi multi-pihak, kendala waktu-anggaran, dan kebutuhan akan sensitivitas teknologi dan lintas budaya. Praktik yang direkomendasikan meliputi pembentukan tim pemasaran terpadu, kalender konten, daftar periksa/ruang kerja persiapan peluncuran, pengujian awal materi (judul, pengantar, gambar mini, ajakan bertindak), kontrol vendor berbasis SLA, dan analisis pasca-peluncuran yang cepat untuk perbaikan berulang. Secara keseluruhan, fungsi AE yang terstruktur dengan baik meningkatkan keterlibatan audiens dan memperkuat kesadaran merek, sementara dampak penjualan biasanya akan terlihat seiring waktu.