Muhammad Zulfahmi
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Karya Komposisi Musik “Riuh Berzapin” Inspirasi Filler Zapin Kote Sultan Palembang Singkep Pesisir Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau Alfiansyah Saputra; Susandrajaya Susandrajaya; Muhammad Zulfahmi
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 2, No 1 (2022): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v2i1.3086

Abstract

ABSTRAKKomposisi musik karawitan “Riuh Berzapin” dilatarbelakangi oleh ketertatikan pengkarya terhadap salah satu lagu yang terdapat pada kesenian Zapin Kote yaitu lagu Sultan Palembang, jenis kesenian Zapin Desa Kote Provinsi Kepulauan Riau. Pengkarya melihat terdapat unsur-unsur musikal yang memiliki banyak potensi garap, baik pada melodi, ritme, maupun syair pada lagu Sultan Palembang, sehingga menjadi ide dasar pengkarya dalam penggarapan komposisi musik karawitan. Proses penggarapan komposisi “Riuh Berzapin”, menggunakan metode pendekatan tradisi. Alasan memilih pendekatan tradisi yaitu ingin mengembangkan kesenian Zapin Kote menjadi sebuah komposisi musik dengan bentuk yang baru namun tidak menghilangkan nilai tradisi dari kesenian aslinya. Penciptaan karya komposisi musik Karawitan “Riuh Berzapin”, tahapan kerja terdiri dari pengamatan, diskusi, pembentukan (sintesis), realisasi dan penyelesaian karya. Komposisi musik “Riuh Berzapin” bernuansa Melayu menyajikan karya dalam dua bentuk atau bagian. Pada bagian pertama, pengkarya mengembangkan irama dari lagu Sultan Palembang dan juga permainan Laram yang terdapat pada lagu Sultan Palembang. Bagian kedua pengkarya mengembangkan melodi yang terdapat pada permainan gambus, dan juga pola ritme melodi pendek atau Filler yang bersifat rapat serta rampak dan energik, dengan penekanan pada melodi gambus dan interaksi gambus dengan pemain instrument lainya serta vokal. Puncak pertunjukan karya “Riuh Berzapin” terdapat pada bagian akhir garapan, dimana pada bagian ini pengkarya menghadirkan permainan meter tiga dengan melodi yang lebih rapat dan energik. Karya “Riuh Berzapin” menyampaikan pesan nasehat kepada para penonton sebagaimana dapat dilihat pada syair-syair yang dinyanyikan. Karya Komposisi musik Karawitan “Riuh Berzapin” digarap dengan menggunakan metode pendekatan Interpretasi Tradisi, menggunakan konsep dasar pengembangan musik Zapin Riau Kepulauan, sehingga memunculkan varian baru musik Zapin. Karya ini dipertunjukkan secara live dengan mematuhi protokol kesehatan di panggung pertunjukan dan disaksikan secara langsung oleh penonton. Kata Kunci: Riuh Berzapin; Kote; Sultan PalembangABSTRACTThe musical composition of "Riuh Berzapin" is motivated by the artist's interest in one of the songs contained in the Zapin Kote art, namely the Sultan of Palembang song, the type of Zapin art in Kote Village, Riau Islands Province. The artist sees that there are musical elements that have a lot of potential to work on, both on the melody, rhythm, and verse in the Sultan of Palembang song, so that it becomes the basic idea of the artist in cultivating musical compositions. The process of cultivating the composition "Riuh Berzapin", using the traditional approach method. The reason for choosing the traditional approach is to develop the art of Zapin Kote into a musical composition with a new form but not to eliminate the traditional value of the original art. The creation of the Karawitan musical composition "Riuh Berzapin", the stages of work consist of observation, discussion, formation (synthesis), realization and completion of the work. The musical composition "Riuh Berzapin" with Malay nuances presents the work in two forms or parts. In the first part, the artist develops the rhythm of the Palembang Sultan's song and also the Laram game found in the Palembang Sultan's song. The second part of the work develops the melodies found in the gambus playing, as well as the rhythmic patterns of short melodies or Filler which are tight and rampak and energetic, with an emphasis on the melody of the gambus and the interaction of the gambus with other instrument players as well as vocals. The highlight of the performance of the work "Riuh Berzapin" is at the end of the work, where in this section the artist presents a three meter game with a more dense and energetic melody. The work "Riuh Berzapin" conveys a message of advice to the audience as can be seen in the sung poems. The composition of Karawitan music "Riuh Berzapin" was worked on using the Tradition Interpretation approach, using the basic concept of developing Zapin music in Riau Islands, thus creating a new variant of Zapin music. This work is performed live by complying with health protocols on the stage and witnessed by the audience.Keyword: Riuh Berzapin; Kote; Sultan Palembang
Gandang Tambua Pupuik pada Acara Baralek di Nagari Paninjauan Kabupaten Agam Fauzi Fauzi; Ediwar Ediwar; Sriyanto Sriyanto; Muhammad Zulfahmi
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 2, No 2 (2022): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v2i2.3200

Abstract

-Gandang Tambua Pupuik merupakan salah satu kesenian tradisional yang ada di Nagari Paninjauan Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam. Awalnya kesenian ini dipertunjukkan pada kegiatan konsi atau gotong royong di sawah pada saat istirahat minum dan makan, yang bertujuan untuk memberi tahu kepada masyarakat bahwasanya ada gotong royong. Seiring perkembangannya, sekarang kesenian ini tidak lagi dipertunjukkan pada kegiatan konsi di sawah, namun telah dipertunjukkan pada upacara pesta perkawinan, alek nagari dan lain sebagainya. Dalam pertunjukannya kesenian ini dimainkan 10 sampai 15 orang pemain. Ensambel Gandang Tambua Pupuik terdiri dari beberapa instrumen yaitu pupuik batang padi, tambua, talempong, gadabiak (rebana), dan giriang-giriang (tamborin). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan struktur pertunjukan Gandang Tambua Pupuik pada acara pesta perkawinan dan alek nagari di Nagari Paninjauan Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif bersifat deskriptif yakni mengumpulkan data baik lisan maupun tulisan terkait pertunjukan kesenian Gandang Tambua Pupuik,  dengan beberapa teknik seperti observasi ke lapangan tepatnya di Nagari Maninjau, wawancara dengan narasumber yang memiliki pemahaman tentang keberadaan Gandang Tambua Pupuik, studi pustaka terhadap beberapa tulisan terkait kesenian ini, serta pengambilan dokumentasi pertunjukan Gandang Tambua Pupuik di Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. 
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN KESENIAN BARZANJI DI NAGARI PANINJAUAN KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT Arnailis Arnailis; Anak Istri Agung Citrawati; Muhammad Zulfahmi
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2023): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i3.1099-1108

Abstract

Pengabdian masyarakat adalah aktivitas sebagai upaya pemberian bantuan kepada masyarakat. Hal tersebut merupakan bagian dalam tiga kewajiban Pendidikan Tinggi. Pelatihan kesenian Barzanji dalam masyarakat Nagari paninjauan merupakan salah satu usaha wali nagari  dalam memberdayakan masyakatnya. Kegiatan ini berlangsung dalam rentang waktu sebulan, dimulai pada 16 Oktober dan berakhir pada tanggal 16 Desember 2022 dan didukung sepenuhnya oleh masyarakat dan pemerintah Nagari paninjauan. Kegiatan ini melibatkan masyarakat yang terdiri dari kaum ibu dan para remaja di nagari tersebut untuk membentuk kelompok kesenian barzanji yang nantinya dapat dijadikan sebagai wahana syiar islam karena dalam kesenian Barzanji terkandung ajaran pendidikan karakter keagamaan meliputi: keyakinan yang kuat dan taqwa, rasa syukur, sikap rendah hati, integritas dan kejujuran, sikap ramah, keadilan, dan kesabaran. Ajaran tersebut dianggap dapat diimplementasikan  dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan dalam memberikan keteladanan terutama kepada generasi muda agar mampu menjadi insan yang berguna bagi kedua orangtua, agama, nusa dan bangsa.dan kegiatan tambahan yang, disamping itu dapat dijadikan sebagai kegiatan tambahan yang menyenangkan menyenangkan yang nantinya bisa ditampilkan dalam pagelaran pesta seni budaya  yang selalu diadakan setiap tahun di daerah tersebut. Metode yang diterapkan pada kegiatan pengabdian ini yaitu ceramah serta praktik. Metode tersebut terpilih digunakan dalam menjelaskan detail mengenai kesenian barzanji, sedangkan metode praktik dimanfaatkan dalam mempelajari irama dan teknik dalam kesenian barzanji. Tujuan pengabdian adalah menumbuh kembangkan kesenian bernuansa islam ditengah tengah masyarakat nagari Paninjauan. Hasil yang dicapai adalah terbentuknya kelompok kesenian barzanji di daerah Paninjauan.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN KESENIAN BARZANJI DI NAGARI PANINJAUAN KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT Arnailis Arnailis; Anak Istri Agung Citrawati; Muhammad Zulfahmi
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 3 (2023): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i3.1099-1108

Abstract

Pengabdian masyarakat adalah aktivitas sebagai upaya pemberian bantuan kepada masyarakat. Hal tersebut merupakan bagian dalam tiga kewajiban Pendidikan Tinggi. Pelatihan kesenian Barzanji dalam masyarakat Nagari paninjauan merupakan salah satu usaha wali nagari  dalam memberdayakan masyakatnya. Kegiatan ini berlangsung dalam rentang waktu sebulan, dimulai pada 16 Oktober dan berakhir pada tanggal 16 Desember 2022 dan didukung sepenuhnya oleh masyarakat dan pemerintah Nagari paninjauan. Kegiatan ini melibatkan masyarakat yang terdiri dari kaum ibu dan para remaja di nagari tersebut untuk membentuk kelompok kesenian barzanji yang nantinya dapat dijadikan sebagai wahana syiar islam karena dalam kesenian Barzanji terkandung ajaran pendidikan karakter keagamaan meliputi: keyakinan yang kuat dan taqwa, rasa syukur, sikap rendah hati, integritas dan kejujuran, sikap ramah, keadilan, dan kesabaran. Ajaran tersebut dianggap dapat diimplementasikan  dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan dalam memberikan keteladanan terutama kepada generasi muda agar mampu menjadi insan yang berguna bagi kedua orangtua, agama, nusa dan bangsa.dan kegiatan tambahan yang, disamping itu dapat dijadikan sebagai kegiatan tambahan yang menyenangkan menyenangkan yang nantinya bisa ditampilkan dalam pagelaran pesta seni budaya  yang selalu diadakan setiap tahun di daerah tersebut. Metode yang diterapkan pada kegiatan pengabdian ini yaitu ceramah serta praktik. Metode tersebut terpilih digunakan dalam menjelaskan detail mengenai kesenian barzanji, sedangkan metode praktik dimanfaatkan dalam mempelajari irama dan teknik dalam kesenian barzanji. Tujuan pengabdian adalah menumbuh kembangkan kesenian bernuansa islam ditengah tengah masyarakat nagari Paninjauan. Hasil yang dicapai adalah terbentuknya kelompok kesenian barzanji di daerah Paninjauan.
Bentuk Penyajian dan Fungsi Musik Kompangan dalam Upacara Cukuran Anak di Desa Tenam Batanghari Jambi Abdul Rokhan; Asril Asril; Muhammad Zulfahmi
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v6i1.30918

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bentuk dan fungsi kompangan dalam upacara cukuran anak di Desa Tenam Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi. Kompangan merupakan musik tradisi bernuansa Islam yang berkembang di Desa Tenam Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Bentuk musik kompangan terdiri dari vokal dan instrumen berupa rebana yang disebut kompang, berupa alat musik pukul dari jenis membranofon yang dimainkan oleh sepuluh sampai lima belas orang pemusik. Kompangan oleh masyarakat Desa Tenam digunakan untuk cukuran anak, arak-arakan pengantin, tahun baru Islam, penyambutan tamu penting dan sebagainya. Kompangan dalam cukuran anak merupakan proses pemotongan rambut bayi yang berusia 3 sampai 7 bulan dengan iringan tabuhan kompang, pertunjukan dilakukan dengan berdiam di tempat mengiringi pemotongan rambut bayi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data secara observasi, dokumentasi, dan wawancara di lokasi kesenian kompangan untuk mendapatkan informasi. Hasil penelitian menunjukkan ada sepuluh fungsi yang terkait pada musik kompangan dalam upacara cukuran anak di Desa Tenam Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi. 
KOMPOSISI MUSIK DISAUIK TINGKAH, METODE PENDEKATAN TRADISI KESENIAN CENANG TIGO KENAGARIAN KINALI novita habida; I Dewa Nyoman Supenida; Muhammad Zulfahmi
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 2 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i2.4599

Abstract

Kesenian cenang tigo adalah tradisi masyarakat kampung Aia Maruok, Nagari Kinali, Kabupaten Pasaman Barat. Metode yang digunakan dalan menciptakan musik komposisi karya Disauik Tingkah adalah pendekatan tradisi dengan intrumen canang, talempong, gandang katindiak, gandang tambua, gong, kecapi Payakumbuh, saluang, accordion. Tujuaan menciptakan karya ini adalah Menciptakan komposisi musik karawitan yang bersumber dari pola permainan manciek dan manduo dari kesenian cenang tigo, dan sebagai bentuk mengekspresikan diri, dalam bentuk kreativitas penciptaan musik karawitan. Cenang tigo menjadi sumber dalam penggarapan komposisi musik baru, yang memiliki pola permainan seprti pada pola manciek dangan manduo yang saling bersaut-sautan dan mancarak ini memiliki keunikan karena permainan yang bersifat bebas dan tidak terikat pada permainan manciek dan manduo tetapi masih dalam tempo yang sama. Cenang tigo terbagi atas tiga nada yaitu nada C, D, dan F. Manciek adalah permainan yang memiliki pola permainan dasar tetapi terdapat semacam pola paningkah yang disebut pola manigo (pola tiga). Manduo adalah permainan yang dimain sama seperti manciek tetapi tidak memakai pola minigo (pola tiga). Sedangkan mancarak adalah permainan pola peningkah antara permainan pola manciek dengan pola manduo. Kata Kunci: Canang Tigo; manciek; manduo; mancarak
Struktur Musik Buka Lanse Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Melayu Di Kabupaten Batanghari Propinsi Jambi Sherli Junikasari; Muhammad Zulfahmi; Firman Firman
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 1 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i1.4224

Abstract

This research discusses the structure of traditional open-lance music which is classified as unique and rare, but is threatened with extinction if it is not preserved. This study aims to examine the structure of open lanse music and its inheritance system in Batanghari Regency. This study uses qualitative research methods with data collection techniques of observation, interviews, documentation, and field studies. Discussion and analysis of data using structural theory. Buka lanse is a poem sung by traditional leaders or both the bride and groom. Poetry opens lance philosophically means the bride and groom are officially husband and wife, and the groom has legally entered the bride's room. The musical structure begins with the playing of the Malay drum instrument, piul (violin) accordion, keyboard, and vocals in the form of free meters, repeatedly (repetition style) and logogenic. Contour melodies are a mixture of ascending and descending. Open lanse music is still maintained as the identity of the Jambi Malay community in general and in particular the Malay community in the Rengas Condong Village, Muara Bulian District, Batanghari Regency
KOMPOSISI MUSIK “TITIAN MUHIBAH”, TERISNPIRASI DARI PERMAINAN MELODI PENDEK LAGU MELAYU MAKAN SIRIH, DALAM PENDEKATAN GARAP WORLD MUSIC Muhammad Rahul; Susandra jaya; IDN. Supenida; Muhammad Zulfahmi
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 3, No 1 (2023): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v3i1.3824

Abstract

Lagu Makan Sirih merupakan lagu klasik melayu yang berfungsi sebagai musik pengiring dari tradisi persembahan Melayu. Lagu ini sudah sangat terkenal di seluruh kawasan Melayu bahkan lintas negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand (masyarakat patani). Tari Makan Sirih atau yang lebih dikenal dengan sebutan tari persembahan merupakan tari Melayu Klasik yang sering ditampilkan dalam acara menyambut tamu agung atau tamu kehormatan. Perkembangan pertunjukan tari Makan Sirih bisa ditemukan dalam pelaksanan upacara pernikahan masyarakat Melayu, acara syukuran dan acara-acara yang menampilkan kesenian daerah khususnya di Provinsi Riau.Pada tahun 1957 di Pekanbaru diadakan musyawarah pembakuan tari persembahan. Berdasarkan musyawarah itu dibentuklah sebuah tari untuk dipersembahkan kepada tamu tamu. Maka terciptalah tari Makan Sirih yang kini menjadi tari persembahan yang diciptakan oleh seniman-seniman Riau. Karya komposisi musik “Titian Muhibah” digarap dengan menggunakan metode pendekatan World Music. Pengkarya mewujudkan ide/gagasan yang bersumber dari lagu Makan Sirih, dengan mengembangkan pola melodi yang terdapat didalam lagu tersebut. Melalui garapan karya komposisi musik “Titian Muhibah”, pengkarya mencoba menghadirkan beberapa bentuk kebaruan dalam berbagai aspek garap sesuai dengan konsep yang ditawarkan. Pengkarya menggunakan pendekatan World Music karena ingin berbagi pengalaman musikal yang bisa memberikan kontribusi demi perkembangan komposisi musik itu sendiri
BEGENDANG BESERUNAI: INTEGRATION OF TRADITIONAL VALUES IN THE CREATION OF BENGKULU KARAWITAN MUSIC COMPOSITION Arnailis Arnailis; Yunaidi Yunaidi; Firman Firman; Muhammad Zulfahmi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.6020

Abstract

The work “Begendang Beserunai” is a contemporary karawitan music composition inspired by the musical phenomenon of the gendang serunai, one of Bengkulu’s traditional arts that plays an important role in ceremonial processions and community entertainment. The gendang serunai, consisting of two long drums (melalu and ningkah) and a serunai as the melody carrier, is distinctive for its interlocking rhythmic patterns and melodic motifs in a scale close to a-b-c-d-e-f#-g-a’. This creation aims to preserve the essence of tradition while introducing innovation through techniques such as unison, canon, polyrhythmic, responsorial, polymetric, and accentuation, supported by additional instruments such as dol, kompang, kolintang, accordion, bass guitar, and cymbals. The method used is a mixed methods approach combining qualitative methods—through participatory observation, in-depth interviews, and recording analysis—and quantitative methods—through measuring tempo, dynamics, rhythmic pattern duration, and audience questionnaires. The results show that this work successfully integrates traditional musical idioms into a modern composition format while maintaining its identity. Questionnaire analysis (n = 50) shows that 84% of respondents perceived the traditional nuance as strong, while 78% rated the aesthetic appeal as high. This work contributes to cultural preservation through documentation, education, and artistic innovation relevant to the contemporary context. “Begendang Beserunai” serves as a model for developing tradition-based works applicable to other regional music forms, as well as an academic and artistic reference for artists, researchers, and art education institutions.