Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN PADA TEMAN SEBAYA DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TEKNIK PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG Mirna Purwati; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 (April 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.191 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.21664

Abstract

Mahasiswa yang tidak dapat memenuhi tuntutan akademik cenderung mengalami stres. Adanya teman sebanya memiliki peranan penting dalam penurunan tingkat stres akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelekatan pada teman sebaya dengan stres akademik serta mengetahui besarnya sumbangan efektif yang diberikan oleh variabel kelekatan pada teman sebaya terhadap stres akademik. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro yang berjumlah 357 orang dengan jumlah sampel 190 orang yang diambil dengan menggunakan teknik stratified cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan dua skala, Skala Stres Akademik (28 item, α = 0,854) dan Skala Kelekatan pada teman Sebaya (41 item, α = 0,929). Analisis regresi sederhana menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara kelekatan pada teman sebaya dengan stres akademik pada mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, ( = -0,402, p < 0,001). Kelekatan pada teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 16% terhadap stres akademik.
HUBUNGAN ANTARA KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN KECEMASAN AKADEMIK PADA MAHASISWA PEMAIN GAME ONLINE DI GAME CENTER KECAMATAN BANYUMANIK, KOTA SEMARANG Kevin Rahman; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 (April 2019)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.152 KB) | DOI: 10.14710/empati.2019.26506

Abstract

Kecemasan akademik merupakan perasaan tegang dan ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, perasaan tersebut mengganggu dalam pelaksanaan tugas dan aktivitas yang beragam dalam situasi akademik. Faktor yang mempengaruhi timbulnya kecemasan akademik seperti target kurikulum yang tinggi, pemberian tugas yang padat, maupun iklim kelas yang tidak kondusif. Tetapi disisi lain faktor seperti aktivitas bermain game online diduga turut memberikan dampak pada kecemasan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antarakecanduan game online dan kecemasan akademik pada mahasiswa pemain game online di game center wilayah Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa pemain game online di game center wilayah Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Sampel penelitian terdiri dari 91 mahasiswa yang diperoleh dengan metode accidental sampling. Metode pengumpulan data menggunakan dua alat ukur yaitu Skala Kecanduan Game Online(38 aitem valid, α =0,941) dan Skala Kecemasan Akademik (30 aitem valid, α = 0,906). Analisis Statistik menggunakan Spearman Rank dengan hasil uji hipotesis menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,714 dengan nilai p = 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antarakecanduan game online dengan kecemasan akademik pada mahasiswa.
HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PENDERITA PENYAKIT JANTUNG Prabandita Permata Widiyanti; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 (April 2020)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.899 KB) | DOI: 10.14710/empati.2020.27697

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Persepsi terhadap Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan pada Penderita Penyakit Jantung. Populasi penelitian ini berjumlah 78 pasien penyakit jantung di RSUD Tugurejo Semarang dengan sampel 45 orang yang diambil melalui quota sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Persepsi terhadap Dukungan Keluarga (19 aitem, α = 0,87) dan Skala Kecemasan bagi Penderita Penyakit Jantung(12 aitem, α = 0,77). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan nilai koefisienrxy= -0,356; p = 0,016 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara Persepsi terhadap Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan pada Penderita Penyakit Jantung di RSUD Tugurejo Semarang. Persepsi terhadap Dukungan Keluarga memberikan sumbangan efektif sebesar 12,7% dalam memprediksi Kecemasan pada Penderita Penyakit Jantung, sisanya sebesar 87,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini. Analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada variable Persepsi terhadap Dukungan Keluarga maupun Tingkat Kecemasan pada Pasien Penyakit Jantung apabila ditinjau dari jenis kelamin, usia, maupun tingkat pendidikan terakhir pasien.
HUBUNGAN PENGUNGKAPAN DIRI TERHADAP TEMAN SEBAYA DENGAN PEMAAFAN PADA REMAJA Ikko Setyawati; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 (Oktober 2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.293 KB) | DOI: 10.14710/empati.2017.20118

Abstract

Konflik menjadi bagian dari setiap individu, tak terkecuali bagi remaja yang mengalami gejolak perubahan dalam diri, emosi maupun sosial. Memaafkan menjadi salah satu cara untuk dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat adanya konflik serta membangun kembali kondisi hubungan dengan orang yang pernah menyakiti hati menjadi lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengungkapan diri terhadap teman sebaya dengan pemaafan pada remaja. Populasi penelitian sebanyak 336 siswa sekolah menengah atas. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Penelitian dilakukan kepada 212 siswa kelas X, XI, dan XII Sekolah Menengah Atas Mardisiswa Semarang. Alat ukur yang digunakan adalah skala pemaafan (41 aitem; α = 0,923) dan skala pengungkapan diri (aitem 36; α = 0,929). Hasil uji korelasi Spearman’s menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pengungkapan diri terhadap teman sebaya dengan pemaafan pada remaja (rxy = 0,236; p = 0,001). Semakin tinggi pengungkapan diri, maka semakin tinggi kesediaan remaja untuk memberikan maaf.  
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN RESILIENSI PADA MAHASISWA PERANTAU UNIVERSITAS DIPONEGORO Nur Hartati; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 11, Nomor 4, Tahun 2022 (Agustus 2022)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.0.36470

Abstract

Mahasiswa perantau menghadapi tekanan akademik, permasalahan finansial, konflik antar pribadi, kesulitan menghadapi perubahan serta perbedaan bahasa dan budaya, merasa ketakutan, kesepian dan ketidakmampuan, merasakan kesedihan dan kerinduan dengan keluarga. Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi, mengatasi, bertahan dan kembali pada keadaan semula serta dapat memperbaiki dan mengembalikan ketenangan setelah menghadapi suatu tekanan ataupun kesulitan dalam hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan resiliensi pada mahasiswa perantau. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa perantau Universitas Diponegoro yang berasal dari luar pulau Jawa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cluster random sampling dengan jumlah subjek 276 mahasiswa. Instrumen penelitian terdiri dari dua skala yaitu Skala Resiliensi (36 aitem; α = 0,920) dan Skala Konsep Diri (28 aitem; α = 0,882). Hasil analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan (rxy = 0,715; p < 0,05) antara konsep diri dan resiliensi pada mahasiswa perantau Universitas Diponegoro. Konsep diri memberikan sumbangan efektif sebesar 51,1% terhadap resiliensi.
Bullying-related adaptive psychological functioning scale for indonesian older primary school students: thematic analysis and initial items validation Amalia Rahmandani; Erin Ratna Kustanti; Dinni Asih Febriyanti
Konselor Vol 10, No 2 (2021): KONSELOR
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.608 KB) | DOI: 10.24036/02021103114213-0-00

Abstract

Primary school supports early detection of psychological resources and potential disorders in students, because of the massive incidence and influence for the next life of bullying or peer victimization. It is also important for school to provide early intervention. The aim of the study was to develop a concept of psychological resources to adjust adaptively to bullying experiences, hereinafter referred to as bullying-related adaptive psychological functioning, in upper primary school students in Indonesia. This study carried out a thematic analysis of group interviews toward 60 students and resulted in the concept of bullying-related adaptive psychological functioning which is compiled from the themes of self-awareness, self-management, affiliate action, and positive expectations about oneself in the environment. Despite its limitations, there are 26 items resulting from the development of a psychological self-report using a Likert model. Self-awareness and self-management seem to be more difficult resources for students than the other two aspects.
PENGALAMAN BEKERJA SEBAGAI CAREGIVER DI WISMA TUNA GANDA PADA IBU DENGAN ANAK BALITA Aliffia Dinda Utami; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 12, Nomor 2, Tahun 2023 (April 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2023.28679

Abstract

 Anak tunaganda adalah anak yang menderita dua atau lebih ketunaan atau kecacatan dalam segi fisik, mental, emosi, dan sosial yang menyebabkan mereka memiliki ketidakmampuan dalam melayani kebutuhan sehari-hari. Seorang caregiver memiliki tugas sehari-hari yaitu memberikan dukungan dan bantuan dalam merawat anak tunaganda. Masalah tingkah laku dan keterbatasan yang dimiliki anak tunaganda seringkali memunculkan rintangan yang dirasakan oleh caregiver. Bekerja sebagai caregiver dan di sisi lain merupakan seorang ibu dengan anak balita, memunculkan adanya dua tuntutan peran, yaitu peran dalam pekerjaan dan dalam keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman bekerja sebagai caregiver di Wisma Tuna Ganda pada ibu dengan anak balita. Partisipan berjumlah tiga orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in-depth interview). Kemudian data dianalisis dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Penelitian ini menghasilkan lima tema induk, yaitu (1) proses pengambilan keputusan bekerja sebagai caregiver di Wisma Tuna Ganda, (2) menjalani konsekuensi atas pekerjaan, (3) penyesuaian peran sebagai caregiver tunaganda, (4) penyesuaian peran sebagai ibu dari anak balita, (5) faktor penguat dalam mempertahankan bekerja. Penelitian ini juga menghasilkan satu tema khusus yang hanya muncul pada partisipan T, yaitu rasa bersalah terhadap anak asuh. 
HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA PRODI D3 KEPERAWATAN POLTEKKES SEMARANG Anisa Kusumaningtyas; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 12, Nomor 4, Tahun 2023 (Agustus 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2023.28298

Abstract

Penyesuaian diri adalah kemampuan seorang dalam menghadapi situasi atau perubahan kondisi, seperti transisi ke lingkungan perkuliahan dan sistem pembelajaran teori-praktik. Self-disclosure adalah sebuah komunikasi dimana seseorang mengungkapkan informasi mengenai dirinya dan biasanya bersifat tersembunyi. Setiap mahasiswa akan mengalami masa transisi ke lingkungan baru, termasuk mahasiswa keperawatan. Masa transisi ini akan mendorong mahasiswa keperawatan untuk beradaptasi dengan suasana baru dan kurikulum baru. Pengungkapan diri akan membantu mahasiswa keperawatan untuk berkomunikasi mengenai kesulitan yang dialami dalam menyesuaikan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-disclosure dengan penyesuaian diri pada mahasiswa Prodi D3 Keperawatan Poltekkes Semarang. Subjek penelitian ini adalah 132 mahasiswa keperawatan diperoleh menggunakan teknik cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Self-Disclosure (24 aitem, α = 0,872) dan Skala Penyesuaian Diri (41 aitem, α = 0,930). Analisis data menggunakan Spearman’s Rho menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara self-disclosure dengan penyesuaian diri pada subjek penelitian ini (rxy = 0,678; p = 0,000). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-disclosure, maka semakin baik penyesuaian diri yang dimiliki mahasiswa. Sebaliknya, semakin rendah self-disclosure, maka semakin buruk juga penyesuaian diri yang dimiliki mahasiswa.
APAKAH AKU MASIH MEMILIKI HARAPAN? STUDI KUALITATIF FENOMENOLOGI PENGALAMAN IBU KORBAN KDRT HINGGA MEMUTUSKAN BERCERAI Nadya Ridha Rachmatunisa; Amalia Rahmandani
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 13, Nomor 1, Tahun 2024 (Februari 2024)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2024.27699

Abstract

Setiap orang mendambakan pernikahan yang harmonis. Namun, terdapat pernikahan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sehingga menimbulkan dilema bagi ibu antara memilih untuk mempertahankan rumah tangganya atau bercerai. Tujuan penelitian ini  untuk mengetahui pengalaman ibu korban KDRT hingga memutuskan bercerai. Subjek penelitian berjumlah 3 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan  kriteria seorang ibu yang memiliki anak, telah bercerai setidaknya minimal 2 tahun mengalami KDRT khususnya jenis KDRT psikis karena perselingkuhan, dan bersedia menjadi partisipan penelitian. Metode dalam penelitian ini ialah metode kualitatif  dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) melalui wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian diperoleh tiga tema induk, yakni (1) tema terkait dinamika ketika mengalami KDRT meliputi tema superordinat dampak akibat KDRT dan jenis KDRT yang dialami; (2)  pengambilan keputusan bercerai meliputi tema superordinat , pertimbangan pengambilan keputusan cerai, upaya mempertahankan rumah tangga, persiapan menghadapi perceraian; dan (3) pengasuhan anak meliputi tema superordinat upaya memahami anak, strategi pengasuhan anak, dan  makna anak bagi ibu. Berdasarkan tema-tema tersebut dapat diambil kesimpulan fenomena pengambilan keputusan cerai cenderung menyebabkan beban psikologis bagi ibu dan anak. Tetapi ternyata peristiwa itu tidak selamanya negatif apabila merupakan satu-satunya pilihan bagi keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang berkepanjangan. Pengambilan keputusan cerai tidak terlepas dari faktor-faktor yang memengaruhinya yaitu adanya penderitaan selama mengalami KDRT, adanya dukungan sosial dan mempertimbangkan kondisi psikologis anak.
Self-Compassion dan Negative Emotional States Pada Mahasiswa Kedokteran Umum: Hubungan dan Prevalensi Anindhita Parasdyapawitra Amaranggani; Thalia Tresnaning Prana; Ni Made Cintya Dwiyanti Arsari; Agung Maulana Surbakti; Amalia Rahmandani
Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi Vol. 6 No. 2 (2021): Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/psi.v6i2.1623

Abstract

Negative emotional states, such as depression, anxiety, and stress, can arise and impact the individual's adaptive function. Self-compassion includes treating oneself with wisdom and understanding when faced with suffering, which helps improve self-regulation in dealing with emotional problems. This study aims to see the relationship between self-compassion and negative emotional states in Diponegoro University medical students, involving 118 participants of second-year students using the convenience sampling technique. Measurements in the study were carried out using the self-compassion scale (22 items, α = 0.925) and the DASS-21 Indonesian version (21 items, α = 0.892). Spearman's rho showed a significant negative relationship between self-compassion and negative emotional states (rxy = -0.630, p = 0.000). Self-compassion was also found to have a significant negative relationship with depression (rxy = -0.643, p = 0.000), anxiety (rxy = -0.440, p = 0.000), and stress (rxy = -0.516, p = 0.000). These results indicate that the higher self-compassion of the participants, the lower the negative emotional states, and vice versa. Self-compassion predicts negative emotional states in participants ranging from depression, stress, and anxiety sequentially. The further identified prevalence of negative emotional states in participants in this study. A program to enhance self-compassion is needed to reduce negative emotional states.