Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : AGRIC

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI USAHATANI KOPI ARABIKA DI KABUPATEN ENREKANG SULAWESI SELATAN Syahruni Thamrin
Agric Vol. 26 No. 1 (2014)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2014.v26.i1.p1-6

Abstract

This study aims to identify and analyze the factors that affect the production of Arabica coffee in Enrekang. This study used survey method to conduct interviews with 100 randomly sampled Arabica coffee farmers and site visit to their farms. Factors affecting farm production were analyzed using the Cobb Douglass production function and estimated using least squares method . There were ten coffee production factors assessed: land size, number of productive plants, quantities of Urea, ZA, SP36, KCl, pesticides, herbicides, manure, as well as labor force. Variables that significantly affect Arabica coffee production in Enrekang are the amount of urea, ZA, herbicides, manure, and labor.
PENERAPAN DRIP IRRIGATION PADA PERTUMBUHAN TANAMAN KAPAS (Gossypium sp.) Syahruni Thamrin; Budiman Budiman; Baso Darwisah; Junaedi Junaedi
Agric Vol. 29 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2017.v29.i2.p113-120

Abstract

Kondisi penanaman kapas di Sulawesi Selatan selalu terkendala dalam pemenuhan air. Semua tahap pertumbuhan tanaman tidak optimal untuk meningkatkan produksi, sehingga perlu adanya teknologi pengelolaan air yang baik, seperti melalui penyediaan air bersih dengan sistem irigasi tetes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengelolaan irigasi pada tanaman kapas dengan menggunakan sistem irigasi tetes. Model aplikasi dengan merancang sistem irigasi tetes dan penanaman kapas di lahan disiapkan sebagai plot demonstrasi. Pengamatan dilakukan pada fase perkecambahan dan fase vegetatif tanaman awal. Berdasarkan hasil desain irigasi tetes, laju alir emiter (EDR) adalah 34.266 mm / jam dengan waktu operasi 4.08 menit / hari. Dari pengamatan pertumbuhan kapas, diketahui bahwa waktu perkecambahan berlangsung dari 6 sampai 13 hari setelah tanam, rata-rata tinggi tanaman mencapai 119,66 cm, dengan jumlah daun rata-rata 141,93 buah dan jumlah bolls rata-rata 57,16 boll.
PRODUKSI TANAMAN KAPAS DENGAN MENGGUNAKAN IRIGASI TETES PADA DUA TAHUN TANAM YANG BERBEDA Syahruni Thamrin; Junaedi Junaedi; H Baso Darwisah
Agric Vol. 30 No. 2 (2018)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2018.v30.i2.p117-124

Abstract

Tanaman kapas membutuhkan persyaratan ketersediaan air yang cukup, utamanya pada saat perkecambahan dan pertumbuhan serta kondisi yang kering saat panen. Pada irigasi tetes, pengairan bisa disesuaikan dengan kebutuhan air setiap jenis tanaman yang berbeda-beda tergantung pada fase pertumbuhan dan jenis tanamannya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman kapas yang menggunakan sistem irigasi tetes pada dua musim tanam yang berbeda. Penelitian dilakukan selama 2 (dua) tahun berturut-turut, penelitian pertama: penanaman dengan menggunakan irigasi tetes dilakukan pada bulan Agustus 2017 dan dilanjutkan penanaman kedua pada bulan Mei 2018. Penelitian dilaksanakan di Desa Turucinnae Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan lapangan dalam bentuk demonstrasi plot dengan menggunakan desain eksprimen dan analisis dilakukan untuk mengetahui dan menjelaskan pelaksanaan irigasi tetes pada dua musim tanam yang berbeda. Pertumbuhan vegetatif tanaman kapas yang menggunakan irigasi tetes pada tahun 2017 memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan tahun 2018 dilihat dari tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan produksi tanaman kapas yang menggunakan irigasi tetes pada tahun 2017 lebih besar dibanding yang ditanam tahun 2018 dilihat dari segi jumlah boll yang terbentuk dan berat kapas yang diproduksi.
A Response to the Use of Goat Manure and Swallow Manure Fertilize Planting Media on Cocoa Plant Growtha Thamrin, Syahruni; Syahid, Adi; Junaedi
Agric Vol. 37 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Pertanian dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/agric.2025.v37.i1.p107-116

Abstract

Cocoa production is closely related to the implementation of cultivation techniques and seedling quality. Various efforts have been made to obtain the expected seedlings, including by providing nutrients in the planting media according to the needs of the seedlings. The study aimed to determine the best planting media for cocoa seedling growth by applying fertilizer from goat manure and swallow droppings. The research was conducted from January to April 2024 in Tarengge Village, Wotu Subdistrict, East Luwu Regency, South Sulawesi Province. The research was conducted using a Randomized Group Design (RAK), with planting media treatment (K) consisting of four treatments, namely K0= soil (control), K1= soil+ goat manure (1:1), K2 = soil+ swallow manure (1:1), and K3 = soil + goat manure + swallow manure (1:1:1). The four treatments were repeated three times and each replication contained two polybag units, making a total of 24 experimental units. The growth parameters observed were: plant height, number of leaves, and stem diameter. The results of the research obtained were then tabulated and processed using the STAR application, then the results of the analysis of variance that had a real or very real effect on the parameters observed would be subjected to further tests of the Least Significant Difference (BNT). The results showed that the planting media mixture of soil, goat manure, and swallow manure (1:1:1) had a significant effect on the observed parameters. The results showed that the mixed planting medium of soil, goat manure, and swallow manure (1:1:1) produced a plant height of 18.33 cm, 8.66 leaves, and a stem diameter of 1.40 cm.