Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PENGARUH BESAR DAYA PANCAR TERHADAP PERFORMANSI WIMAX 802.16D PADA LAYANAN LIVE STREAMING Nanda Permana Dani; Endah Budi Purnomowati; Sigit Kusmaryanto
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak— Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) IEEE 802.16d merupakan salah satu teknologi nirkabel pita lebar yang mampu memberikan data secara cepat dan efisien. Salah satu keunggulan WiMAX adalah menawarkan Quality of Service (QoS). Besar daya pancar menjadi pentimbangan sendiri untuk memberikan layanan yang handal. Sebelum ditransmisikan, daya pada sinyal dikuatkan agar sinyal dapat melewati halangan dan noise yang terdapat pada media transmisi sehingga bisa sampai ke receiver. Namun, semakin besar daya pancar maka persyaratan keamanan dan kesehatan yang ditimbulkan dari radiasi tersebut menjadi tidak terpenuhi. Penelitian ini membahas pengaruh besar daya pancar terhadap QoS pada WiMAX 802.16d dengan layanan real Time Polling Service (rTPS) berdasarkan parameter delay, throughput, dan packet loss menggunakan packet analyzer wireshark. Penelitian ini dilakukan dengan mengubah besar daya pancar. Hasil penelitian menunjukkan nilai delay mengalami perubahan, namun nilai tersebut tergolong dalam kategori baik menurut standar ITU G.114 karena <150 ms. Nilai throughput naik ketika daya pancar sebesar 5 dBm dan kemudian berangsur-angsur turun ketika daya pancar dirubah hingga 20 dBm. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai packet loss terbaik pada 5 dBm dengan nilai 15,5851% dan berada dalam kategori buruk menurut standar TIPHON 2012. Kebutuhan daya pancar yang paling baik berada pada 5 dBm dengan hasil nilai throughput terbesar, nilai packet loss terkecil dan nilai delay dengan kategori yang baik.
THERMAL NOISE AS ELECTROMAGNETIC POLUTAN IN WIRELESS COMMUNICATION SYSTEM Rochman Ananda Arif S.; Rudy Yuwono; Endah Budi Purnomowati
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.093 KB)

Abstract

In wireless communication system thermal noise is one of the noise that detected at the receiver. Thermal noise(Johnson Noise) exists in all resistors and results from the thermal agitation of free electrons therein by thetemperature.This paper starts with an introduction onhow temperature appears on the receiver and thermal noise onthereceiver. The major contribution factor to thermal noise power and RMS voltage is also discussed analytically. TheCDMA modem is used as a subject to study thermal noise in wireless communication system.
Analisis Pengaruh Penggunaan Antena Jamak MIMO 2x2, SIMO 1x2 dan SISO 1x1 terhadap Performansi Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA) pada Teknologi Radio over Fiber (RoF) Alfi Zuhriya Khoirunnisa; Endah Budi Purnomowati; Ali Mustofa
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.673 KB)

Abstract

Long Term Evolution (LTE) dirancang untuk menghasilkan kapasitas kanal yang besar dengan menggunakan teknik antena jamak seperti MIMO 2x2. MIMO 2x2 pada LTE dikombinasikan dengan akses jamak OFDMA. Kombinasi MIMO-OFDMA ini diterapkan pada teknologi radio over fiber untuk mengoptimalkan infrastruktur suatu jaringan. Radio over Fiber (RoF) adalah teknologi yang mengintegrasikan antara teknik transmisi nirkabel dan kabel fisik dengan media serat optik. Performansi yang dibahas pada penelitian ini adalah pengaruh penggunaan teknik antena MIMO 2x2 OFDMA pada Radio over Fiber (RoF) dengan menganalisis SNR, Kapasitas kanal, BER dan Link Power Budget dibanding dengan penggunaan antena SISO 1x1 dan SIMO 1x2. Hasil simulasi dan analisis membuktikan bahwa penggunaan antena SIMO 1x2 dengan jarak UE dan eNB 500 m dan panjang gelombang 1550 nm menghasilkan performansi terbaik pada parameter SNR = 52,002 dB, BER = 6x 10-7 dengan daya yang diterima di UE = -72,034 dBm pada perhitungan Link Power Budget. Penggunaan antena MIMO 2x2 dengan jarak UE dan eNB 500 m dan panjang gelombang 1310 nm menghasilkan performansi terbaik pada parameter kapasitas kanal yaitu sebesar 8,492 Gbps. Kata Kunci— OFDMA, RoF, MIMO 2x2, SIMO 1x2, SISO 1x1
PERANCANGAN JARINGAN WLAN 802.11n UNTUK RUMAH KOS Bobi Ardiansyah; Endah Budi Purnomowati
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 7, No 6 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas Quality of Service (QoS) perancangan jaringan Wlan 802.11n untuk rumah kos. WLAN adalah singkatan dari Wireless Local Area Network , suatu jenis jaringan komputer dengan menggunakan gelombang radio sebagai media transmisi data. Informasi atau data dikirim dari satu komputer ke komputer yang lainnya dengan menggunakan gelombang radio. WLAN juga sering disebut dengan Jaringan Nirkabel atau jaringan wireless. Wi-Fi (Wireless Fidelity) merupakan teknologi dalam bidang telekomunikasi yang memiliki kelebihan untuk mengakses informasi tanpa kabel, praktis dan mudah digunakan. Jaringan Wi-fi yang diteliti adalah jaringan Wi-fi 802.11n yang menggunakan topologi infrastruktur. Aplikasi wi-fi pada perancangan ini digunakan untuk aktivitas browsing, download dan upload. Quality of service (QoS) pada perancangan ini menggunakan parameter jaringan seperti throughput, delay dan packet loss. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran pada jam sepi pada pukul (01.00-13.00) dan jam sibuk pada pukul (14.00-23.00). Hasil penelitian dari seluruh kamar pada jam sepi dan jam sibuk menunjukkan nilai dari parameter jaringan yang meliputi throughput, delay dan packetloss. Nilai yang dijadikan acuan untuk parameter throughput adalah nilai tertingginya, sedangkan untuk delay dan packetloss nilai terendahnya yang dijadikan acuan seberapa layak atau tidak suatu jaringan. Untuk throughput nilai tertinggi sebesar 11,7 Mbit/s dan nilai terendahnya sebesar 0,574 Mbit/s. Untuk delay nilai tertinggi sebesar 27,54 ms dan nilai terendahnya sebesar 15,8 ms. Untuk packetloss memiliki nilai tertinggi sebesar 0,3% dan nilai terendahnya sebesar 0%. Berdasarkan standar dari TIPHON, QoS pada perancangan jaringan wi-fi rumah kos telah memenuhi standar.Kata Kunci: Perancangan, Wi-fi, QoS, browsing, download, upload . ABSTRACT This study discusses the Quality of Service (QoS) Wlan 802.11n network design for boarding houses. WLAN stands for Wireless Local Area Network, a type of computer network using radio waves as a data transmission medium. Information or data is sent from one computer to another using radio waves. WLAN is also often referred to as a Wireless Network or wireless network. Wi-Fi (Wireless Fidelity) is a technology in the field of telecommunications that has the advantage of accessing information wirelessly, is practical and easy to use. The Wi-fi network under study is an 802.11n Wi-fi network that uses infrastructure topology. Wi-fi application in this design is used for browsing, downloading and uploading activities. Quality of service (QoS) in this design uses network parameters such as throughput, delay and packet loss. In this study, measurements were made during quiet hours (01.00-13.00) and rush hours at 14.00-23.00. The results of the study of all rooms during quiet hours and rush hours show the value of network parameters including throughput, delay and packet loss. The value used as a reference for the throughput parameter is the highest value, while for delay and packet loss the lowest value is used as a reference for how feasible or not a network. For the highest value throughput of 11.7 Mbit / s and the lowest value of 0.574 Mbit / s. For the highest delay value of 27.54 ms and the lowest value of 15.8 ms. For packet loss has the highest value of 0.3% and the lowest value of 0%. Based on the TIPHON standard, QoS on the boarding house wi-fi network has met the standard. Keywords: Design, Wi-fi, QoS, browsing, download, upload..
PERFORMANSI QUALITY OF SERVICE (QOS) FRAMEWORK ANTARA ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING-TIME DIVISION MULTIPLE ACCESS (OFDM-TDMA) DAN ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLE ACCESS (OFDMA) PADA IEEE 802.16 Syailendra Dwitama Iskandar; Endah Budi Purnomowati; Dwi Fadila Kurniawan
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.557 KB)

Abstract

Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) merupakan asosiasi profeisonal yang mendedikasikan diri dalam pengembangan teknologi bidang kelistrikan dan elektronika. IEEE menetapkan standar Broadband Wireless Access (BWA) yang disebut standar IEEE 802.16 pada 1998. Dalam sistem komunikasi multi akses seperti teknologi WiMAX, diperlukan adanya sebuah manajemen data. OFDM-TDMA dan OFDMA merupakan dua sistem multi akses yang diadopsi oleh IEEE 802.16 (WiMAX) sebagai opsi pentransmisian data pada kanal 2-11 GHz. OFDM-TDMA dan OFDMA merupakan hasil penggabungan sistem OFDM dengan TDMA (pada OFDM-TDMA) dan FDMA (pada OFDMA). OFDM-TDMA sebagai sistem muli akses memiliki perbedaan mendasar dibandingkan dengan OFDMA yaitu metode pentransmisiannya yang didasarkan pada pembagian waktu (time division) sedangkan OFDMA menggunakan pembagian frekuensi sebagai metode pentransmisian. Berdasarkan hasil analisis dan simulasi diperoleh bahwa penggunaan skema modulasi yang berbeda-beda pada IEEE 802.16 (WiMAX) berpengaruh pada bit rate dan Bit Error Rate (BER) baik pada sistem OFDM-TDMA maupun OFDMA. Menggunakan modulasi 16-QAM dan 64-QAM, serta target BER sebesar 10-3, sistem OFDM-TDMA dan OFDMA menunjukkan semakin besar nilai SNR, maka semakin besar nilai bit rate. Sebagai contoh pada SNR 23,46 dB (modulasi 16-QAM), bit rate OFDMA = ????,????????×???????????? bps (33,4 Mbps), lebih besar dibandingkan bit rate OFDM-TDMA = ????,????????×????????????bps (30,6 Mbps). Pada SNR 29,54 dB (modulasi 64-QAM). bit rate OFDMA = ????,????????×???????????? bps (43,6 Mbps). lebih besar dibandingkan bit rate OFDM-TDMA = ????,????????×????????????bps (30,6 Mbps). Analisis BER menggambarkan bahwa baik pada sistem OFDM-TDMA maupun OFDMA semakin besar SNR maka BER semakin kecil dengan target bit rate sebesar ????,????????×????????????bps (40,6 Mbps).Kata Kunci — IEEE 802.16, OFDM-TDMA, OFDMA
Pengaruh Frequency Selectivity Pada Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) Fahima Ulfi Tazkia; Endah Budi Purnomowati; Ali Mustofa
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.928 KB)

Abstract

Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) adalah suatu nama khusus dari multicarrier, dimana suatu aliran data berkecepatan tinggi ditransmisikan melalui sejumlah subcarrier berkecepatan rendah. Prinsip dasar dari sistem OFDM adalah membagi bandwidth yang ada pada beberapa subcarrier yang kemudian dimodulasikan dan ditransmisikan menjadi aliran data paralel dengan kecepatan data yang rendah. Pemakaian subcarrier yang saling orthogonal pada OFDM memungkinkan overlap antar frekuensi tanpa menimbulkan interferensi satu sama lain. Selektifitas frekuensi adalah kemampuan penerima untuk membedakan sumber-sumber sinyal yang dirancang untuk beroperasi pada frekuensi yang berbeda dan dalam rentang panjang gelombang tertentu. Sistem OFDM memiliki sensitifitas pada kesalahan frekuensi yang diakibatkan oleh perbedaan frekuensi yang diterima dengan osilator lokal pada penerima. Analisis yang dilakukan adalah seberapa besar pengaruh interferensi yang diakibatkan adanya selektifitas frekuensi terhadap kinerja Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) pada kapasitas kanal dan Signal to Noise Ratio (SNR). Dari hasil perhitungan didapatkan semakin besar interferensi yang terjadi pada proses pentransmisian akan menghasilkan performansi sistem semakin lemah. Kata Kunci :  selektifitas frekuensi, interferensi, Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)
Pengaruh Overshooting Coverage Terhadap Kualitas Layanan pada Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) Bayu Bisworo; Endah Budi Purnomowati; Gaguk Asmungi
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.89 KB)

Abstract

Pada saat ini teknologi layanan telekomunikasi suara di Indonesia telah mencapai generasi ke-3 (3G) yaitu sistem Universal Mobile Telecommunication System (UMTS). Seiring dengan bertambahnya jumlah pelanggan yang semakin banyak, diperlukan penambahan node-b untuk menjamin semua pelanggan dapat dilayani dengan baik. Tetapi jika tidak cermat penambahan node-b bisa menimbulkan masalah baru, yaitu overshooting coverage. Skirpsi ini akan membahas seberapa besar pengaruh overshooting coverage terhadap kualitas layanan UMTS bedasarkan parameter performansi yang meliputi Received Signal Code Power (RSCP), Chip Energy over Noise (Ec/No), Speech Quality Index (SQI), Call Setup Success Ratio (CSSR), Call Dropped Ratio (CDR) dan Successfull Call Ratio (SCR). Dari hasil analisis didapat kualitas layanan pada daerah overshooting coverage lebih buruk dibandingkan dengan daerah yang tidak mengalami overshooting coverage, nilai SCR pada daerah overshooting coverage Jl. J.A. Suprapto 76.672%, dan Jl. Untung Suropati 96.672%, sedangkan pada daerah yang tidak mengalami overshooting coverage Jl. Cikurai bernilai 100%.Kata Kunci— RSCP, Ec/No, UMTS, overshooting coverage
ANALISIS PENGARUH PILOT POLLUTION TERHADAP KUALITAS LAYANAN TEKNOLOGI WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA) Dewi Yustianingsih; Endah Budi Purnomowati; Rusmi Ambarwati
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.395 KB)

Abstract

Teknologi generasi ketiga atau 3Gdidukung oleh teknologi Universal MobileTelecommunication System (UMTS) dengan teknologiakses Wideband Code Division Multiple Access(WCDMA). Kualitas layanan sudah seharusnya sesuai,namun terdapat kasus di kota Malang yang disebutpilot pollution. Pilot pollution berarti terlalu banyaksinyal pilot yang berada pada suatu wilayah, dimanatidak ada sinyal pilot yang dominan. Skripsi ini akanmembahas seberapa besar pengaruh pilot pollutionterhadap kualitas layanan WCDMA bedasarkanparameter kualitas jaringan yang meliputi ReceivedSignal Code Power (RSCP), Chip Energy over Noise(Ec/No), Carrier to Interference (C/I) serta kualitaslayanan Speech Quality Index (SQI), Call Setup SuccessRatio (CSSR), Call Dropped Ratio (CDR) CallCompletion Success Ratio (CCSR) dan HandoverSuccess Ratio (HOSR). Dari hasil analisis didapatDaerah yang terjadi pilot pollution berada pada 2 titikpengamatan dengan nilai C/I lebih kecil daripada titikpengamatan lain dan nilai CDR pada daerah pilotpollution dibawah 30%.Kata Kunci—WCDMA, pilot pollution, RSCP,Ec/No, C/I, CDR
PERANCANGAN LOKASI TRANSMITTER 4G/LTE DI KOTA MALANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (ARCGIS) Nurina Firdausi; Endah Budi Purnomowati; Sigit Kusmaryanto
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah base transceiver station (BTS) di Indonesia meningkat sebesar 63,28% untuk BTS 3G dan sebesar 36,31% untuk BTS 2G dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2012. Peningkatan ini tidak terlepas dari meningkatnya pelanggan seluler GSM maupun 3G (WCDMA/HSDPA). Karena keterbatasan bandwidth yang ada teknologi 4G/LTE hadir untuk memenuhi kebutuhan pengguna Internet. Penentuan lokasi transmitter 4G (eNodeB) sangat penting, sebelum menentukan lokasi dilakukan analisis coverage dan capacity untuk menentukan jumlah kebutuhan eNodeB. Kota Malang sudah ada 205 menara dan 100 diantaranya masih digunakan secara tunggal, Supaya penggunaan ruang lebih efektif dan efisien, tower di Kota Malang harus digunakan secara bersama. Maka dalam penelitian ini dilakukan perencanan lokasi eNodeB yang disesuaikan dengan lokasi menara eksisting. Metode yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan ArcGIS. Hasil dari penelitian ini adalah rekomendasi lokasi eNodeB di Kota Malang. Berdasarkan analisis capacity dan coverage dibutuhkan 20 eNodeB. Penentuan lokasi eNodeB tersebut dipilih berdasarkan lokasi menara eksisting di Kota Malang., ternyata Kota Malang membutuhkan satu menara tambahan. Kata Kunci: 4G, ArcGIS, BTS, Menara bersama
ANALISIS METODE CIRCUIT SWITCHED FALL BACK (CSFB) DARI JARINGAN 4G KE 3G Dewa Ayu Putu K.; Endah Budi Purnomowati; Sigit Kusmaryanto
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 6 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak —Teknologi 4G telah banyak digunakan di Indonesia.  Teknologi 4G adalah teknologi yang berbasis all-IP. Sehingga, teknologi 4G tidak bisa digunakan untuk melakukan panggilan telepon konvensional. Untuk mengatasi hal tersebut, maka muncullah metode Circuit Switched Fall Back (CSFB), dimana layanan suara yang dikirim ke jaringan 4G dialihkan ke jaringan 3G. Akan tetapi, angka CSFB Succes Ratio (SR) di beberapa area Kota Malang masih ada yang tidak memenuhi standar yang ditentukan oleh provider PT Indosat yaitu 98%. Skripsi ini akan membahas berapa nilai CSFB SR di Kota Malang  dan apa saja penyebab nilai CSFB SR kurang dari standar, ditinjau dari segi parameter coverage jaringan tujuan 3G yang meliputi RSCP (Received Signal Code Power) dan Ec/No (Chip Energy over Noise)  dan dari segi kapasitas user Dari hasil analisis didapat daerah yang mengalami CSFB SR paling rendah, yaitu di Jalan Wisnuwardhana memiliki kapasitas user sebanyak 238 user, sedangkan daerah yang mengalami CSFB SR paling tinggi, yaitu di Jalan Ijen memiliki kapasitas user sebanyak 159 user. Kata Kunci— CSFB, 3G,  RSCP, Ec/No   Abstract Abstract —4G technology has been commonly used in Indonesia. 4G technology is an all-IP based technology. So, 4G technology can not be used for conventional telephone fiture. Circuit Switched Fall Back (CSFB) method comes to solve that, where voice service that sent to 4G network will be switched to 3G network. However, there are several value of CSFB Succes Ratio (SR) in several Malang City area that do not fulfill the standart 98%. This research discusses about how many value of CSFB SR and what causes low CSFB SR, based on destination network coverage including RSCP (Received Signal Code Power) and Ec/No (Chip Energy over Noise) and user capacity parameter Based on analytical result, in area that has a lowest CSFB SR, which is Wisnuwardhana Street, it has 238 user capacity, meanwhile in area that has a highest CSFB SR, which is Ijen Street, it has 159 user capacity. Keywords— CSFB, 3G,  RSCP, Ec/No