Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Perencanaan dan Penempatan Site Jaringan Long Term Evolution di Kota Malang dengan Metode Algoritma Genetika Aldwi Syahfirry Putra; Endah Budi Purnomowati; Dwi Fadila Kurniawan
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Long Term Evolution (LTE) dirancang untuk memenuhi kebutuhan operator akan akses data yang berkecepatan tinggi serta menyokong kapasitas teknologi suara untuk beberapa dekade mendatang. Teknologi ini pula menyediakan solusi Internet Protocol (IP) yang luas yang mampu mengintegrasikan sistem-sistem serta jaringan yang ada. Dimana suara, data , dan streaming multimedia dapat diberikan kapanpun dan dimanapun kepada penggunanya dan rata-rata yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Algoritma genetika sebagai alat permutasi untuk melakukan pemilihan letak koordinat BTS secara optimal. Hasil optimasi yang dihasilkan oleh algoritma genetika tersebut dapat digunakan sebagai sistem rekomendasi pendukung keputusan. Karena algoritma genetika berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan maka hasil pemilihan letak koordinat tersebut tidak mutlak menjadi acuan pasti letak koordinat BTS. Dalam tugas akhir ini hasil optimasi yang dihasilkan oleh algoritma genetika masih belum memiliki batasan mengetahui daerah – daerah yang dilarang untuk mendirikan BTS. Kata Kunci—LTE, Algoritma Genetika
ANALISIS PENJADWALAN KANAL UPLINK LONG TERM EVOLUTION (LTE) MENGGUNAKAN ALGORITMA PROPORTIONAL FAIR Muthia Rahma; Endah Budi Purnomowati
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 6 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penjadwalan merupakan metode alokasi sumber daya radio untuk melayani user menggunakan algoritma. Kanal uplink LTE, menggunakan teknik akses jamak Single Carrier Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) dimana alokasi dilakukan mengelompok pada domain frekuensi. Sebanyak 50 resource block dalam bandwidth 10 MHz dijadwalkan melayani user pada single cell dalam skenario dengan jumlah user beragam diantaranya  4, 8, 12, dan 16 user dengan rentang jarak 1-4 Km. Proportional Fair memprioritaskan penjadwalan user dengan kondisi kanal yang lebih baik dari kondisi rata-rata. Hasil dari simulasi menunjukkan tingkat SNR memengaruhi kondisi kanal dan menentukan jenis modulasi. Semakin bertambahnya jarak, SNR dan kapasitas kanal semakin kecil maka alokasi resource block juga semakin kecil. Sedangkan variasi jumlah user memengaruhi kondisi kanal rata-rata setiap skenario. Seiring peningkatan jumlah user, BER sistem cenderung tetap, throughput ternormalisasi maksimum meningkat, dan fairness akan cenderung tetap mendekati nilai ideal 1 pada variasi jumlah user. Kata kunci: penjadwalan, Proportional Fair, BER, throughput, fairness ABSTRACT Scheduling is a radio resource allocation schemes for serving users by an algorithm. The Single Carrier Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) is used in the uplink channel as a basic multiple access scheme. The amount of resource blocks that will be allocated is 50 by the 10 MHz bandwidth. The scheduling simulation scenario defined as a single cell network with several users number variation in which located among 1-4 km. Proportional Fair assign resource block to a user who has the highest rate than the average rate. This simulation result show that SNR value  implicates the data rate and modulation scheme. The increasing of user distance from eNodeB, will decrease the channel condition represented by SNR and data rate. Thus, the number of resource block allocated will be decreased. While the variation of users number implicates the average of data rate of each scenarios. As the increasing of user number, the value of system’s BER are constant, maximum normalized throughput are increase, and the level of fairness will tend to constant close to ideal value of 1. Keywords: scheduling, Proportional Fair, BER, throughput, fairness.
ANALISIS PENGGUNAAN SKEMA WATERFILLING UNTUK PENGALOKASIAN DAYA RESOURCE BLOCK PADA OFDMA LTE KANAL DOWNLINK Muhammad Ruvaldo Dennis; Endah Budi Purnomowati; Gaguk Asmungi
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Teknologi Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA) merupakan teknik akses jamak yang digunakan pada Long Term Evolution (LTE) kanal downlink. OFDMA memiliki suatu blok transmisi yang dinamakan dengan  resoure block, yang akan dialoksasikan kepada user. Diperlukannya skema pengalokasian daya resource block agar tiap resource block dapat bekerja secara optimal, sebagai contohnya skema alokasi daya waterfilling. Skema alokasi daya waterfilling mengalokasikan daya berdasarkan kondisi dari user, dimana user yang memiliki noise tinggi akan dialokasikan daya lebih tinggi dibandingkan dengan user yang memiliki nilai noise yang lebih rendah. Penelitian ini dilakukan secara simulasi dengan Matlab yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan skema alokasi daya waterfilling dibandingkan dengan skema equal power allocation (EPA) sebagai skema pengalokasian daya transmisi resource block. Parameter kinerja berdasarkan nilai BER data rate dan fairness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai BER dan fairness lebih baik pada skema alokasi daya waterfilling dan nilai data rate ebih baik pada skema EPA. Kata Kunci: OFDMA, LTE, Waterfilling, Equal Power Allocation, Proportional Fair   ABSTRACT Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA) technology is a multiple access technique used in the Long Term Evolution (LTE) channel downlink. OFDMA has a transmission block called resoure block, the transmission block will be assigned to the user. A scheme to allocate resource block power is needed so that each resource block can work optimally, for example the waterfilling power allocation scheme. Waterfilling power allocation scheme allocates power based on the condition of the user, where users who have high noise will be allocated higher power than users who have lower noise values. This research was conducted in simulation with Matlab which aims to determine the effect of using the waterfilling power allocation scheme compared to the equal power allocation (EPA) scheme as the transmission  power allocation of the resource blocks. Performance parameters based on BER, data rate and fairness values. The results showed that the value of BER and fairness was better in the waterfilling power allocation scheme and the value of the data rate was better in the EPA scheme. Kata Kunci: OFDMA, LTE, Waterfilling, Equal Power Allocation, Proportional Fair
PERBANDINGAN PERFORMANSI ARSITEKTUR SOFTWARE DEFINED NETWORK (SDN) DENGAN MENGGUNAKAN KONTROLER FLOODLIGHT DAN ARSITEKTUR TRADISIONAL Winda Rizkita Puspitasari; Endah Budi Purnomowati
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 6, No 6 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.093 KB)

Abstract

Software Defined Network (SDN) merupakan konsep arsitektur jaringan terbaru yang diharapkan mewujudkan arsitektur jaringan yang mudah diatur, dinamis, biaya yang efektif dan mudah beradaptasi. Namun, kelebihan yang ditawarkan SDN belum tentu diiringi dengan peningkatan performa jaringan bila dibandingkan dengan jaringan tradisional (TCP/IP). Pada penelitian ini dilakukan perbandingan performansi jaringan dengan arsitektur SDN dengan kontroler Floodlight dan arsitektur tradisional (TCP/IP). Pengujian performansi dilakukan dengan emulator Mininet untuk jaringan SDN, emulator CORE untuk jaringan tradisional (TCP/IP) dan iPerf untuk membangkitkan trafik. Parameter yang diamati berupa latency, throughput dan packet loss. Pengujian latency menggunakan skenario penambahan switch/router dan pengujian throughput serta packet loss menggunakan skenario penambahan host. Terdapat tiga topologi yang disimulasikan, yaitu mesh, ring dan star. Berdasarkan hasil pengujian, arsitektur jaringan tradisional memiliki hasil yang lebih baik pada ketiga parameter yang diteliti dibandingkan dengan arsitektur SDN. Topologi mesh memiliki nilai latency dan throughput paling baik, namun memiliki nilai packet loss yang paling buruk. Topologi ring memiliki nilai packet loss paling baik dan latency serta throughput menempati urutan kedua setelah topoologi mesh. Topologi star memiliki performansi paling buruk. Kata Kunci: Software Defined Network (SDN), openflow, Floodlight, TCP/IP   ABSTRACT Software Defined Network (SDN) is the latest network architecture that is easy to set up, dynamic, cost effective and adaptable. However, the advantages offered by SDN are not necessarily related to increased network performance over traditional networks (TCP / IP). This study compares network performance versus SDN architecture with Floodlight controller and traditional architecture (TCP / IP). Performance tests were conducted using Mininet emulators for SDN networks, CORE traditional network (TCP / IP) emulators, and iPerf to generate traffic. The observed parameters were latency, throughput and packet loss. Latency tests use additional switch / router scenarios, as well as throughput testing and packet loss using hosted addition scenarios. There are three simulated topologies, ie mesh, ring and star. Based on the test results, the examined parameters are compared with the SDN architecture. The mesh topology has the best latency and throughput value, but the worst packet loss value. The ring topology has the best packet loss, both latency and throughput rank second, according to the mesh topology. The star topology has the worst performance. Keywords: Software Defined Network (SDN), Openflow, Floodlight, TCP / IP
RANCANG BANGUN PENYESUAI IMPEDANSI ANTARA ANTENNA DAN RECTIFIER (RECTENNA) PADA FREKUENSI 470-806 MHz M. Sudiro; Rudy Yuwono; Endah Budi Purnomowati
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada jurnal ini akan dibahas tentangperancangan dan pembuatan Penyesuai Impedansijenis mikrostrip. Penyesuai Impedansi yangdirancang memiliki dua port, port input dan portoutput. Penyesuai Impedansi dirancang untukdiaplikasikan pada rectena, yaitu antara antennadan rectifier pada frekuensi 470 – 806 MHz denganmenggunakan bahan substrat FR4 (kosntantadielektrik εr = 3,9) dan bahan konduktor tembaga.Perancangan dan simulasi penyesuai impedansidilakukan menggunakan program CST MicrowaveStudio 2014. Hasil simulasi Penyesuai Impedansipada rentang frekuensi 479 – 799 MHzmenunjukkan nilai S11 dan S22 ≤ -13 dB dengannilai minimum -19,937 dB dan nilai maksimum -53,542 dB; untuk nilai S12 dan S21 ≤ -0,1 dBdengan nilai maksimum -0,18824 dB dan nilaiminimum -0,0071232 dB. Tegangan keluaran darirectenna meningkat antara 1,9 – 10 mV, setalahdipasang penyesuai impedansi ini.Kata Kunci: Penyesuai Impedansi, mikrostrip,antena televisi, rectenna.
ANALISIS PERFORMANSI LAYANAN VOIP PADA MOBILE WIMAX DENGAN MENGGUNAKAN VARIASI SERVICE CLASS Defbby Melindah P.; Endah Budi Purnomowati; Muhammad Fauzan Edy Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Voice Over Internet Protocol (VoIP) merupakan salah satu layanan yang dapat didukung oleh teknologi WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access). Pada WiMAX terdapat kemampuan memberikan fleksibilitas QoS. Berdasarkan jenisnya QoS, tipe penjadwalan (service class) pada lapisan MAC dikelompokkan menjadi lima jenis yaitu UGS, rtPS, n-rtPS, BE dan ErtPS. Service class ini memfasilitasi pembagian bandwidth antar pengguna. Untuk itu pada tugas akhir ini akan dibahas mengenai performansi layanan VoIP melalui jaringan WiMAX menggunakan variasi service class. Dimana codec VoIP yang digunakan berupa G.711, G.729 dan G.723. Analisis performansi VoIP pada WiMAX ini dilakukan dengan melihat perubahan pada parameter QoS yang akan dianalisis yaitu delay, throughput, dan packet loss. Sehingga berdasarkan hasil simulasi yang sudah didapatkan maka delay yang paling besar diberikan saat BE sedangkan delay yang paling kecil diberikan oleh UGS. Sedangkan berdasarkan hasil simulasi yang sudah didapatkan maka packet loss yang paling besar diberikan saat BE sedangkan packet loss yang paling kecil diperoleh oleh UGS. Throughput yang paling besar diberikan saat rtPS, sedangkan throughput yang paling kecil diberikan oleh UGS. Sehingga untuk layanan VoIP, UGS memiliki parameter terbaik.Kata Kunci - WiMAX, VoIP, Codec, UGS, BE, rtPS, Delay, Packet Loss, Throughput
ANALISIS JARINGAN LONG TERM EVOLUTION (LTE) UNTUK PENJADWALAN ARAH UPLINK MENGGUNAKAN ALGORITMA EXPONENTIAL RULE Yola Yuliatri Magera Putri; Endah Budi Purnomowati; Rudy Yuwono
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penjadwalan merupakan suatu proses pengaturan pada sebuah sistem agar lebih baik dalam memberikan pelayanan. Salah satu sistem yang menggunakan penjadwalan adalah jaringan Long Term Evolution (LTE). Scheduling pada LTE berguna untuk mengalokasikan sumber daya radio untuk melayani user pada frekuensi dan waktu tertentu. Penjadwalan membutuhkan sebuah algoritma dalam melayani user untuk kalkulasi alokasi resource yang dibutuhkan oleh user. Algoritma yang digunakan dalam penilitian ini yaitu algoritma Exponential Rule. Algoritma ini dapat memaksimalkan throughput dan menjamin kualitas fairness. Penelitian ini akan dilakukan dengan analisis simulasi pengaruh variasi jarak dan variasi jumlah user untuk penjadwalan menggunakan algoritma Exponential  Rule untuk parameter uji Bit Error Rate (BER), Throughput dan Fairness. Penelitian ini memanfaatkan software Matlab R2016a. Penelitian ini   menggunakan 4 skenario dengan variasi jarak 1-4 km dan variasi jumlah user 4,8,12 dan 16 yang akan dipaparkan dalam 2 kondisi yaitu LOS dan NLOS.Kata kunci: penjadwalan, LTE, exponential rule, BER, throughput, fairness.ABSTRACTScheduling is a regulatory process on a system to be efficient in providing services. One of system that uses scheduling is Long Term Evolution (LTE) network. Scheduling in LTE use for allocate radio resource to service user at frequency and time slots. Scheduling requires an algorithm to service users for calculation of resource allocation needed by the user. The algorithm used in this research is the Exponential Rule algorithm. According to Arif Rahman's research, this algorithm can maximize throughput and ensure quality of fairness. This research will be conducted with a simulation analysis of the effect of variations in distance and variation in the number of users for scheduling using the Exponential Rule algorithm for the Bit Error Rate (BER), Throughput and Fairness test parameters. This research utilizes Matlab R2016a software. This research uses 4 scenarios with variations in the distance of 1-4 km and variations in the number of users 4,8,12 and 16 which will be presented in 2 conditions is LOS and NLOS.Keywords: scheduling, LTE, exponential rule, BER, throughput, fairness.
Pemanfaatan Jaringan SDH Berbasis Program Matlab untuk Layanan Multimedia Endah Budi Purnomowati; Muhammad Fauzan Edy Purnomo; Sholeh Hadi Pramono; Wahyu Adi Prijono; Rusmi Ambarwati; Dwi Utari Surya; Reza Sugandi; Widhi Setya Wahyudhi
Jurnal EECCIS Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.338 KB)

Abstract

Synchronous Digital Hierarchy (SDH) merupakan teknologi yang mempunyai struktur transport secara hierarki dan didesain untuk mengangkut informasi (payload) yang disesuaikan dengan tepat dalam sebuah jaringan yang telah ditetapkan oleh ITU-T G.707. Transmisi sinkron digital merupakan proses multiplex sinyal tributari secara multiplexing sinkron yang rekontruksi sinyalnya melalui elemen jaringan SDH yaitu : Terminal Multiplexer, Add/Drop Multiplexer (ADM) atau Digital Cross-Connect (DXC) dan akhirnya ditransmisikan melalui jaringan optik. Pada penelitian ini teknik multipleksing yang digunakan adalah Time Division Multiplexing (TDM). Time-Division Multiplexing (TDM) adalah suatu jenis digital yang terdiri dari banyak bagian di mana terdapat dua atau lebih saluran yang sama diperoleh dari spektrum frekuensi yang diberikan yaitu, bit arus, atau dengan menyisipkan detakan-detakan yang mewakili bit dari saluran berbeda. Penulisan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses simulasi Bit Error Rate (BER) SDH dengan Time Division Multiplexing (TDM) pada STM-4. Proses simulasi SDH khususnya pada STM-4 memiliki bit error rate yang bervariasi namun dalam kisaran 0.2800-0.2900, hal ini mengindikasikan bahwa data yang salah saat proses pengiriman dalam kisaran 4970 – 5000 merupakan kesalahan pengiriman data yang cukup besar.Kata Kunci— SDH, TDM,BER,STM-4.
Perencanaan Wireless Metropolitan Area Network (WMAN) Dengan Menggunakan Worldwide Interoperability For Microwave Access (WIMAX) Endah Budi Purnomowati
Jurnal EECCIS Vol 3, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.99 KB)

Abstract

WLAN adalah sebuah jaringan berbasis wireless yang dapat digunakan untuk transmisi data. Namun coverage area yang luas dan data rate yang tinggi menjadi kendala utama dalam pemberian layanannya. Untuk mengatasi kendala tersebut, dibutuhkan suatu perencanaan jaringan yang lebih baik untuk mendapatkan coverage area yang luas serta mempunyai data rate yang tinggi. Agar didapatkan jaringan WMAN yang baik, maka dibutuhkan suatu backbone jaringan yang handal. Teknologi WiMAX hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam perencanaan ini digunakan kota Malang sebagai obyek perencanaan. Data yang digunakan dalam perencanaan ini meliputi data kependudukan kota Malang, trafik internet dan tabel Erlang. Data tersebut akan digunakan untuk mengetahui perkiraan jumlah pelanggan WiMAX dan kapasitas sistem yang dibutuhkan.Langkah awal yang dilakukan dalam perencanaan adalah menentukan perkiraan jumlah pelanggan yang akan menggunakan layanan WiMAX berdasarkan data kependudukan. Jumlah pelanggan tersebut digunakanuntuk menentukan kebutuhan kapasitas kanal yang akan berfungsi untuk mengetahui radius sel yang dapat dilayani oleh sebuah base station (BS). Jenis antena dan kabel yang digunakan diperhitungkan berdasarkan kebutuhan kapasitas kanal dan kondisi geografi daerah perencanaan. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan diperoleh jumlah pelanggan WiMAX adalah 7231 pelanggan dengan kebutuhan kanal mencapai 495 kanal. Radius sel yangterbentuk dari perencanaan ini adalah 2.65 km denganluas sel mencapai 18,25 , sehingga jumlah sel yang dibutuhkan adalah 6 (enam) buah. Untuk melayani kapasitas pelanggan yang cukup besar, maka kabel yang paling tepat digunakan adalah fiber optic single mode, sedangkan antena yang tepat digunakan adalah antena omnidirectional.Kata Kunci : Internet, Coverage Area, Data Rate, WiMAX
Integrasi Wireless Fidelity (WiFi) pada jaringan Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) Endah Budi Purnomowati
Jurnal EECCIS Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.35 KB)

Abstract

Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) merupakan sistem telekomunikasi generasi ketiga (3G) hasil pengembangan jaringan Global System for Mobile Communication (GSM) yang memiliki laju data paket 2 Mbps untuk perangkat yang diam di tempat, 384 kbps untuk kecepatan orang berjalan serta 144 kbps untuk kecepatan orang berkendaraan. Wireless Fidelity (WiFi) merupakan teknologi WLAN standar pengembangan dari IEEE 802.11. IEEE 802.11b paling banyak digunakan saat ini, karena cepat dan mudah diimplementasikan. Berdasarkan keuntungan yang diberikan oleh jaringan UMTS dan WiFi dilakukan analisis integrasi WiFi pada jaringan UMTS terhadap parameter delay end-to-end dan throughput.Dalam integrasinya terdapat mobile IPv6 yang mendukung sebuah mobile station untuk dapat tetap berkomunikasi tanpa terputus meskipun berpindah dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain. Delay end-toend terbesar pada paket 4000 kB dengan faktor utilisasi 0,9 yakni sebesar 162,315 s. Sedangkan delay end-to-end terkecil pada paket data 10 kB dengan faktor utilisasi 0,1 sebesar 0,339 s. Saat user berada pada jaringan UMTS, throughput terbesar pada paket data 10 kB yaitu sebesar 335951,531 bps. Sedangkan throughput terkecil saat paket data 4000 kB yakni sebesar 332160,607 bps. Pada jaringan Wi-Fi throughput terbesar pada paket data 10 kB sebesar 10869563,05 bps. Sedangkan throughput terkecil saat paket data 4000 kB yakni sebesar 10868860,39 bpsIndex Term: UMTS, GSM, WIFI