Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Teologi Pendamaian dalam Surat Filemon Sebagai Resolusi Keterputusan Kekeluargaan “Mardomu di Tano Rara” Batak Toba Silalahi, Haposan; Sibarani, Yosua
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v9i2.1557

Abstract

Abstract. Unresolved conflict in the Batak Toba community can lead to the severance of family relation with the emergence of the statement, "Mardomu di Tano Rara." This severance of family relation occurs because each party does not want to forgive. This article aims to analyze the concept of Paul's theology of reconciliation in the letter of Philemon as a resolution of severance of family relation in the conflict in the Batak Toba community. This study used a grammatical analysis approach to the Letter of Philemon. The results of the study show that Paul's approach in the Letter of Philemon provides a perspective that reconciliation not only bring abaout the restoration of damaged relationship, but also result in the reformation of relationship.Abstrak. Konflik yang tidak terselesaikan dalam masyarakat Batak Toba dapat menimbulkan keterputusan hubungan kekeluargaan dengan munculnya pernyataan, “Mardomu di Tano Rara.” Keterputusan kekeluargaan ini terjadi karena masing-masing pihak tidak mau mengampuni. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep teologi pendamaian Paulus dalam surat Filemon sebagai resolusi keterputusan kekeluargaan dalam konflik di masyarakat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis gramatikal terhadap Surat Filemon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Paulus dalam Surat Filemon memberikan perspektif bahwa rekonsiliasi bukan hanya menghasilkan pemulihan relasi yang rusak, namun juga menghasilkan reformasi relasi.
PENDAMPINGAN PASTORAL BUDAYA BAGI KOMUNITAS PENENUN DI DESA PANSUR NAPITU KECAMATAN SIATAS BARITA KABUPATEN TAPANULI UTARA Sianturi, Reymond Pandapotan; Sibarani, Yosua; Limbong, Nurelni; Manullang, Priska; Simamora, May Rauli
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): Volume 5 No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.24795

Abstract

Ulos dikenal sebagai ekspresi kasih-sayang, maka dikenal ungkapan mangulosi. Dalam adat Batak, mangulosi (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos. Proses revitalisasi perlu dilakukan dengan hati-hati agar tidak menghilangkan nilai-nilai yang terkandung dalam kain ulos itu sendiri. Metode pendampingan pastoral budaya bagi komunitas penenun di desa Pansur Napitu adalah pemaparan atau penjelasan materi, diskusi, dan tanya jawab secara tatap muka (on site). Pembicara menyampaikan hal-hal penting seperti: (a) Pentingnya pemasaran berbasis  e-commerce  (b) Pemasaran  berbasis  marketplace  (c) Mengembangkan keunggulan daya saing bisnis melalui pasar global (d) cara pembuatan zat pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan sekitar. Penyampaian materi didukung oleh tampilan visual berupa  slide power point dan alat peraga yang dipersiapkan oleh pembicara. Para peserta aktif dalam kegiatan diskusi dan tanya. Pembicara  juga  memberikan kesempatan kepada perwakilan peserta untuk berbagi pengalaman mengenai pembuatan dan penjualan ulos tenun. Kegiatan pengabdian ini memberikan manfaat bagi mitra. Mitra membagikan manfaat berupa wawasan yang bertambah dan bangkitnya semangat untuk tetap tekun melestarikan tenun ulos.
Fenomena narsis beragama di media sosial: Sebuah analisis-reflektif Matius 6:1 Silalahi, Haposan; Sibarani, Yosua; Marbun, Kevin Boris
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.566

Abstract

Sometimes social media is used to insult and attack people who do not share the same faith or religion and spiritual understanding through religious narcissism. This article explains the meaning of Jesus' warning in Matthew 6:1 regarding religious activities as God's people's efforts to reject the phenomenon of religious narcissism on social media. Through the exegetical study method, the principle contained in Matthew 6:1 is not showing off and seeking human praise in carrying out religious or pious activities. Social media is an opportunity to show the existence of a believer's faith to bring others to repentance, not a place to show off piety.  AbstrakTerkadang media sosial digunakan untuk menghina dan menyerang orang yang tidak memiliki keyakinan atau agama serta pemahaman spiritual yang sama melalui perilaku narsisme beragama. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna teguran Yesus dalam Matius 6:1 tentang kegiatan agama sebagai upaya umat Tuhan menolak fenomena narsisme beragama di media sosial. Melalui metode studi hermeneutik, prinsip yang terkandung dalam Matius 6:1 adalah tidak pamer dan mencari pujian manusia dalam melakukan kegiatan agama atau kesalehan. Pada dasarnya, media sosial merupakan peluang untuk menunjukkan eksistensi iman orang percaya untuk membawa orang lain kepada pertobatan, bukan ajang pamer kesalehan.