Sylvi Irawati
Departemen Farmasi Klinis Dan Komunitas Pusat Informasi Obat Dan Layanan Kefarmasian (PIOLK), Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Pra-Rumah Sakit pada Pasien ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI) : Kajian Literatur Riyanti, Alfina; Irawati Wibowo, Yosi; Irawati, Sylvi
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 2 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (June)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V4i2.5629

Abstract

Abstract—ST-elevation myocardial infarction (STEMI) is a lethal condition. Treatment modality and success mostly depend on time since onset of symptoms. In STEMI, prehospital delay is a significant factor, decreasing likelihood of revascularization and increasing mortality.A greater understanding of the contributing factors may help to reduce delays. This review aimed to map factors associated with prehospital delay in patients with STEMI. We identified patient and transport factors predicting prehospital delay. This review may help the national health management system to identify the factors associated with prehospital delay and it will help in planning interventions to reduce patient delays and to improve the outcome and reduces morbidity and mortality of patients with STEMI. Keywords: acute myocardial infarction; prehospital delay; risk factors; stemi Abstrak—ST-elevation mycardial infarction (STEMI) merupakah salah satu penyakit yang mematikan. Keberhasilan pengobatan sebagian besar bergantung pada waktu sejak timbulnya gejala. Pada kasus STEMI, keterlambatan pra-rumah sakit merupakan faktor yang signifikan menurunkan kemungkinan revaskularisasi dan meningkatkan mortalitas pasien. Pemahaman yang baik tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keterlambatan pra-rumah sakit dapat menjadi suatu masukan bagi intervensi untuk mengurangi waktu keterlambatan. Kajian ini bertujuan untuk memetakan faktor yang terkait dengan keterlambatan pra-rumah sakit pada pasien STEMI. Kami mengidentifikasi faktor pasien dan faktor transportasi yang memprediksi keterlambatan pra-rumah sakit. Hasil kajian ini dapat membantu sistem manajemen kesehatan nasional untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan keterlambatan pra-rumah sakit dan ini akan membantu dalam merencanakan intervensi untuk mengurangi keterlambatan pasien dan untuk meningkatkan prognosis serta mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien STEMI. Kata kunci: infark miokard akut; keterlambatan pra-rumah sakit; faktor risiko; stemi
Pharmacist Involvement to Prevent and Manage HIV/AIDS in Indonesia: A Systematic Review Firmansah, Moh.; Setiawan, Eko; Presley, Bobby; Christanti, Jene Vida; Irawati, Sylvi
Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2023): Keluwih: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran (December)
Publisher : Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/kesdok.V5i1.5815

Abstract

Abstract—Pharmacists’ involvement in the human immunodeficiency virus/acquired-immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) prevention and management program has been globally advocated. However, there is currently a lack of information on whether pharmacists’ roles in the program have been clearly articulated in the national policy records in countries with high scores on power distance and collectivism, such as Indonesia. This study aimed to explore the roles of pharmacists in the prevention and management of HIV/AIDS in Indonesia using a systematic review method. We systematically searched for relevant studies in three large medical databases (CINAHL, EMBASE, and PubMed) and for gray literature in both the Indonesian Pharmacist Association and the Ministry of Health websites, and the national regulation database. Only two studies gave a glimpse of pharmacists’ role in the prevention and management of patients with HIV/AIDS in Indonesia. However, activities conducted by pharmacists in each of these roles were not explicitly described. We found no official national policies mentioned the role of pharmacists in HIV/AIDS prevention and management. Since the practice of pharmacists is closely related to medications, including antiretroviral drugs, more research is needed to explore the role of pharmacists in the prevention and management of HIV/AIDS in a real-world context in Indonesia. Keywords: AIDS, HIV, pharmacist, indonesia Abstrak—Keterlibatan apoteker dalam program pencegahan dan tata laksana human immunodeficiency virus/acquired-immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) di dunia telah direkomendasikan. Akan tetapi, saat ini terdapat keterbatasan informasi mengenai apakah keberadaan peran apoteker dalam program tersebut telah dinyatakan dnegan jelas dalam dokumen kebijakan nasional di negara-negara yang memiliki skor tinggi pada power distance dan kolektivitas, seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana HIV/AIDS di Indonesia menggunakan metode kajian sistematis. Secara sistematis, peneliti melakukan pencarian artikel penelitian terkait di tiga basis data medis yang besar (CINAHL, EMBASE, dan PubMed) dan pencarian gray literature di laman Ikatan Apoteker Indonesia dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta di basis data peraturan nasional. Hanya dua penelitian yang memberikan secercah informasi mengenai peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana pasien dengan HIV/AIDS di Indonesia. Namun demikian, aktivitas spesifik yang dilakukan oleh apoteker tidak secara eksplisit digambarkan lebih lanjut. Peneliti tidak menemukan dokumen kebijakan nasional yang menyebutkan peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana HIV/AIDS. Oleh karena praktik kefarmasian berhubungan erat dengan obat, termasuk obat-obat antiretrovirus, maka dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk menggali peran apoteker dalam pencegahan dan tata laksana HIV/AIDS pada konteks dunia-nyata di Indonesia. Kata kunci: AIDS, HIV, apoteker,indonesia
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Ketidaksesuaian Pemberian Statin pada First-user Statins di Apotek UBAYA Yaputra, Dody Mulia; Wibowo, Yosi Irawati; Aditama, Lisa; Brata, Cecilia; Irawati, Sylvi
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v5i1.5494

Abstract

Penyakit kardiovaskular adalah salah satu penyebab kematian terbesar, baik di Indonesia dan di dunia. Statin telah terbukti efektif untuk pencegahan primer dan sekunder penyakit kardiovaskular. Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan penggunaan statin untuk indikasi tersebut masih belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi factor-faktor yang mempengahruhi ketidaksesuaian penggunaan statin pada pengguna statin pertama kali (first-user). Penelitian ini adalah penelitian retrospektif yang melibatkan 102 orang pasien yang berkunjung ke Apotek UBAYA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56,9% pasien yang terlibat adalah perempuan dan 42,2% pasien berada pada kelompok usia 51-60 tahun. Berdasarkan perhitungan tingkat risiko kardiovaskular 10-tahun, sebesar 24.5% pasien mengalami ketidaksesuaian penggunaan statin. Ketidaksesuaian penggunaan statin ini khususnya ditemukan pada kelompok risiko tinggi (51,7%) dan kelompok risiko sangat tinggi (23,7%). Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian penggunaan statin adalah memiliki diabetes mellitus (adjusted odds ratio, aOR 10,61; 95% CI 2,84-39,68; p = 0,00) dan memiliki asuransi kesehatan (aOR 4,96; 95% CI 1,49-16,48; p = 0,01). Cardiovascular disease (CVD) is one of the leading causes of deaths both in Indonesia and in the world. Statins have been proven to be effective for primary and secondary prevention of CVDs. However, several studies show that the use of statins for those indications are still sub optimal. The aimof this study was to identify factors influencing inappropriateness use of statins in the first-user statins. This was a retrospective study involving 102 patients visited the UBAYA Pharmacy. The result of the study showed that 56.9% of the patients involved were women and 42.2% of the patients were in the age group of 51-60 years. Based on the 10-year cardiovascular risk estimation, as many as 24.5% of the patients inappropriately used statins. The inappropriateness use of statins was especially found in the high-risk group (51.7%) and in the very high-risk group (23.7%). Factors influencing the inappropriateness use of statins in the first-user statins were having diabetes mellitus (adjusted odds ratio, aOR 10.61; 95% CI 2.84-39.68; p = 0.00) and having health insurance (aOR 4.96; 95% CI 1.49-16.48; p = 0.01).
PEMETAAN PENGETAHUAN PESERTA POSYANDU DESA DUYUNG TENTANG NUTRISI DAN OBAT SELAMA 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN (HPK) Kirtishanti, Aguslina; Irawati, Sylvi; Marzuki HY, Jefman Efendi; Hidayah, Isnaini Nurul; Nurhidayah, Widya
RESONA : Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/resona.v8i2.2199

Abstract

Seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) adalah masa yang sangat krusial untuk perkembangan dan pertumbuhan anak setelah usia dua tahun. Kurangnya nutrisi dan perhatian serta ketidaksesuaian penggunaan obat selama masa ini akan meningkatkan risiko terjadinya stunting dan gangguan kesehatan yang kemudian dapat mempengaruhi masa depan anak. Sasaran program adalah seluruh peserta kegiatan posyandu di Desa Duyung. Program dilaksanakan pada 5 Agustus dan 3 September 2024. Komponen program terdiri dari dua kegiatan, yaitu pendampingan pentingnya nutrisi selama 1000 HPK dan penggunaan obat yang aman selama masa kehamilan. Materi diberikan dalam bentuk presentasi oleh dokter, leaflet obat yang aman untuk ibu hamil, poster 1000 HPK dan poster obat yang aman untuk ibu hamil. Tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan pendampingan dinilai menggunakan kuesioner. Program ini menghasilkan peningkatan pengetahuan terhadap materi yang diberikan pada proporsi tertentu dari kelompok sasaran. Proporsi sasaran yang paling banyak mengalami peningkatan pengetahuan ditemukan pada kegiatan penggunaan obat yang aman selama kehamilan yaitu sebesar 62%. Terdapat indikasi perlunya dilakukan tindak lanjut untuk mengevaluasi faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkat pengetahuan antarmateri yang diberikan agar pengetahuan sasaran dapat ditingkatkan lebih lanjut.  Abstract. The first 1000 days (1000 HPK) is a very crucial period for the development and growth of children after the age of two years. Lack of nutrition and attention, as well as inappropriate use of medication during this period, will increase the risk of stunting and health problems, which can then affect the child's future. The program targets are all participants in posyandu activities in Duyung Village. The program will be implemented on August 5th and September 3rd, 2024. The program component consists of two activities, namely assistance with the importance of nutrition during 1000 HPK and safe use of medication during pregnancy. The material is provided through presentations by doctors, leaflets on medicines that are safe for pregnant women, posters on 1000 HPK, and posters on medicines that are safe for pregnant women. Participants' level of knowledge before and after mentoring activities was assessed using a questionnaire. This program increases knowledge of the material provided in a certain proportion of the target group. The proportion of targets who experienced the greatest increase in knowledge was found in the safe use of drugs during pregnancy, namely 62%. There are indications that follow-up is needed to evaluate the factors that influence differences in the level of knowledge between the materials provided so that target knowledge can be further improved.